MImpi dan Pilihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 November 2016

Ada temanku yang bertanya,
“jika kamu mengalami kejadian di mana kamu memegang tangan dua orang lelaki yang akan tenggelan ke danau. Yang satu orang yang kamu cintai tapi dia tidak mencintaimu dan yang satunya dia orang yang sangat mencintaimu tapi tidak kamu cintai, karena kamu sudah mencintai lelaki pertama. Dan di situasi itu, kamu harus memilih salah satu yang harus kamu selamatkan terlebih dahulu, itu artinya yang terakhir kamu selamatkan akan mati karena kehabisan nafas. Dengan penuh perasaan yang bijak untuk masa depanmu, mana yang kamu pilih untuk hidup? Apakah orang yang kamu cintai atau orang yang mencintaimu dengan tulus?”
Pertanyaan itu sangat membingungkan. Aku tak pernah ada di situasi segenting itu, namun untuk menanggapi cerita panjang lebar temanku aku menjawab dengan pemikiranku sendiri.
“ya… aku memilih orang yang mencintaiku dengan tulus…” dengan santai aku menjawabnya.
Mendengar jawabanku, matanya berbinar dan mulai mengajukan pertanyaan lagi.
“apa alasannya…?” ia seperti sedang mengintrogasiku, pertanyaannya sangat membingungkan bagiku.
“karena…, di masa depan… jika aku menolong orang yang kucintai tapi dia tidak mencintaiku… aku tak yakin ia mau membalas cintaku, dan yang paling kutakutkan ia akan mencampakanku. Namun tidak dengan orang yang mencintaiku dengan tulus, walau aku tak mencintainya…, ia pasti akan berusaha memberiku kenyamanan dan menjagaku walau ia tak mendapatkan cinta dariku. Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu…, itu pemikiranku karena aku akan berusaha membalas cinta seseorang yang mencintaiku. Aku adalah orang yang tak pernah memiliki cinta yang sama, setiap kali aku mencintai seseorang… ia pasti tak membalasnya. Aku tau rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, dan itu rasanaya menyakitkan. Sehingga Aku tak ingin ada orang lain yang bernasib sama denganku…, jadi aku akan berusaha membalas cinta lelaki ke dua. Dan membiarkan orang pertama meninggal, rasanya pasti berat memang. Tapi hidupku memang bukan untuk selalu menerima sakit hati kan? Ada kalanya aku berhak bahagia dengan orang yang memiliki cinta tulus untukku…” jelasku panang lebar, jawaban ini aku keluarkan benar-benar dari hatiku dan dengan serius. Temanku mulai berbunga, ia bertepuk tangan dengan riang. Aku sebenarnya bingung dengan jawabaku sendiri, tapi sungguh itu jawaban dari pemikiranku dan perasaanku yang paling dalam.
“hebat! Baru ku temukan jawaban yang tepat darimu dir! Selama ini aku bertanya kepada teman-teman lainnya, tidak ada yang punya jawaban hebat seperti jawabanmu ini…” ia berkata dengan riang.
Indah memang selalu ceria, dan yang aku curiga darinya. Bagaimana bisa ia punya pertanyaan hebat seperti itu padahal ia kan orangnya kekanak-kanakan! Pertanyaan itu menurutku pertanyaan yang terkesan dewasa, itu jauh sekali dari karakter indah.

“ehem! Ngomong-ngomong…, dari mana kamu dapat pertanyaan itu?” tanyaku serius.
“em… dari…, mas panji…” Jawabnya cengengesan.
“oh… pantesan…, kenapa dia memiliki pertanyaan seperti itu?” tanyaku penasaran.

Mas panji adalah kakak laki-lakinya, mas panji juga kakak kelas kami waktu di SMK. Dulu waktu di SMK katanya, dia menyukaiku tapi aku tak peduli dengan hal itu, karena aku mencintai orang lain, yaitu primadona sekolah mas andi, orangnya tampan dan popular.
“katanya sih! Itu pertanyaan untuk cinta pertamanya yang tidak sempat kesampaian sama orangnya. Siapa tau kalau aku yang menyebarkan pertanyaan itu, aku bisa bantu ke dia untuk menyampaikannya kepada orang yang ia sukai itu…” ia menjawab dengan mulai sibuk makan siang.

Kami sedang ada di Malaysia, kami ikut BKK (bursa kerja khusus) lewat sekolah, yah …walau di PT itu sudah lebih dari cukup. Karena mencari pekerjaan di indonesia lumayan sulit, dan gajinya juga tidak seberapa.
“oh.., emang siapa cinta pertamanya?” aku mulai GR kalau cinta pertama mas panji adalah aku.
“aku nggak tau…, dia itu orangnya terlalu pendiem. Jadi… aku nggak begitu tau tentang rahasia percintaannya…” Ia menjawab dengan senyuman kekanak-kanakannya.

Huft…, entah kenapa aku jadi keGRan begini. Mas panji memang tidak sempurna, tidak setampan dan sepopular mas andi, tapi aku yakin dia orang yang baik. Dia pernah menolongku membawa sayur-sayuran hasil kebun saat kami masih sama-sama di desa. Ia terkenal orang yang baik di desaku, tapi kenapa yah? Aku jadi kepikiran dia.
“trus! Bagaimana kabarnya? Dan di mana dia sekarang?” indah menoleh ke arahku dengan tatapan aneh.
“kabarnya baik…, dan dia sekarang sedang di Jakarta kerja di PT YAMAHA. Memang kenapa? kamu tanya-tanya soal mas panji?” ini nih! Yang membuatku kadang malas bicara dengannya. Apa-apa dianggap lebih.
“nggak papa kok! Em… hanya ingin tau…” ucapku menoleh ke arah teman kami yang menyuruh kami untuk kembali kerja.

Dan malam hari sebelum tidur, aku tiba-tiba teringat oleh pertanyaan indah tadi siang tentang 2 orang yang harus kupilih salah satunya. Di sela-sela pertanyaan itu muncul, aku terbayang oleh potongan-potongan kejadian waktu SMK dulu. Aku mengejar-ngejar mas andi seperti teman-temanku yang lain, namun di sisi lain mas panji sering ada di sisiku saat aku susah. Tapi soal mas panji yang suka kepadaku aku tak tau, ia tak pernah bilang kepadaku. Seiring berjalannya waktu, mataku mulai memaksa untuk istirahat. Akhirnya aku menurutinya dari pada melamun tak jelas.

Tiba-tiba aku berada di tepi danau di desaku dulu, aku masih seperti saat SMK dulu dengan pakaian kampungan berjilbab. Namun entah kenapa tangan kiriku memegang lengan mas andi dan tangan kananku memegang lengan mas panji. Mereka hampir tenggelam dan hanya terlihat lengan dan kepalanya saja, aku hampir kehabisan tenaga dan pikiranku mulai melayang. Kalau aku menolong keduanya aku tak kuat, dan pertanyaan Indah tadi siang terngiang dan aku teringat dengan jawabanku. Posisi mas andi dan mas panji seperti posisi lelaki pertama dan kedua, mas andi di posisi orang yang kucintai tapi ia tak mencintaiku dan mas panji adalah orang yang mencintaiku dengan tulus walau cintanya tak terbalas. Sesuai pemikiranku tadi siang, Aku harus menyelamatkan mas panji terlebih dahulu, tapi aku benar-benar tak ingin membuat mas andi mati berat rasanya harus memilih di antara mereka. Perlahan tanganku mengikuti hatiku aku menarik mas panji keluar dari danau, dan tangan kiriku masih mempertahankan mas andi. Tak lama orang-orang datang dengan tergesa-gesa. Mereka langsung membantuku menarik mas andi keluar dari danau. Keadaan mas panji saat itu pingsan, namun mas andi sudah tak bisa tertolong ia sudah tak bernafas. Dan aku pingsan karena kehabisan tenaga mempertahankan kedua lelaki itu.
Kring…! kring…! kring…! Alarmku berbunyi, jam 4.30 azan subuh terdengar. Oh ternyata semua kejadian melelahkan itu hanya mimpi. Alhamdulillah! Batinku, tapi semuanya seakan nyata. Keringatkupun bercucuran seperti dalam mimpi. Sebenarnya pertanda apa ini? semua kejadian dalam mimpi persis dengan pertanyaan indah kemarin siang.

Aku duduk sejenak di tepi ranjang, menenangkan hati dan pikiran. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Azan selesai dikumandangakan, lebih baik aku sholat untuk menenangkan diri. Aku mencoba berfikir positif bahwa semuanya hanya mimpi. Palingan mimpi itu datang karena aku yang terlalu serius menanggapi pertanyaan indah, alhasil sampai terbawa mimpi.

Tak terasa waktupun berlalu, 3 tahun masa kontrakku dan indah di Malaysiapun habis. Kami pulang ke negeri tercinta indonesia hari ini, aku tak sabar bertemu dengan bapak dan mamak di kampong, juga adikku yang lucu-lucu juga kakakku yang cerewet.

Perjalanan yang melelahkan dari Malaysia-Jakarta-Kebumen jawa tengah. Aku dan indah telah sampai di kampung halamanku, yey! Akhirnya udara segar perkampungan terhirup lagi oleh indra penciumanku, Alhamdulillah allah masih memberiku kesempatan untuk kembali ke kebumen. Di terminal kami dijemput dengan mobil oleh mas panji, aku sempat terkejut dan bangga juga sih! Mas panji sekarang menjadi orang sukses dan sifat ramahnya masih melekat padanya, hem…! Rasanya jadi berbeda. Aku kenapa jadi gugup yah? Saat melihat mas panji? Dia sekarang juga lebih tampan dari mas andi malah. Dengar-dengar mas andi yang dulunya orang kaya sekarang jatuh miskin karena mas andi yang tak bisa mengelola harta orangtuanya dengan baik, kabarnya sih semua hartanya malah dipakai untuk berj*di. Masha allah! Aku tak menyangka kalau mas andi orang yang seperti itu.

“bagaimana kabar kalian?” tanya mas panji tiba-tiba saat aku melamun.
“Alhamdulillah baik mas…!” ucapku dan indah bersama.
“lalu bagaimana dengan mas panji?” tanyaku basa-basi.
“Alhamdulillah seperti yang kamu lihat…, saya baik!” jawabnya ramah.
“em… kira-kira ada rencana di kampung ndak setelah pulang dari Malaysia?” mas panji duduk di sebelah indah, dan aku di belakang sendirian.
“belum ada sih mas! Kayaknya mau ikut kerja menjahit dengan bi wanti di desa…” jawabku jujur.
“oh…, ada rencana nikah?” pertanyaan itu membuatku terkejut.
“hehe…, terlalu lancang yah? Ndak usah dijawab Cuma bercanda kok!” ralatnya kemudian.
“ehem…! Nggak papa kok! Mau nikah sama siapa, kenal laki-laki aja enggak!” aku tersenyum menutupi rasa gugupku ditanya seperti itu.
“hehe! Sama dong sama mas panji!” tiba-tiba indah ikut menyahut.
“memang benar? Masa sih, mas panji belum ada yang disukai?” tanyaku lagi-lagi hanya untuk menutupi rasa gugupku.
“iyah dir! Lagi nunggu seseorang soalnya…” jawaban mas panji membuatku sedikit kecewa.
“wah! Semoga lancar yah, semoga yang ditunggu datang secepatnya…, hehe! Ngomong-ngomong… siapa yang ditunggu mas…” pertanyaan itu sedikit membuatku menyesal telah menanyakan hal pribadi seperti itu.
“orangnya udah pulang kok sekarang. Dia abis dari Malaysia…, namanya Dira Anggraeni. Anaknya tukang sayur di desa…” jawaban itu membuat jantungku mau copot. Aku kah yang disebutkannya?
“cie… cie… ada yang di beri lampu hijau ni!” indah mulai meledek, sementara aku mematung.
Mas panji tersenyum lebar, menatapku dari kaca dalam mobil. Aku membuang muka, dan mencoba menstabilkan detak jantung. Shok!
“ehem!… mas panji bercandanya nggak lucu tau!” ucapku mencoba tersenyum.
“aku serius kok! Kalau diizinkan, besok malam aku ke rumahmu untuk mengkhitbahmu…” Seperti ada mobil yang menabrakku, aku tak bisa berkata-kata lagi dia benar-benar serius dengan kata-katanya.
“oh…, jadi pertanyaan yang ‘itu’(pertanyaan pilihan membingungkan, yang pernah dipertanyaan oleh indah kepadaku) buat dira ya mas?” tanya indah kepada mas panji yang masih tersenyum.
Mas panji mengangguk, aku masih terdiam mencerna setiap kata-kata mas panji. Senyumku pudah sesaat, sementara mas panji masih menatapku dari kaca dalam mobil.

Sampai di rumah. Aku langsung melepas rinduku kepada seluruh keluarga yang kutinggal selama 3 tahun ini. kupeluk mereka satu persatu, lega rasanya. Mas panji dan indah langsung pemit, aku senang sekali bisa melepas rinduku kali ini. dan allah menambah rasa gembira dalam hidupku, dengan kehadiran mas panji yang malam ini mengkhitbahku. Aku tak percaya tapi memang ia sudah mengungkapkannya di mobil kemarin siang. Seperti dalam pertanyaan indah atau lebih tepatnya pertanyaan karangan mas panji untukku waktu itu, dan jawabanku tentang cinta yang akan datang seiring berjalannya waktu. Aku akan mencoba menumbuhkannya untuk mas panji agar tak ada lagi orang yang mendapatkan cinta bertepuk sebelah tangan di dunia ini. Aku menerima khitbah mas panji, langsunglah bapakku dan bapaknya menentukan hari pernikahan. Ya allah…, semuanya terlalu membingungkan. Namun semua hal itu membuatku percaya bahwa allah akan memberikan cahaya setelah gelap, dan memberi kebahagiaan setelah penantian.

SELESAI

Cerpen Karangan: Febi Faliha
Facebook: Febi faliha
Orang yang punya banyak mimpi!

Cerpen MImpi dan Pilihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengganti Papa

Oleh:
“Pa, kenapa papa ninggalin Ariqa secepat ini Pa? Ariqa sayang banget sama papa” Aku hanya bisa menangis sambil memandang makam papaku. Kini aku hanya tinggal bersama mamaku yang sedari

Teman Lamaku Kembali Lagi

Oleh:
Gerimis pagi itu membuatku tak ingin beranjak dari tempat tidur. Apalagi rasa ngantuk yang tak ingin terkalahkan membuatku enggan untuk membuka mata terlebih lagi jika harus beranjak dari tempat

Kamu Idolaku

Oleh:
“Terus.. Katanya dia jadi nggak suka aku lagi. Habis, aku kan penasaran hubungannya dengan teman masa kecilnya itu..” Airmata membanjiri pipi Merry. Dunia ini benar-benar nggak adil. Sahabatku diputusin

Hari Pertama di Bulan Desember

Oleh:
Drrrttt… Sebuah pesan singkat berisi promosi dari operator membuatku terbangun, dengan terkantuk-kantuk kulihat jam menunjuk angka 01.28 dan kuyakinkan diriku bahwa saat ini orang-orang sedang berenang dengan indahnya di

Menatap Hujan

Oleh:
Kembali hujan di sore hari mengguyur bumi ini. Di sini intensitas hujan memang cukup tinggi, tidak heran banyak yang bilang kota ini kota hujan. Yap, benar Bogor. Tanah kelahiranku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *