Michio dan Ceritanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 26 May 2019

Karena aku di sini, selalu merindukanmu, di tempat yang sama, di relung hati dan mimpi.

Aku terus berlari, tak peduli seberapa banyak hamparan sawah yang kulalui. Tak peduli seberapa kali poniku terjatuh, tak peduli seberapa kusut wajahku saat ini.
Beberapa kali aku membiarkan kakiku lecet, dress yang tadinya seputih salju kini harus sekusut lumbung padi.

Basah, tentu saja kakiku basah, terkena embun sedari pagi, aku sengaja melepas sepatuku, supaya ia tak sekusut dress dan juga wajahku.

Meski kakiku harus menanggung kerikil-kerikil tajam. Aku memutuskan untuk terus berlari, segera sampai kaki Fujiyama, itu tujuanku.
Pikiranku melayang layang, bertemu kau, seseorang yang begitu kurindukan. Kau, lelaki berambut coklat dan berlensa biru, hidung mancung dan bibir tipis. Serta, mata yang begitu sipit ketika kau tersenyum menawan untukku.
Terakhir kali aku melihatmu, tiga tahun yang lalu, mungkin semua berubah. Termasuk desa kecil ini, desa yang kau bilang Sakura Village.

Juga Bibi Dandelion, ia semakin tua, tapi kesabarannya mendidik anak panti masih tetap sama, sebelum dan sesudah kau meninggalkan rumah kami.

Tiga Tahun yang Lalu…
“Millenia.” Aku segera merapikan rambut pirangku yang tergerai panjang.

Bibi Dandelion akan sangat senang, hari ini aku akan bersekolah dan aku sudah siap tampil cantik.

“Iya bibi,” ujarku, aku tersenyum manis. Bibi Dandelion yang sudah menggunakan kimono biru sudah siap berangkat ke sekolahku.
“Millenia. Maafkan bibi.” Ucapnya, aku lupa, sesuatu yang tak kusadari bahwa ia sedari tadi berwajah datar dengan menggandeng anak lelaki seusiaku.
“Hari ini kau belum boleh masuk sekolah, kau membantu Bibi memasak kue saja ya untuk acara nanti sore.” Jelas Bibi Dandelion.
Duar… hatiku seolah runtuh, segalanya berubah, tentang Bibi Dandelion dan tentang anak lelaki itu.

Aku bekerja sepanjang hari, memasak kue dan menyediakan untuk tamu-tamu pelanggan kedai Bakery kami.

Bibi Dandelion juga memiliki bakery, meski agak jauh dari panti. Di sini, akulah yang paling tua, jadi mau tidak mau aku harus bergantian jaga bakery kalau ingin terus hidup di kota ini.

Salju turun dengan deras, aku memakai jaket rajut biru buatan Bibi Dandelion. Jalanan mulai tertutupi salju, rumah-rumah, bahkan kedai di pinggir jalan pun juga.

“Nona, ambilkan segelas coklat hangat!” Kata seorang pelanggan.
“Maaf tuan, tapi ini adalah kedai bakery.”
“Saya sudah tidak kuat untuk jalan ke kedai minuman nona. Berikan sesuatu yang hangat.” Kata tuan itu seperti merintih.
Aku segera mengangguk dan mengambil beberapa roti hangat, dan membuatkannya secangkir coklat hangat.

“Maaf tuan jika agak lama.”
“Tidak apa-apa. Arigatou.”

Setelah insiden di sore itu, tiba tiba esoknya Nyonya Lie, pemilik kedai minuman seberang pergi kesini.
“Bagaimana kedai bakery menjual coklat?” Katanya marah.
Bibi Dandelion yang tak tau apapun semakin kebingungan.
“Maaf nyonya Lie, tapi darimanakah kau tau menahu berita itu?”
“Apa kau tak membaca koran gadis bodoh, kedai kalian akan diangkat menjadi kedai besar atau restoran ternama di Sakura Town?”
“Benarkah?” Kataku berbinar.
“Yak, semua ini pasti karenamu gadis bodoh.”

Michio adalah anak laki-laki yang telah merebut bangku ku di sekolah, karenanya aku baru bisa masuk sekolah setelah setahun sesudahnya.
Berniat untuk membencinya aku tak kuasa, Michio sangat berbaik hati, setiap hari ia selalu berbagi apapun denganku, main denganku, belajar dan tertawa bersamaku.
Aku senang memiliki sahabat seperti Michio.

Apa kabar kedai? Kedai telah berubah menjadi restoran hanya karena seorang gadis bodoh sepertiku menolong seorang pengusaha terkenal dengan secangkir coklat hangat.

Aku dan Michio selalu membantu Restoran kami. Kami disatukan karena keadaan. Aku yang ketika bayi ditaruh di bawah pohon sakura dan Michio yang ketika bayi dibuang di fujiyama.
Semenjak saat itu Bibi Dandelion mengasuh dan merawat kami, bersama puluhan anak panti yang lain.
Hingga pada akhirnya, Michio bertemu Nyonya Lie yang mengaku sebagai bibinya sendiri.

Nyonya Lie marah kepada Bibi Dandelion karena usahanya semakin pesat. Lalu Nyonya Lie memutuskan untuk pindah, bersama Michio, dengan alasan ingin menyekolahkan Michio di Tokyo. Setinggi mungkin.
Dan mulai saat itulah, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku tersenyum bahagia.
Michio, orang yang selalu kurindukan.
Dengannya, aku tau makna segalanya, kegembiraan, kesedihan, suka dan duka.

Merpati Michio datang dari Tokyo, sebulan lalu membawa surat kabar istimewa untukku.

Light Sakura, libur musim panas aku akan mengunjungi Honshu Island. Aku tidak lagi di Tokyo. Bibi Lie, membawaku ke Sapporo (sebuah kota do Hokaido). See u . Tunggu aku di Fujiyama. Di bawah pohon Sakura. Take Care ~Michlee

Aku membacanya berulang kali, dan bibirku selalu mengulum senyum ketika melihat tulisan itu “Michlee” Michio – Millenia.

Hari ini juga, aku memakai sepatuku, meski sudah agak jelek tapi setidaknya masih putih bersih, keringat mengucur dari arah mana saja.
Memang, dari Sakura Village ke Kaki gunung fuji lebih baik berjalan kaki, menempuh 15 km. Daripada harus mencari kendaraan, harus ke Tokyo terlebih dahulu, lalu bisa ke Gunung Fuji.

Aku terduduk di sebuah bangku reyot disana. Pemandangannya tampak begitu indah, hamparan perkebunan, sawah atau ladang terlihat dari sini. Bunga Lavender terpampang lebar, serta Daun kuning yang mulai berguguran. Meski baru memasuki Musim Panas.

Satu jam aku masih semangat.
Dua jam aku mencari makan di kedai terdekat.
Tiga jam cuaca kurang mendukung.
Empat jam turun salju kecil, peralihan dari musim dingin ke musim panas.
Lima jam aku mulai mengantuk.
Enam jam aku lelah.
Tujuh jam berlalu, tapi dia belum juga datang.
Matahari hampir saja tenggelam.

Sebelum akhirnya pada senja itu, aku melihat wajahnya kembali, dengan keindahan senja. Wajah yang menghilang selama tiga tahun terakhir, wajah yang selalu kurindukan.

Meski tidak banyak yang berubah, tapi aku yakin lelaki di depanku ini masihlah dia yang sama.
Dari surat menyurat aku pun tau kalau dia masih saja bisa menyenangkan dan menghangatkan.

Aku berharap aku bisa terus bertemu dengannya di tahun tahun berikutnya.
Aku berharap masih ada tawa, canda, dan hati untuk masa masa yang akan datang.
Meski kini, aku dan dia terhalang cita cita.

Cerpen Karangan: Aulia Taureza
Blog / Facebook: Ataureza Aulia

Cerpen Michio dan Ceritanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Baru Enam Tahun Kok Mah

Oleh:
“Happy anniversary!” Lulu tersenyum lebar “Hehe, makasih lu. Kapan nih kita double date?” Tanya Nik “Ummm… enggak tau. Belum ada yang pas aja” “Yah, padahal gue pengen banget kalo

Di Balik Cerita Ada Cinta

Oleh:
Cinta… ya cinta… Awalnya sih gue sempet ngedeskripsiin bahwa cinta itu bukan sesuatu yang rumit tapi akhir-akhir ini gue sadar deskripsian itu salah. – Sudut Pandang Revalia Namaku Tyara

Modus Tipis

Oleh:
“Nik, aku denger-denger dari temen-temenku, Arga kemarin kecelakaan lho,” beritahuku kepada Nikka, sahabatku yang menyukai Arga. “Hah? Apa? Kapan? Di mana? Kok bisa?” tanya Nikka dengan segala kekhawatirannya. “Kemarin.

Better Late Than Never

Oleh:
Dengan senyuman puas Tiffa memasuki tiap ruangan dirumah yang baru dia beli enam bulan lalu. Setelah renovasi dan berbagai perbaikan di tiap ruangan akhirnya dia bisa menempati rumah yang

Di Acara Kawinan

Oleh:
Secercah sinar memasuki indra mataku. Dengan gerakan pelan, mata yang tertutup itu terbuka. Tak ada yang berubah. Dan seperti biasa, aku hanya bangun. Duduk di tepi ranjang, meminum segelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *