Merpati Awan Untuk Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 December 2013

“Merpati, apakah aku bisa menjadi awan yang selalu dekat dengan langit?”
Hanya kalimat itu yang dapat mengalir dari pikiranku. Pikiran seorang Rhytmawan Klaudiani. Cepat-cepat saja aku menulis kalimat itu di kertas origami dan membentuknya menjadi burung merpati, sebelum Angin datang. Angin adalah sahabat terbaikku, tapi ia selalu mengejekku kalau aku menulis di kertas origami dan melipatnya. Seperti anak kecil katanya. Aku yakin dia berkata seperti itu karena merasa tersaingi, aku lebih suka bercerita pada ‘merpati’ku daripada bercerita padanya. Menurutku ‘merpati’ adalah penyimpan rahasia, pendengar (setidaknya ia tidak berkomentar jika aku sedang bercerita), sekaligus penyampai pesan yang paling baik.

“Awan, ayo cepat pergi dari sini!”
Angin berlari sambil berteriak menghampiriku.
“Kenapa?”, tanyaku keheranan.
“Ada tawuran!”
“Tapi, ini kan tempat paling aman di sekolah.”
Aku memang menganggap bangku di belakang sekolah ini aman, karena letaknya tersembunyi dan sepi, apalagi saat pulang sekolah seperti ini. Hanya aku dan Angin yang sering mengerjakan PR di tempat ini.
“Sekarang nggak lagi, ayo cepat pergi!”
Ia menarik tanganku dan mengajak berlari. Setelah berlari agak jauh, akhirnya kita sampai di sebuah gubuk dan berhenti sejenak di sana.
“Ngin, itu tadi tawuran apa?”
“Nggak tahu, kayaknya kelas XII SMA kita sama SMA sebelah. Mau nanyain Mas Langit? Tadi aku lihat dia ikut tawuran.”
Angin menjawab seakan bisa membaca pikiranku. Mungkin karena efek kita sudah berteman dari kecil, dia tahu aku luar dalam.
“Hah?”
Aku setengah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Angin. Aku tahu Mas Langit itu orang yang seperti apa, dia ikut tawuran pasti karena terpaksa.
“Udah, Wan. Kamu lupain aja cinta pertamamu itu. Terbukti kan, dia bukan orang baik-baik.”
“Aku yakin Mas Langit ikut tawuran karena membela yang benar.”
“Kenapa sih, kamu selalu membela dia? Dia itu nggak suka kamu, yang suka kamu itu aku!!”, kata Angin setengah berteriak.
“Kamu tahu kan jawabannya”, jawabku santai. Angin memang sudah berkali-kali mengatakan kalau ia menyukaiku.
“’Pada hakikatnya, angin dan awan tidak akan pernah bersatu. Awan di langit dan angin di bumi, mereka terlalu jauh untuk bersatu’. Aku sampai hafal kalimat ‘sok puitis’mu, Wan. Penolakan secara halus”, jawabnya dengan kesal.
“Hahaha. Masih ada Bunga yang setia menunggumu, Ngin.”
Bunga adalah adik kelasku yang suka Angin sejak SD. Mungkin nasibnya sama sepertiku, tidak pernah dianggap.

Esok harinya, Angin demam. Terpaksa aku harus berjalan ke sekolah sendirian. Di perempatan jalan dekat rumah, kulihat Mas Langit juga berjalan sendirian.
“MAS LANGIT!!”, tanpa pikir panjang aku memanggilnya.
Ia tidak menoleh dan terus berjalan. Aku tak perlu merasa sedih, memang aku selalu diabaikan sejak dulu. Ketika kelas 5 SD, aku pernah menulis surat penyemangat ujian nasional untuknya, tapi tak pernah dibalas. Aku juga sering membawakan cokelat untuknya, tapi tak pernah dimakan. Sebenarnya, aku sering bertanya-tanya, mengapa aku mau berjuang untuk hal yang kurang penting dan tak perlu diperjuangkan. Entahlah, aku hanya mengikuti kata hatiku saja.

“Merpati, apakah langit terlalu sombong untuk mengakui bahwa ia perlu awan untuk menemaninya? Bisakah awan meruntuhkan kesombongannya? Ataukah awan harus rela menyerah?”
Seperti biasa, aku menuliskan kalimat-kalimat itu dan melipatnya menjadi bentuk merpati sesaat setelah bel pulang sekolah. Aku berjalan menuju pintu gerbang, kulihat Mas Langit. Dia sedang bicara dengan Mbak Maya, teman sekelasnya atau mungkin pacarnya. Mereka berdua sedang tertawa lepas dan terlihat sangat akrab. Mereka juga sering berjalan bersama ketika pulang sekolah. Hal yang tidak pernah kulakukan dengan Mas Langit. Sudah berkali-kali kubendung air mataku, tapi kali ini aku tak bisa membendungnya lagi, kubiarkan mengalir dan aku berlari ke jalan. Tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju ke arahku, aku tidak sempat menghindar dan BRUKKK… Aku jatuh terserempet sepeda motor itu. Beberapa orang menghampiriku, ada seorang yang sangat kukenali. Tubuh yang tinggi dan jangkung serta wajah yang tenang, tetapi kali ini sorot matanya menyiratkan kekhawatiran. Tidak salah lagi, dia adalah Mas Langit.
“Kamu nggak pa-pa?”, tanyanya.
“Nggak pa-pa, Mas. Cuma luka-luka ringan”, jawabku dengan gemetar.
Aku mencoba berdiri dan baru menyadari kalau telapak tanganku juga terluka. Mengerti kalau aku butuh bantuan, Mas Langit mengulurkan tangannya dan menarikku. Lalu, aku mencoba berjalan, tetapi kesulitan. Salah satu lututku terasa sangat perih. Maklum, celana olahragaku pendek, jadi tidak ada yang melindungi lututku
“Mau aku gendong?” tawar Mas Langit.
Aku langsung mengangguk. Jantungku berdetak semakin kencang ketika naik ke punggung Mas Langit, mungkin ia bisa merasakannya.
“Kita ke puskesmas dulu, ya?”
“Nggak usah, Mas. Langsung pulang aja.”
“Nggak pa-pa?”
“Iya. Nanti diobati di rumah.”
“Kamu tadi kenapa, kok lari-lari?”
Aku tak menyangka kalau Mas Langit memperhatikanku.
“Hah? Eng..eng.. nggak pa-pa kok, Mas,” terpaksa aku berbohong.

Sepanjang perjalanan, kita banyak mengobrol. Aku jadi tahu sisi lain Mas Langit. 15 menit kemudian, aku sampai di rumah. Aku mengucapkan terima kasih pada Mas Langit. Ibu sudah menunggu di depan rumah. Beliau selalu khawatir kalau aku pulang terlambat. Aku menjelaskan apa yang telah terjadi.

“Merpati, awan telah memutuskan bahwa ia tak akan pernah menyerah. Ia percaya kalau langit ditakdirkan selalu bersamanya.”
Aku menulis lagi sebelum tidur. Lalu, kucari merpati-merpati yang telah kubuat sebelumnya di dalam tas.
“Dimana, kok gak ada?”, kataku lirih.
Sebenarnya aku tidak terlalu khawatir kalau ‘merpati-merpati’ itu hilang, karena kalimat yang kutulis di merpati-merpati itu tersirat maknanya. Aku hanya berharap, semoga saja jatuh ke tangan yang benar.

Pagi harinya, aku kembali berangkat sekolah dengan Angin. Dia sudah sehat. Aku menceritakan semua yang telah terjadi kemarin. Dia menatapku keheranan. Sampai di gerbang sekolah, aku kembali melihat Mas Langit dengan Mbak Maya.
“Pangeranmu, Wan”, kata Angin.
Aku hanya diam. Hatiku terasa sakit, tetapi masih bisa kutahan untuk tidak menangis. Aku dan Angin berjalan menuju kelas. Kulihat Bunga juga berjalan menuju kelasnya, agak melirik Angin.
“Bunga, Ngin”, kataku.
“Makasih, Wan”, balasnya.
“Ngin, aku tahu kamu nggak suka Bunga. Tapi tolong jangan abaikan dia. Dia juga punya perasaan.”
Angin hanya diam dan menatapku.

Sepulang sekolah, Mas Langit menghampiriku. Sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
“Awan, kita ke perpustakaan dulu yuk!” katanya
“Ada apa?”
Ia tidak menjawab. Aku hanya bisa mengikutinya. Setelah sampai di perpustakaan, aku melihatnya mengeluarkan sesuatu.
“Awan, ini ‘merpati-merpati’ kamu. Kemarin tas kamu masih terbuka, dan ini jatuh waktu kamu lari. Ini cokelat-cokelat kamu dan ini surat penyemangat kamu dulu.”
Ia menyerahkan semua yang telah kuberikan padanya, tetapi dalam bentuk yang berbeda. ‘Merpati-merpati’ itu sudah dibentuk menjadi bunga, aku membuka salah satu. Ternyata ada tulisan balasan:

Untuk: Awan
Dari: Langit
Terimakasih Awan, karena kau telah berhasil meruntuhkan ‘kesombongan’ Langit. Langit menyadari bahwa ia selalu membutuhkanmu di sisinya.

“Hah?”, aku hanya bisa ternganga.
“Maaf karena terlambat. Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kamu masuk SD, tapi aku takut mendekatimu. Aku takut hanya akan melukai hatimu jika aku dekat denganmu, jadi aku memilih menjauh. Saat kubaca ‘merpati-merpati’mu itu, aku langsung tahu apa yang kamu maksud. Aku sebagai langit dan kamu sebagai awan. ‘Merpati-merpati’mu adalah penyampai pesan yang handal. Melalui mereka aku jadi tahu kalau aku masih punya kesempatan dan ternyata selama ini aku salah. Menjauh darimu malah membuatmu terluka. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengatakan semuanya.”
“Cokelat-cokelat ini kukira dibuang dan surat ini kenapa baru dibalas?”
“Cokelat yang kamu berikan sengaja aku kumpulkan dan kubuat menjadi bentuk hati, entah kenapa aku yakin suatu saat aku akan punya keberanian dan kesempatan memberikannya padamu. Surat itu sebenarnya sudah aku balas sejak kuterima. Tapi pikiranku ‘yang takut melukaimu’ itu yang terus menghalangiku untuk memberikannya padamu.”
Air mataku mulai menetes. Bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan.
“Terus Mbak Maya ada hubungan apa sama Mas Langit?”
“Ooo.. Jadi kemarin kamu lari karena itu. Aku sama Maya cuma teman biasa kok. Oh iya, kukira kamu sama Angin pacaran.”
“Nggak, Angin dan Awan tidak pernah bersatu. Itu, dia sama Bunga!”, aku menunjuk ke halaman sekolah dari jendela perpustakaan, terlihat Angin berjalan dengan Bunga.
“Jadi?”, tanyanya.
“Apa?”
“Kesimpulannya?”
“Langit dan Awan akan selalu bersatu”, kataku.
“langit dan awan?”, tanya Mas Langit, ia belum mengerti.
“Kita akan selalu bersatu,” jawabku
Kulihat Mas Langit tersenyum memandangku.
“Terus, kenapa Mas Langit tawuran?”
“Cuma simulasi.”
Kita berdua tertawa bersama. Mas Langit sudah berubah pikiran kalau menjauh itu bukan cara yang tepat untuk tidak melukai orang yang dicintainya. Menurutnya, menjaga orang itu adalah cara yang tepat untuk tidak melukainya.

“Merpati, ternyata awan salah. Langit tidak sombong, ia hanya ingin menjaga awan, meskipun dengan cara yang salah. Tapi, kesalahan itulah yang membuat awan tahu kalau langit selalu membutuhkannya, sejak awal.”

SELESAI

Cerpen Karangan: Saraswati Dyah
Blog: akuinidyah.blogspot.com

Cerpen Merpati Awan Untuk Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Belahan Jiwa Di Desa

Oleh:
Aula ini panas sekali, aku berdiam menunggu giliran untuk menyanyi, ini bukan lomba pertama yang pernah aku ikuti tapi rasa grogi itu masih ada dalam hatiku. Saat pembawa acara

Kota Mati

Oleh:
Udara ini berubah di kota mati Seperti kisah masa lalu Kini membisu Sialan. Sebuah lagu terputar di handphone kunoku. Lagu yang sudah setahun belakangan ini kuhindari. Iya, lebih baik

Aku Kamu dan Takdir

Oleh:
Lama ini kau ada dalam ingatanku sejak saat kita dipertemukan oleh takdir, menjelang perpisahan terakhir kita aku pun hanya larut dalam diamku melawan gejolak yang ada dalam diriku, ku

Bukan Untukku (Part 1)

Oleh:
Seperti kebiasaanku setiap minggu. Aku selalu meluangkan waktuku di sini. Aku duduk dengan membawa serangkaian bunga untuk kekasihku. Kubelai nisannya, bahkan sering kukecup nisannya di sini. Aku sangat menyayanginya.

Aku Putri Aurella

Oleh:
“Morning, Putri” Oh sialnya dia lagi yang nongol dengan memanggilku seperti itu. Awalnya aku ingin menghindarinya sebab ia memperolokku dengan memanggilku ‘Putri’. Tidak ada salahnya memang, sebab semua orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *