Mungkin Aku Buta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 July 2017

Hai Desember, hampir setengah dari usiamu menyapaku dengan jutaan kisah yang menawan, bahkan teman-temanmu sebelum kehadiranmu pun melakukan hal yang sama begitu hangat, namun entah kenapa aku masih tak mampu melihatnya sebagai salam cinta yang menjanjikan kebahagiaan, aku masih setia pada temanmu kesepuluh, yang begitu menyisakan kenangan tak mampu terlepas dalam benak jiwa. Bayangkan saja wahai desember, dua kali usiamu hadir dalam masehi hidupku, namun tak sekalipun ditiap pergantian gelap dan terang sanggup mengusir temanmu kesepuluh yang begitu menorehkan kenangan begitu mempesona, meskipun telah hilang tawaran kebahgiaan di dalamnya, namun rasanya aku begitu buta untuk melihat selainnya.

Wahai teman kesepuluh desember, untuk insan penghunimu, yang menanamkan namanya dalam deretan hari, yang mengalunkan lagu ditiap tahunnya, yang dirayakan dengan kue manis, nyala lilin, dan doa terindah. Dalam derasnya ombak di depanku ini, layaknya kehidupan yang kujalani setiap harinya tanpa dirimu, tanpa semangatmu yang dahulu setiap pagi memberikan energi, yang sanggup kugunakan hingga berkali-kali mentari malam menghampiri.

Di atas tebing batu karang yang menjulang, yang kududuki saat ini, sambil menatap jauhnya laut lepas, dengan suara desiran ombak yang tiap detiknya menghantam batu karang, hingga terkikis bagaikan ukiran batik, mengingatkanku pada perjuangan kita dahulu yang tak hentinya bertengkar seperti kucing, dan seketika setelahnya kembali berdamai seperti sepasang merpati penuh kasih.

Kau tahu wahai desember, aku menapakimu saat ini bukanlah pilihanku, tapi memang garis masehi yang harus kulalui untuk tetap hidup dalam dunia yang fana. Dan maafkan aku yang sampai sekarang tak mampu melihatmu, meski kau menawarkan berjuta kebahagiaan bersama untuk sebuah masa depan yang indah. Sekiranya engkau memperbolehkanku, lewat deburan ombak yang menghantam batu karang, lewat desiran angin yang saat ini menyusuri setiap pori-pori kulitku yang terbungkus oleh rajutan benang-benang halus oleh pengrajin handal. Aku ingin titip salam untuknya dalam lembaran kertas lusuh yang penuh dengan goresan tinta kerinduan, untuk seseorang penghuni temanmu, temanmu kesepuluh dalam kehidupan masehiku.

Assalammu’alaikum wahai bidadari hatiku…
Bagaimanakah kabarmu setelah dua kali namamu dinyanyikan karena usiamu yang semakin bertambah matang?
Semoga kamu bersama keluarga tersayang sehat walfiat dan selalu diberi rahmat oleh Allah dan semakin dikuatkan pula imanmu.
Juga semoga kamu bahagia menjalani harimu yang luar biasa tiap harinya, seperti aku yang selalu bahagia untuk menanti kedatanganmu menyambut lembut cintaku.

Kau tahu wahai bidadari hatiku? Dalam keramaian yang setiap siang kurasakan, dalam keheningan yang setiap malam kudapati, aku masih membayangkan kamu menyambutku dengan kedua tanganmu yang lembut, menyambut kedua tanganku yang telah lama menantimu. Dan tak hanya itu, bahkan tak jarang aku membayangkan kau pun berkata padaku, dengan begitu mesranya ketika senja mengiringi lantunan adzan yang indah oleh muadzin, kau pun menyentuh tanganku yang kotor penuh dengan keringat karena seharian mencari nafkah untuk keluargaku.

“Gibran.. lihatlah, senja telah datang, tanda kau harus berhenti sejenak untuk menunda aktifitasmu yang begitu rapat, kau dengar bukan, seruan adzan yang memanggil kita sebagai muslim muslimah untuk menghadap sang pencipta”.
“Iya Dinda, rasanya badanku mulai lelah dengan aktifitas ini, namun Allah begitu istimewa hingga aku msaih diberi kesempatan yang sama setiap harinya untuk mencari nafkah. Sudah saatnya ku istirahat seperti katamu, dan begitupun ku harus menghadapNya, untuk berdoa agar kita dapat selalu bersama meskipun senja berganti malam”.
“kau benar Gibran, tak ada yang bisa mengabulkan segala sesuatu selain Dia, semoga kita selalu bersama sampai kehidupan berikutnya”
“amin… terimakasih sayang, kau memang bidadari hatiku yang memang dikirimkan Allah untuk menemani hari-hariku”

“Gibran… Gibran..” terdengar seseorang memanggilku, tapi sepertinya itu bukanlah kamu yang membalas sepucuk lembaran kertas lusuh dariku, yang belum selesai kugoreskan semua kerinduanku.
“Gibran… hoey…” tepukan tangan pun mendarat di pundakku, membuat diriku terjungkal dari lamunan dalam menggoreskan tinta.
“H… ha.. hay. Hay Alfi, a aa ada apa?” tergagap ku menjawab sapaanya yang membangunkanku dari lamunan.
“sedang apa kau di sini? Semuanya sedang asyik berfoto bersama, tapi kau malah duduk di atas karang yang basah karena ombak ini, apakah kau tidak ingin menikmati indahnya pantai kejayaan ini bersama kami?”
“oh iya maafkan aku alfi, hehe.. ayo ke sana” sambil kutarik tangannya yang tadinya menepuk pundakku. Dan tanpa kusadari kertas yang tadinya bertuliskan kerinduan, kini terjatuh karena kekagetanku tadi, seakan angin memang berniat membawanya untuk dihanyutkan bersama air laut, dan entah ke mana kertas itu akan berhenti atau bahkan kapan tintanya akan tetap melekat dalam lembaran kertas itu. Sekejap air mataku menetes melihatnya, goresan tangan yang kuimpikan untuk kuberikan padanya, kini telah hilang, bersama dengan kesadaranku akan lamunan yang indah.

“Gibran.. apa itu? apakah itu surat yang kau tulis untuknya? Berarti dari tadi kau di sini, menyendiri dan meninggalkan moment bersama kami, untuk menliskan surat pada dindamu yang masih kau impikan? Gibran sadarlah, apakah kau buta dengan kenyataan ini, apakah hatimu sudah tak bisa lagi kau buka untuk seseorang yang sangat mencintaimu?, atau jika memang tidak, jika memang kau tak mampu melupakannya, atau bahkan menghapus kenanganmu bersamanya, minimal jangan kau jadikan ia impianmu lagi untuk masa depan, ikhlaskanlah dia bersama yang ia cinta berikutnya. Gibran kutahu dan semua temanmu tahu, bahwa cintamu bukanlah seperti pelangi yang meskipun sangat indah, ia hanya hadir sesaat, kami semua tahu cintamu seperti mentari, yang bila pagi menyinari, dan bila malam datang, kau masih memantulkan sinarmu pada bulan untuk memberi penerangan, Gibran, sadarlah… kau bukan orang buta, hatimu juga tidak buta, melainkan sangat indah sebagai seorang insan yang tulus mencinta, semangatlah untuk hari esok, dimana ada seseorang yang menyambut tanganmu tuk menikmati indahnya kebersamaan, entah itu dengan tangisan atau tawa dalam penghabisan hari untuk menuju kehidupan yang kekal selanjutnya.” Matanya memandangku sayu, penuh haru karena sebuah penantian panjangku yang menurutnya tak ada gunanya.

Hening memecah suara segerombolan ombak yang menggulung, bergantian menghantam batu karang yang semakin terkikis. Hanya lelehan air mata tanpa jawaban, haru dan sedih menghujani suasana hati yang buta akan sebuah penantian panjang.

Dalam hatinya ia berkata, seraya meneteskan airmata ketulusannya yang ia tutup dengan kedua tanganya karena malu.

“Ya Allah.. apakah memang aku buta, buta akan sebuah cinta kepada ciptaanMu yang sungguh luar biasa indahnya. Ya Allah, jika memang iya, maafkanlah aku, yang lupa bahwa kaulah penulis pasanganku, penulis jodoh dari sebelum Kau ciptakan aku di dunia ini. Maafkan aku Tuhan, yang tak kuasa berjalan untuk menyambut nikmatmu lainnya. Maafkan mata dan hatiku yang tak sanggup melihat ciptaan indahMu lainnya yang juga begitu mempesona. Mungkin aku memang buta Ya Allah, maafkan aku yang buta, hingga setiap masehi yang kau hadirkan untukku hanya lewat layaknya angin yang tak kusadari pembawa oksigen sebagai napas hidupku, maafkan aku..” tanganku basah, dan mataku tak hentinya meneteskan air mata, menembus sela jemariku dan hingga jatuh membasahi karang persinggahanku.

Ku terdiam tanpa suara, tanpa tangisan ataupun tetesan air mata, diam seribu bahasa, hanya menatap langit yang cerah dengan awan menampakan harapan yang penuh dengan impian manis.

Senyum… kini menghiasi bibirku, dan wajahku pun kembali bersinar, serta kertas yang tadi hanyut, kini aku pun tersenyum padanya, sambil berkata dalam hatiku “selamat tinggal kenangan, aku sangat menghormatimu sebagai kisah yang indah, namun masa depanku juga akan tercipta sangat indah melebihimu, sampai jumpa di ranting kehidupan dinda, dalam pohon kehidupan yang diciptakan Allah untuk kita lalui di dunia.”

Dan sesaat kemudian, aku memandang sesosok mata haru karena melihat ku menangis hingga membanjirkan air mata, dan kini tersenyum begitu bebasnya, alfi.. iya dialah pemilik mata haru yang biasanya berseri seperti bintang dikala malam.
“terimakasih Alfi, kau memang sahabat terbaik yang dikirimkan Allah untukku, bahkan mungkin spesial untuk mengingatkanku kala aku terjatuh seperti ini.”
“sama-sama Gibran, kau tahu kan aku sangat mengagumi dengan segala keterbatasan dan kelebihan yang kau miliki, namun kau tak pernah menganggapku sebagai seseorang yang lebih untuk kau percaya sebagai pendamping hidupmu, dan itu juga mungkin tentang perasaan yang tak bisa dipaksakan datangnya, kini ku tersadar setelah apa yang kulihat dari sesosok laki-laki tegar yang setiap saat menorehkan senyuman dan mengundang tawa setiap orang, menangis tersedu di depanku karena kenangan yang masih melekat erat dalam hatinya. Kau memang sangat spesial Gibran, semoga tangisanmu nanti tak terualang kedua kalinya dalam penantian jodohmu yang dirahasiakan oleh Allah untuk menyempurnakan agamamu. Selalu semangat jalani harimu, ku tahu kau bukan orang lemah seperti karang yang kita tempati saat ini.”
“iya Alfi, maafkan aku, semoga kau juga cepat mendapatkan pengeran cintamu yang bisa mempercayakanmu tuk jadi pendamping hidupnya.”

Senyum… dan hanya senyum jawaban yang berisi harapan yang dilayangkan oleh alfi dalam keharuan yang merajainya. Dan aku pun tersenyum seakan siap menyambut dunia baru tanpa kenangan yang kujadikan sebuah impian.

Suasana haru kini telah mulai hilang terhantam oleh ombak semangat masa depan, hening telah berganti nuansa ceria, kala tangan sahabat menarik tuk mengabadikan momentum yang akan dicetak dalam lembaran kertas halus yang nantinya dibingkai dalam ukiran kayu kotak.

“hay pantai kejayaan, kami di sini untuk berjaya dimasa depan dengan cita-cita mulia, atas ridho Allah yang begitu besar, jadilah salah satu tempat yang akan selalu mengingatkan kami untuk hidup sederhana.” Teriak kami yang dipimpin oleh Andy, salah satu teman kami yang tak lain adalah sebagai ketua kami atau teman yang selalu kami percaya untuk menjadi yang terdepan sebagai penyatu kami.
Genggaman tangan kami yang saling terikat adalah wujud semangat yang nantinya akan mengingatkan kita bahwa kami akan sukses bersama, meskipun pada ranting kehidupan yang berbeda, namun pada ujung yang sama yaitu kesuksesan dan kebahagiaan.

Selamat tinggal diriku yang buta, dan selamat datang diriku yang penuh semangat.

Cerpen Karangan: Eko Winadiarto
Facebook: fchaovens[-at-]yahoo.com
Mr Eko

Cerpen Mungkin Aku Buta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Ingat

Oleh:
Setiap hari ada sebuah bayangan dari mataku yang begitu jelas, bahkan bayang itu tersenyum, sebuah bayangan dari seseorang laki-laki yang selalu aku perhatikan. Dia… Laki-laki yang telah menjebakku dalam

Because You My Dream

Oleh:
“Hah? Lo serius, Fel?,” tanya Bram tersentak tidak percaya setelah mengetahui berita yang ada di majalah mingguan remaja adalah fakta. Felly hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari Bram.

Aku Dan Perasaan Ini

Oleh:
Aku, mencintai kamu. Kamu, aku bahkan ragu kamu mengingatku. Bodoh. Aku bodoh karena mencintai kamu, yang tidak pernah menganggapku ada. Namun apa daya? Memangnya aku ingin hatiku memilihmu sebagai

Isi Surat Itu

Oleh:
Keinginanku untuk menulis ini berawal ketika aku yang baru saja pulang dari suatu tempat rekreasi bersama teman-temanku. Sebenarnya aku tidak berencana mengajak teman-temanku mampir di rumah, tapi karena kebetulan

Aku dan Lukaku

Oleh:
Dulu, aku pernah begitu memperhatikannya! Dulu, aku pernah begitu mengaguminya! Dulu, aku pernah begitu menyayanginya! Dulu, aku pernah begitu mencintainya! Dulu, aku pernah begitu setia padanya! Dulu, aku pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *