Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 15 April 2014

Jum’at pagi, aku pergi. Sekedar berjalan-jalan iseng menghampiri bengkel milikmu, dan mengantar sarapan untuk sekedar alasan menemuimu. Bengkel kecil yang katanya laris dan terletak di pojok perumahan ini. Aku tak ingat kapan kau membangunnya, bahkan aku tak menyangka bahwa orang sepertimu, yang mungkin tak memiliki keahlian dalam bongkar mesin bisa membuka bengkel yang akhirnya terkenal.

20 meter lagi, aku mulai melihat plang bengkelmu yang sudah mulai berkarat, Bengkel Motor “Abadi”. Sepertinya tempat ini sudah ada sejak lama ya, tapi kenapa aku baru mengetahuinya? Ah kepalaku sakit memikirkannya, mungkin lebih baik aku pulang saja tapi aku tak mungkin membawa kembali rantang ini. Lagipula, ini pertama kalinya aku memasak untukmu. Aku ingin melihatmu mencicipinya dan menghabiskannya. Bengkelmu pagi ini sudah penuh mobil ternyata, aku tak mungkin menemukanmu dengan gampangnya.

“Mbak, cari Mas Adi ya?”

Seorang lelaki berkulit coklat bertubuh pendek mengagetkanku, aku tak menjawab, hanya mengangguk kecil. Lelaki itu hanya tersenyum dan menunjukkan posisimu.

“Itu, suami Mbak lagi di bawah mobil itu.. Tuh kakinya kelihatan..”

Lelaki itu menunjukkan posisimu, di bawah mobil, 5 meter di depanku. Aku menghampirimu usai membalas senyum lelaki itu sebagai tanda terimakasih. Sedikit heran dia menyebutmu, “suamiku”. Memang kapan kita menikah? Ah, mungkin lelaki tadi hanya meledekku… Aku mengetuk bagian samping mobil pelan, tak lama kau keluar dari kolongnya, lantas tersenyum padaku dengan wajah yang kotor terkena oli.

“Sayang, kamu dateng? Bukannya hari ini kamu libur? ‘Kan sebelum Jum’atan nanti aku pulang ke rumah kita dulu buat makan sama mandi… Tapi nggak apa-apa deh, kalau istri tercinta yang dateng bawa sarapan mah aku nggak nolak.. Maaf ya aku kotor gini, kamu masuk dulu aja ke dalem, aku mau bersih-bersih dulu..”

Aku melihatmu berlalu, menatap punggungmu yang semakin menjauh. Aku heran, kenapa tadi kau bilang rumah kita? Dan kau menyebutku apa tadi? Istrimu?
Puk!

“Aduh, maaf aku ngagetin kamu, ya?”

Aku hanya memegang dadaku, jantungku berdegup amat kencang. Kau merangkulku, membawaku ke arah dalam kantormu.

“Maaf ya sayang, aku ngagetin kamu, habis kamu dari tadi diem aja aku panggilin, biasanya kan kamu langsung masuk ke dalem..”

Biasanya? Memang seberapa sering aku mampir kesini? Aku bahkan baru tau tadi pagi, tempat ini bahkan baru ku tapaki sekali, dan baru kali ini aku memasak untukmu, ‘kan? Lelaki tadi juga menyebutmu “suamiku”, kau menyebutku “istrimu” dan berkata “rumah kita”? Benarkah kita sudah menikah? Tapi kapan? Aku heran, kepalaku sakit, pandanganku berputar-putar. Dan semua mendadak hitam. Sempat ku dengar panggilan darimu, aku tak bisa menjawabnya rasanya sakit dan lagipula aku amat mengantuk..

Aku terbangun di ruangan dingin, rasanya tidurku amat nyenyak, tapi tanganku rasanya pegal. Bau ruangan ini seperti obat.. Tempat ini seperti kamar rumah sakit. Ku lihat Mama tidur di sofa, lantas bangun ketika menyadari aku sudah terbangun pula.

“Sayang, kamu udah sadar?”
“Memangnya Kakak kenapa, Mah?”
“Kamu nggak inget tempo hari pingsan?”
“Tempo hari? Pingsan?”
“Iya, kenapa malah bingung sih?”

Aku tak mengingat apapun, aku hanya merasa baru bangun dari tidur.

“Memang skarang hari apa, Mah?”
“Hari Kamis..”
“Kamis? Bukannya skarang harusnya Jum’at pagi?”
“Jum’at pagi? Kamu ini ada-ada aja… Mama kasih tau ya, 2 hari yang lalu kamu pingsan, Adi yang bawa kamu kesini, dari kemaren pacar kamu itu cemas nungguin kamu makanya Mama suruh dia pulang aja, toh dia juga harus kerja ‘kan? Yah untung akhirnya kamu bangun hari ini.. Kamis ini..”

Aku heran, apa yang terjadi? Apa yang Mama bilang tadi? Kamu, pacarku? Jadi kita belum…

“Ya ampun, darah kamu naik ke selang infus, sebentar ya Mamah keluar panggil suster dulu sekalian telfon Papah sama pacarmu ngabarin kalau kamu udah sadar, biar nggak pada cemas…”

Ku tatap Mama yang pergi. Aduh, kenapa tanganku terasa lemas dan pegal.. Benar saja, selang infus yang seharusnya mengaliri cairan masuk ke tubuhku malah menghisap darahku ke dalam kantongnya.. Kepalaku pusing, pandanganku mulai kabur, nafasku rasanya menipis.. Sempat ku dengar pintu terbuka, dan suaramu berteriak cemas memanggil namaku, namun aku rasanya malas untuk menjawab, dan kantuk itu datang lagi..

Nafasku rasanya ingin berhembus keluar, disertai sentakan yang membuatku bangun terduduk. Ku lihat kakakku terbaring di sebelahku, tertidur. Tak ada jarum infus menembus tanganku, dan ruangan ini tak berbau seperti rumah sakit. Ku tatap layar handphone-ku, Senin, 11 November 2013 jam 23.30. Ini mungkin, aku kembali.. Dari mimpi..

Cerpen Karangan: Triesya Augustien Ernawan
Facebook: m.facebook.com/triesyaernawan
Makasih udah baca..Kritik saran send to my fb ya.. ^_^
m.facebook.com/triesyaernawan

Cerpen Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sunrise on Sunday

Oleh:
Setiap minggu aku selalu duduk di sebuah saung yang terletak di tepi pantai. Aku selalu berangkat jam lima dari rumah hanya untuk melihat matahari terbit. Selain melihat matahari terbit,

Diary Merah Darah

Oleh:
Seorang gadis berlari di lorong rumah sakit, seakan ada yang sedang mengikutinya. Dia melangkahkan kakinya dengan sangat cepat mukanya pucat tak karuan. “Tolong!” “Tolong, aku!” Suara rintihan minta tolong

Because of Love (Part 2)

Oleh:
“selamat pagi semua..” sapa eby kepada keluarga kecilnya saat sarapan pagi. “Pagi sayang, senang banget kelihatannya?” tanya mamanya. “Just right, mom. Eby memang lagi seneeeng banget” “Karena apa? ada

Kesempatan

Oleh:
Suatu pagi yang cerah, di bawah pohon yang rindang. Ku rebahkan tubuhku, di atas rerumputan. Yang telah dipotong rapi, dan kepalaku, ku letakkan dekat tubuhnya, ya dia yang bersandar

Mayat Berkebaya

Oleh:
Ikan ikan kecil yang bersembunyi di balik bebatuan satu persatu mati akibat racun yang ditebar Rasikin, anak kampong sebelah ini acap kali memakai cara itu untuk menangkap ikan, sungai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *