Misteri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lingkungan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 January 2016

Aku adalah seorang siswa SMA kelas satu. Tidak, lebih tepatnya bukan siswi. Hanya seorang penggila ilmu pengetahuan. Aku selalu tertarik dengan segalanya yang berkaitan tentang fenomena dunia ini. Aneh, penuh misteri. Misteri mengapa manusia diciptakan contohnya. Untuk tujuan apa organisme heterotrof bernama manusia diciptakan? Mengapa hanya organisme bernama latin Homo sapiens ini yang hidup dengan gelar menyandang kepunyaan akal bahkan dikatakan paling sempurna? Andaikata saja memang paling sempurna, namun mengapa selalu ada saja pihak dari salah satu anggota kelas Mammalia ini yang tak berguna.

Andaikata di penjurusan rumpun ilmu pengetahuan di SMA ini boleh mengambil ilmu pengetahuan alam dan sosial sekaligus, aku akan mengambil seluruhnya bersamaan. Tapi mau betapa bersikerasnya diriku hanya tetap boleh mengambil satu rumpun saja. Baiklah, aku mengambil yang alam saja. Bukan apa-apanya, aku sangat tertarik dengan pelajaran Biologi. Aku terkenal sebagai siswa paling pintar di kelas sejak memasuki dunia pendidikan. Entahlah, aku tak tahu penyebabnya. Aku juga tak pernah belajar kembali di rumah. Menurutku, apabila semua misteri ada pemecahannya, berarti semua soal harus ada jawabannya. Mudah saja. Tapi bukan berarti aku juga benci belajar. Tapi aku tak pernah merasa bahagia dengan pencapaianku selama ini.

Liburan akhir tahun di semester 1 telah usai. Hari ini aku kembali sekolah untuk mengawali kegiatan semester 2. Ku dengar hari ini ada seorang siswa pindahan yang akan masuk ke kelasku. Dari berita yang ku dengar juga banyak yang mengklaim ia seorang siswa pintar yang berasal dari SMA favorit. Aku berharap ia dapat cocok denganku dan menjadi teman pertamaku di SMA. Aku memang sulit bersosialisasi. Buktinya, hingga kini aku belum memiliki seorang pun teman di SMA. Mungkin karena sikapku yang dingin, bicara seperlunya atau bahkan mungkin mereka melihatku memandang bodoh segala hal. Tidak sepenuhnya salah sih, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Sebenarnya aku juga ingin punya teman, meskipun tidak terlalu butuh sih.

Decitan pintu kelas yang terbuat dari kayu mengubah susasana yang tadinya ku lihat seperti suasana kebun binatang menjadi hening. Sosok yang berdiri di pintu kini menjadi center of interest. Tumben sekali perhatianku juga tertuju pada sosok itu, biasanya sih apa pun yang terjadi aku tak terlalu peduli. Ku lihat seorang laki-laki seumuran denganku yang mengenakan kacamata tengah tersenyum kepada seisi kelas seakan mengatakan, “Kalian semua teman baruku, mohon bantuannya ya!” Kebetulan sekali aku bangku di urutan paling belakang dekat jendela, yang bangku sebelahnya kosong. Setelah ia memperkenalkan diri di depan, lantas ia duduk di bangku sebelahku. Kini aku tahu namanya adalah Fikri Aldini.

Setelah duduk, ia langsung berkata padaku, “Aku mengenalmu. Namamu Kurumizawa Gracia, kan? Blasteran Jepang-Indonesia. Kau sangat terkenal. Kau banyak memenangkan lomba sains tingkat internasional. Kau tahu mengapa sekarang aku ada di sini? Jawabannya karenamu. Aku ingin menjadi teman dan rekanmu, Kurumi. Aku juga penggila ilmu pengetahuan sepertimu.”

Aku agak tercengang mendengarnya. Aku hanya menjawabnya dengan sikap dingin yang tak bisa hilang ini, “Iya. Tapi aku tak pernah menyangka kau akan pindah sekolah hanya karenaku. Alasan yang konyol menurutku.” Jawabku tanpa melihatnya. Aku malah melempar pandangan ke arah yang lain.
“Nanti pulang sekolah bersamaku, ya? Jalan pulang ke rumahku searah denganmu.” Aku hanya mengangguk.

Tak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi. Jam menunjukkan pukul 15.30. jam pulang yang biasa. Hari ini aku juga tidak ada kegiatan ekstrakurikuler, jadi aku bisa melakukan apa pun hal yang ku mau. Aku ingin pulang bersama Aldini, karena aku sudah berjanji dengannya. Seusai aku memakai sepatu, ia muncul dengan senyumnya sambil berkata, “Ayo pulang, Kurumi. Aku selalu menantikan hal ini.” Aku pun pulang dengannya berjalan kaki. Jarak rumah kami dari sekolah memang tidak terlalu jauh.

“Hei, Kurumi. Menurutmu apabila jumlah manusia berkurang setengah, apakah jumlah sampah yang menumpuk akan berkurang setengah juga?” ucapnya memecah keheningan. Pertanyaan yang sangat spektakuler menurutku. Jujur saja, aku cukup kebingungan menentukan jawabnnya.
“Hipotesisku menyatakan kemungkinan besar akan begitu.” Jawaban yang kurang dipertimbangkan menurutku.
“Kalau jumlah manusia menjadi 1:100 apakah jumlah bencana seperti kebakaran akan menjadi 1:100 juga?” Setelah mendengar sejumlah pertanyaan Aldini, aku dapat menarik kesimpulan bahwa otak milik Aldini boleh juga.

Kami terus berjalan sambil berbincang dengan topik seputar hal itu. Hingga Aldini mengatakan suatu hal yang mencengangkan, “Berarti penyebab segala kerusakan di planet ini adalah manusia, ya. Lalu untuk tujuan apa sebenarnya manusia diciptakan? Untuk merusak? Kalau dijumlah manusia yang masih segini kerusakannya sudah sebanyak ini, apa yang akan terjadi di ratusan bahkan ribuan tahun yang akan datang? Apakah sebaiknya organisme bernama manusia sebaiknya musnah saja? Kehidupan memang penuh misteri, ya.”

Akhirnya aku menemukan seseorang yang jalan pikirannya sama sepertiku. “Kau mengatakannya seakan kau bukan manusia saja. Tapi mulai sekarang aku akan menjadi temanmu, Fikri Aldini! Aku boleh memanggilmu Aldini, ya? Mari kita pecahkan misteri ilmu pengetahuan bersama!” Aku merasa ada yang aneh denganku. Aku merasa bersemangat. Aldini mengangguk sambil tersenyum kepadaku.

Tak terasa aku sudah sampai di depan rumahku. Kami pun berpisah. Aldini melambaikan tangan tak lupa dengan senyumnya kepadaku. Hatiku mengatakan aku telah menemukan teman yang selama ini telah ku cari. Tanpa melepaskan seragamku, aku langsung berhamburan ke kasur. Aku hanya mengerjakan tugas sekolah setelah itu. Namun, konsentrasiku sulit sekali didapat. Aku selalu memikirkan, kehidupanku yang sebenarnya akan segera dimulai. Bersama Fikri Aldini.

Jam pertama di sekolah kosong. Aku tak tahu pasti penyebabnya. Keadaan kelas menjadi sangat kacau. Aku hanya berbincang-bincang dengan Aldini. “Apa cita-citamu nanti, Kurumizawa? Aku penasaran dengan hal yang dimimpi-mimpikan oleh seorang perempuan yang agak berbeda dengan kebanyakan.” Aldini memang tak pernah berhenti membuatku terkejut “Entahlah. Aku tak pernah memikirkananya.” Jawabku yang cukup singkat.

“Oh, begitu ya. Kurumi, dengar tidak berita tentang kebakaran hutan yang mengakibatkan bencana asap baru-baru ini? Menurutmu salah siapa? Kalau menurutku sih lagi-lagi salah manusia.” Aku menjadi semakin suka berbicara dengan Aldini. Aku pun menjawab, “Tapi untuk masalah kali ini, tidak semua bagian dari manusia dapat disalahkan loh. Hanya pihak-pihak biadab penyebab bencana ini yang dapat disalahkan. Pihak-pihak yang tak pernah mempedulikan pihak lainnya.”

Aldini hanya tersenyum padaku sambil menjawab, “Berarti tidak semua manusia berperan sebagai perusak ya, Kurumi. Ada yang berperan sebagai pihak yang menanggulanginya juga. Seimbang. Aku senang bisa mengenalmu, Kurumizawa Gracia.”

Aku menyadari semua yang sulit dijelaskan di dunia ini selalu ku anggap misteri. Penyebab, alasan, cita-cita, masa depan. Bahkan perasaan yang baru ku rasakan pertama kali dalam hidupku ini merupakan misteri. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Aku harus bilang padanya tentang hal ini. Fikri Aldini, teman pertama dalam hidupku. Banyak hal yang telah ku lalui bersamanya. Memecahkan banyak misteri bersama, menjadi detektif muda, memenangkan lomba penelitian, bekerjasama dalam lomba ilmu pengetahuan, dan masih banyak hal lain yang menyenangkan ku lalui bersamanya.

Aku selalu menyukainya. Bahkan hingga kini, ketika upacara kelulusan siswa-siswi kelas 12 SMA. Selama ini aku tak pernah sanggup mengatakannya. Ketika semuanya tengah duduk dan menikmati berbagai penampilan yang mengisi upacara kelulusan. Aku menarik tangan Aldini sambil berkata, “Ada waktu sebentar?” Aldini hanya mengangguk pelan meskipun tampaknya tak bisa menyembunyikan wajah kebingungannya. Aku tetap menarik tangannya sambil berlari membawanya ke atap sekolah. Atap sekolah kami datar dan luas. Sangat tepat untuk peristiwa ini.

“Aldini, aku ingin mengatakan hal yang penting. Jadi, dengarkanlah baik-baik. Selama di SMA ini kita telah banyak melalui hal bersama. Suatu keajaiban bisa bertemu denganmu. Terima kasih karena kau telah menjadi teman sekaligus rekanku. Sekali lagi, terima kasih. Kegiatan kita selama ini selalu berdasarkan pada misteri. Kita merupakan pemecah misteri yang hebat, Fikri Aldini.”

“Tahukah kamu, misteri apa yang paling sulit dijelaskan untukku? Bukan misteri tujuan penciptaan manusia yang kita bicarakan saat pertama kali bertemu. Melainkan, misteri mengapa aku menyukaimu. Aku menyukaimu mungkin sejak bertemu denganmu. Aku tidak berharap untuk menjadi pacarmu atau apa. Aku hanya ingin mengatakan hal ini, Aldini. Aku harap kamu tidak keberatan.” Akhirnya aku dapat mengatakan hal ini.

Aldini tersenyum sambil berbalik badan. Ia kembali mengatakan hal yang mengejutkan, “Ternyata misteri kita sama.” Aku juga ikut tersenyum. Mungkin setelah ini kami harus menyelesaikan misteri ini bersama.

Cerpen Karangan: Erlin Dwi Septiana
Facebook: facebook.com/erllin.erllin.5
Nama: Erlin Dwi Septiana
TTL: Lampung Timur, 16 September 2000
Alamat: Lampung Timur
Usia: 15 tahun
Kelas: X IPA 1
Sekolah: SMA Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur
Semoga kalian suka sama cerpennya yaa.

Cerpen Misteri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Love Sunshine

Oleh:
Di bawah terik sinar matahari yang sangat menyengatkan siang itu, terlihat seorang laki-laki sedang berdiri dekat tiang bendera sembari memberikan hormat kepada sang bendera merah putih, yang membuatnya cukup

Pantang Menyerah Mencari Cinta

Oleh:
Ini kisah cinta seorang remaja yang bernama Kiki. Dia adalah pencari cinta sejati yang pantang menyerah sebelum mencoba, saat masih SD dia sempat membuat cewek takluk kepadanya ini dia

Perjuangan Hidupku

Oleh:
Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun hidupku sama seperti yang selalu kujalani. Namun aku menginginkan perubahan dalam hidupku ini. Tidak hanya sekolah, pulang, makan dan belajar. Namun aku

Mimpi Ady

Oleh:
Dia baru saja terbangun dari tidurnya, pandanganya menuju jam weker di meja dekat tempat tidurnya. Jam menunjukkan tepat pukul 07.00. “Wwwaaaaaa” Dia bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

Long Distance Relationship

Oleh:
Bermulai ketika libur kami bertemu di acara liburan ke gunung bromo yang diadakan sebuah tempat kursus, sebelumnya kami tidak mengenal satu sama lain hanya sesekali bertatap muka saling berpandangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *