Mister M. A

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

“Tidak selamanya yang berawalkan dengan kata benci berakhir dengan kebencian dan tidak pula yang berawalkan dengan kata cinta berakhir dengan kebahagiaan…”

Pagi ini Rere mengawali harinya penuh dengan keceriaan karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan sang pujaan hati yaitu “Mister M.A” itulah julukan yang ia beri kepada orang yang spesial di hatinya. Rere berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, dengan diiringi musik yang ia dengarkan di telinganya, sampai di depan gerbang sekolah seseorang yang ia panggil “Mister M.A” lewat di hadapannya dengan mobil berwarna merah menyala sesuai dengan warna kesukaan Rere.

Hatinya pun berbunga-bunga saat melihat mobil itu ditambah saat seseorang yang dijulukinya “Mister M.A” itu ke luar dari mobilnya, ia langsung menjerit seakan-akan telah memenangkan lotre. Mister M.A adalah seorang guru di sekolahnya yang sangat tampan dan masih muda terutama dia masih single dan banyak dikagumi murid perempuan di sekolahnya.

“Dor..” terdengar suara mengejutkan dari belakang, Rere pun terkejut dibuatnya.
“ya ampun kalian ini bikin aku terkejut saja…”
“haha.. habis kamu dari tadi aku lihat melamun aja dari tadi bukannya cepet masuk, malah nyangkol di depan gerbang, suka ya sama satpam di sekolah ini? haha…” ejek temannya Ayu, dan langsung membuat Rere kesal disertai warna merah di pipinya.
“Ih, kamu apa-apaan sih. Udah ah aku mau masuk kelas, aku mau memikirkan pangeran pujaan hatiku..” dengan menjulurkan lidahnya ia pun segera pergi meninggalkan sahabatnya yang bawel. “Rere… ih rese deh…” panggil Ayu.

Sesampainya di kelas ia segera duduk dan diikuti oleh Ayu dan Lina, saat Lina hendak ke luar kelas dia melihat Dion yang dijuluki Mister M.A oleh Rere sedang berjalan menuju kelas mereka. “Eh, lihat deh ada siapa di luar,” ucap Lina, Rere segera melihat ke luar penasaran dan saat melihat ternyata dia adalah Mister M.A sang pujaan hatinya.
“Cie, cie ada yang lagi fall’in love nih…” ucap Ayu menggoda.
“he’em sahabatnya yang di depan aja dicuekin yang ntu sampe mata nggak kedip-kedip haha…” ejek Lina menggoda.
“mmm, udah deh kalian jangan suka rese jadi orang, kayak nggak pernah lihat orang jatuh cinta aja.” gumam Rere kesal. “iya, iya deh…”
“Eh, Mister M.A ke sini tuh.” ucap Lina, mereka pun segera duduk di meja masing-masing.

“Pagi semuanya, hari ini kita akan belajar tentang matriks, silahkan kalian buka buku paket kalian masing-masing!” ia pun menulis di depan sambil menerangkan materinya di depan, tapi saat sedang menjelaskan terdengar suara gaduh dari teman-teman Rere yang terus menggoda Rere saja dari tadi. “yang lagi serius banget merhatiin Mister M.A, cie cie…” goda Ayu.
“ih apaan sih, aku lagi serius perhatiin pelajaran di depan tahu..”
“bohong..”
“iya, beneran.”

“Kalian mau mengobrol atau belajar? Kalau mau ngobrol lebih baik di luar daripada mengganggu di kelas saya.”
“Iya Pak.” Jawab mereka berdua, semua murid di kelas pun tertawa kecil kepada mereka. “baik, untuk hukumannya kalian kerjakan tugas di depan. Saya akan buat soal untuk kalian berdua, ayo kalian maju ke depan!” mereka saling pandang satu sama lain, mereka pun mengerjakan soal di depan sementara Rere kebingungan buat mengerjakannya.

Dan hanya bisa melirik ke Ayu dan Lina yang sedang duduk, Ayu selesai mengerjakannya dan ia boleh duduk kembali sedangkan Rere masih di depan dengan memegang spidolnya, dan Mister M.A terlihat kesal kepada Rere, “apa kamu tidak mengerti apa yang saya jelaskan di depan?” Rere hanya menggeleng tidak tahu. “ya sudah kamu duduk sana, lain kali kalau saya sedang menerangkan di depan jangan mengobrol ingat itu.”
“Iya Pak.” Rere pun merasa menyesal dan malu apalagi murid lainnya melihat dia tidak suka.
“Untuk jawaban yang ini rumusnya benar tapi pengerjaannya salah, perbaiki lagi ya, ya sudah saya perbaiki dan akan saya jelaskan.” sementara ia menjelaskan, Rere hanya terdiam melamun. Istirahat pun tiba, terdengar suara bel istirahat.

“Re, tadi maaf ya, gara-gara aku usilin kamu terus, tadi kita dihukum deh suruh ngerjain soal di depan…” ucap Ayu menyesal.
“iya, aku maafin kok, cuma ngerjain soal ini kan?” jawab Rere.
“gimana buat minta maaf aku afdal aku bantuin kamu deket sama Pak Dion Mister M.A kamu, setuju nggak?”
“Aku mau sih tapi aku tadi udah bikin kecewa Mister M.A, aku malu…”
“tenang kan ada aku, aku juga nggak tahu cara apa buat deketin kamu sama Pak Dion..”
“ih kok kamu gitu…”
“hehe.. nggak aku becanda kok, tenang aku ada ide..”
“ide apa?” Ayu pun mendekatkan mulutnya ke telinga Rere.
“Kalian lagi bisik-bisik apa sih?” tanya Lina penasaran yang datang habis mengambil pesenan makanan.

Rere pun menghadap Pak Dion dan masuk ke ruangannya. “permisi…”
“kamu, bukannya yang ngobrol di kelas itu ya?”
“Iya Pak” tersenyum malu.
“Ada apa?”
“Saya mau kasih sesuatu buat Bapak, ini Pak…” sambil menyodorkan sebuah surat, ia pun segera bergegas pergi. “permisi Pak…”
Dion pun membuka amplop yang berisikan surat itu dan melihat nama yang disematkan di sana “Mister M.A”.

Setelah ke luar dari ruang guru, teman-temannya menghampirinya yang sedari tadi menunggu di luar. “Gimana re?” tanya Ayu.
“Iya re, gimana?” tambah Lina.
“Aku juga nggak tahu, tadi aku langsung pergi tapi aku udah kasih suratnya sama Mister M.A…”
“Maksud kamu Mister M.A itu saya.” ucap Dion yang baru saja membuka pintu.
“Kamu, masuk ke ruangan saya!” seru Dion.
“Aduh, gimana nih? bukannya dari tadi kita ke kelas aja…” Rere memelas kepada teman-temannya.
“Ayo!”
“Iy..ya Pak.”

Mereka pun memasuki ruangan, Rere duduk di kursi sedangkan Dion berdiri memerhatikan Rere. “Bapak mau apakan saya? saya nggak maksud apa-apa kok Pak, saya cuma mengagumi Bapak aja kok, suer Pak..” sambil mengangkat dua jarinya.
“kamu sebut saya Mister M.A maksudnya?”
“Maksudnya itu tuan M.A”
“maksud saya apa arti dari M.A itu? nama saya bukan M.A tuh.”
“Oh, itu artinya matematika, Bapak kan ngajar pelajaran itu jadi Mister M.A deh hehe…”
“baiklah, tapi maksud kamu kasih surat ke saya kamu mau bilang suka sama saya?”
“Ya bisa dibilang begitu, jadi malu.”
“Ya sudah, kamu keluar sana!”
“Loh kok, terus Mister M.A, mmm maksud saya Pak Dion nggak bales pertanyaan saya?”
“Sudah sana, masuk kelas kamu.”

Sepulang sekolah, dengan menggunakan sepedanya ia cepat-cepat pergi meninggalkan kedua temannya tanpa berpamitan terlebih dahulu.
“Rere..” teriak Ayu.
“Ih dia kenapa sih? semenjak dia ke luar dari ruangan Pak Dion, dia diem aja, nggak kayak biasanya…” ucap Ayu.
“Iya, ada apa ya?” balas Lina dengan tanda tanya.

Keesokan harinya, di sekolah ramai dibicarakan tentang Rere yang menembak Dion, Rere pun baru sampai di sekolah, murid-murid lainnya memandanginya dengan tatapan tak percaya seorang murid menembak gurunya. Sepanjang jalan ke kelas ia terus saja dipandangi. Sesampainya di kelas murid lainnya segera memalingkan wajah mereka sambil berbicara kecil kepada teman lainnya.

“kalian semua kenapa sih? perasaan sesampainya aku di sekolah semua orang melihatku terus, kalian juga sama memalingkan wajah kalian lagi…” datang Ayu dan Lina yang langsung menanyai Rere. “kenapa sih re? kok mereka pada sinis gitu sama kamu, nggak suka gitu?” tanya Lina.
“iya re,” tambah Ayu.
“udahlah aku juga nggak tahu, biarin aja..” balasnya santai.
“eh, tunggu apa jangan-jangan karena kemaren lagi dan mungkin aja ada yang tahu masalah kamu kasih surat terus menyebar ke semuanya.” analisis Ayu, mereka langsung terkejut mendengar analisis Ayu terutama Rere.

Rere segera menghampiri ruangan Dion dan di dalamnya sudah ada Dion yang sedang membaca buku.
“apa Bapak tahu siapa yang menyebarkan berita tentang saya yang kasih surat ke Bapak itu?”
“Oh itu, jadi kamu ke sini buat menanyakan hal itu, oh ya nama kamu siapa, saya lupa?”
“Rere, Renata Larasati.”
“Iya itu Rere, saya juga mau menanyakan hal itu sama kamu tapi sepertinya kamu juga tidak tahu, seseorang yang menyebarkan berita itu pasti ingin menjatuhkan nama baik saya.”
“Bapak juga nggak tahu?”
“Apa jangan-jangan suratnya Bapak buang ya?”
“Iya.” mereka segera tersadarkan bahwa ada yang menemukan surat itu.

“Mister M.A gimana ini?”
“Kamu diam jangan panggil saya seperti itu.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Kita harus bekerja sama untuk menghilangkan berita itu.”
“Bagaimana caranya?”
“Sini.” Dion membisikkan sebuah ide.
“Nggak, saya nggak mau Mister M.A”

“Sudah saya bilang jangan panggil saya seperti itu lagi.”
“Iya tapi saya nggak mau masa saya harus dimarahin Bapak terus-terusan, dan saya juga nggak mau kalau saya harus melawan Pak Dion.”
“Udah tenang aja saya nggak akan melukai kamu dan kamu pun harus bisa bersikap keras sama saya, gimana?”
“Ya udah kalau itu cara yang terbaik, kapan kita bisa memulainya?”
“Sekarang.”

Di depan kelas Rere, Dion berteriak memarahi Rere, bukannya Rere keras kepala tapi dia marah-marah dan menampar Dion di depan banyak siswa dan murid lainnya yang memerhatikan. “maksud Pak Dion apa?”
“Renata!” panggil Dion.

Akhirnya rencana Dion pun gagal dan Rere pun masuk ke kelasnya dengan wajah kesal. Dion pun tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan akhirnya ia mengikuti saran dari teman-teman Rere dengan menjadi pacar pura-pura, tapi tetap saja mereka menjadi sorotan dan semakin menjadi bahan pembicaraan semua orang di lingkungan sekolah itu dan hal itu membuat mereka semakin dekat.

“Mister M.A kamu ganteng sekali, tidak ada yang mengalahkanmu.”
“Benarkah, karena itu juga kamu tergila-gila sama saya…” mereka tertawa kecil.

Selesai

Cerpen Karangan: Ritna Dewi
Facebook: Nha Dewi Ritnaa
Menulis dan mengarang adalah hobi dan cita-cita saya, saya berharap bisa menjadi seorang penulis terkenal.

Cerpen Mister M. A merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hortensia

Oleh:
Andy mengusap puncak kepalaku. Dan mengapa aku harus menangis? Itu karena Andy, satu-satunya sahabat terbaikku akan berangkat ke Amsterdam. Andy mendapat beasiswa kuliah di sana. Aku? Tidak jauh-jauh dari

The Rainbow Express

Oleh:
Jessie merasa bahwa dialah wanita yang paling beruntung di dunia. Mungkin ada benarnya, karena ayahnya adalah seorang pebisnins sukses, dilahirkan dengan wajah cantik, pintar, dan juga populer. Berbeda dengan

Hello Mellow

Oleh:
Hujan rintik-rintik membasahi seluruh rumput di halaman rumahku, baunya yang khas pun semerbak di hidung sambil menyeruput soft drinkku yang baru saja keluar dari kulkas menambah dinginnya suhu badanku

Pesan Tersimpan

Oleh:
Perkenalan aku dengan dia bermula saat aku mencoba mendaftar sebagai admin di salah satu sosial media. Awalnya aku tidak menyadari bahwa dia juga ikut, bahkan aku juga belum mengenal

Sahabat Yang Tak Aku Sangka

Oleh:
Kembang api bertaburan di sela-sela pergantian tahun, aku menatap bintang seorang diri di tengah-tengah gelapnya malam. Awal tahun baru yang lalu, hmmm mungkin itu awal dari cerita ini. Awalnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *