Menunggu Surat Wartini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 23 July 2013

Kulihat di depan rumahnya sudah terparkir sebuah mobil. Aku memasuki rumahnya. Terlihat Wartini sedang duduk di ruang tamu. Dia melihatku dan segera menghampiriku. Aku memandang wajahnya, nampak jelas sekali kesedihan di wajahnya. Kesedihan yang juga sedang aku rasakan. Aku tahu dia tak ingin meninggalkanku. Wartini akan bekerja di kota, ayah dan ibunya yang menyuruhnya pergi ke kota. Mereka beranggapan bahwa di kota lebih banyak peluang kerja. Dia langsung memelukku seraya meneteskan air mata. Sebenarnya aku juga ingin menangis, tapi aku takut itu akan membuat Wartini semakin sedih. Aku mencoba tetap tersenyum. Dan aku tahu betapa sakitnya tersenyum di saat bersedih.

“Jangan menangis…!” aku berkata sembil menghapus air mata di pipinya. Tapi tetap air matanya menetes. Air mata yang seharusnya tak ada di wajah secantik Wartini.
“Sungguh ini bukan kemauanku. Aku tak berniat meninggalkanmu. Aku hanya seorang anak yang ingin membahagiakan kedua orang tua. Aku tahu kamu akan mengerti.” Wartini mencoba menjelaskan padaku. Dia ingin aku yakin kalau orang tuanyalah yang menginginkan kepergiannya ke kota. Tanpa kau jelaskan aku sudah mengerti War. Tak mungkin kau akan meninggalkan cinta sejatimu, ucapku dalam hati.
“Aku mengerti. Kau tak salah.” jawabku. Aku mencoba ikhlas dengan semuanya. Walaupun sebenarnya kurasakan perih yang mendalam. Mungkin mataku tidak meneteskan air mata, tapi hatiku sudah sejak tadi menangis.
“Aku akan selalu berkirim surat kepadamu. Akan selalu kukabarkan keadaanku padamu.” katanya.
Dia menaiki mobil yang akan mengantarkannya ke kota. Wartini melambaikan tangannya dari balik kaca mobil yang sedang berjalan menjauhi rumahnya. Bukan. Bukan menjauhi rumahnya. Tapi menjauhi aku. Terlihat air matanya mengalir deras tak terbendung. Dan akhirnya, aku juga tak bisa menahan air mataku. Ku balikkan badanku dan kuhapus air mataku. Aku tak mau Wartini melihatnya. Dia tak boleh melihat air mataku. Saat kubalikkan badan, mobil Wartini sudah tidak terlihat. Ya, dia sudah pergi.

Sebulan kepergian Wartini, masih belum ada sepucuk surat yang datang darinya. Aku bisa memaklumi mungkin dia masih sibuk mempersiapkan pekerjaannya. Selama satu bulan juga aku tak berhenti memikirkan Wartini. Wajahnya selalu hadir di setiap kali aku akan memejamkan mata. Aku sangat merindukannya. Saat aku sedang mengerjakan sawah terkadang aku terbayang Wartini yang memanggil namaku dari kejauhan. Dia berlari di atas pematang dengan tangannya membawa makanan untukku. Lalu dia menyuruhku untuk menghentikan sejenak pekerjaanku agar segera menyantap makanan yang dia bawa. Aku selalu teringat kenangan-kenanganku bersama Wartini. Aku juga teringat saat kita tersesat di hutan belakang sekolah. Saat itu Wartini menangis ketakutan. Dia tidak mau terlepas dari pelukanku. Aku punya kenangan manis bersama dia. Kenangan yang mungkin teramat manis. Saat itu kami sedang menikmati senja di sore hari. Kami duduk di pematang menghadap ke ufuk barat menikmati matahari yang mulai pulang ke peraduannya. Langit nampak bersih. Barisan awan berarak mengiringi matahari yang mulai runtuh di barat. Sinarnya mewarnai bentangan langit yang membentuk bak sebuah lukisan. Lukisan senja. Aku ingin mengulang suasana romantis yang lebih romantis dari Paris itu. Wartini menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia selalu berkata, bahu seorang pria adalah tempat sandaran yang nyaman bagi wanitanya. Selalu merasa tenang, nyaman dan merasa seperti terlindungi. Hingga kami tak menyadari apa yang kami lakukan. Aku mencium bibir indahnya.

Sebulan. Dua bulan. Dan akhirnya satu tahun kepergian Wartini. Namun surat darinya tak kunjung datang. Terpikir olehku apa dia telah melupakan aku dan janjinya untuk selalu mengirim kabar padaku. Mengapa hingga setahun ini tak ada satu pun surat yang datang. Rinduku yang tertahan selama satu tahun ini semakin dibuat parah dengan tidak datangnya surat dari Wartini. Aku sudah terlalu merindukannya. Berhari-hari aku memikirkan dia, bagaimana kabarnya, bagaimana pekerjaannya dan semua tentang dia. Hingga tak terasa sudah 3 tahun Wartini tak mengirimi surat padaku. Namun aku tetap menunggunya. Aku tahu dia akan datang. Tapi kenapa dia tidak mengirim surat? Ada apa dengannya? Bukankah dia berjanji akan selalu memberi kabar untukku?

Wartini, apa kau sudah tak punya sedikit waktu lagi untuk sekedar menulis surat buatku? Surat untukku, kekasihmu yang menunggumu. Aku mencoba bertanya pada orang tuamu War, namun mereka hanya mengatakan bahwa kau sangat sibuk bekerja. Sangat sibuk, selalu itu yang dikatakan orang tuamu. Apa kamu mau aku tetap menunggumu War? Sampai kapan? Bahkan kamu tidak memberitahuku kapan kamu akan pulang. Apa suasana kota telah membuatmu berubah? Atau kau sudah punya kekasih lain disana. Tidak, aku tidak percaya itu. Aku tahu War, bagaimana cintamu padaku. Kau tak mau kehilanganku, bukan? Ya, aku tidak percaya kau memiliki kekasih lain disana.
Aku masih menunggu War. Menunggu kedatanganmu atau kedatangan suratmu. Letih? Tidak, aku tidak pernah letih menunggu cinta. Bukankah aku sudah bilang, aku tahu kamu pasti datang War. Aku selalu bersabar menunggu kamu. Sabar yang tak pernah ada batasnya.
War, kemarin aku mendengar kalau orang tuamu pergi ke kota menyusulmu. Dan mereka menjual rumahnya. Apa mereka akan tinggal bersamamu disana? Tapi bagaimana kalau kau pulang nanti? Kau akan tinggal dimana jika rumahmu dijual? Apa kamu sudah tak akan kembali ke desa ini? Tidak War, kau pasti kembali ‘kan? Aku tahu itu.

“Wono…!” kata ibuku yang sedang duduk di kursi rotan tua bersama bapakku. Aku memandangnya. Terlihat jelas dari garis-garis wajahnya menunjukkan kini dia mulai renta. Rambutnya juga mulai memutih. Ibuku. Aku sangat menyayanginya.
“Kapan kau menikah?” pertanyaan itu terlontar dari mulut ibu. Aku terkejut saat ibu mengatakannya. Namun aku hanya diam tak menjawabnya.
“Kami sudah renta nak… Sudah saatnya kami menimang cucu darimu. Kami sangat merindukan itu.” lanjut ibuku. Hatiku hancur saat ibu berkata seperti itu. Apa mereka tidak tahu kalau aku sedang menunggu Wartini? Apa mereka juga tidak tahu kalau aku akan menikah dengannya nanti?
“Wono… kau tetap akan menunggu Wartini?” bapak bertanya padaku. Aku mengerti maksud bapak bertanya seperti itu. Mungkin dia khawatir dengan hubungku bersama Wartini, karena dia tak pernah memberi kabar.
“Ya… aku akan tetap menunggu Wartini. Aku yakin dia akan datang. Kami sudah berjanji, kami akan menikah jika dia sudah datang nanti.” jelasku. Kuharap mereka mengerti dengan apa yang aku katakan.
“Kapan dia akan datang?” Aku terdiam mendengar pertanyaan ibu. Ya, kapan Wartini akan datang. Bukannya aku sendiri yang mengatakan hal itu. Kenapa aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu kapan Wartini akan datang.
Hari-hariku saat ini hanya menunggu kau Wartini. Kini aku merasa takut. Takut, takut sekali. Aku takut kau tak akan pernah datang.
Benar. Kau tak pernah datang, Wartini.

Akhirnya aku menikah dengan Rukmi. Anak gadis dari kampung sebelah. Dan kini Rukmi sedang hamil, dia sedang mengandung anakku. Mungkin 2 bulan lagi dia akan melahirkan anakku. Kami akan segera memiliki keluarga.
Aku mencintai Rukmi. Ya, tentu aku mencintainya. Dia adalah istriku. Tak mungkin aku tak mencintainya. Rukmi orangnya sangat baik. Dia sayang padaku dan juga pada kedua orang tuaku. Memang, dia tak secantik dirimu War. Tapi dia selalu menepati janjinya.
Oh ya, apa kabar kamu War? Masih ingat denganku? Aku Wono kekasihmu yang selalu menunggumu dengan setia di desa. Tapi orang yang selalu aku tunggu tak pernah datang. Ya, kau tak pernah datang War, sampai saat ini kau tidak datang.
Kau bertanya apa aku masih mencintaimu? Aku sudah memiliki istri, dan kenapa aku harus mencintai wanita lain? Cintaku tak akan pernah bercabang. Aku memang mencintaimu. Tapi itu dulu, sebelum Pak Rusli menceritakan semuanya. Benar War, dia mengatakan semua tentang yang terjadi padamu. Dan aku mengerti kenapa kau tak pernah datang.
Kau sudah menikah ‘kan War? Kau menikah dengan pemuda kaya di kota. Pak Rusli bilang, kalau kau dijodohkan oleh orang tuamu. Dan sebagai anak kau tentu harus menurutinya, bukan? Aku mengerti itu War. Kau mengingkari janjimu. Kau tak menjaga hatimu untukku. Kamu gagal menjaganya. Ya, aku juga gagal War. Aku juga tidak bisa menjaga hatiku untuk kamu. Tidak mungkin cintaku berdiri di atas satu kaki. Akan sangat melelahkan.
Kini, hatiku sudah jadi milik orang lain. Hati yang dulu aku jaga dan pelihara untuk kamu. Bertahun-tahun aku menunggu kamu. Bertahun-tahun pula aku memupuk rasa cintaku agar tak layu dan mati. Tapi kau tak pernah datang, begitu juga suratmu. Aku selalu menunggu surat darimu War. Surat yang aku harap bisa membawa kabarmu. Surat yang juga bisa membawa cintamu padaku. Namun surat itu tak pernah datang padaku. Begitu juga cintamu War.
Kini hidup kita sudah bagai rel kereta api, saling berdampingan tapi tak akan pernah bersatu. Aku akan mengukir hidup bersama Rukmi. Kami akan membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Kau juga, kau juga harus bahagia bersama lelakimu.

Tamat

Cerpen Karangan: Yudik Wergiyanto
Facebook: Yudik Wergiyanto
Blog : cerpenaa.blogspot.com

Terima kasih sudah membaca cerpenku. Mohon komentarnya ya…!!!

Cerpen Menunggu Surat Wartini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebetulan

Oleh:
Hidup penuh teka-teki yang sulit ditebak. Kenyataan yang kadang tak masuk akal. Semuanya sering disebut sebagai “kebetulan”. Waktu yang tak kutahui dan mungkin ia pun tak tahu, kadang menyatukan

Permusuhan Berujung Cinta

Oleh:
Hai, gue Pricillia Sagita, panggil aja Cilla. Gue sekolah di SMA Harapan Bangsa Jakarta kelas 10. Gue punya orang-orang yang paling gue sayang. Yang pertama nyokap dan bokap gue,

Ada Cinta di Bis Kota

Oleh:
Pagi ini aku buru-buru berangkat sekolah. Aku hampir lupa kalau hari ini ada jam tambahan pelajaran pagi. Yups, aku sekarang kelas XII SMA dan wajib mengikuti jam tambahan pagi.

Calvin! It’s Just A Dream

Oleh:
Semua orang tahu bagaimana mencintai, tapi hanya sebagian orang yang tahu bagaimana tetap tinggal di satu hati untuk jangka waktu yang lama. Tapi ketika takdir sudah menentukan kepergian yang

The Rain

Oleh:
“Kamu gak pulang Sin?” kata Rama. “Iya tapi aku baru nungguin Pak Tarno buat jemput aku.” kataku. “Bareng aku aja yuk.” kata Rama. “Tapi Ram?” kataku. “Ayo keburu deras

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *