Mission X (Bangkit Dari Kematian)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 19 August 2017

Drug! Pintu didobrak dengan keras. Tapi orang yang mendobraknya justru berjalan dengan tenang, ia malah sempat melipat kemeja lengan panjangnya. Di balik pintu seseorang menodongkan senjata tepat di wajahnya. Tangannya sudah siaga menarik pelatuk.

“Tenanglah, bro.” Ucap Jun dengan suara jernih —tidak ada ketakutan sama sekali.
“Apa yang kau mau?!” Orang yang berhadapan dengannya justru sudah bergetar ketakutan sejak tadi.
“Kau beritahu di mana hardisk itu, dan kita akan sama-sama pulang dalam keadaan utuh. Mudah kan?”
“Aku tidak akan memberitahunya!”
“Benarkah?” Dengan gerakan satu detik, Jun segera memegang tangan itu dan memukulnya keras. Pistol terjatuh di lantai. Lalu dengan cepat juga Jun menginjaknya sehingga menjadi tidak terbentuk lagi. Ia lalu berbalik menodongkan pistol coat putih kesayangannya. “Aku benci bermain darah.”

“Oke, oke.” Orang itu mengangkat kedua tangannya. “Ia sedang menuju arah perbatasan Virginia.”
Jun mengangkat senjatanya lalu memasukkan kembali ke sakunya. “Senang bekerja sama denganmu.”
Orang itu masih gemetar, menyadari dengan mudah ia akan ditembak di tempat.

Jun menghampiri Andi yang terluka parah sedang terduduk di dekat pintu. “Kau baik-baik saja, bung?”
“Tidak baik.” Jawabnya dengan suara serak. “Katakanlah bahwa aku mencintai Bunga.”
“Kau akan selamat, bung. Ambulans akan datang dalam tiga detik.” Balas Jun dengan suara tenang. “Tiga.”

Tepat tiga detik kemudian sirene polisi dan ambulan beradu dan memenuhi rumah kecil itu. Jun mengamati sekitarnya, ada tiga agen CIA yang sedang dalam keadaan luka parah di sini -termasuk Andi. Dan lima penjahat yang mungkin sudah tidak akan pernah sadar lagi, tersisa satu yang sedang gemetar hebat di balik sofa.

Jun menepuk pundak Andi. “Aku harus kembali mengejar hardisk sialan itu. Semoga kau cepat pulih, sobat.”
Andi mengangguk dengan seiring Jun berlari ke luar dari pintu belakang rumah. Di depannya sudah ada truk hitam yang menunggu.

“Sial.” Ucap Jun sembari memasuki jok depan truk itu. “Apakah tidak ada kendaraan yang lebih berkelas lagi?”
Orang yang memegang kendali mobil tertawa. “Karena truk ini adalah penghancur paling mutakhir di tengah kemacetan.”
“Aku harap ia bisa lebih cepat dari mobil VW berkarat milikmu.”
Sam meninju keras lengan partnernya. “Brengsek kau.”

Truk itu sudah berjalan cepat sejak tadi, mereka mengejar mobil lamborghini merah yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Mereka menembus lampu merah, menabrak fasilitas umum dan menimbulkan kerusakan lainnya. CIA akan mengurus ini semua, mudah. Mungkin satu menit kemudian sudah menjadi seperti semula kembali.

Kedua mobil itu berjalan sejajar di tengah pasar yang membuat orang-orang berteriak dan berusaha menghindar. Jun memegang setir dan membanting ke kiri, membuat lamborghini merah itu menabrak tumpukan kotak kayu dan akhirnya terbalik.
“Menunduk!” Jun memegang kepala Sam dan menekannya ke bawah. Tembakan beruntun datang dan membuat kaca truk berlubang-lubang.

Jun dengan gerakan cepat juga segera keluar dari truk dan balik menembak ke arah orang yang sudah keluar dari mobilnya. Ia berlari mengejar orang itu yang berjalan ke arah timur, keluar dari keramaian. Polisi datang dan dengan tembakan beruntun, orang itu menembak ketiga polisi yang mengendarai motor. Lalu mengambil salah satu motornya dan menggas penuh. Jun juga mengambil salah satu motor itu -mengejarnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Sam kepada sebuah mikrofon yang menggantung di telinganya.
“Dasar bodoh.” Maki suara di headphonenya. “Kejar mereka. Mereka akan ke jalan utama, kau akan melewati jalan protokol yang sudah ada di GPS.”

Sam melihat ke arah GPS truk dan sudah menunjukkan jalan berwarna merah. Ia meninju kaca yang sudah penuh lubang, membuat kaca itu pecah dan jatuh. Ia memundurkan truk lalu memutar arah, mengejar mereka dengan jalan protokol.
“Sial!” Ucap Sam saat macet menghadapinya. Ia memundurkan truknya dan menabrak beberapa mobil di belakangnya. Lalu memutar arah menuju jalan kecil.

Ia melihat kedua motor itu sedang saling berkejaran di atas genting rumah-rumah -hal yang harusnya mustahil di lakukan. Tapi mereka menemukan jalan buntu di jembatan. Jun melompat dari motor dan menodongkan senjatanya, orang itu mengangkat kedua tangannya.

“Serahkan hardisk itu.” Suara Jun tetap tenang dan jernih. Tapi dipenuhi dengan ketegasan yang dalam.
“Tidak!” Dengan tidak terduga orang itu melompat dari jembatan. Ia jatuh ke atas kereta yang sedang berjalan.
Jun menggeram tertahan, sial.
“Jun, tidak!” Sam berteriak saat Jun ikut melompat dari jembatan dan jatuh ke atas kereta.
“Sam.” Panggil M melalui headphone yang melingkar di telinga Sam. “Kejar mereka dengan truk. Kau bisa lebih cepat dari mereka.”
Sam mengangguk dan lagi-lagi menabrak mobil lain. Ia berjalan dengan truknya itu tepat di samping kereta yang berjalan.

Posisi di atas kereta justru menegangkan. Orang itu melompat ke lain gerbong dan terus menembakkan peluru ke Jun. Jun mengambil inisiatif, ia memasuki alat berat yang berada di atas gerbong kereta yang berbeda. Tapi orang itu memisahkan gerbong kereta dengan menembak rantai yang menghubungkan keduanya.
Plash, kaca alat berat itu pecah karena tembakan dan serpihan peluru mengenai dada kanannya. Jun tidak peduli dan tetap mengarahkan arah berat itu, ia membuat lubang di atas gerbong orang itu berada. Suara menggelegar muncul dan membuat orang di dalam gerbong itu berteriak. Sebelum semakin jauh, Jun melompat ke gerbong satunya dan jatuh tepat di dalamnya.

“Apa yang terjadi?” Suara dari headphonenya.
“Hanya pindah gerbong, Mam.” Jawab Jun dengan suara tenang.
Orang-orang melihatnya bingung, sementara ia dengan tenang kembali melipat kemeja lengan panjangnya. Ia lalu berjalan menuju gerbong selanjutnya dan menaiki tangga yang menuju atas.
Orang itu sedang bersiaga di atas kereta. Mereka berkelahi. Hardisk itu dikalungkan di leher dan Jun tetap berusaha menariknya. Tapi sulit.

“Aku rasa tidak bisa mengikuti mereka lagi.” Ucap Sam. “Ada jalan buntu di depan.
Ia segera memberhentikan truknya dan mengeluarkan sebuah senjata laras panjang. Mengambil tempat yang tepat dan mengarahkan ke orang itu.
“Tidak ada ruang tembak, Mam. Tubuh target dihalangi oleh tubuh agen. Ada kemungkinan agen tertembak.”

M sedang gusar di ruang utama CIA. Disana ada beberapa agen khusus yang juga sedang menatap panik. Hana memejamkan matanya, berdoa akan keselamatan pasangannya itu.
“Aku tidak bisa melihat kalian dari sini. CCTV satelit tidak bisa menjangkau kalian, dan drone sedang dalam perjalanan. Kereta itu terlalu cepat untuk drone.”
“Sebentar lagi ada terowongan, aku tidak bisa menjangkau mereka lagi.”
“Aku percaya padamu, Sam.”

Sam memasukkan penglihatannya ke senjata itu. Ia menunggu waktu yang tepat. Saat Jun sedang terjatuh dan memegang kalung hardisk itu,
Dor! Sam tepat menembak ke arah rantai kalung itu sehingga membuat kedua orang itu saling terlempar. Jun berhasil memegang erat hardisk itu, tapi tubuhnya sudah hampir terjatuh dari kereta. Ia hanya memegang atap kereta dengan satu tangan kirinya.

“Kau baik-baik saja, Jun?”
“Tidak, Mam. Berdoalah aku akan selamat. Aku mencintaimu, Na.”
Mata Hana melebar. Apa yang terjadi? Kamera tidak bisa menjangkau Jun dan ia seperti mengucapkan salam perpisahan. Tidak.
Tepat di detik selanjutnya, Jun melepaskan tangan kirinya. Tubuhnya terjatuh di sungai besar, percikan air meloncat ke atas, membasahi tembok jembatan.
“Agen …” Sam berbicara dengan suara lemah. “Agen terjatuh di sungai Dole.”
Hana berdiri dan menggertakkan giginya, jatuh dari ketinggian 120 meter?! Itu tidak bagus. Jatuh ke dalam sungai bersuhu 5 derajat, itu juga tidak bagus.
“Ia akan kembali.” Ucap M tenang, tapi dalam suaranya juga menyimpan ketakutan. Jun adalah agen terbaik miliknya.

1 jam 30 menit yang lenggang. Hana menunduk dan menjatuhkan kepalanya di atas meja kerja panjang yang berbentuk persegi panjang itu. Belum ada keterangan agen lain atau polisi yang menemukan Jun. Beberapa detik kemudian terdengar suara lift terbuka, menampilkan seseorang yang dalam keadaan basah dan, kacau.
Semua hanya menatapnya tanpa berucap sepatah kata pun. Jun menghampiri Hana yang masih tertunduk, ia berulang kali mengibaskan rambutnya yang basah. Dengan lembut tangannya mengusap rambut panjang Hana.
“Aku mencintaimu, Na.”
Hana mendongak dan mendapati pasangannya sudah ada di hadapannya. Ia berdiri dan memeluknya.

“Hei.” Jun tertawa kecil. “Bajumu akan basah jika terus memelukku erat seperti ini.”
“Aku tidak peduli.” Balas Hana. “Kau bodoh!”
“Aku memang bodoh.” Jawab Jun dan mengeluarkan hardisk dari saku celananya lalu melemparkannya di meja dan bergulir ke M. “Aku mendapatkannya.”
“Kerja bagus.” M mengambil hardisk itu dan mengelap dengan tisu. “Kuharap air tidak merusaknya.”
“Huh. Tidak bisakah kau berterima kasih kepadaku, Mam?”
M tertawa. “Terima kasih, anakku.”
“Itu sedikit bagus. Sama-sama, Ibu.” Ucap Jun berpura-pura kesal. “Aku rasa, aku mempunyai hobi baru.”
“Apa itu?”
“Bangkit dari kematian.”

Cerpen Karangan: Husnaatyaz
Facebook: Husnaatyaz
Halo, namaku Husna Lukitaningtyas.
Biasanya di panggil Hime!
Ini cuma salah satu seri dari mission X, banyak cerita seru dari mission X yg lain, tolong comment ya, jika kalian suka! Thanks.

Cerpen Mission X (Bangkit Dari Kematian) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata dan Hati

Oleh:
Aku paling benci bila orang lain menatap mataku lama-lama. Padahal tidak ada kesalahan dengan mataku ini. Mataku sama seperti mata yang dimiliki insan lain yang berfungsi sebagai indra penglihatan.

Yara

Oleh:
Lembaran demi lembaran dibuka yara, satu persatu kata yang terangkai manis di dalam buku kecil itu dia baca, perlahan, mengingatkan ia akan banyak hal, Senyum simpul di bibirnya tak

Sebuah Tragedi (Part 1)

Oleh:
Aku mendengar ada bunyi keributan dari sel lain, suara keributan itu mungkin dari dua atau tiga kamar sel di kanan sel tempatku berada. Aku mencoba menerka-nerka apa yang terjadi

Cinta VS Perbedaan

Oleh:
Kisah ini berawal dari ingatanku tentang hari ulang tahun seseorang yang sudah 4 tahun lamanya tak ku jumpai semenjak perpindahanku dari kota tempat ku bertumbuh, makassar. Entah apa yang

Akhir Cerita Cinta

Oleh:
Selamat pagi dunia, nampaknya hari ini kau tak memancarkan cahaya yang cerah secerah biasanya… mengapa? Apakah harimu sama denganku? Hari ini, tepat empat tahun setelah kepergian ayah dan bunda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mission X (Bangkit Dari Kematian)”

  1. Nadiaaa says:

    Bagus kokkk , cukup tegang wkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *