Midnight in Jakarta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 21 February 2015

Bruk! Akhirnya berhasil juga aku menapakki Ibu Kota setelah 3 jam berada di Bus dari Ciwidey, Bandung. Menempuh perjalanan bus malam membuatku merasa sedikit lelah. Tapi setibanya di Jakarta, lelah ini bisa terobati. Jakarta adalah kota impianku. Cita-cita melawat ke kota ini sudah lama kupendam dalam mimpi, namun aku selalu berusaha sabar dan menanti. Dan akhirnya, setelah berdiam di Bandung selama 18 tahun, kejadian juga mimpiku menginjakkan kaki di sini.

Alhamdulillah…
Aku tersenyum menatap indahnya pagi di Jakarta, mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepadaku. Deru mesin bus berkolaborasi dengan sorak sorai para kondektur bus, udara panas yang menyengat walau pagi masih menjemu, bunyi klakson kendaraan mengalun bak paduan suara, serta antrian kendaraan yang melaut di jalan raya dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, semua menambah kekhasan Jakarta yang selama ini kulihat di layar kaca.

Jakarta. Mungkin wajahmu tampak sangar, namun bagiku kau adalah sosok yang unik. Aku jarang menemukan ini di Ciwidey. Setiap hari aku disuguhkan dengan pemandangan hijau pepohonan dan hamparan kebun-kebun teh berudara sejuk. Namun kini, aku telah menemukan sensasi yang baru!

Sekarang diriku berada di sebuah terminal bus. Menurut orang-orang yang ada di sana, terminal di mana aku turun dari Bus ini adalah Terminal Kampung Rambutan. Ah, entahlah. Apa pun namanya, yang penting judulnya ‘Jakarta’.
Tapi, kalau dipikir-pikir, aku mau ke mana? Dan, mau tinggal di mana? Di rumah siapa? Setidaknya untuk malam ini saja, lah. Namun masih ada esok hari, mungkin aku bisa mencari tempat lain. Sampai aku dapat pekerjaan nanti, baru aku bisa mencari kos-kosan atau kontrakan.

Ah, aku baru ingat! Waktu di Bandung, aku punya teman SMA bernama Rusli. Setelah lulus, ia berencana untuk kuliah di Jakarta mengambil sarjana hukum di salah satu universitas ternama. Dan kini, nasib kami sama, sama-sama sudah lulus, namun berbeda jalan. Mungkin Rusli sedang menjalankan kuliahnya untuk meraih gelar Sarjana Hukum, sementara aku, aku hanya bekerja sebagai tengkulak daun teh yang selanjutnya dibawa ke pasar tradisional.

Sudahlah, aku tak mau merundungi cerita hitam yang terjadi dalam hidupku. Lebih baik aku hubungi Rusli, sekarang. Langsung saja, kupijat tombol-tombol nomor yang tertera di ponsel tuaku. Lantas, kutekan tombol bertanda telepon.
Tuuut… tuuut… tuuut…
“Assalamualaikum.” Nah, akhirnya Rusli mengangkat teleponku juga. “Maaf, dengan siapa saya berbicara?”
“Waalaikumsalam, Li!” Seruku dengan kobaran semangat. “Li kamu teh sekarang di Jakarta, nya? Ini teh saya, Iqbal, teman kamu dulu waktu di Ciwidey. Saya teh sekarang lagi di Jakarta. Udah lah, ceritanya mah nanti saja atuh, ayeunna teh saya mau nanya sama kamu. Kamu tinggal di mana?”
Awalnya pertanyaanku tak langsung digubris. Namun setelah beberapa saat, barulah Rusli menjawab, “Oh, Iqbal? Begini saja, Bal. Kamu tunggu saya di Cafe de Paris di bilangan Slipi. Nanti saya susul ke sana, ya?”
Cafe de Paris? Namanya terdengar asing bagiku. Aku kan sama sekali tidak kenal daerah Jakarta. Ah, sebaiknya aku sanggah saja perintah Rusli ini, “Rusli, punteun-punteun wae, nya. Ari Café de Paris teh, naon? Saya teh tidak kenal. Lagipula, kenapa tidak ke rumah kamu saja, atuh?”
“Bal, kalau kamu mau bertemu saya, kamu jangan banyak protes. Kamu turuti aja apa kata saya. Permisi.” Teleponnya mendadak ditutup. Lho, kenapa Rusli jadi berani begini padaku? Padahal, dulu untuk mengungkapkan rasa kecewanya padaku saja seakan ia berada dalam lautan dosa. Tapi aku tak begitu mempersoalkan hal ini. Lebih baik aku cari tahu di mana Café de Paris itu.

“Punteun, Pak. Ari Bapak teh tau di mana Café de Paris?” Tanyaku pada seorang pria berkumis tebal berdasi yang baru saja turun dari mobil hitam mewah berpintu otomatis, dan kalau tak salah lihat, plat nomor mobilnya B 15 MA.
Pria itu menjawab, “Cafe de Paris ada di daerah Slipi. Kalau dari sini, kamu bisa naik Taksi, atau Bajaj, atau kalau mau yang lebih ekonomis, kamu bisa naik Kopaja.”
Aduh, itu sih sama aja buatku memutar pertanyaan kembali. Maksud pertanyaanku, ke mana arahnya? “Pak, memangnya, kalau naik Taksi teh berapa kitu ongkosna?”
“Kalau tidak masalah sekitar 50 ribuan. Kalau macet mungkin akan lebih mahal.” Katanya sambil tersenyum. Aku terdiam sejenak, wajahku berubah melas, mengingat tarif ongkos yang tak bersahabat.
Tapi nampaknya waktu tak mau membuatku susah. Pria ini memandangku prihatin. “Kalau kamu tak keberatan, kamu bisa ikut mobil saya. Kebetulan, saya mau ke sana juga.”
Apa? Aku diajak ke sana dengan mobil mewahnya? Ya ampun… Mimpi apa aku semalam? Dibalik hati kecilku tersimpan hamparan kebun bunga yang mekar mendadak bersamaan rasa girang dan bahagia. Hfff… lega juga akhirnya…
“Ah, tidak keberatan atuh, Bapak. Nuhun pisan.”

Pintu mobil tertutup dengan sendirinya saat kami tengah berada di dalam mobil. Jujur, aku takjub melihat pemandangan ini. Di Ciwidey tidak ada mobil secanggih ini. Secanggih-canggihnya mobil, pintunya tidak ada yang otomatis, itu pun harus ditutup secara paksa. Lalu mataku berputar ke penjuru ruang mobil, interiornya luar biasa, pakai gorden segala lagi.
Demi meredam kebisuan di antara kami, aku memulai perbincangan dengan sekelumit pertanyaan-pertanyaan, “Pak, kalau boleh saya tebak, nama Bapak teh Bisma, nya?”
“Benar, dari mana kamu tahu nama saya?” Herannya,
“Pan saya teh ngeliat plat mobil Bapak, B 15 MA.” Jawabku dengan senyum candaan. Kusambung pertanyaan lagi, “Pak, kalau saya boleh tau, Bapak teh kerja di mana?”
Pria ini tersenyum untuk yang kesekian kalinya. “Saya bekerja di Café de Paris sebagai manager.”
Hah, manager? Wah, wah, wah… Aku memang orang yang sangat beruntung saat ini. Tak perlu ke sana ke mari mencari alamat, langsung bertemu dengan manager-nya. “Wah, hebat, euy! Rupanya Bapak teh manager, nya? Alhamdulillah, atuh, Pak…”
“Ya, saya sudah bekerja lama di sana. Nama kamu siapa? Dan kamu sendiri, asalnya dari mana?”
“Nama saya Iqbal. Saya teh dari Ciwidey, kampung saya. Saya ke sini niatnya mau membantu abah dan ambu saya dalam himpitan ekonomi, kitu Pak. Biasa lah, jalma-jalma nu daratang ka Jakarta teh pan ingin melamar kerja. Kalau tujuan saya ke Cafe Bapak teh ingin menunggu teman saya.”

Selang beberapa saat, akhirnya kami tiba di sebuah bangunan dengan artistik modern kotemporer yang didesain minimalis dan mewah, namanya Cafe de Paris. “Mari silakan masuk.” Pak Bisma mempersilakan aku masuk ke dalam. Begitu masuk, sorot mataku langsung menjurus ke segala ufuk ruangan. Benar-benar luar biasa, Cafe ini bernuansa Jazz kental, dinding-dindingnya dipenuhi lukisan fresco bergaya klasik, lampu-lampu penerangan hanya menyala ala kadarnya namun berkesan elegant, meja bar yang dinamis, serta suguhan musik Jazz yang langsung ditampilkan dari panggung kecil, semakin menambah kekagumanku pada Cafe ini.
“Iqbal, kamu tunggu saja di sini. Saya mau ke dalam dulu.” Pak Bisma menarik kursi dan mempesilakan aku duduk di tempat.

Tak lama kemudian, ponselku berdering. Muncul nama Lilis pada layar ponselku yang berwarna hitam putih. Dia adalah calon istriku yang dijodohkan orangtua kami sejak kecil. “Assalamualaikum, Lis?”
“Waalaikumsalam. Aa Iqbal, Aa teh sudah sampai di Jakarta? Lilis teh meni kangen sama Aa. Kapan atuh kita bisa menikah di sana, Aa?” Ujarnya bersemangat.
“Lis, Aa teh baru saja sampai di Jakarta. Aa teh mau nemuin si Rusli dulu. Nanti kalau Aa sudah punya pekerjaan dan uang yang banyak, pasti Aa teh ajak Lilis, Ambu, dan Abah ka Jakarta. Kita menikah di sini, ya Lis?”
Mendengar kalimatku barusan, Lilis sepertinya lega. Memang sejak SMA, Lilis bercita-cita ingin menikah denganku di Jakarta. Ia terobsesi ingin menjadi orang kota dan mendapat pamor di mata orang-orang kampung. “Ya sudah atuh. Aa, dalam waktu dekat ini, Lilis teh mau nyusul Aa ka Jakarta. Tapi sekarang Lilis teh pamit dulu. Punteun kalau sudah mengganggu Aa. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Tak lama setelah itu, kulihat sesosok pria tengah menggandeng seorang wanita dengan mesra. Pria itu tampak berwibawa dan tampan. Aku tak asing dengan wajahnya. Benar, dia adalah Rusli, sahabat seperjuanganku ketika masa SMA. Sekarang ia berubah menjadi seorang intelek dan cerdas, terbukti dengan penampilannya yang kharismatik. Tapi wanita itu…
“Rusli!” Aku menyerunya.
Rusli menoleh sejenak padaku, kemudian melepas genggaman tangan wanita di sebelahnya, telapak tangannya menengadah, seolah meminta sesuatu, dan wanita itu memberikan sejumlah uang bernilai ratusan ribu rupiah pada Rusli. Lantas mereka melambaikan tangan dan Rusli melangkah ke arahku.
“Bal, kamu sudah lama menunggu?”
“Ah, nggak. Saya teh baru sampai di sini, Li.” Kataku seraya memandangi penampilannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Ck… ck… ck… hebat euy kamu teh sekarang! Dandannya meni kayak pejabat kieu.” Aku memujinya.
Rusli hanya balas dengan senyuman sinis. “Bal, kamu terus terang aja sama saya. Kedatangan kamu ke Jakarta untuk apa?”
“Saya ke sini teh mau mengadu nasib, Li. Saya tidak mau jadi tengkulak terus. Lagian Ambu sama Abah juga sudah tua, karunya atuh, Li.” Jelasku.
“Ya sudah, untuk sementara waktu kamu tinggal dulu di rumah saya. Kalau kamu punya penghasilan nanti, kamu bisa cari kos-kosan di luar sana. Bagaimana?”
Rusli memang betul-betul sahabat terbaik untukku. Dia rela menampungku di rumahnya. “Wah, nuhun pisan atuh, Li. Saya teh tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kamu.” Rusli hanya membalas senyuman datar.

Malam menjelang, senja memanggil hembusan angin yang berganti kelam, lembayung sutera menggores guratan tajam di langit biru, sang raja siang mulai mengantuk dan terbuai oleh malam. Aku membayangkan jika terjadi malam di Jakarta, sensasi apa yang kurasakan?
Ketukan sepatu menghampiriku seketika, membangunkanku dari lamunan di balkon atas. “Bal, malam ini saya ada urusan di Café de Paris, sebaiknya kamu ikut karena ini menyangkut kamu juga.”
Rupanya Rusli mengajakku ke Café itu lagi. Aku tak akan menolak kesempatan baik ini, “Ya sudah atuh lah. Yuk!”
Setibanya di Café, Rusli mengajakku ke dalam.

“Bal, kamu tunggu di sini dulu. Saya mau ke dalam.” Rusli meninggalkanku di antara banyak orang yang berkumpul di sana. Mereka memandangku tak biasa, mungkin karena penampilanku yang sangat sederhana. Aku mulai merasa resah dan ingin keluar dari petaka kecil ini. Ah, untung ada ruangan di sana!
Kuambil ancang-ancang, lalu kutancap kecepatan ini dan… lari sekencang-kencangnya! Sayangnya, aku gagal mengontrol kecepatan laju ini, akibatnya aku menabrak seorang wanita di depanku. Kebetulan ia tengah menggenggam segelas minuman berwarna kuning terang. Dengan sekejap, dress putihnya berubah kuning penuh noda.
“Duuuh… lo gimana, sih? Eh, lo punya mata kan? Pake dong mata lo kalau jalan, jangan pake dengkul!” Wanita itu meluapkan amarahnya dengan bentakan menyeramkan.
Aku sempat menunduk, lalu menatap wanita bersepatu hak tinggi ini dengan sedikit mendongak. “Eleuh, eleuh… geulis pisan si Eneng. Seperti bidadari yang jatuh dari surga…” Aku sungguh terperangah saat melihat wajahnya, sungguh cantik dan anggun. Ia laksana bidadari yang jatuh dari surga. Hatiku jatuh dalam pandangan pertama.
“Eh, lo ngapain liat-liat gue?” Plak! Wajahku mendadak disentuh dengan tamparan kasar namun manis rasanya. Ini baru pertama kalinya aku jatuh cinta dalam buaian sejati, tidak seperti kisahku dengan Lilis yang bercinta karena tuntutan orangtua kami. Kali ini tidak, cinta datang sendiri kepadaku lewat wanita ini. Ia adalah ratu penguasa isi hatiku. Aku terbelenggu dalam setiap amarah, bentakan, dan cercaan yang keluar dari bibir manisnya. Semakin emosinya menjadi, maka aku akan semakin merasakan hebatnya getaran cinta.
“Ehm…” Tiba-tiba deheman Rusli membuat suasana menjadi buyar. “Sandra, kamu kenal dengan dia?” Loh, Rusli juga kenal dengan wanita ini?
Jadi wanita ini bernama Sandra? Rupanya setelah Rusli menjelaskan, Sandra adalah wanita yang ia gandeng tadi siang. Awalnya memang aku tidak melihat terlalu jelas saat Sandra bersama Rusli siang tadi. Tapi sekarang wajahnya sudah jelas terlihat olehku.
Rusli angkat bicara, “Sandra, ini temanku dari kampung. Namanya Iqbal. Kedatangan dia ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.” Rusli memperkenalkan sekaligus meleraiku dengan Sandra, ia lebih mengawasiku saat berdekatan dengan Sandra. Sepertinya Rusli sudah melihat kejadian beberapa menit lalu dan ia tampak tidak suka kalau aku memberi perhatian pada Sandra.
“Saya adalah papanya Sandra, Iqbal. Rusli adalah calon menantu saya.” Pak Bisma tiba-tiba hadir di sela-sela kami. Ternyata Pak Bisma adalah calon mertuanya Rusli, dan Sandra adalah calon istrinya. “Iqbal, saya ada perlu sama kamu. Mari ikut saya.”

Pak Bisma mengajakku ke sebuah tempat. Ia membawaku ke atas gedung, lebih tepatnya ke sebuah daerah terbuka. Di sana banyak seperangkat kursi dan meja yang dinaungi payung raksasa. Tampaknya area ini adalah area khusus bagi para pengunjung yang menikmati sensasi Cafe di outdoor.

Kami berhenti di sudut area, menghadap gedung-gedung bertingkat yang menjadi tetangga Café ini. Pak Bisma mulai bicara, “Iqbal, saya ingin membantu kamu dalam urusan pekerjaan. Kamu akan saya pekerjakan di Café ini.”
Kalimat Pak Bisma barusan membuat tubuhku sedikit merinding. Aku tak tahu harus berkata apa-apa, saat itu aku hanya berkutat memandang tatapan tulus Pak Bisma, bahkan untuk berkutik saja rasanya sangat berdosa. “Pak, ini teh serius, kitu?” Aku meyakinkannya dengan nada sengau.
“Iqbal, saya menghargai kesungguhan kamu mencari lapangan kerja di Jakarta. Untuk sementara, kamu saya pekerjakan sebagai office boy dan mendapat giliran jam malam, karena Cafe ini sangat ramai pada malam hari. Kamu gak keberatan, kan?”
“Alhamdulillah… saya teh bersyukur pisan, Bapak… Hatur nuhun…” Aku meraih tangan Pak Bisma yang agak keriput, lantas kucium berkali-kali.

Malam kembali bergulir. Aku menyiapkan diri menyambut hari pertama bekerja. Kupasang badan ini di depan cermin. Hmmm… setelah kuperhatikan skala wajahku dengan seksama, ternyata sebelas dua belas dengan personel boyband cilik “Iqbal CJR”, namanya aja sama, meski usia tak sepadan, paras wajahku ini masih dibilang kekanakan oleh segelintir orang di kampung.

Semua sudah siap. Let’s go! Kami berangkat dengan mobil Honda City hitam, milik Rusli dengan plat nomor B 1990 RSL. Hmm… aku memang gemar memerhatikan plat mobil orang lain. Peralahan-lahan kami meninggalkan kediamannya yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Kurang dari satu jam, kami tiba di Café de Paris. Dengan kobaran semangat, aku langsung meraih kain pel dan ember, mulai bekerja.
Hampir tengah malam. Pekerjaanku hampir beres, sepertiga bagian dari bangunan Cafe ini telah aku pel. Sebaiknya aku istirahat terlebih dahulu agar energi bisa kembali terkumpul. Saatnya meneguk segelas bir dengan kadar alkohol nihil. Cukup kenyang bagiku setelah ditambah dengan remah-remah roti yang tersisa di dapur. Masih bisa dimakan, selagi roti bekas pizza ini tak masuk ke tong sampah.

Aku kembali mengepel. Kuperas kain pel basah ini, lalu kubalur di lantai. Dari kejauhan aku mendengar ketukan selop yang sangat keras, kayaknya orang ini berjalan tergesa-gesa, namun aku tak melihatnya, aku terlalu fokus dengan kerjaan ini.
SREEET…! Tiba-tiba tubuhku tertiban seorang perempuan. Sandra!
Ia terpeleset dan jatuh tepat menibaniku, dengan refleks aku menahannya dengan sebuah dekapan. Jantungku berdebar-debar, nafasku seakan tercekat, kami saling memandang cukup dalam. Aku tak paham arti semua ini, tiba-tiba saja aku kejatuhan bidadari secantik Sandra. Aku memandangnya jauh lebih dalam, seolah tak mau melepas begitu saja moment yang sangat mahal ini.
Sorot matanya, bibirnya, pipinya, semua menyatu dalam detak jantungku. Aku bisa merasakan guncangan asmara yang menjemu hasrat ini. Cukup lama untuk kami saling beradu tatapan.
“Ih, lepasin gue! Lo apa-apaan, sih?” Sandra sudah sadar rupanya. Ia buru-buru melepas dekapanku. Hfff… sayang sekali.
“Maaf atuh, Neng.” Kataku polos.
“Rrrrggh….” Geramnya. Karena emosinya terlalu meledak, kantong belanjaan yang sedang dibawanya berjatuhan. Aku cepat-cepat mengambilnya sebelum ia mengambil duluan dan berharap dia bisa menambal rasa kesalnya.
Namun waktu berkata lain. Tangan kami terjun mengambil barang itu bersamaan, sehingga tanganku dan tangannya menyatu dengan hangat. Kami kembali berpandangan.
“Maaf.” Aku melepas tangannya, aku takut kalau ia semakin emosi padaku. Sandra tak berkata apa-apa, ia pergi meninggalkanku dengan sisa wajah cemberut.

Malam berganti. Aku masih giat bekerja di Cafe yang 24 jam non stop buka setiap hari ini. Noda-noda pada lantai berdatangan silih berganti, meski telah puluhan kali aku seka dengan kain pel lembap. Pengunjung Café semakin ramai memadati setiap meja. Kehidupan malam di sebuah Café kembali menyala. Musik Jazz kian tajam menggugah telinga para penikmatnya. Aku tak peduli. Bagiku, lantai-lantai kotor ini lebih penting.

Rusli dan Sandra kembali ke Café ini. Mereka tampak kelelahan, barang-barang yang mereka bawa cukup membuktikan bahwa mereka habis belanja. Saat detik-detik perpisahan, Rusli mengulurkan tangannya ke Sandra tanpa bicara sepatah kata pun. Nampaknya Sandra sudah hafal dengan gelagat Rusli. Ia merogoh dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang bernilai seratus ribu rupiah kepada Rusli. Lepas itu, Rusli mengecup keningnya dan berpisah pulang.
Sebelum pulang, Rusli melambaikan tangan ke arahku dan berseru, “Bal, saya duluan ya! Nanti kamu naik taksi aja, ongkosnya biar saya yang ganti!” Baiklah, aku bisa memahami kondisi, mungkin Rusli sudah kelelahan.
Namun usai Rusli pulang, aku melihat Sandra kebingungan memandang banyaknya kantong-kantong belanjaan di depan matanya. Aku segera ambil tindakan.
“Saya bantu atuh, ya?” Tanpa ada izin, tanganku main sambar barang-barangnya.
Sandra tak bisa menolak, ia terlihat sangat lunglai. “Bawa ke atas!” Perintahnya datar. Saat kami berjalan, suasana kaku, kami saling beradu pandang, namun tawar rasanya. Tapi tak ada salahnya kalau aku membunuh kebekuan ini dengan obrolan kecil. “Mmm… Neng, memangna Neng Sandra mau menikah sama Rusli teh kapan, kitu?”
“Minggu depan.” Jawabnya singkat, namun cukup membuatku merasa kehilangan. Dalam minggu ini aku akan kehilangan Sandra, karena sebentar lagi ia akan menjadi milik orang lain.
“Oooh… secepat ini ya, Neng?” Kataku memelas. “Kalau barang-barang ieu teh untuk apa dan kunaon meni loba kieu, Neng? Lagipula ini teh mahal-mahal pisan.” Lanjutku sambil mengintip sedikit ke dalam kantong-kantong belanjaannya. Ia tak menjawab. Nampaknya Sandra menaruh kebencian padaku, mungkin gara-gara baju mahalnya kena noda minuman yang tak sengaja tersenggol olehku.

Tak terasa, kami tiba di beranda atas Café, barang-barang ditaruh di lantai. Udara begitu dingin menusuk tulang, angin yang berhembus malam ini kurang bersahaja. Sandra memeras sekujur tangannya. Aku langsung mengambil jaketku yang digantung di balik pintu dapur, lalu kubungkus Sandra dengan jaketku tanpa ragu-ragu. Sandra menoleh padaku, aku membalas senyum. “Pake, Neng. Lamun tiis kieu mah harus make jaket atuh, nanti masuk angin.”
Sandra tak membalas sepatah kata pun. Ia mulai menatap wajahku, sedikit lebih dalam. “Iqbal, sekarang lu masuk ke dalam. Gua mau sendiri, gua kecapekan! Udah masuk sana!” Sandra malah mengusirku. Aku sengaja tak menagih jaketku, agar aku bisa mendapat kesempatan lain bertemu dengannya, jaket itu bisa menjadi jembatan penghubung pertemuan kami. Sebelum aku masuk ke bibir pintu, aku mengintip Sandra sejenak.
Apa yang aku lihat ini bukan rekayasa! Sandra menciumi jaketku dengan kecupan mesra, seolah-olah jaket itu adalah aku. Senyuman demi senyuman menambah kekagumanku padanya. Aku tak menyangka sebelumnya, ternyata ia memiliki rasa untukku. Lagi-lagi ia bergumam seperti ini, “Bal, sampai kapan pun aku gak bakal ngelupain kamu. Kamu beda dari orang kebanyakan. Cintamu tulus, meski aku tahu, kamu bukan orang yang berada. Tapi kamu bukan lelaki matre. Muka kamu juga lucu kok, kayak anak kecil.”
Dan kalimat terakhirnya membuat aku terbenam dalam buaian asmara, “Aku mencintaimu, Bal…” Tubuhku melemas, seakan dihantam serdadu cinta yang menyerangku. Malam ini menjadi semakin berarti.
Lambat laun Sandra menyadari keberadaanku. Sorot matanya berubah total menjadi nanar, alisnya berkerut, jaketku mulai dilepaskan dan dilemparkan padaku. Aku sama sekali tidak kecewa, karena aku yakin kalau cinta tak bisa dibohongi. Ia cuma bersandiwara, dan sandiwara yang ia lakukan semata-mata karena pelampiasan rasa malunya saja, aku bisa melihat dari wajahnya.
“Masuuuuk!!!” Sandra meneriakiku. Kuturuti apa kemauannya. Dan apapun yang ia lakukan demi pelampiasan malu, aku bisa terima. Karena itu semua hanya permainan.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Umar Farooq Zafrullah
Blog: storyentertainmentblog.wordpress.com
Nama: Umar Farooq Zafrullah
TTL: Bogor, 5 Agustus 1997

Cerpen Midnight in Jakarta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ali’s Liontin

Oleh:
Aku melongo menatap lingkaran angka yang sudah menunjukkan angka 11 itu. Mataku memang sudah mengajakku untuk melepaskan lelah hari ini. Aku masih saja menunggu, menunggu ponselku berbunyi. Ku buat

Menanti Senja

Oleh:
Terlihat seorang pria bertubuh tinggi dan tampan ditambah kacamata yang dikenakannya membuat dia terlihat sempurna. Pria itu sedang duduk di pinggir pantai sambil menatap pada senja yang mulai tenggelam,

The Truth

Oleh:
“Serius lo, Gi?” Yogas menatap Egi geram. Seakan tak percaya dengan apa yang baru dikatakan sahabatnya barusan. Egi pun berusaha menatap Yogas dan perlahan mengganggukan kepalanya. “Gi, lo bebal

Rindu yang Tak Dirindukan

Oleh:
Kota ini sedang dilanda hujan tatkala ketika aku sedang mengumpulkan berbagai cara untuk menghilangkan rasa rinduku padamu. Diiringi dengan jatuhnya air hujan ke permukaan bumi, udara dingin perlahan menusuk

Untuk Navisya (Sesal Tak Berujung)

Oleh:
Pagi, Saat itu aku baru saja menyelesaikan masalahku dengan dia, sampai akhirnya aku hanya dapat kesedihan, yah kata “putus” itu selalu menghantui setiap hubungan bukan? dia berkata aku hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Midnight in Jakarta (Part 1)”

  1. Karezu says:

    Ah..Part 2 Pst gk Lulus Moderasi

  2. setiaku says:

    bgus ceritanya
    Dilanjutin cerpennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *