Mereka yang Meninggalkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 October 2017

Sepasang mata itu berkaca-kaca menatapku. Aku sudah menghancurkan satu lagi harapan dari orang-orang yang mengasihiku. Dia tidak menangis. Tatapan itu lebih seperti tatapan kecewa dan lelah. Mungkin ada sedikit penyesalan karena dia sudah terlalu banyak berbuat baik padaku. Dan semua pemberiannya itu justru kubalas dengan rasa sakit yang bertubi-tubi.
Dia mengangguk kemudian memutar tubuhnya dan mulai berjalan menjauhiku. Aku tatap punggungnya hingga menghilang dari pandangan. Mungkin ini bukan pertemuan terakhir kami, tapi aku tahu ini terakhir kalinya dia ingin bertemu denganku.

“Aku kira kau akan menikahinya Zi,” kata Ana, sahabatku, dengan nada terkejut. Aku memberitahunya bahwa aku baru saja mengakhiri hubungan tak berlabelku dengan Rendi.
“Aku kira juga begitu,” kataku pelan. Aku duduk di atas tempat tidur Ana yang berantakan, mengambil salah satu bantal dan memangkunya. “Aku menemukan kesalahan,” ungkapku yang membuat Ana bangun dari baringnya dan menatapku penasaran.
“Kali ini apalagi?” tanyanya tak sabaran. Ini bukan pertama kalinya aku mematahkan hati pria sebelum mereka melakukannya padaku. Setidaknya, itu bentuk pencegahanku.
“Dia ingin pindah dan tinggal di Makasar,” kataku dengan nada menggantung.
“Apa yang salah? Kau kan bisa ikut.”
“Aku sudah bisa melihat masa depan kami, An. Dia akan meninggalkanku.”
“Zika, itu cuma khayalanmu. Semua penglihatan masa depan itu cuma ada dalam imajinasimu.”
“Aku tau. Tapi itu akan membuatku tidak tenang hidup dengannya nanti. Aku tidak punya siapa-siapa di Makasar. Dia juga baru ingin membangun usaha di sana. Akan ada banyak hal yang bisa kujadikan alasan untuk menyalahkan dia karena telah menikahiku.”
“Tapi tidak ada alasan dia untuk meninggalkanmu.”
“Laki-laki mana yang mau hidup dengan wanita yang tidak bisa dibahagiakan apapun yang sudah dia usahakan.”
“Jangan jadi wanita seperti itu kalau begitu. Kau akan tau setelah kau menjalaninya, Zi. Segala yang kau kira-kira sekarang ini bukan hal pasti. Kalau kau begini terus, kau tidak akan bisa maju.”
“Aku cuma punya masalah dengan laki-laki, An. Dengan aspek kehidupan yang lain aku baik-baik saja,” elakku merasa dipojokkan.
“Kau benar. Kali ini kenapa tidak kau lawan rasa takut dan khayalan buruk tentang masa depanmu itu? Kenapa tidak sekali ini saja kau ambil resiko dan melihat bagaimana hasilnya? Jika itu buruk, setidaknya kau dapat pelajaran baru.”
“Jika hasilnya buruk, aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.”
“Tapi kau baru akan tau bagaimana hasilnya hanya jika kau melewati ujiannya.”

“Ren, maafkan aku,” ungkapku penuh penyesalan. Rendi masih duduk dalam diam dan menunduk, enggan menatapku. “Kau tau aku punya masa lalu yang sangat buruk. Harusnya kau bisa mengerti,” kataku lagi. Rendi menengadah, membuka mulutnya dan menjawab kata-kataku.
“Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu, kan?” tanyanya dan aku mengangguk. “Karena memang itu tidak akan pernah kulakukan kecuali kau yang menginginkannya.” Rendi menatapku dalam. Sepasang matanya itu memancarkan harapan dan keyakinan.
“Aku tidak yakin akan bisa menjadi istri yang baik.”
“Aku juga tidak yakin akan bisa menjadi suami yang baik. Tapi aku mau berusaha. Kau juga?” Aku mengangguk dan tersenyum.
Rendi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kotak kecil berlapis kain beludru. Kotak itu dibukanya, dan ada sebuah cincin di sana. Rendi menarik cincin itu dan menyematkannya di jariku.
“Aku sudah mengikatmu. Kau tidak bisa lari lagi,” kata Rendi kemudian maju untuk mengecup keningku.

“Bagaimana kabarmu, Zi? Bagaimana si kecil?”
“Aku sehat, An. Si kecil juga sudah bisa berjalan dua tiga langkah,” jawabku.
Aku merindukan Ana. Sangat. Sudah dua tahun sejak pernikahanku dengan Rendi dan kami pindah ke Makasar, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Ana. Biasanya selalu ada dia yang menasehatiku, menjadi tempat untuk bersandar setiap saat aku ada masalah. Meski tidak bertatap muka, aku selalu berusaha menjaga komunikasi kami.
“Kau bahagia, Zi?” pertanyaan ini selalu ditanyakan Ana setiap kali dia menelepon. Meski dia tidak bisa melihatnya, tapi aku tersenyum.
“Aku bahagia, An. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Hidup kami memang tidak sempurna. Bisnis Rendi sedang ada masalah sedangkan aku belum bisa bekerja karena tidak ada yang mengasuh Naufa. Tapi kami baik-baik saja. Aku yakin Rendi akan mengatasi masalahnya dan kami akan lebih bahagia.”
“Aku senang mendengarnya,” ucap Ana tulus. Aku yakin dia juga sedang tersenyum di sana. “Oh ya, Zi. Nanti malam aku berangkat ke Belanda. Mungkin aku akan semakin jarang bisa menghubungimu langsung. Tapi kita bisa komunikasi lewat wa atau line.”
“Sudah waktunya ya?” Aku mendesah. Rasanya baru kemarin kami bercerita mengenai keberangkatan Ana untuk melanjutkan studinya itu masih satu bulan lagi. Ternyata waktu bergulir begitu cepat. “Selalu jaga diri, An. Aku tau kau tidak tertarik dengan pria bule, tapi tetap hati-hati.” Aku mendengar Ana tertawa di seberang sana.
“Tetapi orang cerdas, tidak peduli lokal ataupun produk luar, selalu menggiurkan,” kata Ana yang membuatkan mendengus.
“Selamat berburu professor kalau begitu.” Kami mengakhiri panggilan beberapa detik setelah itu karena Naufa yang mulai rewel.

Saat aku sudah berhasil membuat Naufa tenang dan terlelap, sebuah ketukan keras terdengar dari pintu depan rumah. Aku berlari segera sebelum ketukan itu membangunkan Naufa.
“Iya, ada apa?” tanyaku pada dua pria berjas yang berdiri kaku menatapku.
“Kami mencari Pak Rendi,” ucap salah satu dari mereka.
“Rendi sedang tidak ada di rumah. Dia di kantor.”
“Kami sudah ke kantor! Kantor itu sudah lama tutup!” Pria yang berbadan lebih besar membentakku, sontak membuatku melangkah mundur.
“Pak, Rendi selalu berangkat kerja setiap hari. Tidak mungkin kantornya tutup,” aku berusaha berkata dengan tenang. “Atau bapak bisa datang sebentar lagi. Biasanya Rendi pulang setelah jam lima.”
“Kami akan tunggu di sini!” Mereka bersikeras dan memilih duduk di beranda.
“Baiklah,” kataku lalu menutup pintu dan menguncinya. Aku tidak mempersilahkan mereka masuk karena hanya ada aku dan Naufa di rumah. Mereka orang asing dan aku tidak tahu mereka berbahaya atau tidak.

Aku berlari mengambil telepon genggamku dan menghubungi Rendi. Dua kali panggilan tidak dijawab. Setelah itu aku mengiriminya pesan, mengatakan bahwa ada dua pria yang mencarinya di rumah. Saat kucoba menghubunginya lagi, nomor Rendi tidak aktif.

Ketukan di pintu depan sudah berubah menjadi gedoran yang sangat memekakkan. Naufa menangis meraung karena ketakukan. Aku mendekap tubuh Naufa erat, mencoba menenangkannya meski aku juga ketakutan setengah mati.
Pantas saja mereka murka. Hari sudah lewat dari jam lima namun Rendi juga belum kelihatan bahkan sama sekali tidak bisa dihubungi. Siapa mereka sebenarnya? Apa kubukakan saja pintu itu dan berteriak memanggil para tetangga jika mereka berbuat macam-macam?
“Saya mohon, jangan buat keributan,” kataku dengan suara bergetar. Tatapan mereka melembut saat melihat Naufa dalam gendonganku.
“Kami minta maaf. Kami hanya ingin bertemu Pak Rendi. Seharusnya kami tidak ke sini kalau saja Pak Rendi bisa ditemui di kantor.” Sekarang cara berbicara mereka lebih sopan.
“Kalau saya boleh tau, ada apa dengan suami saya?” Mereka terlihat ragu menjawab pertanyaanku. Beberapa detik saling pandang dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat, akhirnya mereke memberitahu.
“Pak Rendi memiliki hutang dalam jumlah yang sangat besar pada bos kami. Kami hanya ditugaskan untuk meminta pertanggungjawaban dari Pak Rendi. Ini sudah lima bulan lewat dari tenggat waktu yang sudah disepakati. Sepertinya Pak Rendi sudah salah langkah mempercayakan investasi itu pada orang yang tidak bertanggungjawab. Tapi bos kami tidak mau tau itu. Pak Rendi harus membayar utangnya, paling tidak setengahnya.”

Diawal kepindahan kami dan masa-masa merintis bisnis batu bara ini, sesekali aku membantu Rendi membuat presentasi ataupun laporan pertanggungjawaban. Tapi semenjak Naufa hadir dalam kehidupan kami, aku sama sekali tidak lagi tahu menahu mengenai usaha Rendi. Kerepotan dan kesenangan membesarkan Naufa telah membuat duniaku teralihkan. Aku bahkan tidak pernah bertanya pada Rendi bagaimana kondisi perusahaannya saat ini. Mungkin karena itu akhir-akhir ini Rendi cepat sekali emosi. Dan mungkin karena itu setiap kali Naufa menangis, Rendi akan keluar dari rumah dan baru kembali setelah menyesap habis satu bungkus rok*k.

“Berapa banyak hutang suami saya?” tanyaku meski sempat menyesali pertanyaan itu keluar dari mulutku. Karena aku tahu, aku tidak akan pernah siap mendengarnya.
“Tujuh ratus juta.”
Itu bukan jumlah yang sedikit. Jika seluruh asset kami dijual juga belum cukup untuk menutupinya. Rumah yang kami tinggali hanyalah rumah kontrakan yang sudah Rendi bayar untuk lima tahun ke depan. Mobil SUV yang menjadi kendaraan Rendi sehari-hari juga masih masih harus membayar cicilan selama satu tahun. Perhiasanku jika diuangkan paling banyak hanya seratus juta. Rendi pasti sudah tahu hal ini dan aku yakin dia sedang berusaha mencari jalan keluar.
“Sa-saya tidak punya uang sebanyak itu,” kataku lemah.
“Itu bukan tanggungjawab Ibu. Kami hanya akan berurusan dengan Pak Rendi.”

Beberapa menit menunggu di dalam rumah, mereka memutuskan untuk pergi. Mereka juga membuatku berjanji untuk memberitahu jika Rendi sudah kembali.
Tapi sudah tiga hari, tidak ada kabar dari Rendi sama sekali. Aku meyakinkan diri Rendi hanya sedang berusaha mendapatkan uang untuk membayar hutangnya itu. Aku percaya Rendi tidak akan lari. Tidak akan karena dia tahu betul masa laluku. Tidak akan karena dia sudah berjanji padaku.

Dua minggu setelah kedatangan mereka ke rumah, dua pria itu menampakkan diri lagi. Saat mereka bertanya di mana Rendi, yang kulakukan hanya menangis dan menangis. Karena sesungguhnya aku juga menyimpan pertanyaan yang sama seperti mereka. Rendi sudah lari. Rendi tidak pernah kembali. Dia melakukannya padahal dia tahu aku tidak menginginkan pernikahan karena takut ditinggalkan. Dia melakukannya padahal dia tahu ayahku dulu juga melakukannya padaku dan ibu.

“ZIKA!” tepukan keras di bahuku membuatku tersentak. Aku menoleh pada Ana dengan wajah terguncangku. “Kau kenapa?” tanya Ana kuatir melihat ekspresiku. “Kau suka sekali melamun.”
“Aku tidak akan menikahi Rendi, An,” kataku dengan suara bergetar.
“Kenapa? Ada apa?” Ana menatapku bingung. Kedua matanya mengerjap menyorotkan rasa penasaran.
“Karena Rendi bukan hanya akan meninggalkanku. Tapi juga anakku.”

END

Cerpen Karangan: Dhea CLP
Facebook: Dhea Mezita

Cerpen Mereka yang Meninggalkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Loved is You

Oleh:
Kisah ini berawal sejak aku memasuki yang namanya sekolah menengah pertama, awalnya aku tidak mengerti apa itu yang sering di bilang orang-orang tentang cinta, yah mungkin waktu aku msih

Sahabat Bertopeng

Oleh:
Hidup ini indah. Tapi terkadang juga sebaliknya. Ini lah yang saat ini aku rasakan. Perkenalkan namaku Rizky Putra. Inilah pengalamanku. Bel pulang sekolah berbunyi. Seperti biasanya, aku pulang berbarengan

Sehari

Oleh:
Hujan kembali datang. Gemerisik air mulai menyapa. Perlahan dinginnya mulai menyelimuti. Sesekali petir ikut menemani. Gadis itu mulai memeluki dirinya sendiri. Merasakan kedinginan malam yang selalu ia nanti. Ya,

You Are My Star (Part 2)

Oleh:
Selesai sarapan, aku naik kembali ke kamarku. Sampai di sana, aku segera membuka kiriman itu. Begitu terkejutnya aku ketika melihat benda di dalamnya. Sebuah benda berbentuk bintang berwarna kuning

Penyesalan

Oleh:
kamu tidak akan tau kalau kamu membutuhkannya sampai dia meninggalkanmu. ******************* Aku ingin bertemu denganmu sekali saja. Kamu tau, mungkin mulutku mengingkari namun sebenarnya aku benar2 rindu padamu. Dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *