Menunggu Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 8 November 2015

Melangkahku dalam sudut,
Bergaungku dalam lembut,
Menariku dalam kabut,
Dan senja belum lagi datang menyambut

Rinai kembali bergemiricik di sore hari. Membuat basah kuyup Rega saat ia harus pulang tepat waktu, untuk bergegas menghabiskan seluruh buku bacaan yang baru dibelinya siang tadi. Rega, Rega Aliansa begitulah namanya. Rinai membuat langkah mungilnya berjalan lesu. Memandang langit dengan mata kosong yang semakin menggelap. Ia berhenti di sebuah warung kecil. Menikmati secangkir teh dan mie ayam. “Dingin..” keluh Rega dengan tangan yang sedari tadi sengaja disatukan untuk menciptakan kehangatan.

“Waktu semakin tak bersahabat” gumamnya yang dibarengi dengan lirikan pada jam tua yang terpasang di dinding cokelat warung itu. “Sudahlah, mungkin becak bisa mengantarkanmu kali ini untuk sampai lebih cepat, Rega.” Hatinya sudah tak sabarkan diri. Ia berdiri, membayar makanan, dan segera bertengger di bawah payon warna putih luar warung.
“Mbak tidak perlu terburu-buru, masih hujan.” Sela Bapak penjual.
“Tidak apa-apa Pak, saya sedang menunggu becak.” Rega tersenyum.
“Itu ada becak mbak. Becak.. becak..” Teriak Bapak penjual itu.
“Terima kasih Pak, mari Pak.” Rega tersenyum dan bergegas menaikki becak.

Sepanjang jalan Rega menatap langit yang lagi-lagi kosong dan gelap. Ada yang mengganggu pikirannya.
“Senjaaa..” tiba-tiba kata itu muncul tak beratur. Rega gugup dan menggeleng-gelengkan wajahnya berusaha keras untuk menahan rasanya.
Senja, langit yang menjingga. Senja, perbatasan dua waktu yang berbeda.
“Mbak, sudah sampai. Mbak.. Mbak?” Panggil tukang becak.
“Eh, oh sudah sampai. Terima kasih Pak.” Rega turun dan memberikan uang pada tukang becak. Pikirnya linglung seketika.

Malam menjadi lebih panjang, dan ranjang itu menjadi lebih sempit. Rega membolak-balikkan bukunya, tapi tetap tak bisa fokus dengan bacaannya.
“Rega..” Sapa Diska teman satu rumahnya.
“Hai Dis..” Tanpa melirik.
“Reg, kamu baik-baik saja kan? Akhir-akhir ini sepertinya kamu lebih senang menghabiskan waktu sendiri. Kamu lebih senang berdiam sendiri.” Tanya Diska.
“Aku baik Dis, sungguh aku baik. Hanya perasaanmu saja yang selalu berusaha memperhatikanku.” Rega terkekeh, dan Diska terdiam jengkel lalu pergi.
Rega meliriknya yang sudah berlalu. Lalu Rega mengambil buku mungil bewarna kuning dan entah kenapa ia ingin menggoreskan kata dengan penanya.

“Apa kabar kamu? Semoga baik menemani langkahmu. Kamu tahu, aku merindukan rona merahmu. Aku merindukan warnamu yang membuat jingga sore lalu lebih indah. Aku merindukan derumu yang membuat degupku tak karuan. Aku rindu.. Kristal putih itu luruh seketika.” Rega sesenggukan, lalu menatap layar handphone yang sedari pagi membisu.
“Sudah sebulan..” gumamnya.

Pagi bulan lalu, getar handphone pukul 5 pagi itu membuat Rega kalang kabut.
“Hallo..” dengan malas-malasan rega menaikkan badan dan bertumpu pada tembok kamar.
“Selamat pagi Reg, hayo pasti baru bangun kan?” Suara itu mengejutkan Rega.
“Iy.. Iya.. Siapa?” Rega mengucek-ngucek matanya.
“Kamu punya hutang janji sama saya. Nanti jam 6 saya jemput kamu.” Rega gelagapan. Ia baru tersadar dengan suara itu. “Arya..” batinnya.
“Tap.. Tapii Ar…”
“Sudah-sudah tidak tapi-tapian. Jam 6 tepat ya. Sana mandi Reg. Sampai ketemu.”
“Ar.. Arya..” telepon terputus. Rega muram.
“Dasar Arya, selalu seenaknya.” Gerutunya.

Arya Handika, atau yang lebih akrab dipanggil Arya, cowok berambut cepak dengan tinggi 169 cm itu adalah orang yang baru dikenalnya 3 bulan, di sebuah tempat bimbingan belajar. Sebuah tempat bimbingan yang meharuskan Rega mengenalnya karena berada di kelas yang sama. Selasa dan kamis adalah hari mereka harus bertemu, berada di kelas yang sama, dan Rega harus melihat tingkah-tingkah aneh yang bisa membuatnya geleng-geleng kepala. Diska adalah salah satu korban keanehan Arya. Hampir setiap bertemu, kata tengkar tidak pernah bisa lepas. Suatu ketika saat pertama kali perjumpaannya, Rega yang sedang asyik duduk dengan membaca buku harus dipusingkan dengan gerutuan Diska yang tak berhenti dan mendengar kekehan Arya yang dengan bangga telah membuat kata jengkel itu menyeruak dari mulut Diska.

“Aaah, itu anak nyebelin Reg. Masa tadi pas aku duduk. Kakinya diangkat ke atas tempat dudukku. Mana rambutku pakek ditarik-tarik lagi.” Gumam Diska. Rega hanya tertawa kecil mendengar keluhan Diska.
“Apa kamu Dis?” Sambar Arya. Yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang mereka. Rega hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Apa si kamu Ar, nggak bisa apa ya diem. Sana kamu!” Diska cemberut dan mengucap sumpah serapah. Arya hanya terekekeh begitu saja. Tak peduli kekesalan seperti apa yang dirasakan Diska, sedang Rega hanya melihat, mendengar, dan sesekali menertawai keduanya.

Ketika jam pulang, tiba-tiba Arya memanggil Rega.
“Rega.” Arya mendekati tempat duduk Rega.
“Iya, ada apa?” jawaban datar itu membuat Arya duduk di sebelahnya.
“Kamu mau pulang ya? saya boleh minta nomor handphone-mu?” pinta Arya.
Tanpa berpikir panjang, Rega mendektekan nomor handphonenya. Kemudian pamit pulang dan berlalu. Di ujung pintu Arya hanya tersenyum tipis.

Hari itu tak pernah disangka akan menjadi hari di mana dunia Rega bisa berubah. Hampir setiap hari Arya tak berhenti mengganggu malamnya. Sms selalu datang setiap pagi, berlanjut di siang hari hingga larut. Bahkan terkadang membuat Rega jengkel. Di tempat mereka biasanya bertemu pun, sekarang bukan hanya Diska yang menjadi bahan keisengan Arya, tetapi Rega juga. Sesekali Rega harus manyun di balik celetukan yang Arya buat. Risi, sebel, dan jengkel. Tiga hal itu yang sering Rega batin, tetapi berbeda ketika sms yang ia terima, Rega mampu membuat simpulan senyum tersungging manis di bibirnya.

Pagi bulan lalu adalah pagi yang cerah. Pagi yang membuat hati Rega tiba-tiba berdegup lebih kencang dari biasanya. Pagi yang membuat rasa lapar dan haus sirna. Pagi yang membuat ceria itu lebih bersinar.
“Selamat pagi Rega.” Sapa Arya dengan membuka helmet warna merah. “Ayo naik. Saya hanya akan mengajakmu berjalan-jalan saja.” Arya tersenyum. Rega hanya terdiam untuk beberapa waktu, lalu bergegas menggunakan helmet warna putih yang sudah dibawakan Arya dan naik.

Sepanjang jalan guyonan dan obrolan kecil menengahi keduanya. Apalagi harum parfum Arya, membuat pikiran kecil Rega bertanya-tanya.
“Harum parfumnya itu…” Batin Rega. Sudah hampir 2 jam mereka menyusuri banyak jalan. Tetapi Arya tak ingin berhenti. Dia hanya ingin berjalan-jalan saja, menikmati jalanan kota yang riuh dan terik.
“Makasih Ar.” Rega turun dan menyalami Arya. Dia tersenyum tipis.
“Sama-sama Reg. Makanya lain kali kalau saya anterin pulang bimbingan mau ya. Biar kamu nggak perlu repot-repot janji sama saya.” Arya terkekeh dan berbalik senyum. Kemudian ia berlalu.

Sore datang, seperti biasa bimbingan masih berjalan. Sore itu Rega tampak malas. Arya datang terlambat. Duduk di sebelah Rega. Keduanya tampak canggung memang saat berada di keramaian. Saat semua mata melihat ke arah mereka, dan beberapa godaan kecil datang. Rega menjadi muram, pipinya serasa dibakar hingga rona merah membuat gerah ruangan ber-ac itu.
“Dis, aku pindah di sebelahmu ya?” Pinta Rega ketika jam istirahat tiba. Sepertinya Rega sudah tidak sanggup menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada dirinya. Diska hanya mengangguk dan tersenyum melihat arah Rega yang langsung berpindah. Arya tampak heran, tapi dia hanya diam dan melanjutkan bimbingannya.

Tiba-tiba handphone Rega bergetar. 1 pesan dari Arya.
“Reg, saya antar pulang ya. Saya mau mengembalikkan bukumu. Tapi bukumu masih tertinggal di rumah.”
Tiba-tiba Rega takut, hatinya tak karuan. “Tidak usah. Besok saja bisa kamu kembalikan.” Balas Rega.

Bimbingan telah usai. Ia bergegas mengajak Diska pulang. Sepanjang jalan, hatinya gamang. Carut marut tak beraturan.
“Kenapa denganku? kenapa aku sebegitu takut? padahal seharusnya tidak.” Batin Rega.
Handphone Rega bergetar kembali. 1 pesan dari Arya.
“Reg, kamu sudah sampai? Saya di depan rumahmu.”
“Ha? Sebegitu pentingkah buku itu? sepertinya tidak untukku.” Rega mencoba berbicara pada dirinya sendiri.
“Sebentar lagi sampai. Tunggu ya.” Balas Rega.

Malam semakin larut. Rega sampai. Arya sudah mengeluarkan buku kepunyaan Rega.
“Reg, Ar, aku masuk duluan ya.” Sahut Diska.
“Iya Dis.” Jawab Arya.
“Reg, ini bukumu. Maaf ya, jika tadi terlalu memaksa.” Tangan Arya mengulurkan buku pada Rega.
“Iya, nggak apa-apa kok.” Jawab datar Rega.
“Ya sudah saya pamit pulang ya. Oh iya di dalam buku itu ada beberapa kertas buat kamu. Buka yang warna putih lebih dulu ya, warna kesukaan kamu.” Arya berlalu dengan senyum.

Rega bergegas masuk, membuka buku itu dan mencari kertas yang dimaksud Arya. Tujuh kertas dilipat origami berbentuk hati dengan warna-warni. Kertas pertama bewarna putih yang Rega buka.
“Hai Rega. Kamu nggak perlu bingung. Cukup buka satu persatu kertas ini. Jangan lupa ikuti kata hatimu. Selamat berjuang.
-AH-”

Rega tersenyum tipis. Pelan-pelan ia membuka satu demi satu kertas itu. semua isinya adalah kata-kata indah. Sampai pada kertas yang terakhir. Kertas bewarna merah. Hati Rega tiba-tiba berdegup. Ia membuka kertas itu perlahan.
“Selamat Rega. Kamu telah berhasil.” Rega berhenti membaca. Tangannya gemetar, dan mulai melanjutkan lagi kata terakhir di kertas itu.
“Kamu berhasil membuat saya jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu menjadi bagian dari hati kecil saya dan tinggal di sana?”
Rega hanya terdiam. Serasa ruangan itu menjadi sesak, ia bingung harus berbuat apa. Ia hanya bergulat dengan rasanya. Bergulat dengan apa yang menjadi mimpinya, menjadi inginnya. Tapi dia hanya bisa berkata maaf. Menyesali waktu yang sungguh terlalu cepat.

“Maaf Arya, aku nggak bisa. Tapi bukan berarti aku tidak mau. Maaf ya Ar. Mungkin tidak untuk saat ini.”
Rega membacanya berulang-ulang. Kemudian mengirimkannya pada Arya. Lama, lama waktu Rega menunggu. Hingga larut berganti pagi. Rega hanya merenung, menyesalkan waktu. Menyesalkan perasaannya sendiri.
“Mungkin memang aku masih terlalu takut membuka hati. Terlalu takut menjadi bagianmu. Terlalu takut tak bisa menjaga hatimu nanti.” Batin Rega mengadu.
Handphone Rega bergetar. 1 pesan Arya.
“Tidak apa-apa Reg.? Makasih ya buat jawabanmu. Tapi kamu harus ingat. Saya tak akan pernah mundur buat kamu. Mungkin memang kamu butuh waktu. Kita butuh waktu.” Rega sesenggukan, di tengah suara ayam yang mulai berkokok kembali.

Hari bimbingan kembali tiba, tapi akhir-akhir ini ada yang berbeda. Arya tak terlihat sekalipun. Beberapa orang menanyakan keberadaannya kepada Rega. Tapi Rega pun tidak tahu keberadaannya. Setiap waktu Rega mengecheck inbox handphone-nya, mencari-cari apakah ada pesan Arya yang ia lewatkan. Tapi kosong. Beberapa kali juga Rega mengirim pesan meskipun hanya berisi kata hai. Tapi tak ada jawaban. Handphone Arya mati.

“Sudah sebulan..” Rega terus bergumam.

Rega sekarang hanya perlu menunggu waktu lagi dan mengira-ngira mungkin Arya sedang ada keperluan atau sedang ada urusan yang tidak bisa menyempatkannya untuk menghubungi Rega. Ia juga tetap berusaha bertanya pada teman-teman Arya tentang keberadaannya. Dan malam ini begitu hening. Rega berusaha tersenyum tipis, dan kembali menorehkan sajak. Sajak-sajak kerinduan. Sajak-sajak atas nama Senja. Karena Arya adalah senja, senja bagi Rega. Senja yang bisa membuat semesta merona. Senja yang membuat hatinya tak menentu.

Hai Senja..
Aku ingin kamu meronakan warna merah lagi senja. Tanpa atau dengan sengaja.
Senja..
Bisakah kau dengar riuhku dari sini, atau kecamukku tentangmu. Bisakah kau (lagi) datang membawa ronamu untuk semesta.
Bisakah? Meski aku tahu, aku harus bersabar menunggumu.
Senja..

Cerpen Karangan: Kiky Supriatna Putri

Cerpen Menunggu Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ukiran Mimpi Dalam Takdirku

Oleh:
Malam semakin larut suara jangkrik di halaman terdengar begitu mengalun-alun seolah mereka sedang menyanyikan sebuah tembang yang mampu menyihir orang-orang yang mendengarnya sehingga mereka tertidur dengan pulasnya dan hidup

Summer

Oleh:
“Fel, lo bisa nyangka nggak tentang penyakit pasien kita yang saat ini?” tanya Riska di tengah makan siang mereka. “Entahlah… kita tunggu aja konservasi dari kepala kedokteran.” “Lah, kan

Kamu

Oleh:
Mungkin, aku memang bukan yang terbaik untukmu —bukan sama sekali. Tetapi aku bersikeras untuk mampu mempertahankanmu dalam mengoyakan masa depan kita. Menjiwai tanpa batas naluri keingkaran yang kita miliki.

Seberkas Harapan

Oleh:
kringggg. kringggg. kringgg. akhh. siapa sih pagi pagi gini udah nelpon? handphone ku terus berdering, aku: apa sih. andini: sayang. kamu lagi ngapain sih, hari ini kan kamu ada

Pacar Impian

Oleh:
Suasana diruang tv tampak pecah.Suara sorak ramai terdengar begitu nyaring ditelinga.Gadis yang nan rupawan bernama dian tampak berjingrak-jingkrak dan bersorak-sorai gembira riang.Sedangkan winda, sahabat kos dan kuliahnya hanya tersenyum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *