Misteri Sebuah Lukisan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 14 December 2013

Seperti pagi ini mentari sudah menempati janjinya menyinari bumi tanpa menuntut balas…
“jelita… Kamu mau kemana pagi-pagi udah cantik begini..” tiba-tiba mama sudah berada di sampingku ketika aku selesai memakai jilbab warna pink kesukaanku.
“ini kan hari minggu ma… jelita ada acara sama angga, jelita pergi dulu ya ma…” kukecup pipi mama ketika angga sudah di depan rumahku.

Motor ninja milik Angga melaju dengan kencangnya, sesekali Angga meraih tanganku agar aku memeluknya lebih erat. Ya… walaupun aku sama Angga sudah tunangan 1 bulan yang lalu tapi aku belum berani memeluknya maklum kan Angga belum menjadi suami yang syah bagiku…
“kita kemana sih ngga?”
“nanti kamu juga tau sayang…” Hanya itu jawaban angga

Tibalah di sebuah bangunan yang penuh dengan arsistek seni, wah baru kali ini Angga mengajak aku kesini.
“Kamu suka kan jel…kamu kan suka ngelukis jadi aku bawa kamu kesini”
“Makasih banget ya ngga…”
Kemudian Angga menggandeng mesra aku dan menyuruh aku masuk ke dalam yang dimana-mana terpasang lukisan cantk-cantik.
“Kalau kamu suka aku bisa beliin buat kamu kok jel…” Kata Angga sambil membenarkan jilbab aku mungkin berantakan gara-gara makai helm tadi.
“Ngga… lukisan itu… kok mirip aku sih… siapa pelukisnya?” kataku terkejut sambil memandangi lukisan yang begitu bagusnya.
“lho kok bener sih jel… ini bukannya mirip tapi sama persis dengan kamu… aku beliin lukisan ini ya…” Kata angga yang langsung berjalan ke bagian kasir.
“Pak yang lukisan ini harganya berapa?”
“Oh… maaf Mas lukisan ini nggak dijual soalnya ini sudah punya seseorang, entar juga mau diambil, disini Cuma masang bingkai nya doang kok mas… maaf ya mas kalau mau beli lukisan yang lainnya saja ya…”
“Pak… yang punya lukisan ini siapa namanya pak?” kataku memecahkan pembicaraan
“Lho… wajahnya mbak ini kok sama dengan lukisan ini ya…” kata bapak itu sambil mandangi wajahku heran.
“Bukan itu yang aku tanyakan pak.”
“Oh… kalau nggak salah namanya Mas Alexs mba…”
“Alexs…!!! Kamu kenal dengan dia nggak jelita?” Tanya Angga penasaran
“nggak… aku enggak kenal kok ngga… emangnya kenapa?”
“Ya udah.. nggak jadi cemburu deh..” kata Angga sambil senyum-senyum malu.
“hu… kamu ini kalau kenal nggak mungkin aku Tanya ngga… heee…hee”

Minggu ini aku seneng banget jalan-jalan sama angga sampai-sampai pulangnya larut malam jam 9:00… pasti deh aku kena omelan papa nih… aku jalan mengendap-ngendap masuk ruang tamu… huh… untung sudah tidur semua, pikirku dalam hati, tapi tiba-tiba saja lampunya menyala.
“jelita… kamu ini dari mana jam 9 baru pulang papa sama mama kwatir sama kamu” kata papa marah-marah.
“Maafin jelita ya pa.. ma… jelita tak akan ngulanginya lagi” kataku sambil mencium pipi papa dan mama bergantian
“Papa sama mama itu sayang banget sama kamu jelita papa tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu..” kata papa sambil menatap tajam padaku.
“Hem… Papa… lagian jelita pergi sama Angga.. nggak usah khawatir dong pa… dia kan tunangan jelita… lagian sebentar lagi juga mau menikah kalau jelita dah selesai kuliahnya..”
“Ya… udah sekarang sudah malem mandi terus makan sama mama sama papa… papa sama mama juga belum makan nungguin kamu anak gadis mama yang bandel ini…” kata mama sambil menyentuh lembut tanganku.
Rasanya aku seneng banget dengan kehidupanku… YA ALLOH Alhamdulillah… punya rumah megah, orangtua yang begitu sayang sama putrinya terus punya calon suami yang setia rajin beribadah, penyayang, kurang apa sih aku…tapi kadang aku merasa kesepian di rumah aku kan kepingin punya kakak atau adik juga biar bisa bercanda dengan aku bisa menghilangkan kesepian ku di dalam rumah.

Liburan semester ini kuhabiskan di rumah ya nemenin mama di rumah bantuin mama bersihin rumput di taman…
“Deeerrr…!!! Jelita kok melamun sih mikirin aku ya” tau-tau angga sudah berada di sampingku sambil nyengir kuda.
“lho… Kamu kok bisa masuk sini ngga bukankah pintunya aku kunci tadi”
“Bisa dong… papa sama mama kamu kemana barusan kok kayaknya buru-buru banget gitu”
“Barusan aja pergi katanya ke rumah nenek”
“kalau gitu kita maen yuk…” ajak angga
“kemana ngga? oh iya ke pak karma aja yuk…”
“Kamu kok sukanya kesana sich jel…?” kata angga sambil mengeryitkan dahinya
“aku Cuma penasaran sama lukisan itu sayang… kamu kok cemberut sih…” kataku sambil melirik dia

Kira-kira 3 jam perjalananku dengan angga akhirnya sampai juga. ketika aku mau masuk tiba-tiba saja aku ditabrak dengan seseorang.
“aduh…!!! Maaf mba” kata seorang cowok sambil membereskan semua lukisan yang berserakan tiba-tiba cowok itu menatap aku.
“Juwita…!! kau kah itu Juwita…” kata cowok itu sambil memeluk aku dan segera aku tampik cowok aneh ini.
“Apa-apaan sih kamu ini…” Kataku sambil menjauh
“kok kamu sekarang makai jilbab juwita? Kamu kemana saja” kata cowok itu lagi
“hay… apa-apaan si dia itu jelita tunangan aku buka juwita tau…!!! Kamu sembarangan meluk tunangan orang” kata angga yang mau mencoba memukul cowok di depanku.
“kamu juwita kan… bukan jelita, ini… ini… semua lukisan-lukisan kamu yang aku buat juwita sekarang impian aku jadi kenyataan aku jadi pelukis itu kan seperti harapan kamu juwita, aku cari-cari kamu kemana-mana nggak ketemu juwita kata ibu tiri mu kamu pergi jauh kemana kamu tega ninggalin aku juwita” kata cowok itu menangis di hadapanku… dan aku pun tidak tau akar permasalahannya…
“aku nggak tau siapa juwita… kenal aja nggak… nama aku jelita, nih KTP aku kalau kamu nggak percaya” kataku sambil menyodorkan KTP.
“tapi… wajah kamu itu kok sama dengan kekasih aku…”
“makanya jadi cowok itu jangan langsung nubruk cewek orang sembarangan, untung saja aku tadi nggak jadi nonjok kamu… dasar cowok aneh…!” kata angga sambil meringis kesakitan soalnya kakinya aku injak…
“maaf… nama kamu siapa? Terus udah lama berpacaran dengan juwita?” tanyaku ingin tahu
“kenalin aku Alexs sebenarnya aku sudah mau menikah dengan juwita tapi ketika pesta pernikahaan juwita nya menghilang katanya melarikan diri… keluarga aku panik kenapa mempelai perempuannya tidak ada terus kata mama tiri juwita katanya juwita melarikan diri soalnya dia tidak mencintai aku… tapi aku nggak percaya itu… Tidak mungkin juwita seperti itu… terus mama tiri juwita menyuruh aku harus menikahi putrinya saja adik tiri juwita namanya popy… akhirnya pesta pernikahan itu batal tidak jadi karena aku sama sekali tidak mencinta popy… aku Cuma mencintai juwita bukan popy… sekarang kepergian juwita tidak ada kabar beritanya… aku yakin dia enggak pergi… tapi apa bener nama kamu jelita” Tanya alexs padaku sekali lagi.
“ya ampun… kamu nggak percaya juga kalau dia jelita kuhajar dulu baru percaya apa..?” kata angga emosi
“jangan ngomong gitu dong ngga… gimana kalau sekarang kita ke rumahnya juwita..” tanyaku pada alexs.
“ke rumahnya juwita… jangan deh jelita soalnya popy itu nggak suka banget sama kakak tirinya… entar kamu dikirain juwita.”
“Harus gimana dong…?” kataku cari akal.
“Hem… Alexs kamu punya nomor telponnya papanya Juwita nggak” Tanya angga mengusulkan idenya.
“Aduch… ngga… papanya juwita sekarang lagi sakit stroke kalau ngomong nggak jelas… aku Cuma curiga sama tante Vony pasti semua kelakuan jahat tante Vony” kata alesx mantap.
“Angga… aku pengen ketemu sama papanya juwita siapa tahu aku bisa membantu dia…” Kataku sambil merayu angga.

Dari kaca gelap marcedesnya Angga aku melhat sebuah bangunan yang begitu indahnya… megah banget mirip istana.
“Wow… ini rumahnya lexs..?” kataku sambil memandangi rumah yang tertata rapi mirip istana di negeri dongeng…
“Itu… yang makai baju merah itu popy, sedangkan itu mamanya… eh dia mau pergi.. untung saja… kita ada kesempatan buat masuk” kata alexs sambil membuka pintu mobil dan aku sama angga Cuma bisa menguntitnya dari belakang.
“Assalamu’alaikum… bik luis… bukain pintu nya bik…” Kata alexs sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Dan tiba-tiba pintu terbuka muncullah wanita separuh baya dengan kebaya warna coklat walaupun usianya sudah tua tapi masih kelihatan cantik.
“Oh… den alexs… tumben datang lagi…” kata bik luis sambil memandangi kami bertiga.
“Oh… non Juwita… bibi kangen banget sama non juwita kemana saja sih non selama ini…” Kata bibi Louis sambil memeluk aku erat banget seakan-akan tidak mau untuk melepasnya.
“Bi… aku bukan juwita bi… tapi nama aku jelita…” kataku mantap sambil melihat sekeliling ruang tamu itu
“Je…li…ta…” kata bi luis bingung..
“A…da… ta..mu… si…a..pa… bi…?” Tanya seeseorang dari dalam.
“Den alesx… Tuan..” kata bi luis sambil berjalan mendekati papanya juwita dan mendorong kursi rodanya biar berdekatan dengan kami.
“A…lexs… a…pa… i…tu… ju..wi..ta…” kata pak darwis dari kursi rodanya
“bukan pa… tapi jelita” kata alexs mendekat ke pak darwis.
“je…li…ta… kau… kah.. itu… jelita…? kema…rilah su..dah… 20 ta…hun ki…ta ber…pi..sah deng..an mu nak… ma…af…kan pa…pa… ya… nak… pa…pa… ki…ra kamu su..dah… me..ning..gal dengan ibu..mu waktu kecelakaan mo..bil… ter…nya..ta… ka…mu… masih… hi…dup… wajah ka…mu… can…tik… ba..nget je..li…ta.. sa..ngat… mi..rip… de…ngan sau…da…ra… kem…bar.. mu… ju..wi..ta…” kata pak darwis berkaca-kaca..
“A…ku… nggak ngerti maksud bapak… aku bukan jelita anak bapak… tapi papa aku bernama Darius…” kata ku meyakinkan
Kutatap foto-foto yang tertata rapi di dinding… kemudian aku diantar ke kamar juwita… apakah mungkin dia kembaran ku… apakah mungkin dia saudara ku… terus pergi kemana kah dia sekarang..?

Cerpen Karangan: Iin Mawarni
Facebook: Mawar Az-zahra

Cerpen Misteri Sebuah Lukisan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semusim Untuk Selamanya

Oleh:
Yaaa… Aku mau nya cuma kamu?? Bukan dia, hanya kamu yang ada dipikiranku saat ini dan mungkin entah sampai kapan. Cuma kamu, bukan Tito yang mamberikan aku sebuah kalung

Kado Terakhir Untuk Mami

Oleh:
Setiap manusia terlahir berbeda, tak ada manusia yang terlahir sama. Begitu dengan aku dan anak-anak lainnya. Namaku Shakira, aku kelas 3 SMA, aku dari kecil tinggal bersama mamiku dan

Maafkan Kakak Dik

Oleh:
Nesya adalah seorang anak perempuan ia anak bungsu yang sering disuruh suruh oleh kakaknya Nasya. Semenjak ayah dan ibunya meninggal mereka tinggal berdua dan Nesya selalu diperlakukan tidak baik

Chance

Oleh:
Aku sadar apa yang aku lakukan kepadamu tidak sebaik apa yang dia lakukan. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Jangan bandingkan aku dengan dirinya. Karena kita berbeda. Aku

Sepatah Maaf dari Papa

Oleh:
Peluh menetes di dahiku. Sungguh siang hari yang panas. Matahari melotot, teriknya membakar kulitku. Suara klakson menjerit bersahut-sahutan dari kendaraan di jalan raya, motor saling serobot, angkot berhenti seenaknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Misteri Sebuah Lukisan (Part 1)”

  1. salsa bila hasanah says:

    Kok nggak ada sambungannya sih

  2. Patrice vani hosana says:

    Iya kok nggak ada sambungannya padahal ceritanya seru banget loh!

  3. siti ulfatuz zhalfa says:

    Ceritanya gak da sambungan,padahal ceritanya menarik banget

Leave a Reply to Patrice vani hosana Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *