Moon In The Sun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 August 2017

Karena bulan dan matahari saling melengkapi meski tidak bersama

Hari ini, keadaan cukup mendukung untuk melakukan aktivitas. Banyak orang yang berlalu lalang kian kemari seakan tidak ada hari esok untuk melakukannya. Cukup ramai untuk seorang Dito. Radito Dhanendra Santana. Anak dari pengusaha terkenal di Indonesia. Dito benci keramaian. Keramaian yang membuatnya kehilangan seseorang beberapa tahun silam.
Kini ia sedang berada di antara manusia-manusia lain. Manusia yang tanpa sengaja menemaninya dari kesepian. Sama arah beda tujuan. Dito terlihat menawan hari ini. Dengan kaos oblong berwarna hitam berpadu dengan celana denim dan tidak lupa sneaker maroon kesayangannya. Cukup sederhana untuk seorang anak menteri.

Ini hari minggu. yang mana seharusnya ia sedang berada di antara keluarga besarnya untuk merayakan ulangtahun pernikahan mami dan papinya. tapi Dito melakukan sebaliknya. Meninggalkan sekitar 20 orang-orang berjas dan gaun yang glamor memperlihatkan kekayaannya. Dito benci itu. Ia lebih senang duduk di sudut kafe langganannya dan menjadi orang biasa.

Akhirnya ia lepas juga dari ramainya ibukota. Dito membuka pintu yang bertulisan “open” di ganggangnya. Sedetik kemudian, tercium aroma kopi yang sangat menenangkan indra perciumannya. Dito berjalan menuju meja di pojok kafe tersebut. Ia menyukai tempat itu karena di sana ia bisa melakukan hal konyolnya “flashback” dengan tenang. Berhadapan dengan kaca yang lumayan luas, memperlihatkan manusia-manusia yang hanyut dalam dunianya. Mobil, motor bahkan pejalan kaki, bunyi klakson, teriakan, macet dan asap di mana-mana bagaikan keadaan lumrah yang menemani mereka. Dito heran mengapa manusia-manusia ini tahan dengan suasana buruk itu.

Kini, Dito sudah menempelkan bokongnya di salah satu kursi di kafe tersebut. Pelayan di sanapun sudah hafal pesananan Dito, langsung menyuguhkannya tanpa perlu diminta. Vanilla latte. Kesukaan Dito dan seseorang yang kini memenuhi otaknya. Oh tidak, maksudnya seseorang yang selama ini selalu ada di pikirannya meskipun ia terlelap. Dito bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyesali perbuatannya. Lamunannya buyar saat seorang pelayan berdiri di sampingnya.
“Ini kak. Vanilla lattenya.” Ucap pelayan itu padanya. Ada raut takut yang tercetak di wajahnya.
Dito mendongak berniat untuk membalas ucapan sang pelayan. Tapi tunggu, suaranya terdengar familiar. Kini, matanya dan mata pelayan itu saling beradu menampakkan iris hitam dari sang pelayan.
Lamuan Dito buyar saat pelayan itu menjauh beberapa langkah darinya. Ia menunduk,
“Fira?” Ucap Dito pelan
“Iya kak? Kakak kenal saya?” Terlihat jelas tampang penasaran dari wajahnya.
Dito mengerjapkan matanya. Berharap ia tidak sedang bermimpi.
tanpa menjawab pertanyaan Fira, Dito langsung memeluk sang gadis yang selama ini ia cari. Gadis yang selama ini memenuhi otaknya. Wajahnya tetap sama hanya saja kini tubuhnya sudah tinggi. Ia tampak lebih kurus sekarang. Rambutnya yang dulu selalu dikepang dua, kini hanya dikuncir kuda. Dito bahagia. Akhirnya ia menemukannya.
“Lo ke mana aja fir? Gue udah nyari lo ke mana-mana tapi lo gak ada. Gue udah tiap hari ke taman belakang rumah cuma untuk ketemu lo. Fir, lo ke mana aja? Gue kangen lo. Gue mau main jungkat-jungkit bareng lo lagi.” cerocos Dito.
Hanya diam yang dapat Fira berikan. Dito merasakan sesuatu yang dianggapnya mengerikan. “Fira lupa gue.” ucapnya dalam hati.

Di tempat yang sama, di detik yang sama, seorang Shafira hanya bisa diam di dalam pelukan lelaki di hadapannya. Tubuhnya kaku walau hanya untuk melepaskan pelukan lelaki itu. Ingin rasanya ia menampar wajah lelaki itu. “Berani banget dia meluk gue.” batinnya tanpa melepaskan pelukan itu.
Akhirnya, ia keluar dari pelukan lelaki itu. Dito pun sadar bahwa ia telah lancang, melepaskan pelukannya pada fira.
“Sorry. Gue terlalu lancang. Lo mirip Fira gue.” Ucap Dito.
Fira hanya mengangguk, kemudian meninggalkan Dito. Dito memperhatikan punggung gadis itu. “Dia Fira. Shafira Fradella Acetta. Tapi sayang, dia gak ingat gue sama sekali. Natap gue horror gitu.” Ujarnya dengan suara pelan bahkan nyaris tak bersuara. Kemudian ia duduk kembali. Menertawakan kebodohannya tadi. Fira tidak ingat dia. Itu sudah pasti. Karena Dito yang sekarang bukanlah Dito yang dulu, tapi apakah mungkin perubahan dengan gaya Dito sefatal gitu? Sehingga Fira lupa padanya.
Ia benci keadaan ini. Galau melanda Dito. Ia masih terlihat tenang di matamu jika kau manusia biasa. Tetapi bagi orang yang mampu mendengarkan suara hatinya, ia akan sadar bahwa Dito sedang menghadapi badai.

“Gila, lo kenapa Dit? Dalam radius 10 meter gue gila gara-gara pikiran lo” suara itu membuyarkan lamunan Dito.
Dito menatapnya seolah berkata ‘lo bisa diam gak?’. Ia hanya tersenyum sambil duduk tepat di depan Dito.
“Ngapain lo di sini?” tanya Dito jutek
“Gila lo ya. Nyokap bokap lo lagi ngadain big party tapi lo malah disini. Gila lo broth” balasnya.
“you know me so well, Fay” jawab Dito datar.
Afay Lauren Hendra. Lelaki yang setia di dekatnya saat Fira pergi. Ia, Fira, dan Dito adalah 3 sejoli. Dulunya.
“Mochacinno-nya satu ya” ucap Afay yang membuat Dito mau tak mau melihat ke arah si pelayan.
Pelayan itu mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan Dito dan Afay.

Dito hanya memijit pelipisnya. Menyadari apa yang terjadi dengan sahabatnya, Afay hanya tersenyum penuh arti. Dito menatap Afay.
‘itu Fira kan Fay? Lo tahu kan? Tapi kenapa Fira lupa kita. Dia bahkan lupa lo kan? Dia lupa gue.’ Afay bisa membaca pikiran Dito. Dito suka kenyataan itu. Ia tak perlu repot-repot mengeluarkan suara jika bersama Afay.
“Iya itu dia. Tapi, dia gak mau terlarut lagi Dit. Dia udah ngerelain lo. Bagi dia lo berharga. Tapi bukan untuk dimiliki. Ia sekarang udah punya keluarga. Mereka bahagia meskipun gue tau Fira cinta sama lo.” Dito tertegun dengan penjelasan Aafay.
“Lo?”
“Iya. Dia gak lupa sama lo. Dia cuma gak bisa Dit, bareng lo. Dia punya hutang dan cuma bisa lunas jika ia menikah dengan lelaki itu. Lelaki baik, kata Fira. Tapi gue tau, dia mereka gak bahagia. Gue juga cinta Fira. Lo tau itu. Tapi itu dulu. Sekarang lo boleh perjuangin dia. Bantu dia.” kemudian Afay tersenyum.
“Fay, ini gak mimpi kan? Itu Fira? Sahfira Fradella Acetta?” Dito tak percaya. oh bukan, Ia sungguh percaya. Tapi, ia rasa ini mimpi.
Afay menyentil dahinya.
“Aw! Ini real. Oh god. Thanks buddy.” ucap Dito bahagia. Ia bahagia. Semua ini nyata. Hari ini ia bahagia.
Baru saja hendak berdiri, pelayan dengan bet nama ‘SHAFIRA FRADELLA ACETTA’ ada di hadapannya sekarang. Tuhan mempermudahnya. Dito tersenyum penuh arti kepada Fira.

“Fir, ikut gue bentar. Mau curhat” ucap Dito, sama seperti beberapa tahun silam saat ia ingin menembak Fira. Hanya saja saat itu, Afay juga suka Fira. Sehingga ia mengurung niatnya. Tapi, sekarang berbeda.
Dito langsung membawa Fira keluar dari kafe tersebut.
“Pak, saya izin bawa karyawan bapak ya. Dia mau fitting gaun buat nikah sama saya” ucap Dito mendapat siulan dari seluruh pengunjung kafe.
Pipi Fira mendadak merah. Dan hatinya terasa seperti berfungsi lagi. tak bisa ia pungkiri, ia bahagia.

“Kenapa bohong sama gue? Tapi cerita sama Afay.” ucap Dito memecah keheningan
“Gue gak ngomong. Afay aja tuh yang suka nyuri-nyuri isi otak gue.” balas Fira.
Fira memalingkan wajahnya ke samping. Sehingga ia bisa menatap Dito. Ia rindu lelaki itu. Rindu saat dulu Dito selalu mengacak rambutnya. Rindu saat mereka bertiga cabut dari pelajaran Pak Rizal. Rindu saat mereka bertiga masuk ruang BK gara-gara molor di kelas. Lucu. Tanpa sadar Fira membentuk bulan sabit di bibir mungilnya.
“Gue kangen lo. Susah ternyata lupain lo. Kenangan yang lo kasih terlalu susah dilupain” Fira menaruh kepalanya di bahu Dito. Tempat ternyaman bagi Fira.
“memories never die, Fir. Lo mau kan nikah sama gue? Dulu lo bilang kita masih SMA jadi sekolah dulu. Sekarang umur kita udah 26 tahun. Wajar kan?” Fira mengangkat kepalanya. Dito menatapnya.
“Gue udah nikah Dit. Lagian gue udah gak kaya kayak dulu. Bokap udah gak ada Dit. Gue miskin sekarang. Bahkan udah gak ada London, Gue gak kuliah Dit. Gue udah bukan fira yang dulu. Lo gak bakal bahagia kalau nikah sama gue.” Perlahan air mata Fira jatuh bebas melewati pipinya dan menetes membasahi bajunya.
“Gue udah punya anak Dit. Gue mau kasih beberapa pernyataan ke lo. Lo dengar, ok?” Fira menatap Dito seolah mereka sedang membuat perjanjian. Sedih di wajah Fira yang tadi, seketika berubah.
Dito mengangguk. Membiarkan gadisnya melepaskan semuanya. Meskipun ia tak keberatan sama sekali dengan keadaan Fira yang sekarang.
“Pernyataan pertama, Gue, Shafira Fradella Acetta, cinta lo. Ke dua, Gue sekarang udah punya suami. Ke tiga, gue punya anak, namanya Redito Acetta Putra. Kaget ya? Karena gue suka nama itu. Karena itu, lo yang kasih Dit. Ke empat, gue sekarang udah gak kaya. Kelima, gue udah gak cocok sama lo. Ke enam, gue mau kita jangan ketemu lagi ya. Sakit Dit.” Fira menunduk. Ia sudah terlalu banyak menagis di depan lelaki ini.
Dito tak terlalu gusar. Ia sudah tau semua ini.
“Fir, liat gue.” Kemudian Fira menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Dito.
Dito mengacak rambut Fira dan kemudian menyentil dahinya. Kebiasaannya saat SMA.
“Ih sakit tau. Usilnya gak ilang” Fira memasang wajah cemberut.
Dito hanya tersenyum.
“Fira daridulu emang bego ya. Labil. Bilang cinta sama gue, nikah sama orang lain. Gue tau lo terpaksa nikah sama dia. Biar gue tebak, lo nikah sama Leo kan?”
“Kok tau?” Fira kaget. Bibirnya dibulatkan.
“Gue gitu loh. Tapi, Leo gak kasar kan ke lo? Dia sayang lo kan? eh bukan sayang sih. Dia jahat. Dia juga kan yang bikin bokap lo bangkrut? Kemudian, bokap lo meninggal, dia minta lo nikah sama dia buat lunasin hutang-hutang bokap lo. Gue sih tau Leo gak bakal kasar ke lo. Tapi, selama ini dia terobsesi sama lo. Sampai gila gitu. Lagian lo sama anak lo, Dito ya? Suka gue namanya, gak tinggal sama dia kan? Dia pergi ninggalin lo, dan cuma kasih tunjangan buat Dito doang, sehingga lo harus kerja kesana kemari kan? Gue tahu semuanya Fir. Leo pernah ke rumah gue. Cuman buat ngasih undangan pernikahan lo sama dia. Di sana ada Afay. Lo tahu kan Afay iseng. Awalnya, gue emang syok. Gue sempat stress gara-gara itu. Cuma Afay selalu nyemangatin gue dengan bilang ‘kalau cinta lo gak bakal diam aja’. Itu cukup buat gue. Dan tara! Lo di sini sekarang. Yuk, ceraiin Leo, nikah sama gue. Nyokap bokap sayang lo Fir. Dia ngerti keadaan lo kok. Santai.” terang Dito. Cukup membuat Fira kembali meneteskan air matanya. Dito sayang padanya, ia sudah tau itu lama. Tapi, Dito mau nerima keadaannya sekarang, ia belum percaya.
Dito merangkup pipinya Fira, menghapus air mata itu dari wajah gadis-nya.
Fira tersenyum bahagia.
“Iya gue mau. Mau banget Dit. Dulu, gue kira kita friendzone. Dulu, lo kan yang nangis kalau curhatin mantan-mantan lo? Ah gue bahagia Dit. Dulu gue kira kita itu ‘bulan-matahari’ yang cuma bisa melengkapi tapi gak bisa bareng. Tapi sekarang, kita itu ‘gula-air’. Hidup gue yang hambar gini, ada lo jadi manis.” Fira menyubit pipi Dito. Kebiasaannya dulu.
Mendegar balasan dari Fira, Dito langsung memeluknya erat. Seakan ia gak rela Fira pergi.
Bahagia. Hanya itu yang dapat dijelaskan oleh keduanya.

“Ihhh Mama. Aku gak nyangka. Gilaa sweet banget ma. Papa top markotop deh.” suara nyaring seorang gadis 15 tahun sambil menatap papa mamanya bergantian
“kamu nih, ada-ada aja yaa.” ucap wanita paruh baya di samping gadis itu.
“Caca mau main sama Ilham dulu deh mam, pap. Dia udah nunggu di luar” ia berjalan keluar rumah, mendapati kakaknya sedang bertelpon-ria. Sebuah ide muncul di kepalanya.
“Kak Dito lagi pacaran ma. Panggil-panggil sayang dia ma. Sita hp nya ma. Marahin dong maa” Teriak Caca yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
“Apaan sih lo? friendzone aja belagu” ucap kakaknya meledek. Sambil melirik ke arah Ilham, sahabat Caca.
“Friendzone apaan sih? Gue sama Ilham itu temenan. Ya ga Am?”
Ilham hanya diam. Kemudian angkat bicara “ayuk, ikut gue.” sambil menggenggam tangan Caca. Hanya Ilham dan Tuhan-lah yang tau apa yang akan Ilham berikan.

“Gue suka lo, Ca”
“Ha?”
“Iya, Gue Ihlam, suka lo. jadi pacar gue ya?”
Caca hanya diam. kemudian mengangguk.

Kebahagiaan satu lagi.

Cerpen Karangan: Amara Nindya
Aku suka makan, nulis, nari dan dreaming.
Happy reading yaa

Cerpen Moon In The Sun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nyanyian Pengantar Tidurku

Oleh:
Braaakkk.. Terdengar suara keributan lagi, huuuft kapan semua ini berakhir Ya Tuhan aku ingin keluarga seperti dulu. Nama ku arin selvi putri, biasa dipanggil arin. Dulu waktu kecil keluarga

Kekosongan

Oleh:
Derap langkah kaki itu semakin jelas, aku tahu siapa pemilik langkah itu. Benar saja, dalam beberapa detik pemilik langkah kaki itu sudah berdiri tepat di depanku. Mata elangnya itu

Embun di Hati Arya

Oleh:
Siapa yang tidak mengenal “Arya” cowok ganteng, pintar, tajir, baik plus tenar pula. Perfect! Nggak ada satu cewekpun yang tidak tertarik bila melihatnya, terlebih jika mengenalnya, dijamin bakalan klepek-klepek

Hujan Bersama Kenangan

Oleh:
Aku pernah menonton acara di salah satu stasiun tv swasta. Ada sebuah kutipan kata-kata yang menggelitik telingaku saat itu, kira-kira seperti ini bunyinya ‘Hujan turun bersama ribuan kenangan, menghantarkan

Cinta Yang Terlambat

Oleh:
Namaku Sherly, umurku 13 tahun aku bersekolah di SMP pangudi luhur st albertus saat ini aku duduk di kelas 8. Aku emang dikenal sangat muda untuk merasakan cinta, ya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *