MoU Cinta (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 March 2018

Aku sudah membuat list untuk isi MoU nanti. Hari ini aku akan bertemu dengan cowok yang tidak kutahu namanya itu untuk membahas hal tersebut. Kami janjian bertemu di sebuah restoran agar lebih tenang dan tak ada yang mendengar pembicaraan kami. Aku datang lebih dulu ke restoran itu.

“Sudah lama nunggunya?” tanya cowok itu sudah datang.
“Gak juga!” jawabku.
“Gimana? Lo udah buat list-nya?” tanyanya lagi.
“Udah! Kamu?” tanyaku.
“Sudah dong!” katanya.
“Okay, mari kita bahas per point!” kataku.
“Wait, sebelumnya harus diperjelas dulu siapa pihak pertama dan siapa pihak kedua!” kataku kemudian.
“Gue aja pihak pertamanya dan lo pihak kedua,” katanya.
“Okay!” kataku setuju.

Kami melihat list kami masing-masing dan mulai membahasnya satu per satu, dimulai dari list-ku.
“Point pertama, kedua belah pihak tidak boleh memberitahu keluarga mengenai hubungan ini. Gimana?” tanyaku.
“Of course!” jawab cowok itu.
“Okay, next! Second point, pihak pertama tidak boleh melakukan kontak fisik yang berlebihan kepada pihak kedua. How about?” tanyaku.
“Kontak fisik yang berlebihan? Kayaknya itu ambigu deh! Kata ‘berlebihan’ di sini tidak jelas, harus dirincikan!” katanya.
“Masa harus ditulis semua jenis kontak fisiknya?” tanyaku.
“Ya iyalah! Dalam MoU, semuanya harus detail. Kita harus menyepakati dari awal kontak fisik yang berlebihan itu seperti apa, misalnya kissing, pelukan, atau apalah,” katanya lagi.
“Okay, kita ubah aja kata-katanya kalo gitu!” kataku.

Kami berpikir sejenak kata-kata yang cocok untuk memperbaiki point keduaku itu.
“Ah, gini aja! Pihak pertama tidak boleh melakukan kontak fisik tanpa izin pihak kedua. Gimana?” tanya cowok itu memberi saran.
“Okay!” kataku mengangguk-angguk.
Kami terus membahas berbagai point per point dari list-ku. Sekarang giliran cowok itu.
“Sekarang giliran gue!” katanya.
“Wait, kalo dipikir-pikir kita belum pernah kenalan secara resmi, ya?” tanyaku.
“Apa harus?” tanyanya.
“Iyalah! Kamu kan sudah tahu nama aku. But, I don’t know your name!” kataku.
“Okay! Introduce myself, Davirzha!” katanya.
“Terus, aku panggil apa? Gimana kalo Davi aja?” tanyaku.
“Up to you lah!” katanya.
“Okay, sekarang mulai ya! Kalo gue gak banyak kok, cuma satu point aja! Pihak pertama boleh memanggil pihak kedua kapan dan di mana saja,” kata Davi.
“Hah? Kapan dan di mana saja? Mana bisa begitu? Kalo aku lagi tidur terus kamu panggil aku harus dateng gitu?” tanyaku.
“Bukan begitu maksudnya. Intinya, kalo gue butuh, lo harus selalu ready dalam kondisi apapun. Lo gak harus muncul di hadapan gue. Bisa saja kita ngobrol untuk menunjukkan hubungan kita via telepon atau video call. So, you have to always on for me!” kata Davi menjelaskan.
“Kayaknya, itu agak merepotkan untuk aku!” kataku berpikir.
“Tenang aja! Gue gak akan hubungin lo di saat-saat istirahat, kecuali kalo urgent banget. Lo gak usah khawatir deh,” katanya lagi.
“So, apa hukuman bagi yang melanggar?” tanyaku kemudian.
“Gue gak biasa ngasih hukuman ke orang. Coba lo pikir deh!” kata Davi.
“Apa, ya?” tanyaku sambil berpikir.

Kami sama-sama berpikir tentang hukuman bagi pihak yang melanggar kesepakatan.
“Ah, gimana kalo pihak yang melanggar jadi pembantu selama seminggu di rumah pihak yang dilanggar?” tanya Davi.
“Pembantu?” tanyaku.
“Kenapa? Gue tinggal sama pembantu di rumah, gak ada keluarga. Kalo lo?” tanya Davi.
“Sebenernya juga gak ada keluarga di sini. Mereka semua ada di luar kota. Tapi, aku punya adik cowok yang tinggal di Jakarta juga. Meski dia tidak tinggal serumah sama aku, dia bisa tiba-tiba datang. Kalo kita ketahuan, bisa diaduin,” kataku khawatir.
“Tenang aja! Emang lo punya niat melanggar?” tanya Davi.
“Ya, enggaklah!” jawabku.
“Kalo gitu gak usah bimbang lagi. Kita jalanin aja dulu!” katanya.

“Rin, lo harus nemenin gue hari ini!” kata Davi siang bolong begini.
“Aduh, aku baru keluar kelas! Aku janjian sama temen nih!” kataku.
“Lo gak lupa kan sama MoU kita?” tanyanya mengingatkan.
Aku menarik nafas mengingat hal itu.
“Tapi, mau ke mana sih? Emang harus sekarang, ya?” tanyaku.
“Iya, harus sekarang! Dinda pengen ini semua diselesaikan dengan damai katanya,” kata Davi.
“Dinda?” tanyaku bingung.
“Iya, Dinda! Cewek yang di cafe waktu itu!” katanya.
“Mau ngomong apa sih? Emang gak bisa apa ngomong di telepon aja?” tanyaku lagi.
“Udah deh! Jangan menolak lagi. Kita bisa selesaikan MoU ini lebih cepet kalo Dinda sudah nyerah,” kata Davi lagi.
“Jadi, MoU kita akan berakhir kalo si Dinda itu tidak ngejar kamu lagi?” tanyaku.
“That’s right!” jawab Davi.
“Ya udah! Kayaknya aku juga gak tahan deh,” kataku.

Kami segera menuju tempat janjian dengan Dinda.
“Mana dia?” tanyaku.
“Itu dia!” kata Davi sambil menunjuk Dinda yang sedang duduk sendirian.
Kami berjalan menuju meja Dinda.
“Sorry, udah buat lo nunggu lama!” kata Davi.
“Santai aja!” kata Dinda sambil melihat ke arahku.

Aku duduk di samping Davi dan kami pun berhadapan dengan Dinda.
“Apa yang ingin lo sampaikan?” tanya Davi memulai pembicaraan.
“Aku cuma pengen bilang kalo aku akan ke luar negeri ngelanjutin kuliah. Aku pengen ketemu kamu aja sebelum pergi. Tapi, ternyata kamu ajak dia ke sini,” kata Dinda sambil melirikku.
“Namanya Arin!” kata Davi memperkenalkanku.
“Berapa lama lo di sana?” tanya Davi.
“Rencananya tiga tahunan. Apa kamu seneng aku pergi?” tanya Dinda.
“Din, lo tahu dengan baik siapa gue! Gue gak terima perjodohan ini bukan karena apa-apa. Gue mengenal lo dari kecil. Gue ngeliat lo tumbuh. Gue udah nganggap lo seperti adik gue sendiri,” kata Davi.
“Karena itu aku jadi merasa memiliki kamu. Aku jadi posesif dan tak suka kamu deket sama cewek lain. Karena itu juga kamu semakin gak suka sama aku, kan?” tanya Dinda.
“Kita gak usah bahas itu lagi. Gue yakin lo bakalan nemu cowok yang bisa ngertiin lo,” kata Davi tampak begitu dewasa ketika bicara seperti itu.
Entah kenapa aku merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya ketika melihat Davi seperti itu.

“Ya udah! Aku pergi duluan,” kata Dinda dan pergi.
Kami melihat Dinda pergi hingga menghilang dari pandangan kami.
Davi menarik nafas panjang.
“Finally!” katanya.
“So, MoU kita berakhir di sini?” tanyaku seperti tak rela.
“Kita tunggu sampe Dinda betul-betul pergi,” jawab Davi.
Aku merasa senang mendengar jawabannya.
“Perasaan apa ini?” tanyaku dalam hati.

“So, kamu udah tahu siapa namanya?” tanya Lola.
“Iya, dong! Kan aku harus tulis namanya di MoU!” jawabku.
“Terus, namanya siapa?” tanya Lola penasaran.
“Davi!” jawabku singkat.
“Davi? Davi? Davi?” tanya Lola seperti mengingat-ingat sesuatu.
“What’s wrong?” tanyaku bingung.
“Katanya dia populer! Tapi, kok aku gak inget ada cowok populer dengan nama Davi di kampus ini. Atau… dia dari kampus lain, ya?” tanya Lola.
“Dia kuliah di kampus yang sama dengan kita. Emangnya kamu hafal semua orang populer di kampus ini?” tanyaku.
“Kamu itu temen aku atau bukan, sih?” tanya Lola.
“Menurut kamu?” tanyaku balik.
“Kita temenan bukan sehari dua hari, tapi sudah bertahun-tahun. Masa kamu tidak mengenal aku dengan baik. Harusnya kamu tahu aku gak akan pernah melewatkan info tentang kepopuleran seseorang di kampus kita ini. Jangankan kampus kita, satu universitas pun aku tahu!” kata Lola begitu membanggakan diri.
“Iya. Iya. Aku tahu. Tapi, mungkin juga kamu tidak mengenal Davi. Siapa tahu dia adalah mahasiswa lama sebelum kita ada di kampus ini,” kataku.
“Apa mukanya keliatan sangat tua untuk jadi mahasiswa?” tanya Lola.
“Mmmmm, gak juga! Mukanya masih keliatan muda, kok! Selain itu, dia juga lumayan cakep sebagai cowok,” jawabku sambil mengingat-ingat wajah Davi.
“Kalo gitu, mungkin dia baru-baru saja populer di kampus ini! Atau… dia mahasiswa pindahan kali! Kamu sudah tanya-tanya belom sama dia?” tanya Lola.
“Aku gak nanya sampe di situ,” jawabku.
Lola geleng-geleng kepala melihatku. Aku merasa kenapa dunia jadi terbalik seperti ini. Tadinya, aku selalu lebih baik dari Lola. Aku selalu memberi saran dan nasehat kepada dia. Tapi, sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Sepertinya, dunia ini memang benar-benar berputar tanpa kita sadari.
“Anytime, aku pengen ketemu sama dia! Boleh, kan?” tanya Lola sangat penasaran.
“Nanti aku tanya dia dulu, ya! Soalnya, salah satu isi MoU kita adalah hal ini tidak boleh ketahuan oleh pihak lain,” jawabku.
“Beritahu saja dia kalo aku sudah tahu kalian mau buat MoU dari awal,” kata Lola.
“Okay!” jawabku.

“Apa? Temen lo penasaran tentang gue?” tanya Davi.
“Iya! Soalnya, dia selalu update mengenai kepopuleran siapapun di kampus ini. Tapi mendengar nama kamu, dia sama sekali tak tahu,” jawabku menjelaskan.
Aku berpikir sejenak tentang ketidaktahuan Lola terhadap Davi yang katanya populer di kampus. Aku menarik sebuah kesimpulan.
“Apa kamu mengibuliku?” tanyaku dengan tatapan curiga.
“Mengibuli apa?” tanya Davi bingung.
“Mengibuli bahwa kamu populer di kampus ini, padahal sebenernya tidak begitu!” kataku.
“Gue gak ada waktu untuk ngibulin orang! Dan, satu hal lagi. Tingkah cewek-cewek waktu gue pertama kali pindah ke sini yang membuat gue merasa populer,” kata Davi membela diri.
“Jadi, kamu mahasiswa pindahan?” tanyaku.
“Iya!” jawab Davi singkat.
“Ohh, pantas saja Lola gak tahu kamu!” kataku.
“Lola?” tanya Davi.
“Iya! Dia temen aku yang pengen ketemu sama kamu,” kataku.
“Sebaiknya, kita tidak usah melibatkan temen deh!” kata Davi menolak.
“Tapi, kalo ini hanya rahasia kita berdua akan sulit. Harus ada orang lain yang tahu supaya menguatkan hubungan pura-pura kita ini. Lagipula dia sudah tahu bahkan sebelum MoU kita dibuat,” kataku.
“Kalo gitu, gue pikir-pikir dulu deh!” kata Davi.
“Untuk apa sih dipikir-pikir lagi?” tanyaku memaksa.
“Ini demi kebaikan kita berdua. Gue harus memperhitungkan baik buruknya ada pihak lain yang tahu mengenai hal ini,” jawab Davi tegas.
Dia terlihat begitu keren ketika tegas seperti itu. Aku memuji dalam hati sambil memandangnya.

“Kok, dia nolak sih?” tanya Lola kecewa.
“Katanya dia mau mikir dulu mengenai baik buruknya kalo harus ada orang lain yang tahu tentang hubungan kami,” jawabku.
“Kayaknya dia cowok yang penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan dalam hidupnya,” kata Lola.
“Kok, kamu bisa bilang begitu?” tanyaku.
“Semua orang juga bisa tahu hanya dengan jawaban yang kamu bilang tadi,” jawab Lola.
“Kok, aku perhatiin kamu semakin pinter dan cerdas akhir-akhir ini?” tanyaku penasaran tentang perubahan Lola.
“Iya, aku harus jadi cewek smart untuk bisa menaklukkan hati seseorang!” kata Lola sambil tersenyum misterius.
“Seseorang?” tanyaku penasaran.
“Iya!” jawab Lola semakin melebarkan senyumnya.
“Siapa dia? Apa cowok yang kamu kagumi itu?” tanyaku.
“Iya!” jawab Lola singkat.
“Aku jadi penasaran siapa cowok itu. Dia betul-betul hebat bisa mengubah kamu menjadi pinter seperti ini,” kataku.
Lola senyum-senyum sendiri.

Hari ini aku janjian dengan Davi di perpustakan kampus. Kami akan membahas tentang kelanjutan MoU setelah kepergian Dinda ke luar negeri. Kami sengaja memilih tempat yang paling pojok dan jauh dari orang lain yang juga ada di perpustakaan. Hal ini agar mereka tak mendengar percakapan kami.

“So, apa yang akan kita lakukan?” tanyaku memulai.
“Sepertinya, tidak ada gunanya juga MoU ini dilanjutkan. Sebaiknya, kita akhiri saja!” jawab Davi.
Aku sedih mendengar jawaban Davi yang seperti tak berperasaan bagiku.
“Kenapa harus sekarang sih berakhirnya?” tanyaku pada diri sendiri.
“Iya?” tanya Davi.
“Hah?” tanyaku balik.
“Tadi lo ngomong apa? Gue gak denger,” tanya Davi ternyata hampir mendengar omonganku tadi.
“Ohh, gak ngomong apa-apa kok!” kataku sambil tersenyum.
“Jadi gimana?” tanya Davi lagi.
“Ya udah! Kalo keputusan kamu seperti itu, aku sih ikut aja!” jawabku.
“Kok, cuma keputusan gue sih! MoU ini kan kita buat sama-sama. Jadi, harus diputuskan bersama juga,” kata Davi.
“Iya, I know! Tapi, ini semua kita lakukan untuk membantu kamu kan? Untuk kepentingan kamu, kan? Jadi, terserah kamu aja!” jawabku.
“Kalo gitu, kita lanjutkan saja MoU-nya!” kata Davi.
“Hah?” tanyaku kaget.
“Iya, kita lanjutkan saja! Salah, kita publikasikan saja ke semua orang supaya gak ada lagi cewek yang gangguin gue. Kalo perlu orangtua gue tahu supaya gak ada lagi jodoh-jodohan,” kata Davi membuatku terkaget-kaget.
“Kamu gak sakit, kan?” tanyaku shock dan memegang jidat Davi.
“Enggak!” jawab Davi memegang jidatnya juga.
“Kok, kamu bisa mikir sampe sejauh itu sih? Kalo gak sakit, pasti gila deh!” kataku.
“Ya udah! Gak usah dibuat ribet deh!” kata Davi.
Aku masih shock dengan apa yang barusan dikatakan Davi. Aku antara kaget dan senang.

Aku berjalan menyusuri koridor kampus dengan memikirkan kata-kata Davi di perpustakaan tadi. Aku senyum-senyum sendiri. Mungkin orang yang melihat menganggap aku sedikit stress. Terserahlah, aku mau menikmatinya. Sementara berjalan, aku melihat Lola duduk di bangku taman. Aku segera menghampirinya.

“Lola!” sapaku dan langsung duduk di sampingnya.
Aku melihat muka Lola yang cemberut. Sepertinya dia ada masalah.
“What’s wrong with you?” tanyaku.
Lola diam saja. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Sepertinya ini masalah serius.
“Are you okay?” tanyaku lagi.
“Lola, kalo kamu ada masalah cerita sama aku!” kataku lagi.
“Gak usah sok baik, deh!” kata Lola akhirnya bicara.
“Hah? Maksud kamu apa?” tanyaku bingung.
“Kamu gak usah muna’ di depan aku,” kata Lola lagi dengan wajah penuh emosi.
“Muna’? Munafik? Maksud kamu apa sih? Aku gak ngerti deh? Kamu baik-baik aja, kan?” tanyaku semakin bingung.
“Gimana? Apa Davi sudah mau ketemu sama aku?” tanya Lola tiba-tiba.
“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang hal itu?” tanyaku heran.
Lola tersenyum sinis.
“Tentu saja kamu gak akan ngebiarin dia ketemu sama aku,” kata Lola sinis.
“Kamu kenapa, sih? Kamu kesambet setan apa sampe kayak gini?” tanyaku sudah tak sabar melihat tingkah Lola yang tak biasa.
“Arin, kamu betul-betul musuh dalam selimut! Kamu tahu aku suka sama dia. Tapi, kamu tega sekali mempermainkan perasaan aku,” kata Lola emosi.
“Hah? Musuh dalam selimut? Maksud kamu, aku berkhianat gitu?” tanyaku semakin tak mengerti.
“Udah deh, gak usah pura-pura lagi! Kamu pasti sangat menikmati meliat aku yang begitu bego di depan kamu, kan? Iya, aku emang bego, bodoh! Kamu yang terbaik. Terbaik dalam hal apapun, bahkan ahli dalam menusuk teman sendiri dari belakang,” kata Lola.
“La, aku bener-bener udah gak sabar dengan apa yang kamu bilang dari tadi! Sekarang, perjelas maksud kamu apa!” kataku mulai emosi juga.
“Kenapa kamu menyebut dia Davi?” tanya Lola lagi.
“Jadi, kamu marah seperti ini karena Davi? Apa kamu juga suka sama dia? Bukannya kamu sudah punya seseorang yang kamu sangat kamu suka?” tanyaku mulai paham apa yang terjadi.
“Kamu sangat pandai berakting. Kenapa kamu gak jadi artis aja?” tanya Lola begitu sinis.
“Lola, kita bisa bicara baik-baik! Jadi, gak usah diputer-puter. To the point aja, deh!” kataku setengah berteriak.
Kami diam sejenak.
“Kenapa kamu harus melakukan hubungan pura-pura itu dengan Virzha?” tanya Lola membuatku kaget.
“Virzha?” tanyaku.

Aku berusaha mencerna apa maksud Lola sebenarnya.
“Kok, kamu bilang aku melakukan hubungan pura-pura dengan Virzha? Aku kan sudah pernah bilang kalo namanya Davi bukan Vir…!” kataku terhenti setelah mengingat sesuatu.
“Iyya! Nama lengkapnya Davirzha. Ohh My God! Aku memanggil dia Davi, bukan Virzha,” kataku ketika sadar.
“Tapi, dari mana kamu tahu kalo Davi itu adalah Virzha?” tanyaku penasaran dengan yang terjadi.
“Aku ngeliat kalian di perpustakaan tadi!” jawab Lola dengan emosi yang mulai mereda.
Aku tertawa geli mengetahui hal ini.
“Lolaaa! Ini pasti ada misunderstanding. Aku sama sekali gak tahu kalo Davi itu adalah Virzha,” kataku.

Lola nampak sedang berpikir dengan apa yang kukatakan.
“Kamu betul-betul gak tahu?” tanya Lola belum percaya.
“Iya!” jawabku.
“Kamu gak bohongin aku, kan?” tanya Lola lagi.
“Lola, seperti kata kamu kita tidak berteman sehari atau dua hari. Tapi, bertahun-tahun. Masa kamu tega sih nuduh aku menusuk kamu dari belakang. Apa aku berpotensi melakukan hal seperti itu?” tanyaku membela diri.
“Kamu betul-betul gak tahu?” tanya Lola masih tidak yakin.
“Terserah kamu deh mau percaya atau enggak! Yang jelas, aku udah jelasin semuanya sama kamu!” jawabku mulai kesal.
“Berarti aku salah paham, dong!” kata Lola dengan wajah penuh penyesalan.
Aku diam saja dan memasang wajah cemberut di depan Lola.

“Kamu marah, ya? Sorry deh!” kata Lola menyadari kekecewaanku.
“Jangan marah lagi, ya! Aku traktir makan, ya!” kata Lola membujukku.
Aku menarik nafas panjang.
“Baiklah! Tapi, jangan pernah sekali-kali kamu ulangi kecurigaan yang seperti itu kepadaku. Aku tidak akan menusuk temen sendiri dari belakang,” kataku dengan tegas.
“Okay!” kata Lola dengan senyum merayu.

Cerpen Karangan: Emma J.
Blog: ceritakujie.blogspot.com

Cerpen MoU Cinta (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kursi Merah Dan Bunga Sepatu

Oleh:
Persahabatan antara Arka dan Loly sudah sangat lama, sekitar enam tahunan. Dalam persahabatan pasti terdapat kisah senang, sedih, canda tawa, dan sebagainya. Tapi, yang paling membuat mereka berjarak hanya

Sahabat Sejatiku

Oleh:
Aku angel. Umurku 11 tahun. Aku mempunyai sahabat yaitu Cylla. Dia adalah sahabat terbaikku. Tapi suatu hari. Aku merasa ada yang aneh dengan Cylla. Dia sering mimisan dan pingsan

5 Tahun Yang Silam

Oleh:
Aku wanita yang mudah mencintai tapi sulit untuk melupakan, walaupun telah banyak ku temukan tapi tetap saja aku masih mengingatnya. Telah ku coba berbagai cara untuk melupakannya namun tak

Tiga Sore Yang Dungu

Oleh:
Suara ombak terus memukul telinga. Tampak menghantam karang lalu pecah menjadi bulir-bulir udara, sebagian menerpa wajahku, membuat basah. Mungkin sebasah hatiku yang sedang digelayuti rasa tak tentu. Angin terus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *