Mine

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 June 2017

Mata laki-laki itu terlihat memutar dengan malas. Bola matanya yang berwarna biru terlihat indah dari jauh. Aku hanya diam di sini. Menunggu kejadian selanjutnya lagi. Dan sudah kutebak, pasti Fando, laki-laki tadi, akan menuruti kemauan Inda. Perempuan songong yang hanya memeras kekayaan Fando itu menarik-narik tangan Fando dengan wajah melas yang dibuat-buat.

Sungguh, aku sudah bosan dengan drama yang Inda buat. Terlalu memuakkan. Tapi mau bagaimana lagi, kerjaanku ya hanya begini. Melihat Fando dari kejauhan, memata-matainya seperti detektif terkenal. Terkesan menyeramkan memang.

Benar saja. Sekarang, Fando sudah berdiri dengan sebuah senyum yang dipaksakan. “Okeh, Inda. Ayo kita pulang, dan beli es krim sebanyak yang kamu mau.” Samar-samar, suara indah Fando menelusup ke dalam telingaku.

Mereka sudah pergi keluar dari kantin. Sudahlah, aku tidak perlu mengikuti mereka lagi. Pastinya, mereka akan berkencan satu hari. Dan fakta itu, membuatku merasa terpukul dengan keras.

Kalau menyukai laki-laki dari delapan tahun yang lalu, dengan diam-diam, kalian percaya tidak? Kalau nggak percaya, aku benar-benar melakukan itu. Aku menyukai Fando. Sangat.
Faktanya, Fando itu sama sekali tidak tampan. Mata birunya yang tenang, hanya satu-satunya itu kelebihan dia. Lantas, mengapa aku tergila-gila dengannya? Konyol memang.
Tapi, dia itu sangat berbeda dengan laki-laki lain. Pembawaannya yang selalu tenang, dan tegas, mampu meluluhkanku seketika.
Perasaan itu bermula saat aku duduk di bangku SMP. Mulai berkembang menjadi perempuan yang dewasa, dan merasakan cinta monyet.

Pagi itu, dengan penampilan khas anak Mos, aku berlari-lari ke sekolah. Tidak telat memang, tapi sifatku yang mempunyai rasa khawatir berlebihan membuatku ingin cepat-cepat sampai ke sekolah.
Saat kakiku sudah menginjak lantai koridor, dan berniat ingin masuk ke kelas, aku menabrak seseorang. Masalahnya, aku anak baru di sekolah ini. Masalahnya lagi, aku paling ngeri berurusan dengan orang yang tidak kukenal. Apalagi–

“Duh… makanan gue.” Suara itu membuatku menoleh. Nasi putih yang sudah berhamburan di lantai membuatku meneguk air ludah. “Kalau jalan, liat-liat dulu. Kan sayang nasi putih yang Ibu gue buat. Kalau dia tau nasi yang dia masak jatuh menyentuh lantai, gue yakin dia akan nangis uring-uringan.”
Nadanya itu sama sekali tidak ketus. Tapi itu tambah memburuk rasa takutku sekarang. Dan aku mendongak, untuk melihat laki-laki yang aku tabrak. Oh, dear. Aku tertegun, mengerjapkan mata beberapa kali, menatap mata biru yang menenangkan itu.
“Ya sudah deh nggak apa-apa. Ibu gue nggak tau ini juga. Dan gue pasti nggak akan kena marah ini.” Aku mengembuskan napas lega, tapi tertahan karena mendengar ucapan laki-laki itu lagi. “Tapi, lo harus traktir gue setiap hari selama seminggu. Gimana?”
Wajahku berbuah menjadi pias. Ya ampun, uang jajanku yang kurang dari cukup itu, harus ya aku rela bagi ke laki-laki ini? “Maaf, Kak. Aku benar-benar nggak sengaja. Pasti deh, aku ganti nasinya.”
Laki-laki itu menekuk bibirnya. Mata birunya yang menenangkan menatapku dengan datar. “Nasinya sih nggak apa-apa. Tapi, gue jadi nggak sarapan hari ini. Dan lagi, gue sudah nggak mempunyai nafsu makan. Jadi, kalau lo mau nembus kesalahan, mending jajanin gue aja selama seminggu.”
Lagi, aku meneguk air ludah. Sialnya aku hari ini. Mau tidak mau, aku menganggukkan kepala perlahan. Melangkahkan kaki lagi ke arah kelas baruku. Tangan besar milik laki-laki itu mencekal lenganku. Aku menoleh bingung. Apalagi kesalahanku?

“Gue Fando. Kakak kelas yang akan membimbing lo selama Mos nanti. Lo siapa namanya?”
Aku memutar mata jengkel, jelas-jelas namaku tertulis dengan besar di kertas yang menggantung di leher. Tapi, mau tidak mau aku harus menjawabnya. Supaya aku bisa cepat-cepat pergi dari sini, dan tidak lagi merasakan gejolak aneh di dada. “Filen.”
Laki-laki itu mengangguk samar, dan melepaskan tanganku. Cepat-cepat aku langsung masuk ke dalam kelas.

Sesuai dengan perjanjian tadi. Kini, aku sedang terdampar di kantin sekolah. Kantinnya bersih sih, makanannya enak-enak lagi. Tapi, orang yang ngaku-ngaku namanya Fando itu mengambil semua uang jajanku satu hari. Dan lagi, aku hanya duduk melihatnya makan mi ayam yang begitu menggoda. Benar deh, aku nggak kuat kalau begini terus setiap hari.

“Ngapa lo? Kayak kelaperan gitu? Kok nggak makan?” Sejenak, mata biru itu menatapku dengan tatapan bingung.
Buru-buru aku menggeleng takzim. Nggak mungkin aku bilang uang jajanku terbatas, kan. “Nggak laper, Kak. Nanti pulang aja makannya. Kakak aja yang makan.”
Mulut Kak Fando membulat, lalu kembali melanjutkan makanannya yang tertunda. Lah, mudah sekali nih cowok dibohongi?
“Terus, kenapa lo ngeliat gue terus?” lanjutnya lagi, kembali melirikku dengan mata birunya.
Sekarang, aku yang melongo persis seperti orang bodoh. Aku lagi ketangkap basah, ya? “Perasaan aja kali. Ngapain ngeliatin kakak terus lagian?”
Kak Fando menyengir. Gigi-giginya yang putih terlihat sebagian. “Iya kali. Oke deh. Makasih ya buat makan siangnya hari ini. Besok-besok traktir gue lagi ya.” Setelah itu, Kak Fando keluar dari kantin.
Aku masih tetap di sini. Melirik mangkok mi yang sudah habis dimakan. Ya ampun. Terus aku gimana sekarang? Lapar rasanya. Memang sudah nasibku begini kali. Di sekolah ini, aku nggak ada teman pula. Jadi Filen, memang lelah.

“Jadi, lo mau kita orang mati kelaparan di sini? Serahin uang lo, kita nggak akan ganggu lo lagi.” Suara cempreng entah milik siapa berhasil menarik perhatianku.
Aku menoleh, melihat pemandangan yang tidak jauh dariku dengan dahi yang berkerut. Sepertinya, ada sesuatu yang tidak beres di sini. Seorang perempuan dengan rambut panjangnya menggeleng kuat-kuat. Perempuan yang kukira senior, berkacak pinggang, dan mendorong bahu perempuan pertama dengan cukup keras.
Aku sama sekali tidak menyukai kekerasan. Tanpa kusadari, kakiku bergerak dengan sendirinya, mendekati mereka. “Kak, jangan begitu dong!”
Aku menyejajari tubuhku dengan perempuan yang terjatuh di lantai kantin. Kasihan sekali. Wajahnya sangat pucat, pasti sangat ketakutan.
“Siapa lo? Berani sama kakak kelas di sini?” Aku mengangkat kepalaku, memandang kakak kelas songong itu dengan dahi berkerut.
“Kenapa harus takut? Kekerasan itu seharusnya tidak boleh dilakukan kepada orang lain. Hanya mentang-mentang kakak kelas?”
Kakak kelas itu kembali berkacak pinggang, “Terserah lo! Nggak usah sok ngajarin gue kayak begituan. Dan nama lo, Filen, akan gue inget sampai kapan pun.” Sial! Namaku ketahuan gara-gara atribut rese ini.
Aku tersenyum tipis. “Kenalin, namaku Filen Martaya, kalau mau tau lengkapnya.”
Kakak kelas itu tersenyum mengejek. Membuatku muak melihat wajahnya. Cantik, sih. “Kenalin, gue Inda Firesnia. Kakak kelas lo di sekolah ini. Hati-hati sama gue.” Setelah itu, orang yang mengaku namanya Inda pergi keluar kantin.
Benar-benar drama abis!

Perempuan manis dengan rambut panjang yang kuketahui namanya Lala itu sangat baik. Bahasanya sopan, tidak pernah sombong, perilakunya tidak pernah aneh-aneh. Dia mengaku sering dimintai uangnya oleh Inda kira-kira dari setahun yang lalu.
Aku sama sekali nggak suka sama perempuan dengan nama Inda itu. Benar-benar belaga, sok berkuasa. Memang sih, dia senior di sini. Tapi nggak begitu juga ke junior.
Lala memakan baksonya dengan semangat. Di sini aku hanya menemani, uang jajanku sudah habis. Menyedihkan memang.

“Nggak makan, Len?” Lala meneguk es jeruknya dengan semangat juga. Sedangkan aku, hanya bisa meneguk air ludah.
“Nggak Kak. Nanti aja di rumah.” Aku menggeleng pelan. Nggak mungkin aku jujur kalau sekarang uang jajanku sudah habis.
“Mau kutraktir? Hitung-hitung untuk balas budi.” Lala tersenyum manis. Sangat cantik. Kacamata yang ia pakai sangat cocok.
Aku yang mendengarnya, langsung menggeleng spontan. “Nggak usah, Kak. Aku nggak kenapa-napa.”
Lana melirikku sekilas, lalu tersenyum manis. “Baiklah.”

Lupakan tentang masa lalu. Fando yang sekarang berbeda jauh dari dulu. Dia tidak pernah menyapaku lagi, semenjak kami masuk kuliah. Sangat menyakitkan. Dan kenapa juga, aku bisa tersesat tanpa bisa mencari jalan keluar lagi?
Sekarang, Fando malah berpacaran dengan Inda. Aku sebenarnya tidak kuat. Tapi itulah kenyataan, harus bisa aku pegang erat-erat, walaupun bisa melukai diriku sendiri seperti memegang pisau.

Lana, yang sedari tadi duduk di sampingku mencolek-colek bahuku. Aku menoleh, tersadar dari lamunan. Sekarang, aku dan Lana, adalah sahabat. Aku dan Lana bagaikan amplop dan perangko, tidak bisa dipisahkan.
“Ngeliatin apa?” Arah pandangnya mengikuti arah pandangku tadi. Seketika, dia membulatkan mulutnya. “Jangan dilihat terus, nanti makin sakit.”
Aku hanya diam sekarang, omongan Lana memang benar. Aku tidak berhak membantah. Nyatanya, sekarang hatiku sudah semakin sakit. “Aku baik-baik saja, kok.”
“Selalu seperti itu balasan kamu. Ingat ya, Len, jangan terlalu dalam mencintai Fando, nanti kamu malah melukai diri sendiri. Kamu tau sendiri kan, kalau Fando itu sama Inda sudah pacaran dari dulu? Aku juga bingung.”
“Bisa-bisanya dia pacaran sama cewek macemnya Inda. Jelas lebih baik kamu kemana-mana, Inda mah cuma cantik doang. Emang ya, cowok itu nilai wajah, bukan hati.” Lana memutar bola matanya malas.
Aku membuang napas kasar. Melirik Fando dan Inda yang sedang bercengkrama bersama di pojok sana.
“Tapi sayangnya, aku nggak bisa bangkit, Lan. Mata atau sifatnya itu sudah seperti candu yang ingin aku lihat terus. Aku juga ingin terbebas dari rasa itu, tapi berkali-kali aku mencoba, tetap tidak bisa.” Aku menggeleng lemah, dapat kurasakan Lana menepuk-nepuk bahuku pelan.
Aku melirik Lana, dan tersenyum tulus. Lana sangat baik kepadaku, dia selalu dapat mengerti yang aku rasakan. Terimakasih, sahabat.

Aku mengetik di laptopku sembari mengunyah permen karet. Lagu dari telponku bermain-main di telinga. Hari masih cukup pagi, tapi aku datang ke sini memang sengaja lebih awal.
Enak saja, duduk di pohon yang rindang sambil mendengarkan lagu. Sangat menyenangkan.

“Mau permen lagi?” Suara itu tidak terdengar begitu keras, karena aku sedang mendengar lagu. Aku menoleh ke asal suara, detik itu juga, aku merasa tubuhku membeku bagaikan es. Mataku sedang bermasalah sepertinya.
Fando tersenyum manis. Mata birunya menatapku lekat-lekat. Ada apa dengan jantungku? Aku mengangguk sekilas, lalu mengambil permen yang ia sodorkan. Apa ini mimpi? Kalau mimpi, seseorang tolong bangunkan aku!
Omong-omong, kalau ini bukan mimpi, ini pertama kalinya kamu berbicara setelah bertahun-tahun. Sepertinya, aku harus menandai hari ini dengan spidol merah. Hari pertama berbicara lagi dengan Fando.

“Kamu ngapain di sini?” Fando bertanya tepat setelah permen yang ia berikan masuk ke dalam mulut.
“Mengerjakan tugas, sambil mendengarkan lagu.” Aku menjawabnya singkat. Salahkan jantungku inilah.
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Menatap langit biru dengam matanya yang sama-sama biru. Kenapa di mataku dia sangat keren? Ya Tuhan.
“Kalau membutuhkan teman, kau bisa mencariku. Aku akan selalu bisa menemanimu setiap saat.” Dia tersenyum, sebelum meninggalkanku dengan perasaan terkejut bercampur gembira yang teramat sangat.

“Dengar gosip, nggak?” tanya Lana langsung ketika melihatku.
Aku menggeleng. “Gosip apa?”
Lana terlihat mengatur napasnya. Wajahnya berseri-seri. “Fando putus sama Inda.” Detik berikutnya, Lana tersenyum lebar bersamaan dengan mulutku yang melongo.
“Yang benar?” tanyaku setengah tertahan. Apa aku tidak salah dengar sekarang?
Lana mengangguk cepat. “Aku dengar tadi. Benar deh. Aku juga nggak nyangka. Kira-kira ada masalah apa, ya?”
Aku menggeleng samar. Teringat dengan peristiwa tadi. Pantas saja Fando mendekatiku, kalau dia masih berpacaran, nggak mungkin itu terjadi. Tapi, apa Fando baik-baik aja sekarang?

“Aku pergi sebentar, ya.” Aku langsung beranjak dari tempat itu dan mencari Fando.
Bergerak menelusuri bagian-bagian kampus yang sering dijamah Fando. Kantin tidak ada, perpustakaan tidak ada, kelas-kelas tidak ada. Lalu, di mana?
Dan napasku tertahan saat melihat Fando duduk di taman seraya mendengarkan lagu dari earphonenya. Lalu, mata biru tenangnya menatapku lamat-lamat. Membuat jantungku kembali bermain-main dengan heboh di dalam sana.
Oh Tuhan, mengapa dia sangat tampan?

“Halo, Filen.”
Dan dia masih mengingat namaku? Ini namanya ultra rejeki, bukan? Mataku mengerjap beberapa kali. Lagi-lagi, salahkanlah jantung ini.
“Oh..” Aku bergumam beberapa saat. “Halo, Kak Fando.”
“Kamu mau berdiri di situ terus? Nggak mau duduk di sini?” Tangannya menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Aku langsung mengangguk singkat, dan duduk di sebelahnya.

“Kamu mau tahu sebuah rahasia, Len?”
Ada apa dengan Kak Fando? Mengapa ia sangat aneh? Apa otaknya sudah bergeser beberapa centi, kah, gara-gara dekat dengan Inda?
Kepalaku tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Dan Fando kembali melanjutkan ucapannya.
“Aku selama ini hanya pernah jatuh cinta satu kali. Dan aku belum pernah menyatakannya kepada dia.”
Mataku membulat penuh. Untuk apa coba, dia membahas hal seperti ini? Untuk membuatku bertambah sakit hati lagi?
“Kalau pikiranmu orang itu Inda, pikiranmu salah besar. Inda selama ini bukan pacar aku, semuanya tertipu oleh mulut besar perempuan itu. Kami hanya sahabat, tidak kurang, tidak lebih.”
Aku menelan air ludahku dengan susah payah. Oh Tuhan, tanganku sudah gemetaran, bulu kudukku sudah merinding.
“Perempuan yang aku cintai adalah kamu, Len.”
Dan detik selanjutnya, aku merasa meteor jatuh ke bumi. Mata biru itu menatapku lekat-lekat, dan aku sudah tidak tahan lagi.
“I want you. Be mine, please?”

The end

Cerpen Karangan: Shandez Darlene
Facebook: Shandez Darlene

Cerpen Mine merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menggapai Pedang Pora (Part 1)

Oleh:
Suara merdu diiringi petikan gitar di salah satu ruang kelas yang membuatku ingin segera mengetahui siapa dia. Sambil kutengok kanan kiriku untuk memastikan tidak ada orang yang melihatku saat

Misi Cinta

Oleh:
Udara sudah semakin dingin karena hembusan angin malam yang begitu dasyat sampe-sampe terdengar tangisan anjing tetangga gue karena kedinginan “AaaUuu…” “Tita… Tita tunggu!” “Rendy, Ada apa?” “Tita, tadi gue

July in Love

Oleh:
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dini hari saat aku terbangun dari lelapnya tidur malam ini. Suara penggorengan yang beradu dengan spatula milik abang nasi goreng saat itu yang membuat

My Strong Girlfriend (Part 2)

Oleh:
Belum sempat Laga menjawab, Ashila dan Raina sudah melesat terlebih dahulu melompati tembok dan hilang dari pandangan Laga. Laga dibuat tercengang dengan apa yang terjadi. Ashila. Orang yang ia

My Boy

Oleh:
Di hari Senin pagi. “Hai Nozawa!!!” kata Akicha memegang pundakku. “Eh Akicha!” kataku tersenyum. “Cieee. Disukai Kakak kelas cowok lagi!” kata Akicha ketawa. “Hah?! Siapa?!” kataku kaget. “Itu loh.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *