Menikam Hati (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 March 2014

Dekat
Di dalam kelas saat pelajaran Bahasa Inggris. Aku mengerjakan tugasku dengan baik. “Na kamu kok kelihatan seneng banget sih hari ini.” Tanya Tika. “Heem. Gak tau ya. Kenapa aku merasa seneng banget hari ini.” Jawabku dengan wajah berbinar binar.

Kami mengerjakan LKS sampai selesai. Bell pulang akhirnya berbunyi. Doa akan pulang juga telah dilantunkan. Aku masih duduk dengan tenang. Aku akhirnya berdiri. Aku dan Tika berjalan bersama menuju ke bawah. Saat hendak ke luar gerbang. Ilham sudah berada di depan gerbang. “Tika. Tu saudara kamu tu.” Kataku. “Kak Ilham ngapain kesini?” Tanya Tika senang. “Ya cuman pingin lihat sekolah kamu aja.” Jawab Ilham. Ilham bersandar di gerbang sekolah. Kelihatan sekali gayanya sangat sangat nyantai banget.

Meski bicara dengan Tika. Matanya menatap mataku dengan senyum. Terus terang hatiku menjadi Dag dig dug. Oh My GOD. Entah bagaimana raut wajahku di depannya. Tubuhnya tinggi. Bahkan tubuhku mungkin setinggi pundaknya. Beda dengan sahabatku Sinta. Sinta memang lebih tinggi dari pada aku.

Aku maju lebih dekat. Di sebelahku ada Tika. “Jadi kalian berdua sahabat?” Tanya Ilham dengan senyum yang menawan. Kulangkahkan kakiku satu langkah agar lebih dekat dengan Ilham. “Ya tentu saja.” Jawabku dengan suara parau. “Ham kamu lihat Sinta?” Tanyaku. “Oh Sinta masih Extra di sekolahnya.” Jawabnya dengan suara indah bagai beladu itu. “Ngomong ngomong. Kamu ikut Extra apa di sekolah kamu?” Tanyaku lagi. “Gak banyak. Aku cuman ikut Extra Kaligrafi sama Qiroah.” Jawabnya. Pasti suaranya bagus. Mengingat waktu SMP aku juga ikut Extra Qiro ah. “Boleh denger Qiro. ah kamu?” Tanyaku. Wajahnya sepertinya merah padam. Terlihat kalau dia agak malu malu. Kubuat senyumku sedikit lebih centil agar dia memperhatikan aku. Tapi rupanya dia malu malu. “Baiklah tapi sedikit saja yaaa.” Pintanya. Aku hanya terdiam dan mengangguk.

Diawali dengan Ta awud. Menghabiskan waktu tiga menit. Aku mencoba memberanikan diri untuk menyentuh pundaknya. Matanya yang sipit itu memejam sebentar. “Wah suara kamu bagus banget. Aku suka dengernya.” Kataku. Kini Wajahnya semakin merah padam. Kentara kalau dia benar benar malu dan tersipu sipu. “Makasih yaaa.” Ucapnya. Tanganku masih di pundaknya. Kemudian dia melepaskan tanganku dari pundaknya. Saat dilepas. Tanganku digenggamnya agak lama. Oh ya tuhan. Apakah dia merasakan apa yang kurasakan?
Takut salah tingkah. Kutarik tanganku secara cepat. “Ya udah Tika, Ilham. Aku pulang dulu ya.” Kataku. Oh perasaanku melayang banget siang ini. Cuaca terang hari ini. Mungkin nanti sore akan terjadi hujan seperti biasanya.
Aku merasa mungkin kita Mulai dekat. Aku berharab bisa jadian dengannya. Aku dan dia sekarang udah mulai dekat. Tinggal cari cara yang tepat agar kami bisa jadian. Agar aku bisa tahu apa yang dia rasakan padaku.
Karena bila kuliat dari caranya bicara, Perilakunya, Seperti orang yang berusaha mendekatiku. Jika dia bicara seolah olah mencari bahan bicara untuk bisa mendekatiku. Perasaanku benar benar berbunga bunga.

Curiga dan Cemburu
Di sore hari pukul 16:00 Aku menuju rumah Sinta di Candi renggo. Aku harus mengenakan sepeda untuk menuju kesana. Di depan rumah Sinta aku megetuk pintunya. Garasinya sepertinya kosong dan tidak ada mobilnya. Tapi ruang tamunya seperti ada orang. Kuketuk pintu rumahnya. “Assalamualaikum.” Salamku di depan pintunya. Pintu akhirnya terbuka. “Sinta Kamu aku telfon kok gak dibalas sih.” Kataku. “Maaf aku sibuk ngedit video. hehehe.” Katanya dengan nada orang bercanda. “Aku kan ingin curhat.” Cerocosku pake nada manja. “Sini masuk dulu. Emangnya kamu mau curhat apa.” Katanya sambil duduk ke kursi kayu yang panjang berwarna hijau itu. Sinta memakai kaos putih lengan pendek dan agak longgar di dadanya. Payudaranya hampir kelihatan. Tapi aku diam saja. Ia memakai rok panjang berwarna hijau bercampur putih. “Jadi gini Sin. Ilham makin lama kok makin deket gitu. Dia kayak berusaha deketin aku. Aku lihat dari perilakunya pokoknya dari semuanya.” Kataku.
“Ya ampun gitu aja gak usah GR dulu lagi. Lagian kamu kok bisa sih Cinta banget sama dia. Terus gimana soal David itu.” Katnya dengan nada ketus. “Tolong. Jangan sebut nama itu lagi. Aku tak ingin luka ini menganga kembali.” Pintaku. “Maaf.” Jawab Sinta dengan ringan. “Oh gini. Gimana aku gak GR coba. Kalau aku respon wajahnya tu malu malu gitu.” Kataku. “Yaaa kamu coba deketin aja. Mungkin dengan begitu kalian tambah dekat.” Kata Sinta. Kulihat diluar sudah mulai Hujan.

Kami minum the panas sambil menyalakan lagu. Diamond. Lagu yang dinyanyikan Rihana ini sangat bagus. Saat pulang aku tidak bisa memikirkan. Bagiamana kalau Ilham benar benar jadi milikku.

Keesokannya saat pagi. Hujan terjadi. Jadi aku sekolah dengan menggunakan jaketku. Di tengah hujan yang hanya gerimis Ada yang memukul pundakku. Kutoleh oh ternyata itu Ilham. “Ada apa Ham.” Tanyaku. “Gak apa apa. Pingin jalan sama kamu aja.” Jawabnya. Saat kami enak enak jalan. Sinta langsung menyerondol kami. Dia memisahkan kami. “Apaan sih Sin kok ngagetin aja.” Kataku. “Gak apa apa kok. Oh iya Ham kata pak Hasan kamu di kelas kamu disuruh merangkum Pelajaran Geografi. Kebetulan di kelasku juga disuruh.”
“Oh emangnya kapan kamu mulai ngerjain.” Tanya Ilham. “Nanti juga boleh kok.” Kata Sinta. Mereka keliatan akrab kayak sahabat aja. Sinta langsung merangkul pundak Ilham dan berkata. “Ya udah yuk kita masuk. Entar telat lagi.” Kata Sinta lagi. Ilham nurut saja lalu langsung jalan.

Entah kenapa hati ini merasa gelisah dan cemburu. Seharusnya aku tidak boleh berfikiran seperti ini. Aku kemudian langsung naik ke lantai 3 karena pelajaran biologi akan dimulai. Di meja. Ku letakkan kepalaku di meja karena aku sedikit merasa pusing. Aku tidak habis fikir. Kenapa hatiku merasa tidak nyaman saat melihat Sinta merangkul pundak Ilham.
Apakah aku dibakar cemburu. Mereka kan satu sekolah jadi kalau mereka mengerjakan tugas bersama itu wajar dong. Masih terbayang bayang bagaimana tadi Sinta berbicara. “Zafrina. Apa yang dimaksud dengan Revolusi makhluk hidup?” Tanya pak Umar. Kaca matanya mengkilat berwarna kebiruan saat beliau menatapku. Aku langsung kaget dan terbangun dari lamunanku. “Emm emmm, Maaf pak saya tidak tahu, hehehe.” Kataku dengan merengut dan mengaruk garuk kepala belakang paadahal tidak gatal. Aku terlihat bodoh hari ini. “Tidak tahu? Yaa ampun Zafrina. Makanya kalau saya menerangkan materi itu didengarkan. Jangan melamun terus.” Tegur Pak umar. Badannya yang tinggi dan kurus itu membuatku seperti melihat kayu. Jujur dari tadi aku memang tidak mendengarkannya. “Maaf pak.” Itu yang bisa aku ucapkan tidak ada lagi. “Ya sudah. Sekarang kamu maju ke depan.” Perintahnya.

Tanpa basa basi aku langsung bangun dari kursiku. Ku langkahkan kaki ke depan walau berat. Saat maju dan berada di depan papan. Syukur disini anak anaknya baik sama aku. Jadi gak ada yang menyoraki ataupun menertawaiku.

Pelajaran terus berlangsung. Saat beberapa materi selesai pak Umar menyuruhku menghapus tulisan di papan tulis. Kulakukan saja. Lumayan lama juga aku berdiri. Ku tata bagian depan kerudungku agar tetap rapi. Pak Umar terus menerus menerangkan. Kusimak karena hukuman seperti ini cukup membuatku kapok. Setelah hampir satu jam akhirnya Bell pulang berbunyin. “Baiklah Zafina. Sekarang kamu boleh kembali duduk.” Perintah pak Umar.

Aku perlahan melangkah kembali ke kursiku. Aku duduk dengan tenang. Di depan gerbang. Jantungku langsung kaget saat melihat Ilham dan Sinta berbicara dengan jarak yang amat dekat. Apa lagi dari raut wajah Sinta agak di imut imutin saat bicara dengan Ilham. Seolah olah agar diperhatikan. Terus terang. Jauh di dalam hatiku paling dalam aku bertanya, Aku curiga, Aku cemburu. Kucoba untuk mencairkan suasana. “Sinta. Yuk pulang. Katanya mau ke rumahku.” Tagihku.
“Maaf Na tapi Ilham dan aku akan mengerjakan tugas bersama di rumahku.” Jawabnya. Caranya berbicara seolah tidak terjadi apa apa. Tapi caranya mendekat ke Ilham. Membuatku cemburu. Kenapa sih aku harus cemburu ya Tuhan?
Seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Tidak boleh. Hatiku agak sakit saat melihat mereka berjalan berdua. Sinta seperti menikmati itu semua. Padahal aku sudah pernah bilang kalau aku itu jatuh cinta sama Ilham. Apakah mungkin Sinta tega menyakiti sahabatnya sendiri.
Aku melihat mereka berjalan semakin jauh sampai saat mereka berbelok mereka berdua tidak terlihat lagi.

Jangan Ambil Dia
Di sore hari. Saat aku baru sampai di depan pintu rumah. Tubuhku merasa lemas. Kubuka pintu dengan perlahan.
Angin dingin menghebus menerpa rambutku. Dingin. Cuaca sepertinya akan hujan karena awan di atas mulai berwarna pekat. Aku masuk rumah. Di dalam gelap jadi kunyalakan lampu. Oh ya tuhan rumah ini agak berantakan. Jadi kubersihkan sebentar. Aku berusaha mencari kesibukan.

Selesai membersihkan sebagian rumah. Aku langsung menuju kamar mandi. Ku letakkan bajuku di hanger kemudian kututup pintu kamar mandi rapat rapat. Air dingin dapat mengkendorkan otot otot yang sedang kaku ini. Kunyalakan shower dengan perlahan. Segar sekali dan dapat merileks kan badan.

Sesudah mandi aku langsung ambruk di sofa ruang keluarga. Aku benar benar lelah.
Di suatu tempat yang gelap. Penuh dengan orang orang tak berperasaan memakai jubah hitam. Mengejarku. Mereka memburuku seolah aku hewan buruan. Kulihat Seseorang yang sudah amat lama tidak kujumpai. Berkulit cokelat dan berwajah mempesona agak kayak arab. Badannya tinggi. Sudah lama aku tidak melihatnya. Tapi dia mendekat seolah aku ini hanyalah cermin. Ia menatap mataku. Seolah memberi isyarat bahwa dia sangat rindu padaku. Tetapi saat wajahnya beberapa senti sosok tangan halus berwarna kuning langsat menarik tanganku. “Ayo lari.” Kata suara itu. Kulihat ternyata Ilham yang menarikku. Kami tiba tiba berada dalam hutan yang kelam. Setelah kulihat ternyata yang mengejarku adalah David. Entah apa modusnya. Air mata ini tak bisa berhenti terjatuh. “Stop. Berhenti.” Pintaku tapi Ilham masih saja mnarikku. Jadi dengan terpaksa aku melepaskan tanganku darinya. “Zafrina apa yang kau lakukan.” Tanya Ilham saat wajahnya menoleh ke arahku. “Maafkan aku tapi aku harus menemuinya.” Kataku dengan menangis. Banyak yang ingin kutanyakan kepada David. “David. Tolong jangan tinggalkan aku.” Kataku dengan nada memohon. Saat kami beberapa senti. Aku menyentuh tangannya. Tapi tiba tiba tubuhnya menjadi sirna bagai debu. “Tidaaak.” Teriakku.

Tak sadar aku langsung terbangun. Sudah pukul 16:15. Ternyata tadi hanyalah mimpi buruk. Di luar sepertinya mulai hujan. Aku langsung menuju dapur dan meneguk dua gelas air putih. Aku tiba tiba meneteskan air mata. Karena aku kembali bermimpi tentang David.

Bagaimana mungkin dia bisa datang lewat mimpiku. Bersamaan dengan Ilham lagi. Ku tata rambutku sebentar sambil mengatur nafas. Jantungku berdetak cukup kencang.

Di malam hari saat kami sekeluarga makan malam. Ayah tiba tiba berbicara memecah kesunyian. “Zafrina. Dari tadi kamu kok makannya didiemin gitu. Kenapa gak enak?” Tanya ayah memecah lamunanku. “Tidak Ayah. Aku memang gak lapar hari ini.” Jawabku dengan jujur. Terlalu banyak fikiran dapat membuatku malas untuk makan. Bahkan nasi dan lauk yang sudah ada di piring putih itu masih utuh.

Aku langsung beranjak bangun. “Maaf Ayah Ibu. Aku harus ke kamar. Banyak tugas sekolah yang harus aku selesaikan.” Kataku dengan suara lemah. Ibu hanya mengangguk. Ayah diam saja sambil meneguk air putih.

Di sekolah. Pagi pagi saat aku berjalan. Sinta tiba tiba memegang pundakku. “Zafrina.” Serunya. Hampir membuat jantungku copot. “Kamu itu bikin aku kaget saja.” Kataku. “Eh Na. Tahu enggak. Kemarin waktu kami belajar. Aku kan buka buku sosiologi miliknya. Ada nama kamu loo di bukunya. Tulisannya pake tulisan arab mirip banget kayak kaligrafi. Trus dikasih tanda Love gitu.” Katanya sembari membuatku berharap dan terkejut. “Kamu gak bercanda kan?” Tanyaku merasa agak malu sekaligus penasaran. “Enggak. Beneran.” Katanya.

Oh aku lega. Ternyata dugaanku selama ini salah tentang Sinta. Dia tidak akan menggambil Ilham dariku. Justru Sinta malah mendukung aku. Sinta adalah sahabat yang baik.
Selama ini aku berburuk sangka padanya. “Sin maafin aku yaa.” Pintaku dengan memegang tangannya. “Lho emangnya kamu salah apa sama aku?” Tanyanya bingung. “Selama ini aku curiga sama kamu. Aku fikir kamu bakalan ngambil Ilham dari aku. Soalnya kamu deket banget sama dia. Agak mesra gitu. Maafin aku ya.” “Ya ampun na. Hahahaha. Jadi selama ini kamu cemburu” Tanyanya. Aku mengangguk dengan perlahan.
Wajahku merah padam. Aku agak malu karena itu. Saat kami berjalan Ilham datang. “He boleh bareng.” Katanya. “Boleh kataku.” Ilham tersenyum dan berjalan di sebelahku. “Na. Di SMAI itu enak apa enggak sih.?” Tanyanya. “Ya enak lah. kalau menurut aku. Tapi kan lebih bebas MA. Boleh keluar. kalau kita selama belum jam pulang ya gak boleh keluar. Malahan gerbang ditutup.” Jawabku sembari menjelaskan.
“Aku loh sebenarnya pingin ke SMAI.” Katanya dengan menundukkan kepala. “Ngapain. Bagus kamu di MA.” Kataku. Akhirnya dia diam. Saat berjalan dia merangkul pundakku. Hatiku benar benar deg degan. Sesampainya di depan SMAI Ilham langsung melepas pelukannya.
Aku tidak bisa melupakan bagaimana caranya dia tadi memelukku. Aku serasa bagaikan melayang.

Menikam Hatiku
Selama pelajaran berlangsung. Aku mengikutinya dengan baik. “Tika. Ilham itu orangnya nakal apa enggak?” Tanyaku. “Emmm gimana yaa. Dibilang nakal kadang sih nakal. Tapi dibilang baik. Orangnya memang kadang perhatian. Kak Ilham itu selalu menganggap sesuatu itu beneran. Jadi hati hati kalau sama dia. Takut kamu niatnya bercanda tapi dia nganggepnya serius.” Katanya. Kami akhirnya berjalan menuju kantin. Meski anak yang mirip David itu menyakitkan hatiku tetapi kini aku sudah kebal dengan semua itu. Karena aku punya harapan. Lebih baik bersama Ilham.

Kami membeli beberapa kue. Saat akan berjalan menuju tempat duduk. Aku terjegal kaki seorang anak laki laki. Aku terjatuh tapi ada yang menangkapku. “Aoo.” Teriakku. Kulihat matanya. Dia menyentuh ku. Kini aku teringat masa masa itu. Saat mendung. Di lantai 3. David memegang tanganku.
Orang yang mirip David itu benar benar membuatku seolah kembali ke masa lalu yang menyakitkan. “kalau jalan hati hati ya.” Bisiknya dengan suara lembut. Aku hanya terperangah. “Terimah kasih David.” Kataku dengan expresi orang tolol. “David. Namaku Ramah. Bukan David.” Katanya seperti tidak mengerti maksutku. “Ooo maaf. Terima kasih yaa.” Kataku sembari berusaha meluruskan posisi.
Ramah melepas pegangannya dari pinggangku. “Kenapa kamu manggil aku David?” Tanyanya penasaran. “Enggak kok. Cuman kamu ngingetin temen aku aja.” Jawabku dengan suara parau. Sepertinya aku akan menangis. Tapi berusaha kutahan. “kalau begitu terima kasih ya.” Ucapku mengulang. “Oh iya nama kamu siapa” Tanyanya dari belakangku. Aku langsung menoleh. “Zafrina.” Jawabku.

Aku tidak menyangka bisa berbicara dengannya. Seolah benar benar berbicara dengan David. Saat ini cuaca sedang cerah. “Na kamu tu kenapa sih setiap ngelihatin anak tadi kok kayaknya mau nangis gitu?” Tanya Tika penasaran. “Emm aku mau cerita sama kamu.” Kataku “Jadi begini. Dulu seorang laki laki pernah nyatain cinta ke aku. Tapi disaat aku akan bilang iya ke dia. Dianya pergi ke jerman tanpa pamit atau memberi pesan kepadaku. Jadi aku kaget dan shock.”
“Tau enggak. Orang tadi itu wajahnya ngingetin aku ke dia. Wajahnya mirip banget kecuali alisnya.” Setelah bercerita panjang lebar akhirnya Tika mengerti. “Ternyata kamu tipe orang yang tidak mudah melupakan sesuatu yaa.” Katanya. “Entahlah. Aku tidak ingin melupakan David. Aku ingin mendengar suaranya.” Jawabku dengan memejam mata sejenak.

Kami akhirnya diam sejenak. Kusuapkan secuil kue ke mulutku. Kukunyah dengan sempurna. Setelah makan pelajaran dimulai. Suara Bell sekolah mengalun keras dari sebelah kanan.

Saat pelajaran terakhir. Tika duduk tepat di belakangku. Hari ini ada roling bangku. Beberapa lama akhirnya pelajaran selesai. Nanti aku berencana akan kerumah Sinta. Aku butuh bantuannya soal Ilham. Kayaknya Sinta dan Ilham akan menjadi sahabat. Lumayan aku bisa mengkorek semua tentang Ilham.

Di Masjid aku bertemu dengan Sinta dan Ilham. Mereka berdiri di depan gerbang. Entah membicarakan apa. Aku berjalan dengan Tika. “Sinta. Eh nanti aku mau ke rumah kamu ya. Soalnya aku mau minta tolong.” Kataku sambil mataku melirik ke Ilham. Agar memberi tahu secara batin kalau nanti aku akan membicarakan sesuatu tentang Ilham. “Emm gimana ya. Kayaknya kapan kapan aja deh. Nanti aku sama Ilham mau ngerjain seni budaya. Aku butuh bantuannya dalam menggambar.” Hatiku terkaget. Sebegitunyakah sampai aku yang sudah menjadi sahabatnya digituin. “Ya sekalian aku ikut ya.” Kataku. “Jangan.” Katanya. Entah kenapa dia kok laganya aneh seperti itu. “Na. Kamu kok wangi banget sih.” Kata Ilham saat mendekat ke arahku. “Wangi? Perasaan ini udah siang deh. Masak dari tadi siang sampai sekarang wangi.” Sahutku dengan mengangkat alis separuh. “Beneran.” Katanya. Senyumnya itu cukup kuat membuatku tersipu. “Terima kasih.” Kataku. Tika langsung mengajakku. “Ayo na.” Katanya sembari tangannya menarik bajuku dengan ringan. “Aku duluan ya.” Kataku kepada Ilham. Kuberikan senyum indahku kepadanya. Tapi senyumnya jauh lebih mempesona dan menawan.

Cerpen Karangan: Alvan Muqorobbin Asegaf
Facebook: Alvan Railfans

Ini adalah cerita kedua saya setelah sukses dengan cerita yang berjudul Diantara Mimpi.
Semoga kalian bisa menikmati cerita saya.
ALVAN.M.A

Cerpen Menikam Hati (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Lagi Ku Galau

Oleh:
Namaku Sandra Dwi Irma si ratu galau. Aku anak kedua dari 2 bersaudara, kakakku bernama Dio Wahendra. Aku duduk di kelas 2 SMP. Aku memiliki Sahabat yang baik, pengertian

Hening Yang Indah

Oleh:
Aku larut dalam lamunan heningku yang indah. Indah dalam hening itulah yang aku lamunkan. “Ayo pergi” ucap seseorang yang membuyarkan lamunan indahku. “Kau melamun lagi baisotei-chan?” Tanya yamashita-chan yang

Merpati Awan Untuk Langit

Oleh:
“Merpati, apakah aku bisa menjadi awan yang selalu dekat dengan langit?” Hanya kalimat itu yang dapat mengalir dari pikiranku. Pikiran seorang Rhytmawan Klaudiani. Cepat-cepat saja aku menulis kalimat itu

The Champion

Oleh:
Dalam heningnya musim panas, gue asik dengerin lagunya Daniel Bedingfield yang berjudul If you’re not the one, dan lagu ini bener-bener bikin gue sedih banget, yah sedih, sedih karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *