Menolak Rasa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

Sudah hampir empat tahun aku tinggal di kota metropolitan ini. Banyak yang berubah dari diriku. Setelah tinggal di lingkungan yang baru, aku merasa lebih hidup. Teman-teman kuliah yang tak pernah membuatku bosan, kehidupan kampus yang penuh kejutan, dan yang paling istimewa adalah keberadaan Hiro. Aku kenal Hiro saat hari pertama masuk kuliah, kebetulan saat itu dia duduk di sampingku.

Dengan senyum gigi putihnya, dia mengulurkan tangan sambil bertanya, “Namamu siapa? Aku Hiro.” Tidak ada yang istimewa dari Hiro, dia seperti laki-laki yang lain. Hanya saja, dia begitu baik kepadaku, dan aku sangat mempercayainya. Dia teman berbagi yang jujur, selalu bicara apa adanya.

Pernah dia bertanya penuh selidik, “Denger-denger kamu lagi diet Ren?”
“He? Kata siapa?”
“Bener nggak?”
“Ah nggak kok, aku kan nggak terlalu gendut.”
“Kalau iya juga nggak apa-apa kok.”
“Kok maksa jawabannya iya? Jangan sok tahu deh.”
“Hahaha, ya udah kalau emang nggak.”

“Kenapa nanya gitu? Kamu mau nyuruh aku diet juga?”
“Ya nggak lah. Kenapa harus nyuruh, aku kan cuma nanya.”
“Terus kalau aku emang lagi diet, kamu mau ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain, cuma mau bilang aja sih. Kalau kamu memutuskan diet karena kamu merasa terganggu dengan badanmu yang sekarang, ya nggak apa-apa. Tapi kalau cuma karena biar menyenangkan orang lain, buat apa?”

“Emang beda yah? Perasaan sama aja deh.”
“Ya beda lah, coba pikirin lagi.”
“Hmm… selama ini sih aku masih ngerasa baik-baik saja, dan emang selalu orang lain sih yang bilang kalau aku perlu diet, makanya aku ngerasa terpaksa.”
“Berarti, intinya sekarang kamu emang lagi diet?”
“Aku nggak bilang gitu, Hiro!!” Hiro meringis menahan tawa, memamerkan gigi putihnya.

Percakapan semacam itulah yang membuatku ketagihan berada di dekat Hiro. Dia adalah teman yang memiliki cara berbeda dalam memperlakukanku. Aku betah berlama-lama di dekatnya. Dia selalu punya bahan candaan baru, dan aku selalu siap untuk mendengarkan ceritanya. Kadang candaan itu berakhir menyebalkan karena ujung-ujungnya ternyata aku sedang disindir, tapi aku tak pernah merasa kapok.

“Ren, kamu udah denger gosip dari temen-temen?”
“Gosip yang mana, Hiro?”
“Apalagi, gosip kita berdua, emang ada yang lain?”
“Oh…”

Obrolan itu terjadi di suatu malam, saat kami sedang makan di warung ramen dekat kampus. Ada jeda panjang sebelum percakapan berlanjut, kami saling memandangi mangkok masing-masing sambil mengaduk-aduk isinya. Kepulan uap air sesekali melintas tepat di depan wajahku dan wajahnya. “Memangnya kenapa, Hiro?” Aku menunggu jawaban Hiro dengan perasaan tak nyaman. Aku lihat Hiro sedang meniup-niup gulungan mie yang ada di ujung sumpitnya.

“Ya aku sih nggak nyaman aja.” Sedetik kemudian gulungan itu sudah dalam kunyahannya.
“Please Hiro, jangan dengerin mereka, itu kan cuma asal ngomong aja.”
“Oh ya? Gimana kalau ternyata mereka nggak asal ngomong?”
“He? Maksudmu?”
“Iya, gimana kalau gosip itu bener.”

Aku menegakkan posisi duduk, lalu meletakkan sumpitku di atas meja.
“Jangan berandai-andai, Hiro.” Demi melihat reaksiku, Hiro terperangah sejenak.
“Oh maaf Ren, maaf. Aku nggak bermaksud apa-apa. Ganti topik deh, sorry ya.”
“Jangan jadi aneh gini deh, biarin mereka ngomong sesukanya, nggak perlu digubris, aku ngambek beneran nih kalau kamu bahas itu lagi.”
“Oke-oke Ren, siap 86!”
“Apaan sih…”

Begitulah, terkadang kami merasa serba salah, bukan karena celetukan teman yang mengatakan kami saling suka, bukan itu. Tapi karena kami tidak pernah mengakui bahwa kami saling suka. Memperlakukan perasaan sebagai hal yang tabu. Hingga suatu saat aku menceritakan tentang sebuah rahasia kecil kepada Hiro. Saat itu aku tak menyadari reaksi Hiro sedikit berubah karena ceritaku itu. Aku sempat kehilangan dia beberapa waktu, sebelum dia kembali dan semuanya berjalan normal lagi. Aku tak menemukan hal yang berbeda darinya, dia tetap baik, dan dia masih ‘setia’ menjadi salah satu teman terdekatku. Namun, aku merasa, topik tentang perasaan kami menjadi semakin tabu, jauh lebih tabu, walau aku tak begitu yakin.

“Gimana kondisimu Ren?” Aku masih ingat kejadian malam itu, ketika aku baru sadar setelah ke luar dari ruang operasi. Perlahan aku membuka mata, memicingkan mata sebentar untuk kemudian berkedip-kedip menyesuaikan cahaya terang di kamar itu.
“Baik, Hiro. Tapi masih agak pusing.”
“Nggak apa-apa, itu cuma sisa efek obat bius. Istirahat aja ya.” Hiro menatap dengan senyum, tangannya memegang pinggiran ranjang dan badannya condong ke arah wajahku. Mengamatiku dari dahi sampai ujung dagu. Aku hanya bisa mengangguk lemas.

“Oya, orangtuamu sebentar lagi sampai di sini. Aku tadi yang mengangkat teleponnya, maaf ya nggak izin dulu, kamu sedang di ruang operasi.”
“Terus mereka bilang apa lagi?”
“Nggak ada sih.”
“Kamu bakal di sini aja kan?”

Hiro menegakkan badannya, menghembuskan napas yang kelihatannya berat, kemudian berbalik, berjalan mendekat ke jendela, menempelkan telapak tangan kirinya di kaca jendela.
“Sepertinya aku mau pulang saja Ren. Nanti ada si Ita dan si Ana yang menungguimu di sini, tapi mungkin masih sejam lagi mereka datang.”
“loh, kenapa? Nggak bareng-bareng di sini aja, Hiro?” Aku hanya bisa melihat bayangan wajah Hiro dari pantulan kaca jendela.
“Sejujurnya aku takut Ren. Aku nggak pengen nanti orangtuamu mengira yang bukan-bukan ketika melihat ada laki-laki yang menjagamu di sini.” Aku tersentak mendengar kata-kata Hiro.

Aku mulai memaksakan diri melawan rasa pusing yang masih ada di kepalaku.
“Jangan berpikir terlalu jauh Hiro…”
“Maaf Ren, aku kan memang terbiasa berpikir begitu.”
“Iya, tapi please Hiro, ini kan kondisinya beda.”

Hiro tidak segera merespon kalimatku, dia membiarkanku menunggu. Pandangan Hiro masih tertuju di antara bangunan-bangunan tinggi gemerlap yang berlomba-lomba menerangi seluruh kota. Suara klakson mobil di jalanan sana, hanya terdengar lirih, namun bersahutan tak pernah terputus, menandakan antrean macet di mana-mana. Kota ini sedang mengalami kegaduhan di malam yang seharusnya senyap, sama seperti yang terjadi pada pikiran kami berdua saat itu.

“Ren, aku mohon sekali ini saja kamu mau membiarkanku.”
“Hiro, kamu sudah membantuku, biarkan orangtuaku sekedar mengucapkan terima kasih kepadamu.”
“Ah, aku tidak butuh itu Ren.”
“Oke, mungkin kamu tidak butuh, tapi aku butuh!!”
“Tapi, soal perjodohan itu Ren…”
“STOP!! Cukup Hiro!! Aku bisa menjelaskannya kepada mereka!!!” Aku tak bisa menahan nada bicaraku.
“Aku nggak yakin Ren, lebih aman bagiku kalau mereka tak pernah kenal aku.”

“Jadi, kamu lebih memikirkan dirimu sendiri, begitu?!”
“Bukan Ren, bukan seperti itu.”
“Kamu terlalu takut, Hiro. Kamu juga tidak percaya padaku, bahwa aku bisa menangani situasi ini!”
“Maaf Ren, aku benar-benar nggak bisa…”
“Hiro, kamu…!!” dadaku tiba-tiba sesak, aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. Sebagai gantinya, aku mulai terisak.
Hiro mendekat ke ranjangku. Sambil tersenyum, dia berkata, “Udah Ren, jangan diterusin lagi, kamu masih belum pulih, sampai ketemu di kampus ya…”

Baru kali ini aku sebal melihat senyum gigi putihnya. Aku hanya diam membiarkan dia berjalan ke luar. Aku masih tak percaya dengan sikap Hiro yang bakal seperti ini. Aku kira dia tak mempermasalahkan tentang hal itu. Tapi ternyata aku salah, bahkan itu sangat memberatkan perasaannya.
“Hiro….!!!!” Aku berteriak sekuat yang aku bisa, namun nampaknya sudah terlambat. Hiro sudah menutup pintu kamar dengan pelan sepersekian detik yang lalu. Dia pasti tak mendengar suaraku. Atau, pura-pura tak mendengar?

Aku membetulkan posisi dudukku. Sudah setengah jam aku menunggu di boarding lounge, sambil melamun mengenang kisahku bersama Hiro di kota ini. Aku melirik jam tangan, ah masih sekitar 15 menit lagi sebelum keberangkatan. Aku mencoba duduk lebih rileks sambil menikmati lagu-lagu yang diputar dari handphone-ku.

Setelah kejadian di rumah sakit itu, Hiro tidak pernah menepati janjinya, katanya sampai jumpa di kampus? Tapi mana? Bahkan saat hari wisudaku pun dia nggak datang. Jujur aku kecewa. Tapi semakin aku kecewa pada Hiro, entah kenapa aku juga semakin kecewa pula terhadap diriku sendiri, apakah ini juga gara-gara aku? Aku merasa kembali menjadi diriku yang dulu. Hidup di balik topeng palsu yang menutup diri.

Secuil ruang hati yang dulu pernah ada Hiro di situ, sekarang kembali kosong dan mulai usang. Aku tersiksa, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entahlah, aku terlalu lelah untuk memikirkannya. Sekarang aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku mendesah pelan, memejamkan mata, sambil menaikkan volume headset-ku.

“Lately I got this feeling I don’t know what’s the meaning
But I know it’s strong And it’s over you
All I want is to be home with you, Oh ooh oh……”

“And right now I just wish you were here, Oh ooh oh
Right now I just wish you were here Oh ooh oh (“permisi….”)
Right now I just wish you were here” (“permisi….”)
“Every night A different city….” (“maaf mengganggu.”)

Aku membuka mata dan mendapati seorang laki-laki sedang mencoba berbicara kepadaku.
“Iya, ada apa ya?” aku melepas headset dari telingaku.
“Maaf mengganggu, kalau tidak salah, anda Rena kan?”
“Benar, maaf anda siapa?” Aku mengernyitkan kening. Pikiranku mengingat-ingat wajah yang tak asing ini. Mata itu…
“Senna?” Aku refleks menyebut nama itu, setelah melihat warna madu mata laki-laki di sampingku.
“Iya Kak Rena, aku Senna. Apa kabar? Long time no see…”

“Baik Senna, kamu gimana? Mau ke mana? Wah kebetulan banget bisa ketemu di sini.”
“Iya Kak, aku mau pulang kampung, berarti kita naik pesawat yang sama Kak.”
“Kamu habis ngapain di sini? Kuliah?” Aku sangat bersemangat ngobrol dengan Senna.
“Oh nggak Kak, aku habis liburan aja di sini ke tempat saudara. Kakak gimana kuliahnya? Udah lulus?”
“Oh gitu. Iya aku baru aja lulus bulan lalu.” Senna hanya mengangguk-angguk.
Mendadak aku ingat kejadian kecil yang aku rasakan saat terakhir bertemu Senna, membuatku jadi diam beberapa saat.

“Kak, dulu kok Kakak menghilang gitu aja sih?” Senna menatapku tajam, seolah ada sesuatu besar yang mengganjal di pikirannya.
“Eh? Menghilang? Maksudnya?”
“Iya, sejak Kakak dapet pengumuman diterima di universitas itu, aku udah nggak pernah lihat Kakak di sekolah.”
“Oh itu, aku masih beberapa kali datang ke sekolah kok, ngurus ijazah segala macem. Mungkin kebetulan aja nggak ketemu ya.”
“Aku udah nyari kontak Kakak juga, tapi sepertinya nomornya udah ganti.”
“Gitu ya, maaf Senna, nggak bilang-bilang..”
“Iya Kak, nggak apa-apa, untung sekarang ketemu, hehe. Oya Kak, gimana kuliah di sini Kak? Enak ya? Kan keren.”
“…”

Tidak Senna. Di sini tidak keren, juga tidak enak. Sejauh apa pun aku melarikan diri, sepertinya pengalaman pahitku di sini akan terus mengendap di kepala. Kenapa kamu muncul di hadapanku sekarang? Apa maksudnya ini? Kenapa baru sekarang tatapanmu menjadi seperti ini?

“Kak, kenapa diem aja? Kakak nggak apa-apa kan? Kak…”

Aku tidak mendengarmu Senna, aku cuma bisa melihat gerakan bibirmu. Apa yang aku alami bersama Hiro, juga berawal dari perasaan seperti ini Senna. Aku tidak meminta rasa ini ada, tapi aku juga tak kuasa menolaknya. Tapi kalau aku tak mampu menolaknya, bisa jadi ada hati yang akan tersakiti. Hatiku, dan hati korbanku. Cukup satu kali aku merasakan sakit ini, dan cukup satu orang saja yang aku sakiti. Tidak, aku tidak boleh punya harapan seperti itu lagi.

“Ayo Kak, udah ada panggilan penumpang pesawat kita.” Kamu meraih lengan bajuku.
“Tidak Senna!!” Aku menghentakkan tanganku, genggamanmu terlepas. Maafkan aku Senna, aku tak mau membuat kesalahan lagi. Aku berlari, meninggalkanmu yang berdiri mematung penuh tanya.

Cerpen Karangan: Achor Mohammad
Facebook: Achor Mohammad

Cerpen Menolak Rasa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gantung

Oleh:
Malam yang ramai, ratusan orang memadati sebuah SMAN favorit di Kabupaten Temanggung. Mulai dari gerbang, lapangan, hingga kelas-kelas semuanya dipadati dengan kehadiran orang-orang, meskipun hujan tetapi tetap tidak menyurutkan

Rindu

Oleh:
“Loe beneran nggak mau jalan sama gue ntar sore?” Tanya Bayu padaku. “Males ah!” “Kok gitu sih Rin? Kemarin ajah Loe semangat banget pengen ke mall. Trus sekarang, Loe

Semoga Kau Bahagia

Oleh:
Tak terasa-rasa hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun-pun berganti tahun, kini usiaku genap 21 tahun. Di Dunia ini tiada yang aku takuti, musuh tak kucari. Namun, jika

Pahlawan Penyakit

Oleh:
“Firli! Kamu gak apa-apa kan?! Firli!” Bunda berusaha membangunkanku yang sedang terbaring lemah di Trotoar, Aku Hanya bisa mendengar teriakan Bunda “Kamu ya! Kalo jalan pake mata dong! Udah

Menunggu Takdir

Oleh:
Aku tertawa-tawa bersama teman-temanku Alumni SD angkatanku. Hari ini sekolahku mengadakan reunian akbar. Dari satu angkatan diatas angkatanku hingga dua angkatan dibawahku. Bertempat di Sekolah ini, aku takjub mendapati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *