Miliaran Kerikil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Untuk semua yang datang membawa kepedihan.

Saat kreatifitas tidak disalurkan bisa tumpul, saat kemampuan tidak dipakai bisa hilang, tapi saat cinta tidak pernah diberi? Apa sebenarnya hakikat dari cinta? apa benar cinta berlandaskan keikhlasan? Apa benar cinta akan lebih berharga jika dijalani dengan jalan berat? Tidak adil rasanya ketika cinta tidak sesuai harapan, tidak adil rasanya ketika yang ingin dimiliki tidak bisa dimiliki. Haruskah selalu ada pengorbanan di atas lika-liku cinta? mengapa ada kisah sepilu ini.

Sang bintang mulai redup, bulan pun tertutup oleh kabut. Suara dentuman air langit seketika membuyarkan lamunanku. Sungguh, selain karena sangat menyukai hujan, hujan juga mendukung untuk dijadikan sebagai salah satu alternatif penenang jiwa. Aku sedang menengadahkan kepala agar bisa menatap hujan dan awan mendung. Kapan kisah ini akan berakhir? Pertanyaan tanpa jawaban itu terus saja terlintas di benakku.

Namanya Aufar, lelaki tangguh yang memiliki kesabaran seribu kali lipat lebih dari yang orang-orang bayangkan. Aku begitu mengagumi sosok lelaki yang sangat ku cintai ini. Menyenangkan dan sangat sederhana. Entah kenapa dan bagaimana rasa suka itu tiba-tiba muncul dan bahkan kehadirannya membawa warna dalam hidupku. Jarak antara Bandung dan Semarang tidak berpengaruh pada kami, katanya jarak memperbaiki apa yang disebut rindu dan pertemuan memperbaiki apa yang disebut ragu. Tapi semua hanya sekejap, tidak ada lagi senyum yang mengembang.

Ibu sama sekali tidak menyetujui hubungan ini. Bahkan lebih memilih lelaki lain yang sebelumnya pernah menjadi kekasihku. Sifatku yang keras kepala membuatku terus melakukan penolakan pada kemauan ibu, aku sama sekali tidak pernah berhenti menyerah untuk membuat ibu mengerti mengapa aku memilih untuk melepaskan Yuda, tidak akan ada lagi kesempatan untuk semua pengkhianatan yang telah ia lakukan. Namun hasilnya selalu nihil Ibu sama sekali tidak mau menerima alasan apa pun dan tetap memaksa dengan prinsip ia sudah sangat mengenal Yuda dan itu adalah hal yang biasa dalam sebuah hubungan. Setelah perdebatan hebat tersebut terjadi akhirnya tawaku bersama ibu hilang dalam sekejap.

Tidak tega dengan sikap ibu yang terus memaksa setiap harinya, akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan Aufar dan melanjutkan hubungan dengan Yuda. “Jika sudah seperti itu keputusanmu, aku terima. Berhentilah menangis, karena aku akan menunggumu. Datanglah padaku di saat kau sudah sendiri,” kalimat yang dilontarkan Aufar padaku berhasil membuatku semakin meneteskan air mata sekaligus berhasil menambah pasokan energi yang telah berkurang. Jika sudah berusaha begitu kuat namun tetap bertemu dengan rasa kehilangan hal apalagi yang bisa dilakukan.

Namun aku belum berhenti sampai di sini, aku sudah cukup dengan keterpurukan. Mengikuti keinginan ibu tidak berarti sekaligus melepas keinginanku sendiri. Terus saja ku tunjukkan sikap acuh tak acuh pada Yuda hingga akhirnya kalimat itu terlontar dari mulutnya dan disampaikan kepada ibu. “Dia sudah berubah, tidak seperti dulu lagi,” dan benar saja, ibu segera menyuruhku untuk bersikap manis padanya. Bagaimana mungkin seorang gadis yang telah tersakiti hatinya dengan menyaksikan segala bentuk pengkhianatan dengan selalu berdalih tidak memiliki wanita lain namun sudah sangat jelas dalam semua pesan di telepon genggamnya memanggil gadis-gadisnya dengan panggilan sayang harus dengan sepenuh hati menganggap bahwa tidak pernah terjadi apa-apa.

Sejak saat itu juga seketika berkomunikasi dengan Aufar menjadi salah satu hal yang sangat langkah, ia menghargai hubunganku dengan Yuda. Tapi aku yakin, dia terus memegang janjinya. Menunggu hingga saat itu tiba, saat-saat dimana senyum dan tawa selalu hadir di antara kami. Sampai suatu ketika ibu menyadap ponselku, di saat yang bersamaan Aufar datang mengirimkan pesan untuk menanyakan kabarku. Akhirnya ibu tahu akan hal tersebut. Dan benar saja, ponselku dirampas olehnya sampai akhirnya aku bahkan belum sempat membalas pesan dari Aufar. Haruskah aku terus berjalan di atas miliaran kerikil setiap harinya? Entah cobaan apa lagi yang akan ku temukan di ujung jalan sana.

Bulan terus berganti, tidak terasa delapan bulan telah berlalu. Ini tidak boleh terjadi. Aku memilih kembali dengan Yuda tidak untuk bertahan sampai selama ini. Semuanya hanya atas dasar sampai keadaan membaik, sampai hubungan antara anak dan ibu ini terbentuk kembali dan aku akan melepaskan Yuda. Rasa sakit yang terlalu sering ku tahan telah berhasil membuatku mati rasa padanya. Semuanya belum berhenti, saat dia memutuskan untuk mengajakku ke sebuah taman dia hanya peduli pada keputusan ibu yang memberikan izin, tanpa mendengarkan penolakan dariku. Sekali lagi kapan kisah ini akan berakhir? Terpaksa harus mengikuti keinginan laki-laki yang sama sekali tidak dicintai adalah sebuah mimpi buruk. Jika bukan karena ibu, sudah ku cekik laki-laki ini.

Aku tersadar akan suatu hal, ternyata harus ikhlas dan terus berjalan serta berjuang lebih dalam. Dengan begitu lambat laun hubungan dengan ibu semakin membaik berkat sandiwara yang terus ku tunjukkan. Mengikuti keinginannya dan mencoba mendengarkan semua cerita baiknya tentang Yuda. Walau sebenarnya ingin rasanya ku tutup telinga ini setiap kali mendengar nama itu, nama pria yang telah membuat hariku menjadi kelabu. Karena hubungan kami mulai membaik akhirnya aku segera menawarkan diri untuk membantu ibu ketika melihatnya sedang memasak. Saat kami berdua asyik berbincang, tiba-tiba ibu mengajukan pertanyaan aneh.

“Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Yuda saat ini?” pertanyaan itu berhasil membuat jidatku berkerut, namun ku jawab dengan nada tegas. “Tidak ada,” tapi ibu terus saja mengajukan pertanyaan yang sama karena sangat yakin bahwa aku mulai mencintai Yuda dengan melihat berbagai perubahan sikapku yang mulai baik padanya. Namun kenyataannya itu semua hanya demi ibu. “Kalau begitu sekarang pilihlah, Yuda atau Aufar?” dan lagi pertanyaan itu berhasil membuatku tidak percaya dengan apa yang ibu katakan barusan. Aku pikir ibu sudah melupakan nama itu.

Belum sempat memberikan jawaban ibu langsung melanjutkan perkataannya. “Karena jika kau memilih Yuda silahkan bersama Yuda, tapi jika kau memilih Aufar pergilah bersama Aufar. Ibu tidak ingin lagi melihat anak Ibu yang selalu berpura-pura tersenyum dalam tangis,” kalimat itu hampir saja membuatku meneteskan air mata. Ibu, Sosok wanita yang selama ini sangat ku cintai menjelaskan bahwa sebenarnya dia sudah tahu semuanya, dia pernah mencoba mengerjai Yuda dengan menyamar sebagai seorang gadis yang bernama Emilly, dan semuanya benar. Yuda masih saja melakukan kebiasaannya. Menggoda Emilly yang tak lain adalah ibuku sendiri.

Sejak saat itu ibu percaya bahwa siapa pun laki-laki yang dipilih oleh anaknya maka itulah pilihan terbaik. Ibu akhirnya membiarkanku bersama Aufar, laki-laki yang sangat ku rindukan. Yang selalu memberikan senyum termanis, walau saat terpedih di hati. Sekarang aku tahu cinta akan lebih berharga jika dijalani dengan jalan berat. Kadang penantian panjang memang menyakitkan, namun pada akhirnya kita akan melihat cahaya terang setelah bersama-sama memutuskan untuk melewatinya. Selalu ada harapan jika kau percaya harapan itu ada, percaya semua akan indah pada waktunya. Nyatanya tidak ada yang sia-sia, masalah datang bukan untuk melihat akhir yang buruk, tapi bagaimana kita bisa membuat masalah menjadi sebuah kisah dengan akhir yang bahagia.

Cerpen Karangan: Ningrum Wulansari Heriyono
Facebook: Ningrumwulansari15[-at-]gmail.com / Ningrum Wulansari H

Cerpen Miliaran Kerikil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tak Harus Memiliki

Oleh:
Putri adalah gadis 18 tahun, yang sebentar lagi akan menginjak bangku kuliah, Putri bersahabat dengan Gibran, dimana ada Putri pasti disitu ada Gibran. Putri temasuk anak yang kuper, dia

Sunggguh Tak Kusangka

Oleh:
Selama ini keluarga Mamad dengan Yanah harmonis hingga mereka dikaruniai Tiga orang anak dan juga telah dikaruniai Dua cucu. Walaupun mereka hidup di kampung serta dengan keadaan ekonimi mungkin

Rindu Membawa Korban

Oleh:
Ayu menangis tanpa mengeluarkan suara, di tengah malam yang sunyi di atas ranjangnya. Dia sangat sedih karena Ayah dan Ibunya berpisah, semenjak umur 3,5 tahun Ayu tinggal bersama wanita

Cinta VS Perbedaan

Oleh:
Kisah ini berawal dari ingatanku tentang hari ulang tahun seseorang yang sudah 4 tahun lamanya tak ku jumpai semenjak perpindahanku dari kota tempat ku bertumbuh, makassar. Entah apa yang

Hati Yang Tak Berpaling

Oleh:
Inilah kisah seorang anak muda yang tak pernah memalingkan hatinya ke wanita lain walau sudah berpisah dari pasangannya. Namanya Wahyu seorang anak tukang tampal yang kuliah di kampus IAIN

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *