More Then

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

Aku tinggal di sebuah kota dermaga pinggir lautan. Sebuah kota bernama Loisiana, saat malam datang kota ini akan tampak seperti sebuah kota terapung di atas lautan luas. Di ujung kota, tepat di atas sebuah bukit yang menjorok di atas lautan, telah berdiri sebuah bangunan bak istana putih kapur. Sedari kecil, aku selalu mengagumi pavilium putih itu. Ia begitu megah, menawan, dan berdiri kokoh di puncak bukit tanah bata di atas laut Cantadile. Saat fajar, cahaya matahari menorobos di antara keempat menaranya yang putih tinggi, menyergap di balik keseluruhan bangunannya dan terbit tepat di antara sepasang menaranya yang paling besar, membuatnya tampak bagai tempat tinggal para peri negeri dongeng. Di dalamnya ada sebuah cerita cinta yang melegenda, diperingati penduduk negeri ini saat dentang putih bergema hingga di penghujung kota.

Tepatnya pagi ini, aku sudah sejak tadi berdiri tidak sabaran menunggu di besi pembatas setinggi pinggang arah barat laut yang berseberangan dengan pavilium putih. Di pinggir laut Cantadile, aku dapat melihat matahari muncul di antara dua menaranya yang paling besar. Sebentar lagi..
Hari dimana malam menjadi begitu terang, hari dimana pagi menjadi begitu tenang, dan hari dimana cahaya bulan begitu putih, sebuah dentang panjang akan menggema membungkam seisi kota Loisiana. Seakan serempak menghening atas kisah cinta dua insan yang pernah tinggal di pavilium putih itu, memberikan penghormatan terhadap pengorbanan mereka, kisah cinta yang selalu menjadi pengantar mimpi anak-anak kecil. Mereka menyukai kisah itu, berangan kelak menjadi seorang putri dan pangeran yang sama bahagianya dengan mereka berdua.

Aku pun begitu, sejak kecil selalu mengagumi kisah cinta di pavilium tua itu..
Aku pun begitu, selalu mendambakan suara dentang putih yang memperingati kisah itu..
Aku pun begitu, sama dengan seluruh penduduk kota ini yang tidak mengetahui akhir dari kisah itu..

Deeeng..
Detik itu juga seluruh nafas terhenti, tunduk pada sang lonceng perak di kedua menara pavilium putih yang berdiri berhadapan. Para nelayan berhenti di atas perahu mereka, para pedagang berhenti menjajakan dagangan mereka. Semua diam dalam khidmat.

Rosemary membuka matanya begitu gaung sang dentang putih serasa bagai sebuah bisikan yang menembus dirinya, belum gemanya menyentuh habis ujung kota, kekhidmatan serta penghormatan terhadap kisah cinta di pavilium putih itu berakhir dalam hitungan detik saja. Begitu singkat dan cepat, namun itu sudah lebih dari cukup bagi Rosemary.

“hmmph”
Mendesah, Rosemary menarik nafasnya dalam untuk di hembuskan cepat dan matanya yang coklat keemasan bagai tertuang madu itu mulai menatap lautan cantadile yang kehijauan, menenangkan siapapun yang menatapnya. Dan saat itu, Rosemary melihat sekelebat bayangan sebuah wajah yang sedang tersenyum di atas wajah air. Spontan Rosemary mencarinya, seharusnya dari letak jatuhnya bayangan tersebut sang pemilik wajah tertawa itu berdiri tidak jauh dari Rosemary.

Sepersekian detik berlalu, dan Rosemary menemukannya, lelaki yang berdiri asal dengan bajunya yang terbuat dari kain tebal dan kasar khas pekerja kota ini. Tetapi kening Rosemary mengerut, apa ia tidak salah lihat, bayangan wajah yang dilihatnya tadi itu sedang tersenyum manis sekali sedangkan lelaki itu dengan ekspresi wajahnya yang sulit diartikan seperti itu tampaknya.. sama sekali tidak mirip.

Dan tanpa sadar, lelaki itu telah berjalan pelan mengarah lurus pada tanah dimana Rosemary berdiri. Badannya yang tegap tinggi, kulitnya yang kecoklatan, rambut pasirnya yang mulai kepanjangan, langkahnya yang gontai tetapi menciptakan derap, Rosemary merasa gugup ketika ia menghentikan langkah tepat di hadapannya. Beberapa senti saja berjarak dari tubuhnya, berhadapan, dengan tatapan yang mencengkamnya.

“menunggu dentang putih?” tanyanya datar
Rosemary tak langsung menjawab, ia sedang meyakinkan diri bahwa memang dirinyalah yang ditanya.
“iya” balas Rosemary akhirnya
“heh, masih saja percaya pada dongeng anak kecil” ucapnya dengan senyum smirk yang mengejek
Tersikap, lelaki itu berlalu begitu saja dan melewati Rosemary yang masih tertegun. Jalannya tenang, namun terhenti kemudian berbisik pelan di telinga kanannya.
“dugaanku tepat, kamu memang gadis bodoh rupanya” kemudian ia berlalu
Rosemary langsung berbalik dan mengejar lelaki menyebalkan itu, menjajari langkahnya yang kini lebih cepat.
“aku bukan gadis bodoh!” tentang Rosemary garang
“kalau bukan orang bodoh dan anak kecil, lalu siapa lagi yang akan percaya dongeng pengantar tidur seperti itu, hah?” balasnya malas sembari meletakan kedua lengannya di kepala, bertingkah acuh tak acuh.
Rosemary tidak berhenti, orang Ini seenaknya saja menyebutnya bodoh dengan kisah cinta yang begitu dikaguminya, ia tak akan terima begitu saja!
“lalu kau sendiri apa? Bukankah kau juga datang ke tempat ini untuk mendengarkan dentang putih sambil menatap langsung ke arah pavilium putih?”
Lelaki itu menghentikan langkahnya, lalu menatap sinis pada Rosemary yang juga menatapnya tak mau kalah, tatapannya tajam seakan ia berkata ‘apa buktimu’, Rosemary tersenyum menanggapi.
“..aku tahu, sebab kamu datang lebih dulu dariku kan, lebih tepatnya beberapa detik lebih awal, kamu telah menanti dentang putih itu dan juga menyaksikan sunrise dari belakang pavilium putih kan?” tambah Rosemary yakin, dan itu cukup membuat lawan bicaranya kehilangan kata-kata.
“a-aku.. hanya beristirahat, jadi apa salahnya aku menyandarkan tubuhku pada besi pembatas itu hah?” sengitnya tak kalah, dan Rosemary sudah tahu ini akan terjadi.
“hanya orang bodoh yang beristirahat bahkan saat ia belum mulai berkerja, lagipula..” Rosemary melihat ke arah tas belancu menggantung di pinggangnya, penuh noda hitam di sana sini, orang ini sudah pasti seorang sol sepatu di kota, simpulnya.
“..mana mungkin ada yang meminta mengkilapkan sepatunya sebelum matahari terbit”

Lelaki itu benar-benar terdiam sekarang, ia sendiri mengakui kebenaran kalimat gadis di hadapannya itu sejak tadi, tidak meleset satupun, ia memang sengaja berdiri di sana untuk mendengar dentang putih secara langsung dan ia memang belum mulai berkerja, tetapi ia akan tampak bodoh sekali mengakuinya pada gadis bermata coklat mahoni yang masih menyejajari langkahnya sedari tadi.
“tetapi bukan berarti aku percaya pada dongeng konyol itu kan?” ucapnya dan langsung mengambil langkah lebar meninggalkan Rosemary

Rosemary kesal bukan main, lelaki itu benar-benar keras kepala, padahal ia sudah terpojok seperti itu, ia juga memutuskan untuk berhenti mengejarnya tetapi ketika Rosemary sedang menatap punggungnya yang tengah berlari kecil, pemiliknya menoleh ke belakang dan tersenyum manis sekali, membuat Rosemary membulatkan matanya tak percaya. Lihatlah, bahkan sekarang ia melambai pelan padanya! Mana sikap acuhnya barusan itu?!
“aku harus bergegas, sampai jumpa ya gadis bodoh!” teriaknya setengah berlari. Rosemary masih menatapnya tak percaya, sepertinya kini ia harus mengakui bahwa ia memang menyukai bayangan wajah yang tertawa di atas air tadi. Tentu hanya bayangan tawanya saja..

“keterlaluan” komentar Rosemary pelan. Ia segera melangkahkan kaki menuju ke pusat kota, rumahnya berada tak jauh dari toko kue yang ia dan ibunya jalankan sejak bertahun lalu, jam matahari besar di taman kota juga sudah berkemiringan di atas 180` derajat pertanda waktu sudah menunjuk pukul 8 pagi. Rosemary berharap para penambang emas belum melakukan kunjungan rutin pagi di tokonya, ia sendiri kurang suka pada tabiat mereka yang suka berteriak-teriak kelewat wajar seperti biasanya.

Setibanya di rumahnya yang bertingkat dua nuansa klasik kuno seperti kebanyakan rumah di Louisiana, Rosemary segera menambahkan sebuah apprount di atas baju terusan pastel bunganya dan melangkah riang ke arah toko kuenya. Sesampainya di sana beberapa sapaan riang terdengar, dengan sepenuh hati di balasnya dengan senyuman lebar khas Rosemary.

“pagi Mr. Loufoo Po” sapa Rosemary, yang di sapa malah mengisyaratkan Rosemary untuk membantunya menuang seloyang coklat cair ke sebuah wadah besar lainnya, Rosemary tertawa melihatnya yang kerepotan dan dengan sigap membantunya.
Ibunya memang menempanya dengan berkerja keras, baginya walaupun sudah hidup berkecukupan, Rosemary tetap harus menguasai berbagai ilmu. Dan di dapur ini Rosemary berlatih, ia dapat membedakan tanaman beracun hanya dari baunya, ia memang tak pandai memasak namun ahli dalam menilai dan meracik resep, ia lihai dalam menggunakan berbagai pisau dapur beragam ukuran.

Kling..
Lonceng toko berbunyi pelan, seorang loper Koran baru saja melemparkan sebuah yang menabrak pintu masuknya. Rosemary memungutnya cepat, ia akan membacanya nanti sepulang berkerja. Di lihatnya sosok dengan tubuh tegap dan rambut pasirnya yang agak kepanjangan berlalu dengan gesit, Rosemary tertawa geli.
“jadi itu penyebabnya ia begitu terburu-buru”

Langit Lousiana mulai berwarna peach violet yang terpadu serasi, Rosemary menatapnya dari balkon kamarnya di lantai dua. Lousiana tampak sangat indah menjelang malam, bahkan di saat malam tiba kota ini menjelma menjadi bak sebuah kota terapung di atas laut Cantadile. Wangi pohon weeping willow tua juga tercium samar, terbawa oleh angin muson barat yang bersemilir. Matanya menatap setiap inci jalanan kota yang sedang diapit oleh rumpun kaspea dan hortensia yang menjulang dan bermekaran, indah sekali.

Dan di sana Rosemary menemukan sosok itu, terduduk di bawah pohon Elm besar yang berguguran daunnya. Namun tampaknya ia sama sekali tak terganggu, ia membenamkan wajahnya di antara tangannya yang tampak besar, lelaki menyebalkan itu lagi.

Sebuah ide terbesit di benaknya, lalu ia mulai memperkirakan jarak dan mengatur kuda-kudanya, setelah dirasa cukup, Rosemary menanggalkan sepatu merah kirinya dan melemparnya sekuat tenaga dan..
Hup! Tepat sasaran sesuai keinginannya.
Dengan sebal lelaki itu menoleh kesana kemari mencari pelaku yang telah melemparinya dengan sepatu merah bodoh sembari mengusap kepalanya yang sedikit sakit.

“hei! Bukankah kamu sedang menunggu sepatu untuk dibersihkan?!” teriak Rosemary senang dari atas balkon.
“bisa lebih sopan nona?” balas lelaki itu malas, ia masih enggan berpindah dari duduknya, keberatan.
“hmm, baiklah sepatu kanannya akan kuantarkan langsung padamu!”
Lelaki itu tetap tidak bergeming sampai tahu apa yang dilakukan Rosemary selanjutnya. Sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya.

“apa yang kau lakukan bodoh?!” teriaknya panik seraya berlari masuk pekarangan rumah Rosemary yang kini sedang berada di luar balkon tanpa berpegang apapun, seakan tidak mendengarkan teriakan panik itu, Rosemary malah tersenyum senang ke arahnya dan mulai berjalan menyusuri atap yang berkemiringan hampir 70`derajat. Dan berjalan cepat sambil beberapa kali menjaga keseimbangan, begitu tiba di bagian ujung Rosemary langsung melompat ke batang pohon oak yang tercuat di dekatnya, menuruninya dengan berpegang pada sulurnya yang berserabut kecil-kecil di atas, dan..
Huup! mendarat dengan sebuah lompatan cantik yang sempurna

Anak lelaki itu terperangah, ia bahkan telah berlari-lari dengan tangannya yang siaga menangkap gadis bodoh yang bisa saja terjatuh itu.
“kau gila!” umpatnya sebal
Rosemary hanya tersenyum senang, selagi menyodorkan sepatu kanannya.
“nih, kan sudah kubilang akan mengantarkannya langsung padamu”

Anak lelaki itu menarik nafas sebal, gadis bodoh itu telah berhasil membuatnya berlari-lari ke pekarangan rumahnya, ia menang. Dan dengan malas meraih sebelah kanan sepatu merah tanpa hak berarti itu.
Rosemary terang saja senang, sebenarnya ia masih geli mengingat ekspresi lelaki itu barusan, betapa paniknya ia selagi berlari dan mengangkat kedua tangannya bersiap menangkapnya kalau-kalau terjatuh, tetapi melihat air wajahnya yang sebal sekali Rosemary menyembunyikan niatnya itu.
Lelaki itu sekali lagi, menjadi begitu diam dan dingin. Ia langsung duduk bersandar pada batang pohon oak pendek yang tadi digunakan Rosemary untuk turun dari atap, tanpa menoleh sedikitpun padanya, Menyebalkan.

Ia mulai menggosok sepatu kiri Rosemary dengan cekatan, ia gesit, begitu simpul Rosemary. Berdiri mematung beberapa saat membuat Rosemary kesal, direbutnya sepatu kanannya dan mencari-cari sebuah kain lagi di dalam tas belacu tanpa menghiraukan pemiliknya.

“apa yang kau lakukan?” tanya pemiliknya, datar.
“wajahmu itu seakan mengatakan bahwa pekerjaan ini kau saja yang bisa mengerjakannya, sok sekali” jawab Rosemary seadanya, tanpa mengalihkan fokusnya untuk menggosok sepatu kanannya, ia juga bisa mengerjakan pekerjaan mudah seperti ini dan juga mungkin lebih cepat hingga pada finalnya kelak dapat mengubah wajah sombong orang di depannya itu.
Dan lagi, ia tersenyum mengejek, benar-benar membuat kesal. Tetapi kali ini Rosemary benar-benar serius untuk mengalahkannya.
“baik, mari kita lihat, apakah kau bisa melakukannya sebaik aku?”
“tentu, dengan senang hati” balas Rosemary telak

Pada awalnya, meraka berada di kecepatan yang setara, Rosemary sadar menggosok terlalu kuat akan merusak kulit sepatunya tetapi terlalu lembut akan memakan banyak waktu. Perlu kekuatan yang konsisten dan setara dalam waktu yang cukup panjang, dan itu bukan perkara mudah. Sepertinya lelaki itu menyadari apa yang baru saja di pikirkan Rosemary.
“kalau kau tidak bisa, tinggalkan saja”
“tidak akan” tolak Rosemary mentah-mentah

Sejujurnya, Rosemary tidak menemukan rasa kompetetif dari kalimat barusan. Hanya sebuah pendapat jujur, tetapi tetap saja ia tak ingin mengalah. Mungkin Rosemary tidak tahu, tetapi sifat keras kepalanya itu menimbulkan sebuah senyum geli.
Mereka kembali larut dalam diam dan tenggelam dalam keseriusan, terutama Rosemary, mana bisa matanya lengah sedikitpun.

“hei! Ini tidak adil” Beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa gerakan lawannya semakin cepat.
“apa maksudmu? Aku hanya ingin pekerjaan ini selesai lebih dulu, menghabiskan waktu dengan gadis aneh sepertimu rasanya kurang berguna”
Rosemary menggeram, ia menggosok lebih cepat.
“jangan sombang dulu!” balas Rosemary
Anak lelaki itu mengangkat bahu ‘salahmu yang lamban’, isyaratnya dengan sebuah senyum heran dan senang ia kembali meningkatkan kecepatan gerak lengannya, ia terlatih dan ini merupakan hal biasa baginya, mengalahkan Rosemary tentu saja merupakan perkara yang mudah. Rosemary tercengang mendapati gerakan tangannya yang tertinggal kini, ia beradaptasi cepat dengan meniru dan menambah kecepatannya
“lebih cepat lagi, ayolah” tekad Rosemary dalam hati

Di tengah keseriusannya, Rosemary mendadak merasakan seseuatu menghantam kepalanya, ia spontan mengaduh namun dengan segera menyadari benda apa yang baru saja mengenai kepalanya itu, sepatunya!
“aku selesai!” ucap lelaki itu yang kini sudah berdiri menatap Rosemary dengan senyum penuh kemenangan yang mengejek namun di luar dugaannya, Rosemary malah balik tersenyum padanya.
“baik, aku mengaku kalah. Kau memang ahli” ucap Rosemary tulus, dan dipuji seperti itu membuatnya tersipu. Ia memalingkan wajahnya, menghindari kontak langsung dengan Rosemary yang mendadak membuatnya kehilangan konsentrasi. Menatap langit lembayung Lousiana yang indah sekali mengingatkannya akan sesuatu, tetapi apakah mungkin jika..
“akh, tidak mungkin” di tepisnya sebuah pikiran yang mengganggunya
“hei!” panggil Rosemary, Lelaki itu menoleh dilihatnya sepasang bola mata yang sama menawannya seperti tadi pagi, berbinar.
“..siapa namamu?” Tersenyum, ia sudah menunggu pertanyaan ini.
“panggil aku Gil..” nada bangga dan memberikan sebuah sentuhan menyenangkan di ujung kalimatnya, ia melirik ke arah Rosemary yang tampak menunggu
“..kau?”
“Rosemary” jawabnya cepat
Gil tampak memikirkan sesuatu, Rosemary adalah bunga kenangan, tentang komitmen dan kesetiaan. Ah! Tetapi itu tidak penting untuk dipikirkan saat ini, ada sesuatu yang lebih penting, mendesak di ujung lidahnya, terdorong oleh hatinya.

“hei Rosemary, apa kau suka suasana malam kota Lousiana?” akhirnya, hanya kalimat itu yang berhasil terucap dari bibirnya, mata Gil iseng menatap arakan awan yang berjalan begitu pelan namun tetap awas memperhatikan raut wajah tidak mengerti Rosemary.
“maksudmu?”

Lampu-lampu yang tampak menggantung di ujung beberapa bangunan, rumpun bunga yang menghiasi tiap beberapa meter jalanan berpaving, dan para memusik ulung yang dengan suka rela menyumbangkan nada indah untuk menikmati malam, serta beberapa anak kecil yang tampak antusias menyimak kisah dari seseorang ‘penyihir’ berpakaian serba gelap melengkapi suasana malam di pusat kota. Indah sekali, bahkan nafas terasa menyatu dengan tawa yang bersahutan di langit-langit.
Malam ini, ada sepasang suara lagi yang menambah ricuh suasana khas pusat kota, berlarian dengan tangan yang saling bertautan. Kalian mungkin akan iri melihat betapa mesranya mereka berlarian!

“kita akan pergi ke mana Gil?” suara itu terdengar samar, lebih bukan karena banyaknya penduduk yang memutuskan keluar rumah malam ini tetapi karena perasaan senang bercampur kaget yang membuncah, bergetar penuh arti bagi Gil.
“lihat saja”
Senyum Gil manis sekali, benar-benar wajah tawa yang menyenangkan, sama seperti yang dilihat Rosemary tadi pagi. Mereka berlari namun berjalan lambat, sesaknya pusat kota membuat mereka harus bersabar ketika beberapa kali tertabrak seorang pujangga atau penyair lepas di jalanan yang sebenarnya luas itu.

“..inilah kisah mendunia dari kota Lousiana! Cinta abadi pangeran bertameng baja dan putri suci mata!..”
Sayup-sayup Rosemary dapat mendengar suara salah seorang pendongeng, ia sempat menoleh sekilas, hanya terdengar tepuk tangan dari para pendengarnya kemudian, genggaman tangan Gil yang erat memaksanya untuk tak jauh darinya, dan juga terus memaksanya beranjak. Itu adalah kisah kesukaannya. Sejak dulu, sejak kali pertama mendengarnya sebelum tidur dimasa kecilnya, ia mengagguminya, tak henti hingga dewasa ini.

Gil juga menunggu dentang putih yang memperingati kisah cinta mereka, namun ia mengelak, menolak menjawab dan menyebutkan alasannya. Kisah itu tidak memiliki akhir, Rosemary tahu itu, semua penduduk kota juga tahu, lalu apa?
Kisah itu tetap pernah terjadi kan?

Cerpen Karangan: Hafizhatunnisa
Facebook: Hafizha Anisa

Cerpen More Then merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Mencintai Ku (Part 1)

Oleh:
Namaku Amel, usiaku 16 tahun, sekarang aku duduk di bangku SMA kelas dua. Aku memiliki 3 sahabat yang selalu setia menemaniku, Sariani, Nor dan juga Regas. Karena kekompakan dan

CoMis (Cowok Misterius)

Oleh:
Di tengah derasnya hujan, alice menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya. Menangis sesenggukkan, itulah yang dilakukan alice di bangku taman. “hai, kehujanan?” tanya seorang laki-laki berbadan lumayan tinggi, putih,

Liliana Story

Oleh:
Liliana Roxel adalah gadis sederhana yang tinggal di tepi hutan. Umurnya kini sudah mulai menginjak 10 tahun. Liliana diurus oleh neneknya, Neneknya bercerita bahwa orangtua Liliana sudah meninggal. Tetapi

Peri Sungai

Oleh:
“Peri itu gak ada” itulah yang selalu diucapkan teman temanku di sekolah seraya menghina dan mencemoohku. Namaku Rino dan aku sudah duduk di bangku SMP kelas 1. Memang aneh

I’m Always Here With You (Part 2)

Oleh:
Setibanya di rumah… “lexa.. lexa.. kakak datang.” Teriak kakaknya dari ruang tengah. Tidak ada yang menyahut. Dia kembali memanggil. Namun bukan jawaban yang ada melainkan suara tertawa yang sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *