Menjaga Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 February 2018

Hari ini harusnya menjadi hari yang paling bahagia bagi Karin Aoyama karena dia telah resmi menjadi istri Benedict Smith beberapa jam yang lalu. Karin benar-benar pandai memanipulasi ekspresinya. Memang, dia tersenyum manis kepada semua tamu undangan yang hadir. Tapi hatinya menangis pilu.

Bagaimana tidak, dia bahkan baru lulus SMA tiga minggu yang lalu dan harus menikah dengan pria yang berusia enam tahun lebih tua darinya. Ya, dia dijodohkan oleh orangtuanya karena masalah ekonomi. Karin rela menikah muda meskipun harus mengorbankan kebahagiaannya.

Cklek!
Karin segera menghapus air matanya ketika mendengar pintu kamarnya terbuka. Dia menolehkan kepalanya dan melihat Benedict memasuki kamar yang akan mereka tempati bersama mulai malam ini sampai seterusnya. Karin gugup, takut, dan tidak tahu harus berbuat apa sehingga dia hanya menundukkan kepalanya dan menggenggam erat tangannya yang gemetaran.

Lima menit berlalu, tapi tidak ada pergerakan apapun dari mereka berdua. Sampai akhirnya Karin memberanikan diri untuk melihat Benedict. Tidak sampai tiga detik, Karin kembali menundukkan kepalanya. Dia merasa tatapan Benedict begitu tajam. Dari sana, dia dapat mengetahui bahwa Benedict tidak menyukainya.

“Aku mengatakan ini hanya satu kali, jadi dengarkan baik-baik,” ucap Benedict.
Karin hanya mengangguk mendengar suara berat suaminya itu tanpa berani menatapnya.
“Kita menikah tanpa cinta. Aku tidak menyukaimu dan kau tidak menyukaiku. Aku benci diatur. Jadi kau jangan pernah mencampuri urusanku, begitupun sebaliknya. Satu lagi, kita tidur di kamar yang berbeda. Kau mengerti? Kuharap begitu,” jelas Benedict dengan datar.
Karin mengangguk lagi. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia merasa itu bukanlah pertanyaan tetapi pernyataan. Setelah mengatakan itu, Benedict melangkahkan kakinya keluar kamar.

Blam!
Pintu tertutup dengan keras. Seketika air mata Karin mengalir. Dia tidak menyangka akan begini jadinya. Pernikahan bahagia yang sangat diidamkannya hancur begitu saja.
“Tuhan, berikan kekuatan untuk hatiku agar sanggup menahan sakit yang dibuat olehnya,” isaknya.

Dua bulan berlalu. Pernikahan Karin dan Benedict masih sama datarnya. Benedict yang sibuk kerja dan Karin yang menyibukkan diri di rumah. Namun, sepertinya mulai hari ini akan berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Malam ini, Benedict pulang lebih awal dari biasanya. Itu jelas membuat Karin heran, tapi dia berusaha tidak peduli akan hal itu. Tak berapa lama kemudian, terdengar Benedict sedang bertelepon dengan seseorang.

“Hn, masuklah. Pintunya tidak dikunci,” ucapnya.

Karin mengernyit, siapa yang berbicara dengan suaminya tadi. Apa itu ayah dan ibu mertuanya? tapi sepertinya tidak mungkin. Sedingin-dinginnya Benedict, dia tetap menghormati orangtuanya. Lalu siapa? Ah, mungkin temannya, batin Karin.

“Ben…”
Terdengar suara perempuan memanggil suaminya. Lalu, terdengar suara Benedict menanggapi.
“Sara, duduklah.”

Sara? siapa dia? Karin penasaran dengan perempuan yang singgah di rumahnya saat ini.

“Kau sudah makan?” tanya Benedict.
“Belum. Aku lapar Ben,” jawab perempuan itu dengan suaranya yang manja.

Karin benar-benar tidak menyukainya. Dia yang berstatus sebagai istri dari Benedict tidak pernah berkomunikasi dengan baik dengan suaminya itu. Sementara perempuan itu? Sangat manja kepada suaminya.

“Karin!”

Merasa namanya dipanggil, Karin segera menemui Benedict di ruang tamu. Sejenak Karin terkejut dengan apa yang dia lihat. Benar-benar pemandangan yang menyakitkan mata. Di mana perempuan yang bernama Sara itu sedang merangkul mesra lengan suaminya. Namun, segera saja Karin menormalkan ekspresinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Karin.
“Buatkan makanan untuk Sara,” perintah Benedict.
“Baik,”

Tak lama kemudian, Karin membawa nampan berisi makanan untuk perempuan yang diyakininya sebagai selingkuhan suaminya.
Tanpa banyak bicara, Karin meninggalkan mereka berdua dan segera menuju kamarnya.

Peristiwa dimana Benedict yang membawa selingkuhannya ke rumah terulang lagi dan lagi. Ini sudah kesekian kalinya dia melihat Benedict bermesraan dengan selingkuhannya. Karin benar-benar tidak tahan dengan hal itu sehingga memutuskan untuk mengatakan semua yang mengganjal di hatinya. Dengan langkah kasar Karin menemui dua orang yang sedang bermesraan itu.

“aku ingin bicara,” ucap Karin.
Awalnya Benedict hanya meliriknya, namun akhirnya dia buka suara, “Bicara saja.”
“Tidak di depan perempuan ini,” ucap Karin dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
Terlihat Benedict menghela nafas, “Pulanglah Sara.”

Setelah Sara pulang, Benedict berdiri dan kembali membuka suaranya, “Jangan membuang waktu.”
Plak!
Karin menamparnya. Benedict tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Sontak dia menatap tajam Karin, “Apa maksudmu?”
“Apa maksudmu?” Karin mengulangi pertanyaan suaminya, “Kau bilang apa maksudmu? Lucu sekali. Bukankah seharusnya itu yang menjadi pertanyaanku, Tuan Benedict?” Karin mengatakannya dengan air mata mengalir di pipinya.

Benedict terkejut, namun ia bisa menyembunyikannya dibalik wajah datarnya itu.

“Aku tau kita menikah karena perjodohan, tanpa cinta, kupikir kau bisa menerimanya seiring berjalannya waktu. Aku bisa memahami kau yang tidak suka diatur oleh selain orangtuamu. Aku bisa menerima bahwa kau tidak ingin berada dalam satu kamar bersamaku. Aku mencoba mengerti akan kesibukanmu dalam bekerja. Tapi kenapa? kenapa kau tidak menghargaiku sebagai istrimu?” teriak Karin menjelaskan isi hatinya saat ini.
“Hiks.. Kenapa kau begitu tega kepadaku? Kau membawa selingkuhanmu ke rumah dan menunjukkan secara terang-terangan didepan istrimu sendiri. Kau anggap apa aku ini?” lanjutnya.
Karin benar-benar menumpahkan emosinya saat ini kepada Benedict. Kakinya terasa lemas sehingga dia jatuh terduduk di lantai. Benedict yang melihatnya sontak berteriak pelan, “Karin,”

Terlihat Benedict hendak memeluk Karin. Mengetahui hal itu, ia meronta menolak pelukan suaminya. Namun apa daya Karin yang kehabisan tenaga karena telah meluapkan emosinya tadi hanya diam di pelukan Benedict.

“Kenapa? Hiks.. Kenapa kau begitu jahat padaku? Kau benar-benar tidak punya perasaan. Hiks.. Kau pikir aku ini patung sehingga tidak bisa merasakan sakitnya melihat suami sendiri bermesraan dengan selingkuhannya dirumah?” isaknya.
“A-aku berusaha menjaga hatiku agar tetap m-mencintaimu. Hiks.. Kau tau? Aku berharap k-kau bisa mencintaiku walaupun hanya s-sedikit saja. Hiks.. t-tapi…” kata-kata Karin terhenti karena sesuatu telah membungkam mulutnya.
Bibir Benedict. Benedict menciumnya. Karin terkejut. Sepuluh detik, bukan waktu yang lama namun mampu memporak-porandakan hati Karin.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Karin dengan air mata yang masih mengalir.
“Aku mencintaimu,” ucap Benedict.
Karin menatap tidak percaya. Tidak mungkin. Beberapa waktu yang lalu saja orang yang mengatakan cinta padanya masih bermesraan dengan perempuan lain. Bagaimana mungkin sekarang orang ini mengatakan cinta padanya.

“Maafkan aku membuat hatimu terluka. Kau tau aku melakukannya untuk apa?” tanya Benedict pelan.
Karin tidak merespon. Dia hanya menatap suaminya dan menunggu lanjutan ucapan darinya.

“Aku melakukannya karena aku ingin kau mencintaiku dengan sendirinya. Apa kau juga tau kalau kita tidak benar-benar dijodohkan?” tanyanya lagi.
Karin menggeleng pelan. Benedict tersenyum.

“Sudah lama aku memperhatikanmu. Berulang kali aku mencoba melamarmu, tapi ayahmu menolak. Dia tidak mengizinkanku menikahimu karena kau masih sekolah. Dia memintaku untuk menunggu kelulusanmu dahulu. Aku menunggumu hingga saat itu tiba. Ayahmu memintaku agar seolah-olah ini adalah perjodohan sehingga aku bersikap seperti ini padamu. Maafkan aku. Aku mencintaimu, Karin,”

“Katakan sekali lagi,” pinta Karin.
“Aku mencintaimu,”

“Lagi,”
“Aku mencintaimu,”

“Lagi,”
“Aku mencintaimu,”

“Terimakasih Ben,” ucap Karin sembari memeluk erat suaminya. Dia sangat bahagia karena berhasil menjaga hatinya demi mendapatkan pernikahan yang diidamkannya.

END

Cerpen Karangan: Anhar Restu
Facebook: Anhar Restu
Saya mohon maaf jika ada typo. Terimakasih sudah membaca.

Cerpen Menjaga Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik Sebuah Kapal Besar

Oleh:
Aku mencarimu dibalik bayang-bayang yang tertawa dan kesepian yang menanti. Mungkin kapal raksasa berwarna biru, putih, kuning dan merah yang mewakilkan warna salah satu mini market Indonesia ini akan

Skenario Tanpa Rencana

Oleh:
Antares keluar dengan wajah masam dari ruang pasien di mana Bella dirawat. Pria berpostur atletis itu mengambil posisi duduk berjarak 2 bangku dari tempat Carina duduk. Suasana sepi ruang

Varamedic

Oleh:
Pagi dirumah sakit varamedic. Rumah sakit swasta yang terletak di pusat kota. Linkungannya yang bersih dengan tata bangunan yang rapi. Apalagi lihat perawat wanita dengan senyum manisnya, aduhai tergoda

My Love

Oleh:
Aku menghapus titik embun di kaca mobil. Udara dingin di pagi ini terasa menusuk sampai ke tulang, aku mematikan ac mobil dan kembali merapikan duduk ku. “kenapa ayu.” hari

Ayunan Merah

Oleh:
Pagi ini terlihat sangat cerah. Angin bertiup dengan lembut menembus kulitku dan juga membuat rambutku menari-nari. Burung-burung berkicauan di jendela rumahku. Ku buka jendela, dan ku lihat matahari belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *