Move On

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 January 2014

“Serius amat lihat ke bawah. Ada apaan sih di bawah?” Tanya Cerryl kepada Luna yang konsentrasi menatap lapangan basket. “Bukan apa-apa kok.” Balas Luna, matanya tidak lepas dari lapangan basket. Cerryl mencoba menelusuri pandangan sahabatnya itu.
“Lo ngeliatin Irfan sama pacarnya? Udah, cowok kayak gitu nggak usah diinget. Atau lo masih sayang sama dia? Lo belum move on?” Tanya Cerryl bertubi-tubi. “Nggak, Cuma lihat aja. Lagipula aku kan udah move on sama dia.” Tunjuk Luna kepada laki-laki yang tengah bermain basket. Sesekali ia melirik ke lantai tempat Luna dan Cerryl berdiri.
“Tuh, do’I liat kesini. Buruan jadian.” Ujar Cerryl mengompori. “Jadian? Mau ditaruh mana mukaku kalau aku ngajak dia jadian?” balas Luna terkejut. “Terus lo mau diem nunggu ditembak dia gitu?” Tanya Cerryl. Luna terdiam. Ia tak tau mau menjawab apa. “Karena gue sahabat lo, gue bakal bantuin lo PDKT sama dia.” Kata Cerryl. “Serius? Caranya?” Tanya Luna antusias.
“Bentar, lo tau nama dia nggak?”
“Tau lah, Bima X IPA 4.”
“Besok lo harus berani ngobrol sama dia. Gimana?” Tanya Cerryl. Luna menyanggupi nasehat Cerryl.

Esoknya, dengan semangat menggebu Luna mendatangi kelas Bima. Sebenarnya bukan masuk sih, Cuma lewat. Kebetulan Bima ada di tengah jalan. “Permisi, maaf mau lewat.” Ujar Luna pelan. “Oh, ya. Silahkan.” Bima mempersilahkan. Ia tersenyum menatap Luna. “Tuhan, senyumnya manis sekali.” Kata Luna dalam hati.

Dalam perjalanan ke kelas, ia senyam senyum sendiri. “Gimana? Gimana?” Tanya Cerryl. “Iya sih, Cuma ‘Oh, ya silahkan’ tapi senyumnya itu lho!” Luna mengguncang tubuh Cerryl kegirangan. “Congrats deh congrats. Pertahankan.” Cerryl mengacungkan jempolnya.

Beberapa hari berselang, Luna semakin banyak berceloteh tentang Bima. Namun hari itu, Bima mendatangi mereka berdua. Tentu Luna yang aliran darahnya mengalir lebih cepat. “Mau apa lo kesini?” Tanya Cerryl ketus. “Gue kesini mau ngomong, kalau gue suka sama lo.”
Taaarrrr…
Petir seakan menyambar Luna setelah mendengar ucapan Bima. Sama terkejutnya dengan Cerryl. “Lo mau kan jadi pacar gue?” Tanya Bima.
“Pergi lo dari sini!!!” usir Cerryl.
“Tapi jawab dulu pertanyaan gue. Lo ma…”
“Nggak! Sekarang pergi!” Cerryl memotong kalimat Bima. Ia tau Luna sedang hancur saat ini. Ia tidak ingin Luna marah besar padanya. “Lun, elo nggak marah kan sama gue? Lo kan tau sendiri gue udah punya pacar. Mana mungkin gue naksir sama Bima.” Cerryl berusaha meyakinkan Luna yang kini menerawang jauh.
“Nggak kok, lagipula aku udah bisa move on dari Bima.” Suara Luna sedikit bergetar tanda ia menahan air mata. “Masa’ sih? Secepat itu?” cerryl tau, Luna tidak semudah itu melupakan Bima. “Bener kok. Tuh, orangnya yang itu.” Luna sembarang menunjuk. “Apa? Serius? Dia? Marda?” cerryl tidak percaya.
“Iya, Marda. Memangnya kenapa?”
“Marda itu pl*yboy. Udah berapa coba mantannya. Semua mantannya itu udah pernah dicip*k. Itu FAKTA!” Cerryl menekankan kata ‘fakta’.
“Tapi dia manis kok.” Jawab Luna asal.
“Plis, deh, Lun. Gue nggak mau debat sama lo. Takut kalah. Intinya lo nggak boleh suka sama dia.” Cerryl menyerah dan menasehati Luna.

Ternyata Luna serius dengan ucapannya. Hanya dalam sehari ia bisa menyukai Marda meski tahu Marda anak paling bermasalah di sekolah. Tapi tetap saja, kejadian soal Bima membuatnya takut hal serupa akan terjadi.
By the way, kita lupakan sejenak soal Marda. Hari ini tahun ajaran baru. Sebagai pengurus OSIS, Luna tentu ikut mensukseskan MOS. Salah satu usahanya adalah mengisi games di tengah-tengah materi.

“Bisa-bisa lo jadi idola anak kelas sepuluh.” Cerryl mengomentari Luna setelah ia mengisi games. “Masa’ sih? Eh, by the way kamu tau nggak soal Vika dan April?” Luna mengalihkan pembicaraan.
“Duo dancer yang katanya BFF (best firend forever) itu?”
“Iya, katanya mereka musuhan gara-gara rebutan cowok.” Luna mengatakannya dengan antusias.
“Masa’ sih?”
“Sampe April pindah ekskul ke PMR lho.” Ujar Luna.
“Nggak konsisten banget jadi sahabat. Segampang itu ngerusak persahabatan demi cowok.” Kata Cerryl.
“Menurutku, sahabat rusak gara-gara cowok itu sahabat rendahan. Aku sih amit-amit.”
“Gue setuju sama lo.” Cerryl mengacungkan jempolnya.

Esoknya ketika Luna mengajak Cerryl ke kantin, tanpa mereka tahu mereka dihadang oleh Marda. Seragam dikeluarkan, sepatu merah, kesan berandal pun melekat pada dirinya. “Hei manis.” Godanya. Cerryl merasa risih, begitu juga dengan Luna.
“Boleh nanya nggak?”
“Nanya apa?” balas Cerryl galak.
“Udah ada yang punya belom? Kalo belom jadi punyaku mau nggak?” Marda mengeluarkan senyum pl*yboynya.
“Dasar pl*yboy! Amit-amit gue jadi pacar lo. Cuih!” cerryl menggertak sambil berusaha meraih tangan Luna.
“Lho, Luna mana?” tanpa disadarinya, Luna sudah menghilang. Ia tahu, Luna pasti kecewa dan kali ini marah besar padanya. Buru-buru ia pergi ke lantai dua. “Luna…” panggilnya ketika melihat Luna tertunduk di depan kelas.
“Lun, lo nggak marah kan sama gue?” Tanya Cerryl. Luna hanya buang muka. “Plis, Lun, gue bener-bener nggak tau apa-apa soal ini.” Kini Luna membelakangi Cerryl. “Oke, gue tau. Lo marah banget. Gue rasa lo butuh waktu sendiri. Tapi lo musti inget kata-kata lo kemaren. Sahabat rusak gara-gara cowok itu sahabat rendahan. Inget kalimat itu, Lun? Lo mau jadi sahabat rendahan?”
Panjang lebar Cerryl berkata, tapi Luna tak merespon sama sekali. “Oke, terserah lo mau diem sampe kapan. Tapi gue akan selalu jadi sahabat lo. Gue bakal tunggu lo mau maafin gue.” Cerryl akhirnya pergi meninggalkan Luna yang terus saja menahan air matanya.

Hari-hari berikutnya terasa hampa bagi mereka. Luna masih marah soal Marda. Namun ia juga sedih tidak bicara dengan sahabatnya itu.
Luna, gadis yang sopan, pandai, taat tata tertib, rapi dan ramah. Sedangkan Cerryl, gadis yang kurang memperhatikan penampilan, bicaranya agak kasar, cuek namun manis wajahnya. Sifat yang bertolak belakang inilah yang membuat mereka bersahabat.

Soal popularitas, Cerryl terkenal dan disukai banyak cowok lantaran wajahnya yang cantik, manis dan natural. Sedangkan Luna terkenal di kalangan adik kelas karena jabatannya sebagai bendahara di OSIS. Memiliki sahabat sepandai dan sebaik Luna buat Cerryl bahagia, begitu pula Luna. Ia bahagia punya sahabat sebijak Cerryl.

“Luna, kamu bodoh. Punya sahabat sebaik Cerryl malah kamu sia-siakan. Dasar Luna bodoh.” Luna menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyesal mendiamkan Cerryl seminggu ini. Ini salahnya, ia juga tidak mau disebut sahabat rendahan. Maka hari itu ia bertekad untuk minta maaf kepada Cerryl.

Senin pagi, Luna sengaja datang pagi agar bisa menghadang Cerryl. Dilihatnya lapangan basket menanti Cerryl datang. Sesekali ia tersenyum membalas lambaian tangan dari anak kelas sepuluh. “Itu dia!” Cerryl berjalan dengan terburu-buru. Luna bersiap di dekat tangga untuk menyambut sahabatnya.
Tap… tap… Tap…
Terdengar suara langkah kaki. ”Itu pasti dia.” Gumam Luna. “Cerryl! Aku minta maaf!” teriak Luna mengagetkan sosok yang muncul. “Lho, kok bukan Cerryl?” Tanya Luna heran ketika menatap anak laki-laki kelas sepuluh yang masih terkejut.
“Kamu ngapain kesini? Kelasmu kan di bawah.”
“Aku kesini mau ketemu kakak.” Tuturnya.
“Aku?”
“Iya, namaku Arya. Aku kesini mau bilang kalau…” arya menggantung kalimatnya.
“Kalau apa?”
“Aku suka sama kakak! Aku fansmu!” pekik Arya. Sepertinya ia grogi sehingga mengatakannya dengan cepat. Dengan wajah yang masih terheran-heran, Luna melihat sosok Cerryl muncul dari belakang tubuh Arya.
“Cerryl… Maafin aku..” buru-buru Luna memeluk Cerryl. “Gue juga minta maaf.” Balas Cerryl. “Tapi dengan satu syarat.” Tambah Cerryl setelah melepas pelukannya.
“Syarat apa?”
“Lo harus move on dari Marda ke dia.” Cerryl menunjuk Arya yang nyengir kuda.
“Kenapa harus dia?” Tanya Luna.
“Karena, dia tulus suka sama lo. Dia udah lama suka sama lo sejak MOS. Terus dia cerita ke gue dan minta tolong ke gue buat ngomong sama lo. Sebenernya bukan Cuma dia aja yang suka sama lo. Banyak anak kelas sepuluh yang suka sama lo. Elo sih tebar pesona.” Olok Cerryl.
“Jadi, intinya. Kak Luna mau jadi pacarku?” Tanya Arya.
“Jangan pake kak deh, nggak keren.”
“Iya, deh kak eh Luna. Terima nggak?” Tanya Arya lagi.
“Terima nggak ya? Emm… terima aja deh. Kamu unyu sih!” Luna mencubit pipi Arya. Mereka tertawa bersama. Sekali lagi, Luna berhasil move on.

Cerpen Karangan: Dhia Fauzia Rahman
Facebook: www.facebook.com/dhiaphrotman

Cerpen Move On merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Waktu itu tepatnya saat masa orientasi SMA aku mengenalmu. Namun aku tak tau kapan rasa ini ada sebab aku tak pernah menyadarinya. Sejak saat perkenalan itu pula ternyata aku

Cinta Dan Buaya

Oleh:
Ujian Nasional telah selesai. Perasaanku bercampur aduk antara senang dan gelisah, namun biarkanlah pengumuman dua bulan lagi, masih ada waktu untuk bersenang-senang. Teman-temanku, Aldi, Sarah, Fitri, dan Kamal mengajakku

Best Friend Forever

Oleh:
Mentari pagi belum juga muncul. Maklum jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIT. Jam alarmku berbunyi makin kuat, sepertinya ia tak sabar membangunkanku. Segera aku bangun dari tempat tidur lalu

Akhirnya Beneran (Part 2)

Oleh:
“Gak apa-apa sih, tapi kayaknya gak bisa deh males ah mending gue ngegame aja di rumah,” “Masa? Beneran nih, tapi Dini juga ikutan loh,” “Kok lo tahu sih?” “Ya

120 Bulan

Oleh:
“hai semua. Perkenalkan nama saya hiroharu higashiyama” Aku memperkenalkan diri di depan kelas baruku. Aku agak malu memperkenalkan diriku sendiri, mereka hanya menampakkan wajah datar mereka yang tanpa ekspresi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *