Mengikis Masa Lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 1 May 2017

“Hay,” mungkin hanya kata sederhana itu yang akan terlontar ketika aku bertemu denganmu suatu saat nanti. “Hay” Satu kata yang terdiri dari tiga huruf, sangat sederhana namun akan terasa sulit tuk diucapkan padamu. Terakhir, aku melihatmu saat kita berpapasan di jalan. Saat itu kau membonceng seseorang yang mungkin akan menjadi pendamping hidupmu, dan aku bersama kekasih yang sangat mencintaiku. Kau terlihat sangat bahagia saat itu, memeluk dia dengan erat dan penuh cinta. Cemburu? Entahlah, tapi yang aku tahu saat itu adalah ada rasa semacam tidak rela ada seorang yang bisa membuatmu merasa nyaman melebihi yang aku berikan dulu, walaupun sekarang aku sudah ada penggantimu.

Aku mungkin adalah sekian banyak dari laki-laki yang susah untuk move on, sangat sulit sekali menghilangkan wajahmu dari pikiranku. Selama ini, bertahun-tahun kita tak berjumpa, tiap lekuk wajahmu masih saja melekat di dalam memori otak ini. Kau bukan cinta pertamaku, tapi rasa cinta ini sungguh besar padamu. Karena rasa cintaku yang teramat besar ini, aku pun harus kehilanganmu. Malam itu, di ujung telepon aku akhiri semuanya. Entah iblis apa yang merasukiku saat itu hingga sampai keluar kata-kata perpisahan, kata perpisahan yang aku sendiri pun sebenarnya tak kuasa untuk menjalaninya.

Bagai seorang pecundang, aku buang kartu telepon selulerku. Berharap kau tak lagi menghubungiku selamanya. Tapi hati ini terus berontak, seakan tak bisa membohongi perasaanku padamu, dan berharap suatu saat nanti kita bisa bersatu, memperbaiki semuanya. Aku tahu kau ingin menjelaskan semua padaku saat itu, menceritakan segala ketidaknyamanan yang kau rasakan selama kita menjalin hubungan. Tapi semua sudah terlambat, dan iblis pun tertawa. Suara isak tangismu di ujung telepon tak aku hiraukan, saat itu aku hanya menuruti emosi yang merubahku menjadi monster tak berhati.

Saat aku hampir selesai kuliah, aku masih saja stalking di sosial media yang kau miliki. Bak harimau yang mencari mangsa, insting ini menuntunku untuk selalu memata-mataimu dari kejauhan tanpa terlihat. Setelah puas melihat wajahmu di sosial media, aku hanya bisa melongok jauh ke belakang menikmati momen-momen indah bersamamu, momen saat aku dan kamu masih memiliki rasa cinta yang sama.

Masih segar dalam pikiranku sebelum kita saling kenal. Aku hanya bisa mengamatimu dari balik WC sekolah. Bukan tempat yang tepat memang untuk menikmati sisi indahmu dari kejauhan. Tapi setidaknya, itu adalah tempat yang nyaman buat aku untuk bisa menatap wajahmu yang ayu. Jatuh cinta dalam diam, begitu kata orang. Tidak disangka, dari jatuh cinta diam-diam ini akhirnya kita bisa disatukan oleh rasa cinta walaupun hanya sebentar.

Aku memang bukan manusia yang handal tentang seni mengungkapkan perasaan. Hal yang aku bisa lakukan saat itu adalah menguntit dan mengawasimu saja. Memang terdengar sangat aneh, namun setidaknya hal itulah yang membuatku makin semangat menjalani hidup. Setidaknya ada satu lagi alasan mengapa aku harus pergi ke sekolah selain mempelajari berbagai mata pelajaran yang kompleks itu, yaitu kamu.

Aku bukannya tidak mencintai kekasihku yang sekarang. Aku juga tidak mau mengkhianati cinta dan pengorbanannya selama ini. Aku berusaha melupakan semua memori yang pernah kita ukir dulu, namun bayangmu masih saja hadir menghantui kehidupanku.

Kabar terbaru yang aku dengar, kau sudah menikah. Menikah dengan seorang lelaki pilihanmu, lelaki yang tempo hari kau peluk dengan erat di atas motor saat kita berpapasan. Di hari bahagiamu itu, tak ada surat undangan mampir di rumahku. Mungkin kau masih menjaga perasaanku, atau mungkin juga kau sudah bisa melupakanku.

Sebagai lelaki yang pernah menjadi kekasihmu, aku turut bahagia dan akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu saat ini dan selamanya. Biarlah kenangan kita yang dulu hanyut bersama dengan perasaanku yang kini telah berpaling. Saat ini aku tengah berjuang untuk menjalani hidup jadi lebih baik, tentunya tanpa dan bukan denganmu. Walaupun kita sudah tak mungkin bersatu, tapi semoga kelak kita masih bisa menjaga tali silaturahmi yang terputus ini.

“Hay,” satu kata dengan tiga huruf yang sederhana ini mungkin akan sangat bijak bila suatu saat nanti aku gunakan saat kita bertemu. Bukan sebagai sepasang kekasih, namun sebagai sahabat.

Cerpen Karangan: Wahyu
Blog: chocoronotomo.blogspot.co.id

Cerpen Mengikis Masa Lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love Story, Pengorbanan Cintaku

Oleh:
“Rei, aku mau curhat sama kamu.” Ujar sahabatku Veronica. “Mau curhat apa?” “Sebenarnya aku lagi suka sama seseorang.” Ujarnya malu-malu. “Cie, ada yang lagi jatuh cinta nih. Siapa orangnya?”

Faith (Part 1)

Oleh:
Ayu berjalan ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas matematika kelasnya. Sesampai di depan ruang guru, Ayu bergegas membuka pintunya, berjalan menuju meja Ibu Nurul yang terletak di pojok ruangan

Lubang Hitam Perubah Takdir

Oleh:
Seorang gadis cantik bernama Bulan adalah istri seorang artis tampan asal korea. Kisah cinta mereka begitu berliku sampai akhirnya berakhir dengan kematian Bulan yang tragis karena kesalahan kecil suaminya.

Normala Sang Purnama

Oleh:
Malam masih berayun bersama bintang, Angin masih meraba pepohonan, Tanah masih menghisap sisa air hujan, Dan aku tetap saja bersandar di kursi goyang tua ini, Di depanku terdapat beberapa

Kartika Untuk Andrian

Oleh:
Hari ini masih sama dengan hari sebelumnya. Dengan lagit yang masih biru bersih, matahari dan kecerahannya, dan juga ia pun masih terbit dari sebelah timur. Ya tentu hal itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *