Menyerah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 9 March 2018

Davinia Dianta
“Dia kembali, Di. Dia kembali lagi ke dalam pelukanku,” ucapnya seraya mengguncang-guncang tubuhku dengan senang. Aku sempat terdiam untuk seperkian detik, baru setelah itu aku menepuk-nepuk pipinya beberapa kali. Menandakan kalau diriku turut senang dengan kabar yang disampaikannya itu. Tak lupa senyum sumringahku untuk melengkapi semua kebahagiaannya.

“Sudah lama sekali kami tidak saling bertukar kabar, namun tiba-tiba saja dia datang dan langsung memelukku. Hari itu benar-benar hari yang paling bersejarah di dalam hidupku dan orang pertama yang harus kuberitahu adalah kamu,” Rafka kembali berceloteh riang tanpa jeda. Tak pernah kulihat dia sebahagia ini dalam beberapa tahun terakhir saat aku bersamanya. Sepertinya kembalinya Lea ke dalam kehidupannya, cukup membangkitkan semangat hidupnya yang sempat redup. Dan lagi-lagi aku diharuskan untuk menyerah. Ya, aku memang seharusnya menyerah. Mana mungkin aku bisa menggantikan posisi Lea di hatinya. Dan seharusnya aku menyadari semua itu sedari dulu. Mungkinkah karena aku terlalu terjebak di dalam zona nyaman disaat aku bersamanya? sehingga tidak menyadari kalau diriku ini tak lebih dari seorang sahabat yang selalu setia mendengarkan setiap keluh kesahnya.

“Di, kamu enggak apa-apa kan? kamu enggak merasa dipermainkan olehku kan?” tanyanya panik sewaktu melihat perubahan dari raut wajahku. Dia memang selalu bisa menebak-nebak perasaan apa yang tengah aku rasakan. Yang terkadang membuatku sedikit kesal karena terus menanyakan beragam pertanyaan yang sangat sulit untukku jawab.
“Enggak kok, aku cuma sedikit kaget saja,” jawabku berbohong.
“Kamu selalu saja berpura-pura tegar di hadapanku,” Rafka berkacak pinggang di hadapanku. Yang cukup membuatku tertawa kecil karena tingkah konyolnya.
“Aku memang orang yang selalu tegar dan kamu lupa itu, Raf? hah, dasar pelupa,” selorohku berusaha untuk membuatnya percaya. Namun yang terjadi, malah sebaliknya.

Tiba-tiba saja dia langsung memelukku dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Aku sempat memberontak, namun ditahan olehnya. Sehingga memebuatku memilih untuk mengalah kepadanya. Karena yang aku tau dia orang yang tidak suka dibantah.
“Menangislah sepuasmu! Aku tau bagaimana sakitnya dirimu. Sakitnya dipermainkan oleh pria sepertiku. Maafkan aku karena telah membuatmu berharap. Maafkan aku yang tidak pernah bisa memberimu suatu kepastian. Maafkan aku karena tidak bisa memilihmu,” dan setelahnya, aku benar-benar menangis. Runtuh sudah semua pertahananku selama beberapa tahun ini. Pertahanan yang terlihat kokoh di luarnya namun rapuh di dalamnya. Dan di dalam pelukannya inilah, aku sadar kalau aku memang seharusnya menyerah.

Muhammad Rafka Adrian
Sesudah kejadian menyakitkan itu, aku tak pernah bertemu lagi dengan Dianta. Dia pun seperti sedang menjauhiku. Setiap kali tanpa sengaja kami bertemu di persimpangan rumahku, dia selalu saja menghindar. Dan harus kuakui ada yang hilang disaat dia tidak ada. Entah apa itu, aku pun kurang memahaminya. Mungkin karena kami selalu sering bersama beberapa tahun terakhir ini dan hanya Dianta yang benar-benar ada disaat aku membutuhkan seseorang. Dianta orang yang terlampau jujur menurutku. Disaat dia mulai menyukaiku, tanpa berpikir panjang dia langsung mengutarakan semua perasaannya. Dan hebatnya gadis itu rela menanggung resiko, apabila ditolak olehku. Hanya satu hal yang tidak kusukai dari Dianta, dia tidak pernah jujur akan sakitnya mencintai pria sepertiku. Dia tetap berada di sampingku, kapanpun aku merindukan Lea dan dia akan setia mendengarkan semua hal yang berkaitan dengan Lea. Berusaha memberikan nasehat yang terbaik, meskipun saat itu dia ingin sekali pergi sejauh-jauhnya dari hadapanku.

“Raf, lagi ada waktu enggak?” entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Dianta sudah duduk tepat di sampingku. Dia tersenyum manis kepadaku seperti biasanya, seolah-olah tak ada kerenggangan yang terjadi di antara pertemanan kami.
“Apa aku terlihat payah?” tanyanya dengan senyuman yang ia paksakan. Aku menggeleng sebagai jawaban, tak mungkin aku berkata jujur di situasi yang kaku seperti ini. karena sejujurnya, dia terlihat payah sekali. Rambutnya tidak serapi biasanya dan juga wajahnya terlihat kuyu. Seperti tak ada semangat hidup di dalam dirinya. Namun lagi-lagi dia berusaha menutupi semuanya dengan senyuman cerianya.. sehingga membuatku enggan untuk mengomentarinya lebih jauh.

“Aku memang terlihat payah beberapa hari ini. tapi sudahlah, aku ke sini bukan untuk membahas masalah itu,” Dianta mengibaskan tangannya tak peduli, “Tujuanku menemuimu hari ini hanya ingin berpamitan,”
“Berpamitan? memangnya kamu mau ke mana?” tanyaku tak bisa menutupi rasa kagetku sekaligus rasa penasaranku. Kulihat tanggapannya hanya tertawa kecil dan malah menyodorkn sebuah kado berwarna biru kepadaku. Aku terdiam, tak berniat mengambil kado tersebut.
“Ambillah, ini kado yng kujanjikan dua tahun yang lalu,” dia memaksaku untuk menerimanya. Sementara dia membujukku, aku malah menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa dia masih mengingat janji yang telah lalu itu? yang aku sendiri pun sudah lupa apa yang dijanjikannya padaku.

“Di, ini terlalu berlebihan. Entah apa yang kau janjikan padaku dulu, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya,” tolakku halus.
“Aku tidak mau tau, kamu harus menerimanya,” sifat egoisnya mulai ia tunjukkan, sehingga membuatku terpaksa untuk mengalah. Melihat kekalahanku, senyum Dinta kembali merekah. Malah ia sudah menepuk-nepuk pipiku, hal yang biasa ia lakukan apabila sedang bahagia.
“Terimakasih Rafka untuk semuanya,” setelah mengucapkan kalimat itu, ia langsung pergi begitu saja dari hadapanku. Datang secara tiba-tiba, pergi pun juga begitu. Dasar gadis aneh!

Belum sempat kado darinya ku buka, sepucuk surat meluncur deras ke bawah kakiku. Aku menatap surat itu dengan kening berkerut dan kemudian mengambilnya. Tulisan tangan Dianta yang rapi langsung menyambut penglihatanku. Dan kalimat pembukanya, dia tuliskan gelar yang kusematkan untuk diriku sendiri. Yaitu spesies aneh. Benar-benar luar biasa daya ingatnya, karena gelar itu sudah lama sekali aku beritahukan padanya. Mungkin berkisar empat tahun yang lalu. Sementara aku? seperti biasa. Selalu saja lupa hal-hal kecil yang menurutku memang tidaklah penting untuk diingat. Ah, terserahlah. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan sekarang hanyalah isi di dalam suratnya. Semoga saja di surat inilah, dia memberitahukanku ke mana dia akan pergi.

Dear spesies aneh…
Aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Sudah beberapa hari ini aku menjauhimu dan selama itu pula aku harus menahan rasa rindu ini.
Apakah kau merindukanku juga, Rafka?

Ah, seharusnya pertanyaan itu tak aku lontarkan kepadamu. Lagipula, sekarang kamu sudah bersama Lea. Jadi, aku kira kau sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Apalagi sampai harus merindukanku.

Oh iya…
Sore ini aku harus pergi. Aku ingin melanjutkan studyku ke Solo. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?
Kalau kamu membutuhkanku nanti, hubungi aku.
Aku siap mendengarkan semua keluh kesahmu.

Dan satu lagi…
Jangan datang ke bandara untuk mengantarkanku pergi. Aku hanya takut kalau aku tidak bisa pergi karena kehadiranmu itu.
Aku takut harapan itu akan kembali datang. Jadi, kumohon jangan pernah datang untuk mengantarkanku pergi.

Dan seperti yang kamu katakan dulu, kalau aku sudah menyerah akan cintaku. Maka lambaikan kedua tanganmu ke arah kamera.
Dan sekarang hal itu akan aku lakukan.
Aku menyerah Rafka, untuk mendapatkan cintamu.
Maafkan aku yang dulunya terlalu berharap lebih padamu.

Tertanda
Dianta, si gadis kaku

N/B: itu jaket yang kujanjikan dulu. Honor pertama dari hasil kepenulisanku beberapa hari yang lalu.

Benar-benar gadis bodoh.. tanpa sadar aku mengumpatnya dalam hati.
Bagaimana bisa dia sebegitu bodohnya?
Aku tau kalau dia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari kehidupanku. Tapi sadarkah dia, kalau perbuatannya itu sungguh kekanak-kanakan. Dengan perginya dia yang mendadak seperti ini, menandakan kalau dia melarikan diri dari semua masalah ini. Ah, terserahlah. Aku tak mau ambil pusing lagi dengan semua ini. Biarlah nantinya, semuanya terlupakan dengan sendirinya dan juga semoga saja rasa cinta itu hilang dari dalam hati Dianta.

Maafkan aku, Di… gumamku pelan seraya beranjak pergi. Siang ini aku ada janji dengan Lea, semoga saja dengan bertemunya aku dengan Lea. Aku bisa melupakan sejenak tentang kepergian Dianta. Ah, semoga saja.

The End

Cerpen Karangan: Andra Grisantina
Facebook: Andra Grisantina

Cerpen Menyerah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Cinta Harus Move On

Oleh:
“Sya, sebenarnya aku… aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu!!!” DEGGG seketika aku terkaget mendengar perkataannya. jantungku pun mulai berdetak tak karuan. Lucaz, cowok yang selama ini dekat

Teman Sejati Tak Terganti (Part 1)

Oleh:
Di suatu jenjang sekolah terciptalah sebuah persahabatan, persahabatan itu bernama ‘Starfish’ yang beranggotakan lima orang. Star yang dapat diartikan sebagai bintang bersudut lima yang berada di kejauhan tingginya langit

Cintaku Untukmu

Oleh:
16 Desember 2010 adalah hari jadiku yang ke tiga tahun bersama pria asal sumatera, aku sangat ingat betul pertama kalinya aku bertemu mu di alun-alun yogyakarta. Tiga tahun sudah

I For You

Oleh:
Dina membuang nafas berat, mata cokelatnya menatap gemercik air yang turun dari langit, awan hitam mulai terlihat jelas di mata dina. Air perlahan mulai tejatuh pula dari pelupuk mata

Pak Guru, I Love You

Oleh:
Risa membenamkan kepalanya ke dalam lipatan tangannya yang menumpuk di atas meja belajar di kelas Xa. Hari ini merupakan hari pertama Risa mengenakan seragam abu-abu setelah 1 minggu melaksanakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *