My Beautiful Mistake

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 July 2016

Aku masih duduk di bangkuku dengan mata sembab dan suara isak tangis yang sudah hampir hilang. Di sampingku ada Putri yang duduk sambil mengusap pundakku secara perlahan serta Tita yang duduk di bangku yang terletak persis di depanku dengan posisi menghadap ke belakang, menghadap ke arahku dan Putri. Aku mungkin memang baru dekat dengan mereka sejak awal aku naik ke kelas dua. Sebelumnya, aku tidak terlalu mengenal mereka berdua, mungkin hanya suka bertukar senyum jika bertemu.
Namun, setelah aku masuk ke kelas dua ini, aku mulai bersahabat dengan mereka. Putri, wanita cantik yang menjadi incaran banyak anak cowok di sekolah karena wajahnya yang manis dan sifatnya yang penyabar seakan sangat melengkapi Tita, wanita berkulit putih, bertubuh tinggi dan kurus, berperawakan seperti model namun memiliki sifat yang tidak sabaran. Tita pernah sesekali curhat kepadaku, dia sangat ingin menjadi artis FTV seperti teman SDnya bernama Hani yang sukses membintangi beberapa FTV di salah satu stasiun swasta. Namun, takdir menjadi artis FTV belum berpihak kepada Tita.

“Jadi, dia ngomong begitu ke lo? Apa perlu gue samperin terus gue labrak dia?” Tita dengan nada yang berapi-api hampir saja berdiri dan berjalan ke luar kelas. Untung saja dengan cekatan Putri menahan tangannya.
“Tita, jangan marah-marah dulu dong. Kita kan juga gak tahu permasalahannya.” Ujar Putri. Mendengar pernyataan Putri, Tita kembali duduk dan menatapku dan Putri.
“Cha, itu Rezi kan? Kayaknya dia mau ke sini deh!” uajr Tita sambil melirik ke arah seberang jendela. Aku menangkap sesosok lelaki, berkulit putih yang sedang asyik menenteng bola basketnya dengan baju yang keluar dan dasi yang tertanggal berjalan ke arah kelasku.
Benar Tita! Rezi memang memasuki kelasku dan segera menuju ke kursiku. Sontak, Putri segera berdiri melihatku dan Rezi secara bergantian. “Eh, gue sama Tita ke kantin dulu ya?” Putri menarik tangan Tita yang kebingungan karena dengan spontan Putri menarik tangannya menuju ke arah kantin.

Aku dan Rezi duduk bersebelahan di bangkuku. Di kelas tidak hanya ada kami berdua. Namun, teman-teman sekelasku yang lain sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kami berdua hanya terdiam.
“Kamu abis nangis ya?” tanya Rezi sambil menatap ke arahku. Aku yakin, jika aku menjawab “tidak” pun ia akan tahu dari mataku yang masih sembab dan bekas air mata yang masih membekas di pipiku. “Kamu nangis gara-gara aku?”
Ketika aku mendengar pertanyaan kedua keluar dari mulutnya, dengan sontak aku menatapnya dan menggelengkan kepalaku dengan cepat. “Enggak kok. Bukan karena kamu.”
“Kamu mau cerita sama aku, kenapa kamu nangis?”
Aku mengganggukan kepalaku kembali namun kali ini secara perlahan. “Iya. Tapi aku gak bisa sekarang.”
Rezi dengan secara mengejutkan menggenggam tanganku yang kuletakkan di atas pangkuanku dan menatapku dengan lekat. “Iya, aku paham. Aku akan nunggu sampai kamu siap menceritakan alasan kamu nangis. Cha, kamu harus yakin kita berdua pasti bisa ngelewatin ini semua.” Ujarnya sambil mengelus kepalaku secara perlahan.
Rezi kemudian berdiri sambil kembali menenteng bola basket di salah satu tangannya. Tangan yang satu lagi mengusap pipiku secara perlahan. “Cha, jangan nangis lagi ya apalagi alasannya Cuma karena aku.” Aku kembali mengangguk dan menyunggingkan seulas senyum agar Rezi merasa tenang. Rezi pun ke luar dari kelasku dan kembali ke arah lapangan untuk bermain basket dengan Tim Basket sekolah kami.

Sudah lebih dari satu jam aku dan Rezi berbincang melalui telepon. Hingga akhirnya perbincangan kami berakhir ketika jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, itu pun karena berkali-kali Mama sudah mengetuk pintu kamarku dan menyuruhku untuk segera tidur. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang dibungkus seprai bergambar Squidward, salah satu karakter Spongebob Squarepants yang kusukai. Aku mengingat-ingat kembali percakapanku dengan Rezi di telepon tadi. Kami membicarakan segala sesuatu yang terjadi di sekolah, salah satunya adalah alasan mengapa aku tadi menangis.
Ya, suaranya tadi begitu serius ketika mendengar alasan aku menangis. Dia sangat yakin bahwa alasanku menangis adalah dia. Dia berkali-kali meminta maaf namun aku hanya memberi penjelasan bahwa aku menangis karena sedih aku telah mengecewakan salah satu sahabatku, Sila. Ya, memang karena Sila namun aku tidak bisa menjelaskan lebih rinci kepada Rezi bahwa tadi di sekolah aku bertemu Sila yang sedang bersama Fatur. Fatur sendiri adalah teman dekatku dan Sila. Fatur juga menaruh hati kepadaku yang tidak dapat kusambut baik. Fatur dan Sila saling curhat satu sama lain sementara aku tidak dapat bergabung dengan mereka, karena alasannya tentu saja aku merupakan salah satu topik curhatan Fatur.
Siang itu di sekolah, ketika mereka sedang asyik berbincang berdua di depan perpustakaan, aku datang menghampiri mereka dan mengembangkan seulas senyum kepada mereka berdua. Senyumku pun disambut hangat oleh Fatur, tapi tidak dengan Sila. Ia menatapku dan kemudian membuang pandangannya seakan tak acuh kepadaku. Sila berdiri dan berjalan memasuki perpustakaan yang diiukti oleh Fatur dan aku.

Sila duduk di antara kumpulan buku pelajaran yang tebal sementara aku yang menghampirinya ditahan oleh cegatan tangan Fatur yang sebelumnya sudah diberi isyarat oleh Sila. “Fatur, gue mau bicara sebentar sama Sila.” Desakku.
“Tapi lu liat sendiri, kan? Sila sedang gak mau diganggu.”
“Tapi, gue mau minta maaf sama dia, Tur.”
“Oke, nanti gue bilang ke dia.” Kemudian Fatur berjalan menghampiri Sila dan berbisik yang disambut beberapa kalimat yang tak dapat kudengar dari Sila. Setelah itu, Fatur kembali menghampiriku. “Cha, kata Sila, Sila udah gak marah lagi kok sama lo. Sekarang lo bisa keluar perpus dan ninggalin Sila.”
“Fatur, lu gak ngerti persoalannya. Gue butuh ngomong sama Sila!” desak gue dengan suara keras hingga beberapa orang menoleh ke arah kami. “Gue… gue mau ngejelasin semuanya ke Sila bahwa gue ngelakuin hal itu karena memang dari awal gue juga suka sama Rezi!”
Mata Fatur sedikit terbelalak. Mungkin dia tercengang ketika gue harus mengatakan di depannya bahwa gue suka sama Rezi. Namun Fatur hanya mengangguk pelan dan berjalan ke arah Sila sambil seolah menjadi mediator di antara aku dan Sila. Ketika, Fatur dan Sila sedang asyik berbisik, aku secara perlahan menghampiri mereka. Tanpa mereka berdua sadari, aku mendengar dengan jelas percakapan mereka. Kata-kata yang keluar langsung dari mulut Sila tanpa difilter oleh Fatur.
“Gue sakit hati dan gak akan bisa maafin atas semua yang Icha lakuin ke gue, Tur! Lu ngerti kalo seandainya jadi gue, kan? Tur, lu tolong bilang Icha bahwa dia harus jauh-jauh dari gue, karena gue gak mau temenan lagi sama dia! Gue gak mau kenal dia lagi!!”
Gue gak mau kenal dia lagi!!! Kalimat itu seakan mencambuk hatiku hingga jatuh dan hancur berkeping ke tempat yang paling dalam. Aku menutup mulut berusaha menyembunyikan sebuah teriakan yang ingin keluar dari mulut. Namun, sebuah isakan mengejutkan tetap saja tidak dapat kutahan yang membuat Fatur dan Sila sadar dengan kehadiranku. Aku berlari ke luar perpustakaan yang diikuti oleh Fatur. Fatur menahan tanganku dan berusaha menjelaskan sebisanya. Aku mengelak dan berusaha melepaskan diri. Beruntung, ada Tita dan Putri yang segera membantuku melepaskan diri dari Fatur.

Aku pun menjelaskan kronologinya secara detil kepada Tita dan Putri. Ya, aku tahu dalam hal ini di satu sisi memang aku yang salah. Tapi, di sisi lain dari hatiku menuntut untuk mencari pembelaan bahwa aku tak sepenuhnya salah. Sila hanya lebih dulu mengungkapkan kepadaku bahwa dia menyukai Rezi. Saat aku mendengar pengakuannya tersebut, seakan membuat bibirku kelu untuk mengungkapkan bahwa aku juga menyukai Rezi sehingga aku mengurungkan niatku untuk mengungkapkan yang sebenarnya kepada Sila.
Lalu, Rezi tiba-tiba saja menghubungiku yang membuatku merasa serba salah namun, dalam keserba salahanku, aku tetap memberikan nomor Rezi kepada Sila agar mereka dapat berkomunikasi. Tapi, takdir masih berpihak kepadaku. Sebulan kemudian, Rezi mengungkapkan perasaannya kepadaku. Rezi mengatakan bahwa ia mencintaiku dan menginginkanku menjadi pacarnya. Rasa serba salah itu kembali muncul. Rasa inginku menjadi pacar Rezi akhirnya mengalahkan rasa serba salahku kepada Sila. Aku tahu, dia kecewa. Aku pun akan sama kecewanya jika aku berada di posisinya. Tapi, apa yang akan ia lakukan jika ia di posisiku? Mungkinkan ia menolak cintanya ketika cinta itu datang menghampiri dirinya?

Sudah lebih dari tiga bulan aku berpacaran dengan Rezi. Itu artinya, sudah lebih dari tiga bulan juga aku dan Sila menjadi dua orang yang seakan tidak saling mengenal. Padahal, aku dan Sila adalah teman sekelas. Sungguh sangat sulit, berusaha seolah kami adalah orang asing yang berada dalam satu ruangan. Apalagi jika ada pelajaran diskusi dan tanya jawab yang mengharuskan seluruh murid dalam satu kelas harus saling berinteraksi.
Sesekali Rezi bertandang ke kelasku untuk sekadar mengobrol denganku. Beberapa murid gemar menggoda kami jika Rezi datang. Aku kadang melirik ke arah Sila dan ia sesekali melihat ke arah kami berdua dengan tatapan dingin seolah jika menatapku lebih lama, ia akan berubah menjadi vampir yang siap menyedot darahku kapan saja.
Aku benar-benar ingin mengakhiri kecanggungan yang kurasakan ini. Tapi, ketika berpapasan saja, Mutia menghindari kontak mata denganku. Dia berusaha menghindariku semampunya. Mengabaikan diriku dari dunianya atau bahkan sudah menghapus namaku dari sejarah kehidupannya.

Semua hubungan tidak akan berjalan mulus layaknya jalan tol. Sesekali ada hambatan, belokan, batu terjal atau tanjakan yang curam yang akan kita hadapi. Begitupun hubunganku dengan Rezi. Sudah seminggu lebih aku tidak berkomunikasi dengannya. Akupun tidak tahu apa akar permasalahan ini, sehingga kami diam-diaman satu sama lain. Beberapa kali aku mengirim pesan untuknya, tapi ia hanya membalas sekadarnya dan ditelepon pun hanya berbicara seperlunya.

Aku berdiri di balkon sekolahku tepat di depan ruang Tari, salah satu ekskul yang kugeluti. Di sampingku, berdiri seorang laki-laki yang sudah kukenal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Alvin memasukan kedua tangannya di saku celana. Kami berdiri bersebelahan sambil menatap ke arah lapangan. Semalam Alvin mengirimkan sebuah pesan untuk bertemu di depan ruang tari seusai aku latihan.
“Jadi bagaimana hubungan lu dengan Naura?” tanyaku memecah keheningan. Naura adalah pacar yang sudah dipacarinya selama tiga bulan. Naura adalah gadis yang cantik namun menurutku kurang ramah. Dia ketua ekskul modern dance yang memiliki mantan yang banyak di sekolah kami. Sunggguh menjadi suatu kebanggaan tersendiri untuk Alvin bisa memacarinya.
“Baik. Ya, Naura sih sering ngambek. Tapi gue tahu, dia begitu ketika dia banyak masalah. Lu sendiri, gimana dengan Rezi?”
Bagaimana hubunganku dengan Rezi? Aku sendiri tidak yakin akan menjawab apa. Aku terdiam sejenak namun ketika mulutku baru mulai terbuka, Alvin dengan selintas mengatakan kalimat yang mengenyakkan perasaanku.
“Gak perlu dijawab. Gue tahu kok, kalian lagi ada masalah. Gak coba diomongin baik-baik, Cha? Mau sampai kapan diam-diaman doang? Pacaran tapi kayak gak pacaran. Dibilang jomblo juga masih punya status. Ngambang.”
“Gak tahu apa yang mau diomongin, Vin.”
“Gak tahu mau ngomong apa, atau takut dengar jawaban dari Rezi yang lu gak ingini?” tembak Alvin secara pas.
Ya memang benar. Aku takut mendengar kata-kata yang tidak pernah kuharapkan keluar dari mulut Rezi. “Ya, seharusnya lu tanya dia baik-baik dan kalian intropeksi diri.” Timpal Alvin.
Aku terdiam sementara Alvin berlalu dan dengan langkah seribu aku menahan tangannya. “Vin, lu tahu sesuatu tentang Rezi?”
Alvin mengangkat kedua pundaknya seolah menandakan ia tak tahu apa-apa atau seperti tidak ingin terlibat. “Vin, gue tahu lu temannya Rezi. Tapi, gue kan juga teman lu dari SD. Kalau memang Rezi udah gak mau sama gue, gue akan terima. Lu tahu kan, gue orang yang gampang untuk berlapang dada.”
Alvin menunduk dan menarik napas dengan panjang seolah ingin meyakinkan dirinya untuk mengatakan sesuatu yang ia sembunyikan. “Oke , gue akan kasih tau lu. Sebenarnya gue ngerasa berdosa banget karena biasanya cowok itu gak ember. Tapi gue kasihan sama lu.”
Aku mengangguk dengan cepat. “Ayo Vin, buruan ngomong aja.”
“Gue ngeliat dari gelagat kalian berdua kalau sepertinya kalian lagi ada masalah. Gue coba tanya Rezi tapi dia jawab, hubungan kalian baik. Tapi, kemarin gue main ke rumah Rezi dan beberapa kali handphonenya berbunyi. Di layar HP terlihat panggilan dari Bee. Itu panggilan sayang dia buat lu kan?”
Aku mengangguk pelan. Ya memang beberapa terakhir aku mencoba menelponnya dan sulit sekali untuk bisa berbincang dengannya.
“Terus begitu liat layar handphone dia kembali meletakkan Hp nya di atas kasur dan lantas gue tanya kenapa gak dijawab. Dia diam dan beberapa detik dia bilang, dia lagi bosen sama lu. Eh sori nih kalau bikin lu jadi sedih.”
Aku buru-buru menggelengkan kepala dan melemparkan senyum ke arah Alvin. “Enggak… kok enggak apa-apa Vin. Thanks infonya ya.” Ujarku sambil menepuk bahu Alvin.

Sejak perbincanganku dengan Alvin, kepalaku terasa pusing dan mengakibatkan aku harus izin ke UKS. Tita dan Putri setia menemani plus itu menjadi bonus untuk mereka karena terbebas dari pelajaran Sejarah. Aku menundukkan kepala memikirkan segala sesuatu.
“Lu pusing kenapa sih? Mau menstruasi ya?” Tanya Tita sambil melemparkan tampang heran.
Putri duduk di sebelahku dan mengambil satu tanganku. “Cha, lu cerita deh sama kita berdua sebenarnya ada masalah apa? Gue tahu kok ini masalah tentang hubungan lu dan Rezi. Akhir-akhir ini kalian gak pernah terlihat bareng, lu juga gak pernah ngebahas dia dan sehabis lu ngobrol dengan Alvin, aneh lu semakin menjadi-jadi.”
“Iya Cha, cerita aja sama kita. Gak baik dipendem sendiri.”
Aku menganggukan kepala dan dengan suara lirih aku menceritakan semua kronologi cerita dari A sampai Z. Putri menatapku dengan dalam dan hampir bisa kutebak dia memandangku dengan iba sementara Tita berapi-api, berdiri dan sangat beremosi.

“Udah, ayo kita samperin aja itu cowok yang namanya Rezi playboy cap kodok sawah!!!” Ujar Tita.
“Tita, duduk dong! Jangan gegabah. Kita kasih waktu buat Icha untuk mikirin masalah ini lebih jauh dan mencarri kebenarannya. Lagi pula, bukannya lu pernah ngomong Cha ke kita kalau lu itu gak cinta-cinta amat kok sama Rezi?”
Aku terduduk memandang wajah kedua sahabatku sambil melemparkan senyum yang kupaksakan. Memang, awalnya aku tidak terlalu mencintai Rezi. Tapi seiring waktu, perasaan itu seakan terus berkembang tanpa pernah bisa kucegah. Terlebih, saat dia berusaha menghindariku. Aku semakin mencintainya. “Iya. Tapi ketika dia menjauh, gue sadar, gue cinta sama dia.” Bisikku lirih sambil menahan isakkan yang tidak dapat kubendung. Putri dan Tita memelukku. Kami bertiga berpelukkan sambil mereka mencoba menenangkanku.

Apa harus kehilangan sesuatu dulu baru kita sadar bahwa kita mencintai sesuatu itu dan ingin memilikinya untuk selamanya. Aku sangat mencintai Rezi lebih besar ketimbang perasaanku saat kutahu Rezi mencintaiku. Saat dia terus mencoba menghindar, aku justru ingin selalu dia berada di dekatku. Ketika ia berbicara seperlunya, aku justru ingin dia bercerita panjang lebar dan ketika dia mencoba memalingkan pandangannya, aku justru ingin selalu memandangnya dengan lekat.

Senja menampakkan guratan jingga bercampur warna emas dari percampuran langit, awan dan matahari yang ingin pulang keperaduannya. Aku sudah menunggu lima belas menit di pingggir lapangan basket.
“Sorry telat. Udah lama nunggu ya? Sebenarnya ada apa sih ngajak ketemuan di sini?” “Terus kalau aku gak ngajak ketemuan kamu di sini, kamu memangnya mau ketemuan sama aku? Kamu kan lagi asyik sama yang lain!” ucapku pelan dengan nada yang mencoba menusuk namun sepertinya gagal.
“Sama yang lain? Maksud kamu?”
“Nadila. Anak kelas satu yang jago banget ngedance dan juga ikut ekskul pemandu sorak. Dan yang pasti cantik dan gak ngebosenin”
“Aku gak ngerti sama maksudmu!”
“Rezi, Please!!! Seantero sekolah juga udah tahu kalau kamu dan Nadila lagi PDKT! Well, Aku gak terlalu permasalahin itu. Aku Cuma mau tanya, kenapa kamu selalu menghindar dari aku dan seminggu lebih kamu gak pernah balas SMS aku?”
“Itu karena… karena aku lagi jenuh Cha sama hubungan kita.”
“Hah, itu Cuma alasan kamu aja yang dasarnya playboy!”
“Kamu selalu banyak aktivitas sehabis pulang sekolah, kamu selalu gak bisa diajak jalan karena selalu ngerjain tugas dan kamu selalu gak mau diajakin pergi malam meski besoknya weekend. Aku pacaran tapi kayak gak punya pacar! Kemana-mana sendiri. Pacaran sama kamu itu kayak pacaran sama halusinasi aku. Bisanya Cuma bayangin pegangan tangan, bayangin kalau aku meluk kamu atau bayangin aku cium kamu. Cuma bisa ngebayangin Cha! Pacaran sama kamu itu ngebosenin. Dan.. benar tentang rumor yang beredar kalau aku dan Nadila lagi PDKT. Tanpa perlu ngemis-ngemis, dia mau jalan sama aku ketika weekend dan aku juga gak Cuma berhalusinasi doang sama dia”
Bibirku kelu. Semua yang dikatakan Rezi tentangku memang benar. Halusinasi. “Iya. Aku juga sebenarnya udah ngerasa bosan sama hubungan ini. Aku mau, kita putus. Terimakasih untuk semuanya ya, Rez.” Ucapku pelan.
Rezi maju selangkah dan datang memelukku dengan erat. Aku memejamkan mataku membayangkan seharusnya ini pelukan perdamaian kami untuk melanjutkan hubungan ini. Tapi tampaknya Rezi benar-benar ingin mengakhirinya. “Iya, terimakasih untuk semuanya, Cha. Aku harap kita masih bisa menjadi teman.”
Pelukan itu lama-lama melonggar dan yang kubisa lihat hanya punggung Rezi yang berjalan semakin menjauh. Pergi dan menghilang ketika ia membelokkan badannya.

“Rez, aku masih cinta sama kamu. Aku Cuma gak ngerti bagaimana harus bersikap. Kamu, adalah pacar pertamaku. Aku hanya canggung melakukan sesuatu yang biasanya hanya menjadi halusinasiku belaka. Padahal, aku kira kamu akan berusaha menentang perpisahan ini” gumamku sambil melihat foto kami berdua yang masih menghinggapi wallpaper ponselku.

Mungkin aku terlihat begitu miris. Aku mempejuangkan cintaku dan kehilangan seorang sahabatku demi sebuah cinta yang telah aku sia-siakan. Aku menyia-nyiakan kesempatanku dengan Rezi. Aku tidak pandai dalam bersikap. Mungkin, pada awalnya aku berpikir tidak pantas mendapatkan persahabatan dan cinta sekaligus. Tapi, kini kusadar, aku telah kehilangan keduanya.
Tapi, tidak pernah terlintas di benakku sebuah penyesalan atas segala keputusan yang aku buat. Meski aku tahu aku telah menyakiti Mutia dan kehilangan Mutia, demi Rezi yang akhirnya meninggalkanku. Tapi Rezi tetaplah sebuah cerita manis yang kini melengkapi kisah kehidupanku yang semakin memiliki banyak warna. Dia adalah kesalahan terindah yang pernah ada di kisah kehidupanku.

Cerpen Karangan: Ziah Nur Aisyah
Blog: ziah22.blogspot.com
Ziah Nur Aisyah yang akrab dipanggil Ziah. Sudah mulai suka berkhayal dan membuat “karangan” sejak SD. Pelajaran fav sejak SD adalah bahasa Indonesia. Apalagi jika ada tugas seputar membuat puisi, membaca puisi, mengarang, berpidato atau presentasi lain, itu seakan menjadi tantangan. Semoga lewat cerpenmu.com kemampuan saya membuat cerpen semakin terasah. Saya sangat mengharapkan kritik dan saran sari teman-teman semua.

Cerpen My Beautiful Mistake merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Queer (Coquettish Girls)

Oleh:
Suara jeritan murid-murid perempuan terdengar bergemuruh memecah keheningan ruang laboratorium. Mereka begitu hebohnya saat melihat seorang murid baru pindahan dari SMA di Kota Bandung. Namanya Riki. Perawakannya bisa dibilang

Si Penulis Surat Misterius

Oleh:
“Fiuh, hampir saja kau telat Mel, Lihat tuh jam tangan lu! Pukul berapa sekarang hah?!” Kira menghampiriku. “Aku sih cuek!” Sergahku tanpa beban sambil berlalu menuju ke tempat dudukku

Menggapai Mimpi

Oleh:
Regina Cantika, atau yang biasa dipanggil Gina, merupakan siswi SMP Pelita, salah satu SMP swasta elit di Jakarta. Gina adalah seorang gadis berwajah manis, cukup pintar, dan ramah kepada

Sahabat Scouts Selamanya (Part 2)

Oleh:
Jam sudah menunjuk pukul 12:10, kami sudah berkumpul di tengah lapangan, begitu juga dengan peserta lainnya, kami membentuk barisan, dimana setiap barisan berisi anggota dari sangga masing-masing. Kali ini

Gengsi

Oleh:
“Tiap hari aku membayangkan kamu, Nadin Dinda Syafitri. Senyuman bibir merah itu, tatap manja itu, desah nafas saat kamu kedinginan, wajah memelasmu menahan ngantuk, hangat genggaman tanganmu, semuanya. Semakin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *