Muara Laut Jingga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 March 2016

Aku tak perlu menajamkan langkahku di pasir ini. Sangat tidak terasa dingin. Pantulan sinar jingga di sana membuat langkahku terasa lebih hangat. Jalanku sungguh melantur. Entah ke mana arah yang ku tuju. Ombak di sebelah kiriku terdengar sangat ganas. Bahkan orang-orang di sekelilingku perlahan menghilang. Aku ingin berteriak, memanggil satu per satu dari mereka. Namun tenggorokanku terasa kaku. Tak ada tenaga untuk meneriakkannya.

Hanya satu yang aku ingat. Aku kehilangan teman-temanku. Kadang aku ingin mati memikirkannya. Apa yang mereka pikirkan? Mengapa mereka meninggalkanku seperti ini. Andai aku tidak membatalkan untuk pergi bersama mereka. Pasti tidak hanya mereka yang merasakan kecelakaan kereta api kemarin. Aku berharap, aku juga ada saat itu. Merasakan hal yang sama bersama mereka. Jika bisa, aku dapat menempati surga yang sama bersama mereka. Tidak di neraka yang keji ini. Yang mengucilkanku di tempat asing seperti ini.

Mata orang-orang di sini sangat tajam. Mereka selalu berkhianat. Aku tidak akan pernah bahagia bersama mereka, kecuali satu, mengikuti kalian ke surga. Entah langkah apa yang ku pakai saat ini. Kakiku begitu yakin menuju laut. Hanya satu yang aku pikirkan, aku pasti bertemu kalian selepas ini. Aku tak bisa membayangkannya lagi. Mungkin aku sudah di alam baqa. Mungkin hiu-hiu sudah memakan tubuhku. Mungkin kini tinggal arwahku. Aku tak bisa melihat siapa diriku. Aku hanya merasakan langkahku yang terasa berat. Mataku melebar, saat melirik gerombolan orang di belakangku. Mereka berlarian seperti orang ketakutan. Hingga satu laki-laki tua menubruk tubuhku hingga terpental. “Ayolah Nak, kamu sudah berada di ambang batas. Jangan sampai kau jatuh ke sebelah kiri.”

Kalimat dari laki-laki tua itu sangat terngiang. Apa aku benar-benar sudah di akhirat? Aku memberanikan diri untuk melirik ke sebelah kiri. Aku tersentak. Api yang meluap-luap. Kakiku mundur bergantian. Lebih cepat dan sangat cepat. Mungkin aku lebih aman di sini dan sangat aman dari kobaran api iblis. Mataku berbinar. Melihat surga di sekelilingku. Hanya satu yang ingin ku lakukan saat ini, mencari sahabat-sahabatku. Laki-laki itu muncul di hadapanku. Posturnya seperti sangat ku kenal. Namun saat dia menatapku, hanya pancaran matanya yang dapat ku lihat. Entah cahaya mana yang menghalangi wajahnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.

Tangannya menyeretku dengan kuat. “Peganglah tanganku. Aku selalu bersamamu. Aku yang akan melindungimu.” suaranya terasa hangat. Seperti tertusuk jarum. Aku melihat mayat Haikal terbaring kaku. Ibunya bersandar kepadaku. Tangisnya tak pernah berhenti meski telah ku tenangkan beberapa kali.
“Salsa?” aku mendengar ada yang memanggilku. Aku berpikir, dengan siapa aku bicara. Aku tak bisa mengenali wajahnya. Aku melihat di sekitarnya, tempat yang begitu romantis untukku. Aku sedikit tersanjung karenanya. Dengan kalimat manisnya, seperti sudah sangat ku kenali dengan jelas siapa dirinya. “Apa kau tak pernah menyadari, aku laki-laki yang selalu ada bersamamu. Aku mencintai….”

“Salsaaaaa!! Kamu ini, sudah hampir maghrib masih juga belum bangun. Lihatlah, Haikal menunggumu dari tadi. Kamu ada janji apa sama dia?” suaranya melengking. Aku baru teringat semuanya. Aku sedikit bersyukur, semua ini hanya mimpi. Jalanku terseok-seok. Setelah bangun, aku merasa pusing. Menatap laki-laki yang menungguku dari tadi, lalu menertawakan diriku yang mendapat semprotan besar dari ibuku.

“Lo nggak jadi meninggal, Haikal?” bayanganku masih seperti dalam mimpi tadi.

Cerpen Karangan: Anjar Desynta Arum
Facebook: Anjar Desynta Arum

Cerpen Muara Laut Jingga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Goresan Tinta Kelabu

Oleh:
Gemricik air terdengar beraturan dari dalam kamar lalu sedikit kutengokkan kepalaku ke jendela kamar, dan kulihat butiran butiran air yang dengan sabarnya satu persatu turun dari awan hingga bisa

Cinta Di UKS Sekolah

Oleh:
Di rumah. Jam menunjukkan pukul 06.40 pagi, aku segera berlari menuju kamar mandi. Setelah mandi aku segera memakai seragam putih biru yang sudah lama aku idam-idamkan. Hari ini merupakan

The Word Destiny (Part 1)

Oleh:
Aku selalu mencintaimu. Bukankah kau tahu itu? Kukira, kita bisa bersama selamanya. Namun takdir berkata lain. Hey, kau, apa kau dengar aku? Aku harap begitu. Aku ingin kau selalu

Cinta Yang Salah

Oleh:
Namaku Indah, usiaku 17 tahun.. umur yang kata orang dimana seorang remaja mengenal cinta. AKu duduk di bangku SMA tepatnya lagi kelas dua, tapi anehnya aku mencintai cowok yang

Ketika Cinta Beda Usia

Oleh:
Pagi ini seperti biasanya, Selia duduk dibangku taman sekolahnya. Selia menekuni Sekolah Menengah Pertama, ia baru kelas X. “kring, kring, kring” bel berbunyi, pertanda masuk ke kelas, Selia dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *