Mita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 26 June 2021

Pagi ini Mita begitu gelisah, perasaannya kacau dan sekaligus bingung. Bagaimana bisa ia memimpikan bermesraan dengan seorang laki-laki yang bukan calon suaminya. Apakah karena sudah lama aku tidak bertemu dan tidak mempunyai hubungan yang harmonis dengan calon suamiku?, batin Mita dalam hati. Dion, Calon suaminya telah meninggalkan sendiri selama tiga tahun untuk kuliah di luar negeri.

Seketika juga perasaannya bahagia mengingat sekilas mimpi semalam. Mita berkenalan dengan seorang laki-laki yang ganteng, terlihat cukup keren, walaupun agak pendiam.
“Apakah kamu tidak mengingatku?” tanya Mita. “Kita pernah bertemu dulu saat kamu masih menjalin hubungan dengan Caca. Kamu kan pernah mengantar Caca pulang dengan mobil kantor kalian yang mewah itu. Kami semua sangat iri saat itu melihat Caca”, Mita menjelaskan dengan panjang lebar kepada Tito. “Ah, sudah lah, kita tidak usah membahas masa lalu, yang sudah berlalu biar menjadi kenangan, menjadi pelajaran”, jawab Tito santai.

Mita tidak pernah membayangkan akan bertemu Tito dalam kondisi saat ini, dimana dia sedang mengunjungi saudara perempuannya di kota Palembang. Saat saudara perempuannya mengajak Mita ikut serta dalam sebuah acara menginap di tempat rekreasi alam, Mita pun dengan antusias menerima ajakan itu. Keindahan alam telah menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Mita, bahkan ketika ia masih sendiri. Setelah bekerja, Mita tidak pernah lagi menikmati waktu sendiri menikmati keindahan alam. Ia sibuk dengan berbagai pekerjaan kantor dan tugas rumah yang menumpuk.

“Mita, ayo kita kesana, ada welcome drink enak yang bisa kamu pilih, gratis dan enak…” “Yuk… asyik”, jawab Mita kepada saudara perempuannya. “Nih, campurkan ini dan ini, hmm.. enak banget. Cobain deh, Mita. Minggu depan kita jalan-jalan ke Mall JM yuk. Mumpung lagi di Palembang. Kan sudah lama kamu tidak kesini”. “Boleh”, jawab Mita menanggapi ajakan saudaranya lagi.

“Halo, Mita. Lagi apa? Boleh aku ikut?” tanya Tito mendekati Mita yang sedang berdiri menikmati pemandangan alam di depannya. Mita pun kaget sekaligus senang melihat kehadiran laki-laki itu, karena dulu ia pernah mengagumi Tito walaupun dari kejauhan. Sikap Tito yang tenang dan berkharisma sangat dikaguminya. Saat itu Mita sedang melihat ombak berkejaran, menggulung dan memecah terhempas tebing tempatnya berdiri. Begitu luar biasa ciptaan Tuhan. Mita sangat bersyukur melihat pemandangan di depannya. “Halo, silahkan”, jawab Mita. Keduanya pun terdiam dan menikmati suara ombak. Kehadiran beberapa teman di sekitar mereka yang sibuk berbincang tidak dihiraukan Mita dan Tito. Mereka menikmati kebersamaan dalam keheningan tersendiri, menikmati suara ombak memecah terhempas tebing.

Siang itu matahari tertutup awan tipis, sekali-kali angin bertiup membuat mereka menggigil kedinginan. Sedikit demi sedikit tubuh mereka saling mendekati, dan ada sesuatu yang dirasakan. Tangan Tito mulai memeluk pinggang Mita. “Apakah kamu masih kedinginan?” tanya Tito. “Bolehkah tanganku begini?” lanjutnya. Mita pun hanya diam namun tersenyum melihat Tito. Ia tidak pernah membayangkan kejadian ini. Perasaannya sangat senang sekaligus malu dengan tangan Tito yang memeluk pinggangnya. Dalam keheningan kembali mereka hanya duduk di tempat duduk yang disediakan diatas tebing dan menatap ke ombak yang jauh di lautan.

Hari telah berganti lagi. Setelah mengikuti berbagai acara, tibalah hari terakhir mereka menginap di tempat rekreasi itu. Tito pun mengajak Mita untuk bertemu kembali di atas tebing. “Mita, aku mau bilang sesuatu yang penting. Yuk, kita duduk di sana saja, lebih tidak terlihat, lebih enak bicara”, ajak Tito. “Apakah tidak berbahaya jika kita turun kesana? Aku takut kita terpeleset dan terjatuh ke bawah. Lihatlah betapa tingginya tebing ini”, jawab Mita enggan. “Tidak apa-apa. Yang penting kita hati-hati. Aku sudah melihat kemarin-kemarin banyak pasangan yang duduk di sana. Yuk, pegang tanganku,” ajak Tito.

Mita dan Tito pun duduk berdekatan di tempat istimewa itu. Tito memeluk pinggang Mita dan membisikkan sesuatu yang membuat Mita merasakan perasaan campur aduk. Bagaimana tidak, perasaannya senang, bahagia dan terbawa suasana romantis. Meskipun mereka tahu etika, tapi keinginan dan hasrat sepasang kekasih seakan melanda keduanya. Tanpa mempedulikan orang-orang sekitar mereka, Tito membelai lembut wajah Mita dan mencium keningnya. Perasaan hangat dan bahagia mulai menjalar ke seluruh tubuh. “Aku menyukaimu, Tito”, kata Mita. “Tapi…” Tito tidak membiarkan Mita menyelesaikan ucapannya, ia langsung mencium bibir Mita dengan lembut. Ah… perasaan mereka berpadu seakan melayang di awan-awan.

Sekembalinya Mita ke Jakarta, Mita pun kebingungan. Apa yang harus aku lakukan? katanya dalam hati. Apakah Tito akan menepati janjinya untuk tetap bersamaku? Atau apakah dia hanya mempermainkan perasaanku yang sedang tidak menentu? Bagaimana aku harus menjelaskan liburanku kepada calon suamiku? Banyak pertanyaan yang menyelimuti hati Mita dalam perjalanan kali ini. Sengaja ia menghindari pertemuan dengan calon suaminya, padahal Dion sedang kembali dari luar negeri. Calon suami Mita sedang menemani bosnya yang datang ke Jakarta. Ketika Dion ingin menjemput di airport, Mita beralasan bahwa ia sudah berada dalam sebuah taxi. Begitu pun ketika Dion ingin menemui Mita di rumahnya, Mita beralasan bahwa ia sangat kelelahan dan ingin segera tidur.

Hari ini adalah hari Sabtu, Mita pun libur. Ketika Dion ingin menemui Mita, untuk membicarakan sesuatu yang penting, ia beralasan bahwa ia telah membuat janji bertemu dan reuni bersama teman-teman alumni sekolahnya. Padahal Mita hanya pergi bersama sahabatnya, Anna.

“Mita, kamu kenapa? Kok kelihatannya bete banget? Ada apa?”, tanya Anna. “Nggak kok, aku cuma lagi pusing, banyak kerjaan”, jawab Mita enggan menanggapi pertanyaan Anna. Mita tidak mau ada orang yang mengetahui masalah perasaannya, walaupun sahabatnya sendiri. Mita terbiasa menyimpan segala masalahnya sendiri dan tidak mau membebani siapapun. “Ya, udah, kamu perlu bantuan apa? Aku mau bantu, mumpung aku lagi santai nih. Mau kerjain apa?” tanya Anna lagi. “Nggak usah, Na. Terima kasih ya. Aku harus pulang sekarang, kita ketemu lagi besok yaa,” Anna pun menjawab, “Tapi…”

Mita segera berjalan ke kasir dan membayar tagihan mereka, lalu ia berlalu, tersenyum, dan melambaikan tangan pada sahabatnya. “Sampai jumpa besok, Na, nanti aku telepon yaa…”

Malam itu Mita tidak bisa memejamkan matanya, perasaannya sangat galau dan ia bertekad bahwa ia akan menceritakan kejadian yang telah dialaminya bersama Tito. Mita ingin jujur pada sahabatnya Anna tentang perasaannya saat ini dan ia juga ingin meminta bantuan Anna untuk menjelaskan kepada calon suaminya, yang kebetulan juga adalah kakak angkat Anna.

Cerpen Karangan: Lidry

Cerpen Mita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Kecilku

Oleh:
Disaat kecil aku pernah punya phobia terutama sama anjing, dari sejak itu kalau aku melihat anjing aku bakal lari, tapi kata orang itu salah, karena apa? Karena anjing mengangap

Menunggunya

Oleh:
Malam itu tepat pukul 20.15 wib rima sedang bekerja sebagai therapists di sebuah tempat massage keluarga yang cukup terkenal, tapi tanpa sengaja rima melihat ke luar jendela ada seorang

Benciku Atas Dasar Cinta

Oleh:
Sudah tiga tahun persahabatan sebelas remaja itu terjalin. Mereka menjalin persahabatan saat mereka sama-sama duduk di bangku SMP di sekolah yang sama, di SMP Kedamaian. Kesebelas remaja tersebut terdiri

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Pagi pagi sekali, Cindy sudah bangun dari tidurnya. Ia siap siap ke sekolah. Berganti baju,dan segalanya. Sampai di sekolah,… “Hai Ndy.” kata kata itu terdengar oleh telinga Cindy. “Hai

Histeria Ruang Isolasi

Oleh:
Dari Ruang IGD kuikuti irama gerak kursi roda yang melaju di lorong sempit berliku dan mendaki menuju ruang isolasi di lantai 3. Kutempati ruang Musdalifah 52 ini sendirian. Ruang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *