Mungkinkah?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 June 2015

Mentari pagi mulai menampakkan wujudnya dan mulai menghangatkan dunia dengan sinarnya dari ufuk timur. Kala itu, Tiffani bangun dari tidur dan mimpi indahnya, karena keasyikkan dengan mimpinya ia lupa kalau ia harus bangun pagi sebelum terlambat sampai sekolah. Tiffani pun bergegas mandi, sarapan sebentar, dan pergi ke sekolah.

Tiffani pun tiba di sekolah 3 menit sebelum bel berbunyi. Ia panik, segera menaiki tangga menuju kelasnya. “Bagaimana ni, wah telat ni bisa-bisa. Mana jam pertama fisika lagi. Sengsara amat si punya kelas di pojokkan.” Ujar Tiffani dengan kesal. Akhirnya ia pun tiba di depan kelas, dengan perasaan gugup ia memasuki kelas. “assalamualaikum. Selamat pagi pak” salam Tiffani saat memasuki kelas “FANI!!! Jam berapa sekarang? kamu kenapa telat terus pas pelajaran bapak?” kata Pak Yono sambil memarahi Tiffani. “maaf pak, saya kesiangan tadi, terus kejebak macet di jalan, lagi pula saya cuman telat 1 menit pak. Bapak boleh hukum saya, tapi jangan keluarin saya dari kelas pas pelajaran bapak sekarang ini. Saya mau belajar fisika pak, saya kurang ngerti.” Pinta Tiffani dengan melasnya. “ya sudah sana kamu duduk. Untung pelajarannya belum mulai.” Kata Pak Yono. “terima kasih pak. bapak baik banget.” Kata Tiffani dengan senangnya

Tiffani duduk dan mengikuti pelajaran. Tiba-tiba saat jam pelajaran Nara, cowok jangkung yang cadel di kelas pun menghampiri Tiffani. “lo tadi ngapa telat fan? Lo biasanya gak telat deh.” Kata Nara “iya ni, tadi tuh aku udah sampai sekolah kurang 3 menit. Eh gara-gara nih kelas di pojokkan jadi telat deh.” Kata Tiffani menjelaskan “lo kaya gak tau kelas kita aja. VIII-7, kelas dengan anak-anak unik berlokasi di pojokkan.” Ujar Nara menjelaskan. Akhirnya bel masuk berbunyi dan semua masuk melanjutkan pelajaran.

Hari berganti hari, jam berganti jam, menit berganti menit, dan detik pun bergulir. Kami semua di kelas makin akrab, makin dekat dan menyatu. Entah kenapa belum ada sesosok lelaki satu pun yang membuat Tiffani melupakan Rafa, seorang cowok yang disukainya dari kelas VII. Tifanni belum bisa move on dari Rafa. Hampir sepanjang hari di kelas diisi Tiffani dengan kegalauannya akan perasaannya kepada Rafa.

Menunggu sesuatu yang tidak pasti hanya menyakitkan hati. Begitu yang dirasakan Tiffani. Tiffani akhirnya mencurahkan isi hatinya kepada Nara mengenai Rafa karena Nara sangat dekat dengannya. Tiffani menceritakan kalau dia sangat menyukai Rafa dan mengharapkannya. Nara menasihati Tiffani untuk berusaha melupakan Rafa dan cari yang lain. “Move on Tif, move on. Lu ngapain sih ngarepin cowok kayak dia yang gak sayang sama sekali sama lu. Masih banyak orang yang sayang sama lu.” Nasehat Nara kepada Tiffani. karena orang yang dimaksud Nara ternyata adalah dirinya sendiri.

Akhirnya suatu hari, Nara memberanikan dirinya menyatakan perasaannya kepada Tiffani. “Fan, ada yang mau aku omongin ke kamu.” Pinta Nara. “apaan? Ngomong aja Nar.” Ujar Tiffani. “jadi begini, semalem gue mimpi kehilangan oyang yang gue sayang dan lu tau gak oyang itu siapa? Oyang itu Tiffani.” Penjelasan Nara. “Maksudnya? Kamu gak lagi nembak kamu kan?” Tanya Tiffani. “Ini ungkapan peyasaan aku Tif. Aku emang gak nembak kamu. Jujuy Tif, aku suka sama kamu.” Ujar Nara memperjelas. “yaa… aku juga suka sama kamu Nara. Tapi aku gak mau kita pacaran.” Perjelas Tiffani. “Iya aku ngeyti kok. Lagian aku juga ada janji buat gak pacayan kelas VIII. Kita jalanin aja dulu hubungan tanpa status ini. Gimana?” Tanya Nara. “Ya udah, sekarang kita HTSan yaa…” Ujar Tiffani dengan berdebarnya.

Akhirnya Tiffani dan Nara pun mulai HTS-an. Bulan pun berganti bulan, hari berganti hari. Suasanan pun berganti pula seperti hembusan angin yang tidak menentu. Begitu pula hati Tiffani yang tak kunjung tenang memikirkan hatinya akan berlabuh dimana. Sebenarnya Tiffani perlahan-lahan melupakan Rafa, sebuah penantianya, dan mulai semakin menyayangi Nara. Namun, semakin hari dia malah galau dengan perasaan dan pikirannya. Tiffani punn curhat dengan Monita, sahabatnya di kelas. Monita selalu memberikan nasihat agar Tiffani benar-benar melupakan Rafa.
Hingga suatu saat Tiffani sedang bermain Facebook, ia mendapatkan pesan chat dari Rafa.
“Tif, gue lagi sakit hati nih. Tau gak? Orang yang gue suka dua-duanya disukai sama si kembar jangkung.”
Tiffani bingung kenapa Rafa cerita seperti itu sama dia. Tiffani pun memberanikan diri menjawab pertanyaan Rafa.
“dua? Loh emang selain Shara, siapa cewek yang kamu maksud Raf?”
Rafa pun melanjutkan chatnya.
“Masa lo gak ngerti juga Tif, cewek yang gue maksud tuh lu Tiffani. Tapi ternyata lo juga udah milih Nara dari pada gue. Shara apalagi sama Raka kembaran Nara.”
Tiffani pun sempat kaget mengetahui kalau Rafa ternyata juga suka padanya. Namun, mengapa cinta datang terlambat? Mengapa cinta selalu datang disaat hatinya sudah ada yang mengisi?
Karena Tiffani tidak ingin sakit untuk ke-2 kalinya. Dia pun memutuskan memilih Nara daripada Rafa, dan tetap menjalani hubungan tanpa statusnya dengan Nara. Hingga pada suatu hari Nara mulai diresapkan semakin menjauh dari Tiffani. Mengapa cinta yang semakin dikejar malah semakin menjauh? Semakin kita sayang kepada seseorang, mengapa orang itu malah semakin menjauh dari kita? Tiffani pun bingung dengan sikap Nara.

Saat kenaikan kelas IX pun berlangsung, Nara menghampiri Tiffani, “Kamu udah tau di kelas mana? Kayaknya kita gak sekelas ya?” Ujar Nara. “Iya Nar, aku di IX-8, kamu di IX-3 ya? Aku cari nama kamu ternyata gak sekelas sama aku.” Perjelas Tiffani. “Iya, aku juga cayi nama kamu tadi, gak papa deh kita gak sekelas yang penting kamu gak sekelas sama si F.” Kata Nara. “Si F? Oh maksudnya Rafa, iya untung gak sama dia.” Kata Tiffani.
Tiba-tiba Nara mengatakan sesuatu yang tidak disangka oleh Tiffani, “Tif, sekarang. Lo mau gak jadi pacar gue?” dengan wajah tercengangnya, Tiffani pun berkata, “pacar? Kamu nembak aku Nar? Gimana ya? Bukannya aku gak mau jadi pacar kamu. Tapi aku belum mau pacaran.” Nara dengan perasaan kecewa pun berkata, “ya udah, gak papa deh Tif.” Tiffani tau dibalik kata gak papa, Nara pasti kecewa.

Bulan berganti bulan dan hari berganti hari. Semakin cepat hari berganti semakin menjauh harapan yang dinanti. Sekarang Nara semakin jauh dari yang dibayangkan Tiffani. Nara sekarang dekat sekali dengan Monita, sahabat Tiffani. Sakit rasanya melihat cinta yang selama ini kau damba bersanding dengan sahabatmu sendiri. Akhirnya kabar mengenai Nara dengan Monita berpacaran terdengar di telinga Tiffani. Kecewa pasti, galau apalagi. Seseorang yang selama ini sudah lama pdkt dengan Nara, malah sahabatnya sendiri yang jadian dengan Nara. Teganya seorang sahabat menusuk sahabatnya sendiri dari belakang, merebut orang yang selama ini disayang.

4 bulan saja Tiffani berhubungan dengan Nara. Tiffani putus asa dengan cintanya. Dia dirundung kegalauan sepanjang hari. Tiffani mulai tidak percaya seorang lelaki bagaimanapun itu. Rafa yang selalu dinantinya sampai sekarang tidak pernah bisa Tiffani miliki, Nara yang selama ini HTS-an dengan Tiffani pun diambil sahabatnya Monita. Memang, menunggu sesuatu yang tidak pasti hanya menyakitkan hati.
Hingga suatu saat Ciko, teman sekelasnya Tiffani menyatakan perasaannya dan menembak Tiffani. Mereka pun berpacaran hingga lulus dan berbeda sekolah. Tiffani sekolah di sebuah Analis terkemuka, sedangkan Ciko bersekolah di SMA Negeri bergengsi di daerah Halim. Karena hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Hubungan mereka pun mulai dirasa menemui titik ketidak jelasan.

Di suatu malam, HP Tiffani pun berbunyi, sepertinya ada pesan LINE dari Ciko.
“Tif, kamu lagi apa? Udah makan belum?”
Karena dirasa mengganggu Tiffani pun tidak membalas pesan itu. Tiba-tiba HPnya pun berbunyi kembali dan terdapat pesan.
“Tif, kok gak dibales? Sibuk mulu.”
Tiba-tiba terlintas di pikiran Tiffani untuk mengakhiri hubungannya, karena dia kasiahan, karena kesibukannya tidak dapat membalas pesan ciko.
“Cik, maafin aku ya. Kita kayaknya udahan aja deh. Aku gak enak sama kamu, gara-gara kau sibuk gak bisa bales pesan kamu terus. Aku gak mau kamu nunggu-nunggu aku. Lagi pula hubungan kita juga makin gak jelas.”
Ternyata masa-masa pacaran itu tidak seindah masa-masa pdkt. Lama pdkt belum tentu bisa pacaran. Dan waktu terus berjalan, semakin hari semakin bergulir, terasa perlahan-lahan namun semakin cepat. Kini Tiffani menemukan teman lelaki yang dekat dengannya dan dia menyukai dan menyayanginya.

Ardi, itulah namanya satu di antara belasan murid laki-laki di Analis yang dapat menarik perhatian Tiffani. Berawal dari Tiffani yang sering diledek oleh Ardi, namun lama kelamaan Ardi menjadi teman Tiffani disaat tidak ada satu orang pun yang menemani Tiffani. Karena semakin dekat dan semakin dekat, Ardi pun menyatakan perasaannya pada Tiffani. Tiffani dan Ardi saling suka, saling menyayangi dan saling cinta. Namun hubungan mereka berjalan diam-diam tanpa diketahui teman-temannya yang lain. Yang diketahui, Ardi hanya dekat dengan Tiffani. Tetapi dengan mencintai Ardi membuat Tiffani egois, Tiffani hanya ingin Ardi dekat dengannya dan tidak suka melihat Ardi dekat dengan teman-teman ceweknya yang lain. Karena cinta itu egois. Kita ingin dia hanya mencintai kita, dan hanya kita yang mencintai dia.

Akhirnya Tiffani pun berusaha untuk tidak terlalu memikirkan Ardi yang mungkin memang tidak pasti juga. Karena dia tahu sekarang, PHP itu tidak akan pernah ada kalau ceweknya yang gak terlalu banyak berharap. Jadi sekarang Tiffani mencoba untuk tidak memikirkan siapapun..
Mungkinkah ada seseorang lelaki yang bisa menyayangi wanita dengan tulus?
Mungkinkah wanita itu tidak boleh terlalu berharap?
Mungkinkah kita harus selalu menunggu sebuah harapan?
Sampai kapan kita harus menunggu? Mungkinkah sampai tiba waktunya?
Tapi kapan?
Dengan doa-Mu hamba semua memohon agar engkau memberikan kami semua jodoh yang tepat untuk kami pada waktunya, dan dengan pertemuan yang tidak pernah dibayangkan… tanpa harus menunggu, dibohongi, atau digantung… dengarlah doa kami ini.. AMIIN..

*Cerpen ini terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis

Cerpen Karangan: Winda Tri Ayuningtyas
Facebook: Winda Tri Ayuningtyas

Cerpen Mungkinkah? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Someone in September Rain

Oleh:
“Ha? Kamu diajak kenalan sama dia Cel?” Hahah!!” tawa Jesslyn mengejek. “Ih kamu ngejek deh. Aku serius. Dia belakangan ini sering ngechat aku tau! Ini semua berawal ketika aku

Table No 5

Oleh:
Sebuah Caffetaria berdiri tepat di seberang pertigaan biasa aku bekerja, di sinilah mataku berlabuh pada sosok semampai yang tengah duduk termangu berpangku tangan di lengan kursi besinya. Matanya memandang

Cinlok

Oleh:
Rara masih serius menatap dirinya di cermin. Lirik kiri! Lirik kanan! Manyun! Menyeringai! Terbahak! Pasang raut wajah MELAS! NGOOOK! Nampaknya dia masih kurang PD dengan rambut barunya. Suruh siapa

Menyesal Tanpamu

Oleh:
Hey, cowok itu kembali meluluhkan hatiku. Entah keberapa kalinya hatiku klepek-klepek dibuatnya. Dia selalu mencoba untuk meruntuhkan dan mencuri hatiku. Aku mengenalnya, dia teman satu kelasku, Fandy namanya. Saat

Buku Helen

Oleh:
Hujan masih meneteskan sisa airnya. Beberapa saat yang lalu suasana gelap terselimut awan. Namun dalam hitungan menit angin menyapu langit dan mengirim sinar matahari kembali ke bumi. Jalan-jalan basah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *