Move On!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 23 May 2013

Dira datang dengan tergesa-gesa menghampiriku yang sedang duduk sendirian di kantin, sedang menghabiskan sarapan pagiku.
“Eh nyet, tumben amat lo jam segini udah ke kampus?” Ujarku begitu dia menyambangi mejaku
“Kampret. Gue bawa kabar baik nih buat lo,” sahutnya sambil menyambar gelas berisi susu cokelat hangat punyaku. Yah, dia memang suka mencomot makanan atau minumanku tanpa izin.
“Apaan sih?” Tanyaku malas-malasan dan menggeser piring makanku ke sudut meja.
“Ih lo tuh ya, penasaran dikit kek. Nih semalem ada tiga cowok yang nanyain nomer lo gara-gara baca artikel kampus yang majang foto lo. Satu anak sastra, satunya anak sospol dan satu lagi anak antro. Bersyukur lo punya temen anak jurnalis kaya gue, ikutan tenar kan paling enggak,” Cerocosnya dengan penuh semangat.
Entah sejak kapan Dira punya kebiasaan membawa kabar baik tentang cowok-cowok yang tiba-tiba menanyakan nomerku melaluinya. Lama-lama aku jadi curiga, mungkin dia yang mempromosikanku, bukannya para cowok itu bisa langsung bertanya kepadaku?.
“Ah males gue Dir, enggak minat punya pacar.”
“Ih lo itu, dari dulu punya alasan enggak ada kreatif-kreatifnya. Ini antrian laki udah panjang Cit, lo nungguin apa lagi? Tinggal pilih aja lo mau yang mana kan,”

Gara-gara artikel di majalah kampus yang pemimpin redaksinya adalah Dira, tiba-tiba aku jadi mendadak terkenal. Di edisi kemarin, Dira mengulas tentang para mahasiswa kampus yang ikut pertukaran pelajar ke Vietnam selama empat minggu, di situ terpampang jelas profilku, belum lagi edisi beberapa bulan yang lalu yang juga membahas profilku sebagai salah satu enterpreneur muda dan di tambah edisi perdana majalah kampus tahun lalu, wajahku terpampang sebagai covernya, alasannya karena aku high quality jomblo. Dasar iseng Dira itu, Entah bagaimana prosesnya tahu-tahu sudah ada CFC (dan bukan singkatan dari California Fried Chicken) yang merupakan kepanjangan dari Citra Fans Club.

Sudah tidak terhitung banyaknya kiriman bunga atau cokelat atau boneka dari orang-orang yang aku tidak kenal yang terkadang sering kali aku hibahkan begitu saja ke Dira. Cewek lain mungkin sirik berat dan ingin berada di posisiku, tapi aku justru ingin ada yang dengan rela menggantikan aku. Aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam ini.
“Gue males aja ah Dir, enggak minat sama yang beginian. Masih betah ngejomblo,” Ujarku memberi alasan
“Eh lo itu udah bertahun-tahun ngejomblo. Nungguin apaan sih? Masih belum bisa move on dari si Reno yang brengseknya luar biasa itu?”
Aku spontan menutup kupingku. Nama itu layaknya barang haram yang tidak boleh di sebut didepanku.
“Please, bisa gak kita enggak usah nyebut-nyebut nama itu?”
“Iya iya iya nona manis, tapi lo masih keinget dia kan mantan lo yang pacarannya dari jaman SMA? Belum bangkit dari dia kan? Dia aja udah enggak keitung pacaran sama berapa cewek sejak abis dari lo. Lo putus juga gara-gara dia selingkuh sama tiga cewek sekaligus kan? Cewek sekampus pula, enggak professional banget cara selingkuhnya. Yang naksir sama lo kan juga banyak Cit, masa dari segitu banyaknya enggak ada yang bikin lo kesengsem. Kalau lo sendiri gak mau usaha buat bangkit ya selamanya lo bakalan kaya gini terus, enggak guna juga meratapi orang yang udah enggak mikirin kita lagi kan.”

Kata-kata Dira masih terngiang jelas di telingaku. Memang aku sudah cukup lama menjadi jomblo, tapi apa iya semenyedihkan itu menjadi jomblo? Itu memang sudah keputusanku, walau tuduhan Dira yang bilang bahwa aku belum bisa move on dari Reno sejak nyaris dua setengah tahun yang lalu tidak sepenuhnya salah. Bayangkan, kami jadi pasangan ideal waktu itu, berpacaran dari SMA selama nyaris empat tahun. Sampai aku menemukan fakta bahwa dia berselingkuh tidak hanya dengan satu orang tapi beberapa orang sekaligus, dan bodohnya mangsanya adalah mahasiswa dari jurusan lain di kampusku. Berlagak jadi playboy tapi salah mencari mangsa, maklum belum professional sepertinya. Tapi di luar kelakuannya yang menyakitkan hati, sisi baiknya selama kami pacaranlah yang membuatku sulit lupa meski tahu dia brengsek luar biasa. Tapi kali ini kuputuskan untuk maju, dan menghapus bersih semua ingatan soal –dia yang tidak boleh disebut namanya- itu.

Dan disinilah aku, di sebuah kafe kecil langgananku. Duduk bersama Satrio, anak satu kampus dari jurusan SosPol, yang dulu dikenalkan Dira. Sejak ceramah panjang lebarnya akhirnya kuputuskan untuk menerima sarannya, mengikuti kencan buta. Dan ini kencan buta yang kesekian kalinya aku jalani. Kencan buta yang selalu di atur oleh Dira. Aku jadi tak sampai hati untuk bilang tidak tiap kali dia bertingkah seperti ini, sahabatku satu itu memang benar-benar serius ingin mencarikan aku pacar baru supaya aku bisa segera MOVE ON dari si brengsek itu.

Dan beberapa kejadian konyolpun terjadi saat kencan buta, diantaranya kencan bersama Fahmi, anak kedokteran yang bawaannya mobil sport Mazda RX-8 serta beberapa mobil mewah lainnya. Heran juga karena setiap kami keluar mobil yang dipakainya selalu saja berbeda. Sampai pada akhirnya di kencan ketiga kami yang membuatku tidak tahan karena dia bawel luar biasa, seperti dua Dira dijadikan satu. Belum lagi tambahan ucapannya yang selalu memamerkan betapa kayanya dia. Bah, mana tahan aku harus pacaran dengan lagi-laki seperti itu.

Ada lagi Reyhan, anak jurusan sastra Belanda, badannya tegap dan atletis, wajahnya-pun bisa di bilang lumayan, yang waktu itu membawaku kencan ke resto Belanda, setelah memesan menu paling spesial disitu dan ketika akan membayar, dia malah berkilah memberi alasan ‘Dompet gue ketinggalan’. Yah kalau masih sekali atau dua kali mungkin aku masih tidak masalah, tapi sampai kencan ketiga kami dia masih saja memberikan alasan yang sama.

Belum lagi Mario, anak jurusan Teknik Sipil yang macho dan tegap tapi aroma badannya juga tidak kalah luar biasanya. Dan cerita-cerita lainnya hingga akhirnya pilihanku jatuh pada Satrio. Satu tingkat diatasku, mahasiswa SosPol tingkat akhir. Kali ini sudah masuk hitungan ketiga untuk kencan kami. Aku punya satu pakem standar kencan, dimana menurutku batas ketika aku ingin melanjutkan hubungan ini adalah terletak di kencan ketiga.

Sejauh ini orangnya cukup oke, tahu cara memperlakukan wanita, tidak bawel, dan yang terpenting dia bebas bau badan. Kami sudah saling rajin ber-sms-an ria dan mulai menebarkan jurus-jurus ala orang yang sedang pedekate hampir satu bulan. Dari segi fisik, dia tampan, badannya tegap, dan tubuhnya proporsional. Yang aku tahu, dia ini juga tergolong aktivis kampus, pernah menjabat sebagai ketua pecinta alam kampusku. Sejauh yang aku tahu, dia punya satu orang adik. Dia sudah lama menjomblo, dan kami punya cukup banyak kesamaan hobi.
“Eh, minggu ini nganggur gak Cit?” Ujarnya di sela-sela makan malam kami
“Kosong sih, kenapa kak?”
“Ah, masih kaku aja lo, gak usah pake panggil kak segala. Kayak baru kenal aja. Kita ke pantai yuk,”
Aku terlonjak kaget sampai nyaris melongo, tahu saja dia betapa aku sangat mencintai pantai, “Boleh, boleh. Dalam rangka apa nih?”
Satrio tersenyum penuh arti dan menatapku, “Soalnya mau ada Family Gathering Cit. Boleh dong gue ngebawa orang yang spesial buat gue,”
Nah lho, nah lho. Ini sih semacam kode banget. tiba-tiba mendadak jantungku berdebar tidak karuan, dugaanku setelah ini…
“Lo mau gak jadi cewek gue? Mungkin emang kecepetan, tapi gak tahu ya Cit, gue nyaman banget sama lo, dan gue sayang sama lo Cit”
JREEEENGGG JREEENGGGG.
Sebenarnya aku senang luar biasa, dan tanpa pikir panjang kuputuskan untuk mengiyakan ajakannya. Resmilah kami jadi pasangan baru.

“Cieeee, udah punya monyet baru nih lo ceritanya?” Ujar Dira yang langsung menghampiriku di Kampus keesokkan harinya.
“Apaan sih? Masa Satria di bilang monyet,” sahutku
“Ah sensi amat nih pasangan baru. Selamet ya nyet, akhirnya lo move on juga. Gue kirain lo emang udah beneran enggak bisa suka sama cowok lagi nyet.”
“Eh sembarangan lo. Gini-gini gue masih belum minat sama sesama jenis ya.”
“Abis ini gue mau buatin buletin edisi “Couples Campus” ah nyet.”
“Ih ngapain banget sih? Gue bukan seleb non, gak pake publisitas begituan ah, ogah gue.”
“Lo inget gak sih? Lo sama dia itu pernah sama-sama mengisi kolom high quality jomblo dan pasti bakal seru banget kalau sampai ada berita tentang bersatunya duo high quality jomblo ini nyet,” Ujar Dira berapi-api. Aku Cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah sahabatku satu ini.

Pantai Pangandaran siang ini rasanya berbeda dengan yang terakhir kali aku kunjungi. Dulu yang menemaniku adalah Rheno, tapi sekarang ada Satria disini. Kata Dira, Orang baru selalu membawa sensasi baru ternyata memang benar. Kami datang lebih pagi di banding keluarganya, terlalu pagi malah. Satria bilang ia hanya ingin melihat matahari terbit bersamaku. Isn’t that really sweet, huh? Many thanks to Dira yang sudah memperkenalkan aku dengan orang sebaik Satria.

Kira-kira pukul sembilan pagi, sebuah mobil Avanza berwarna silver yang cukup aku kenali platnya, berhenti di dekat tempat kami akan mengadakan Family Gathering. Jantungku berdebar kencang, pintu mobil terbuka dan yang keluar adalah…
“Dek, kok lo lama banget sih?”
“Iya, macet tadi kak, lo aja yang kecepetan, mana sih pacar baru lo?”
Suara yang sudah sangat ku hapal, dan dia adalah RHENO!! Rheno si brengsek yang sudah membuat aku gagal move on berulang kali akibat ulah brengseknya dia. Tadi dia memanggil Satria apa? Kakak?
“Rhe-no?” Ucapku terbata-bata sambil memberanikan diri menatap wajahnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Lho, Kalian Saling kenal?” Ujar Satria kebingungan sambil menatap kami.
“Jadi pacar baru lo Citra bang?”
“Iya dek, eh tapi kayaknya kalian udah saling kenal deh jadi gak usah pake perkenalan lagi ya?” Jawab Satria sambil
tertawa kemudian.
“Kalian adik kakak?” Tanyaku pasrah.
“Iya Hon, aku pernah bilang kan, aku punya adik cowok setingkat sama kamu. Eh enggak tahunya kalian udah saling kenal, kenal dari mana?”
“Tapi kamu enggak pernah bilang kalau adik kamu itu Rheno Aditya dan Rheno juga gak pernah bilang dia punya kakak cowok namanya Satria,” Ujarku panik bercampur lemas.
“Iya dia kan kalau di rumah panggilannya Adit, aku lupa nyebut nama panjangnya. Eh kalian kenal dimana?” Ucap Satria mengulangi pertanyaannya yang belum ku jawab.
“Abang gue kan namanya Satria Ramadiputra, dia dipanggilnya Rama kalau di rumah Cit,” Sahut Rheno tiba-tiba
“Kok bisa kenal sih kalian?” Ulang Satria sambil mengernyitkan dahinya.
Seketika itu aku lemas dan menghembuskan napas panjang. Satu-satunya yang harus disalahkan adalah Dira! Aku ralat ucapanku tadi.
Sial kalau begini jadinya bagaimana aku bisa Move on kalau harus terus bertemu dengan Rheno?

Cerpen Karangan: Zhea
@reren_renita
an amateur writer, will be a professional soon.

Cerpen Move On! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Wedding (Part 1)

Oleh:
Aku menatap bayangan dalam cermin, bayangan diriku sendiri, dengan gaun warna ungu muda, rambut yang ditata sangat indah, dan polesan make up yang menambah keanggunan seorang pengantin, ya hari

Long Distance Relationship

Oleh:
Bermulai ketika libur kami bertemu di acara liburan ke gunung bromo yang diadakan sebuah tempat kursus, sebelumnya kami tidak mengenal satu sama lain hanya sesekali bertatap muka saling berpandangan

Cinderella Dadakan

Oleh:
Syadza Stephanie. Itulah nama gadis berkacamata, rambut dikucir kuda, memakai seragam ala SMA, membawa beberapa lembar kertas yang dijepit pada papan ulangan, juga sebuah bolpoin hitam. Ia tampak sibuk

Rumah

Oleh:
Kalau bagimu bahagia adalah terus berpindah, bagiku bahagia adalah menghirup satu meter kubik udara yang sama denganmu. Mengeksresi karbon dioksida dalam dimensi ruang yang sama, berbagi lelucon yang sama

Setetes Harapan

Oleh:
Cinta… ya kata yang sering di sebut-sebut semua manusia di dunia ini. Namun banyak orang tak bisa memberi arti apakah itu cinta yang sesungguhnya. Hari demi hari ku jejaki,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *