Monas pun Jadi Saksi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 4 June 2013

“Oh My God, apakah aku sudah telat?” tak hentinya Janie melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Hari ini Janie mendapat tugas sebagai Koordinator Lapangan untuk suatu aksi demonstrasi yang akan diselenggarakan di Monas (Monumen Nasional) dalam rangka Peringaan Hari Ibu. Wajar saja kalau Janie yang pada saat itu sedang berada di dalam bus merasa sangat panik, di tambah lagi dia harus berdesak-desakkan dengan para penumpang lainnya.

Akhirnya tiba juga Janie di Monas. Namun aneh sekal, ternyata sesampainya dia di sana, dia tidak menemukan seorang teman pun yang sudah sepakat untuk melakukan aksi Demonstrasi. Lalu dia mencoba untuk menghubungi teman-temannya namun tak ada satu pun yang mengangkat panggilan telepon darinya. Di sana dia hanya melihat Bangunan yang menjulang tinggi seolah sedang bersenda gurau dengan awan-awan putih.

“Hmm… apakah aku harus berorasi sendirian di sini?” Janie pun bergumam sendiri sambil memegang pengeras suaranya.

Ketika dia sedang melihat betapa kokohnya Monas sebagai bangunan bersejarah, tiba-tiba dia melihat seorang pria yang berdiri pasrah dari atas Monas.

“Astaga.. itu kan Joey, sedang apa dia di sana? apakah dia sedang melakukan suatu aksi teatrikal?” Janie pun terkejut ketika melihat Joey (teman satu organisasinya) berdiri seakan-akan ingin bunuh diri.

Belakangan ini Joey memang selalu terlihat murung saat bersama dengan Janie hingga Janie mengira kalau kemurungan Joey telah menyebabkan Joey pasrah dalam mengarungi hidup ini. Lalu Janie pun mencoba memanggil Joey dengan pengeras suara yang sudah dibawanya. Tapi sayang sekali, Joey mengacuhkan itu. Dan Janie pun mencoba menelepon Joey.

“Joey, apa yang sedang kamu lakukan di atas sana?” Janie bertanya dengan sangat khawatir.

“Aku hendak bunuh diri.” Suara Joey terdengar dari seberang.

“Tunggu dulu Joey! apa yang membuat kamu ingin bunuh diri? plis Joey, kamu jangan bertindak bodoh gitu dong! Kita bisa membicarakan ini. curhatlah pada ku, plis Joey.” Detak jantung yang seolah-olah menggebu-gebu dengan sangat kencang tak lagi dapat menyembunyikan nada lirih kekhawatiran dari dalam hati Janie pada Joey.

ADVERTISEMENT

“Aku tak sanggup lagi menjalani hidup ini. Hidup yang hampa akan cinta sungguh membuat batinku membeku.” tandas Joey yang mulai mengulurkan kaki kanannya seolah hendak melangkah untuk terjun dari atas Monas.

Saat itu pengunjung Monas yang sedang menikmati wisatanya masing-masing pun berduyun-duyun datang untuk melihat Joey yang hendak bunuh diri. Di antara mereka ada yang menyeru-nyeru sambil mengatakan “Hey turun, jangan sia-siakan hidupmu nak!” Ada pula orang-orang yang memotret Joey dari atas Monas dengan kamera maupun handphone guna mengabadikan momentum fenomenal tersebut.

“Joey… tunggu Joey, jangan karena persoalan cinta kau jadi sebodoh ini!” Suara Janie pun makin keras saat berbicara dengan Joey melalui handphone. Namun tak dinyana, Joey pun mematikan ponselnya hingga kontak telepon pun terputus. Joey pun akhirnya terjun dengan pasrah dari atas monas bagaikan deras hujan di kala langit menangis.

Semua orang pun berteriak histeris, “ohh tidak…” Orang-orang yang membawa kamera maupun handphone pun berkali-kali memotret adegan nekad dari seseorang yang bunuh diri dengan cara terjun dari ketinggian 137 meter itu. Begitu pula dengan Janie yang tampak sangat shok sambil secara spontan menjulurkan tangan kanannya seolah ingin meraih Joey yang sedang di tekan oleh gaya gravitasi bumi.

Namun tak lama kemudian ketika Joey sedang berada di tengah-tengah alur kematiannya, tiba-tiba keluarlah sebuah gumpalan yang di ikat oleh tali dari dalam tas pinggang mini milik Joey. Dalam hitungan detik, gumpalan itu pun seolah-olah mekar bagaikan sayap-sayap malaikat. Ternyata itu adalah parasut. Dan di kain parasut itu bertuliskan “Janie, I Love You.”

Dan tiba-tiba terdengarlah irama orchestra yang seolah mengiringi aksi nekad Joey. Iramanya terdengar penuh dengan makna cinta. Janie pun terkejut ketika membaca tulisan yang tertulis di kain parasut Joey itu. Lalu senyum pun mulai tergaris membujur dari raut wajah Janie yang juga mulai merona merah.

Dari belakang mulailah bermunculan teman-teman Janie yang membawa spanduk bertuliskan “Terimalah Cinta Joey!” Dan mereka tiada hentinya berseru mendukung aksi nya Joey sambil berorasi dengan mengatakan “Terima! Terima! Terima!”

Para pengunjung Monas yang lain pun terlihat sangat terkagum-kagum ketika melihat aksi romantis yang dilakukan oleh Joey. Janie pun terlihat tersipu malu dengan senyum manisnya sambil dengan lembutnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Joey pun akhirnya mendarat di hadapan Janie, lalu mengatakan:

“Aku cinta kamu, maukah kamu menjadi pacarku?” dengan tatapan penuh harap, Joey pun mengutarakan isi hatinya pada Janie.

Janie hanya tersenyum tersipu malu sambil mengatakan “I love you too” dan memeluk Joey dengan penuh kasih mesra.

Lalu kain parasut itu pun menyelimuti Joey dan Janie yang sedang berpelukkan diiringi dengan sorak-sorai teman-teman para demonstran dan juga para pengunjung monas yang sedang berwisata. Mereka semua menjadi saksi cinta Joey dan Janie, begitu pula dengan Monas yang tampak berdiri dengan bangga karena telah menjadi saksi romantis Joey dan Janie.

Cerpen Karangan: Er
Blog: 26rayyan.wordpress.com
Facebook: rayyan.hardiansyah[-at-]ymail.com

Cerpen Monas pun Jadi Saksi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Orang Menyebutnya Jodoh

Oleh:
Seperti biasa Jakarta sore ini macet. Para karyawan, mahasiswa, pegawai negeri semua tumpah ruah di jalanan ibukota. Jangankan sepeda motor, mobil yang aku kendarai dari tadi cuma bisa bergerak

Aku dan Kau

Oleh:
Sebelum kau hadir di kehidupku hidupku terasa hampa, tak ada kebahagian yang membuat diriku tersenyum lepas bahagia, hanya kenangan pahit di pikiranku, masalaluku yang kejam dan tetesan air mata

Rindu Untukmu

Oleh:
Setelah sekian bulan menunggu, akhirnya liburan semester pun datang. Semua penghuni kos melati satu per satu mulai sepi. Resya masih sibuk mengemasi barang-barang di kamar kosnya. Urfa yang sudah

Tak Akan Terganti (Part 4)

Oleh:
Keesokan harinya, hari ini acara perpisahan sekolah dan yang paling menyedihkan semuanya harus berpisah dihari ini, sekolah, cinta maupun persahabatan semuanya berakhir disini ya sudahlah mungkin ini ucapan takdir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *