My Black Skin Yoona

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 1 March 2014

Super Junior akan konser di Jakarta memenuhi semua berita online pagi ini, mengakses berita lewat internet merupakan rutinitasku sebelum berangkat ke kantor. Bekerja sebagai supervisor di perusahaan travel merupakan keberuntungan di usiaku yang masih terbilang muda.

Namaku Anton Hadislani, dan aku penggila Kpop. Bukan Super Junior yang kukatakan tadi, tapi SNSD. Jangan bayangkan aku lelaki yang punya model rambut poni lempar yang kebanyakan digunakan sebagai kiblat para anak muda baru-baru ini. Aku Cuma mengagumi kecantikan dan kesempurnaan perempuan Korea, meskipun hasil dari campur tangan para ahli bedah plastik tapi mereka memenuhi standar imajinasi cewek idamanku.

Sesampainya aku di kantor masih dengan tema yang sama. Pegawai tiketting yang mayoritas perempuan ini masih meributkan Konser Super Junior minggu depan.
“apa? Nggak kuat beli tiket konsernya SuJu?” ejekku kepada Ratih, salah satu pegawai Tiketting
“hahaha, emang kenapa?”
Aku hanya tertawa dan meninggalkan mereka meributkan harga satu bulan gajian untuk satu tiket ekonomi konser Super Junior.
Ratih menghampiri meja kerjaku
“mas, Dewi kemaren SMS kalau dia mau nonton Suju! Kamu nggak ngelarang?” pertanyaan Ratih membuatku malas menjawabnya
“ya, urusannya dia lah Tih, yang penting dia nggak minta duit tiketnya ke aku aja!” jawabku enteng
Ratih teman SMA Dewi adikku, ya boleh dikatakan aku dekat dengan Ratih juga gara-gara dia sering datang ke rumah waktu sekolah dulu.
“haaah, coba aja ada yang minjamin uang buat nonton Suju” dia menggerutu di depanku
“kamu mau tak pinjemin?”
“serius?” ucapnya melotot
Tiba-tiba muncul ide di kepalaku, tahun depan target menikah tetapi sampai sekarang aku belum punya pacar.
“aku bisa memberimu tiket Super Junior gratis asal kamu bisa bantu aku”
“waaah… Kamu nggak bercanda mas?”
Aku menganggukkan kepala
“nanti jam makan siang kita bicara”

Ia kembali ke depan melayani pemesanan tiket pesawat kantor kami. Banyak yang mengira kalau aku dan Ratih itu punya hubungan, tapi aku sudah menganggap Ratih sebagai adikku sendiri, dia pun sudah punya pacar dan beberapa kali ia pamerkan ke rumahku dan mengejek kejombloanku di depan orangtuaku.

Jam makan siang tiba, sesuai rencana aku dan Ratih mendiskusikan kesepakatan kita. Makan siang kali ini nggak jauh-jauh amat dari kantor agar kami punya cukup waktu untuk ngobrol.

“apa mas apa syaratnya” ucap Ratih yang baru duduk di kursi
“sabar napa, belum juga mesen makanan” ucapku membolak balikkan buku menu
“wah, nggak sabar aja pengen megang tiket konser Suju”
Kami memesan makanan, setelah itu kulanjutkan topik kami
“Tih, kamu bisa bantu mas?”
“ya… apaan?” jawabnya penasaran
“kamu bisa cariin aku cewek nggak?”
Ratih mengorek-ngorek kupingnya
“apa? Cewek? Hahaha, akhirnya ngaku juga kalau kebelet nikah” ejeknya
“mau tiket Sujunya nggak?” aku mulai kesal
“hahaha, iyaa iyaaa. Aku punya banyak temen cewek. Tapi…”
“apanya yang tapi?” ucapku penasaran
“pertama-tama, sebutkan tipe cewek idamanmu”
Sebenarnya aku sedikit malu mendiskripsikan seperti apa cewek idamanku
“gampang kok”
“ya apa? Yang penting cewek? Tetanggaku janda punya anak dua mau?”
“aku perlihatkan cewek seperti apa yang aku idamkan”
Aku mengeluarkan Hpku dan memperlihat wallpaperku ke Ratih
“APA? YOONA SNSD? Gilaaa!! Kamu juga Kpopers?” mata ratih melotot seakan mau keluar
“harga yang pantas dong buat tiket konser yang harganya satu bulan gajianmu?” aku mendongakkan kepala sombong
“wah.. hah.. gila!! Kalau aku beneran punya temen yang mukanya kayak Yoona SNSD aku malah minta tiket pesawat jalan-jalan ke Korea Mas, standarmu ketinggian!! Pantes Jomblo!!” ia mengejek
“ya udah kalau nggak bisa!”
“ayolah mas!! Aku punya banyak temen kok!! Aku janji nyariin yang beda tipis sama Yoona” ia merayu
“kalo nggak ada ya nggak usah” ucapku cuek bersiap menyantap makan siangku yang baru saja di antar
“hah!! Ternyata aku Cuma di kerjain! Tak kira serius kamu nawarin tiket gratis” ucap Ratih kecewa
“aku nggak bercanda kok”

Kami menyantap makan siang, sesekali menyinggung cewek-cewek yang berlalu lalang di trotoar jalan
“mas, itu mirip Yoona”
“mana?” aku terkaget melihat tante-tante menenteng rantang belanjaan “gila kamu” Ratih tertawa puas mengejekku

Sesampainya kami di kantor aku kembali ke pekerjaanku. Ratih kembali menghampiri mejaku
“ada apa? Udah ketemu Yoona nya?” aku masih sibuk dengan leptopku
“nggak, itu ada pegawai tiketting baru. Mau bertemu sama manager supervisonya” ucapnya sambil berlalu meninggalkan mejaku

Terdengar suara langkah kaki mengahampiriku,
“duduk” ucapku tidak melihatnya aku masih sibuk dengan laptopku
“nama saya Karin Astina Pak, pegawai baru Tiketting”
Aku menghentikan ketikanku dan memandangnya
Aku terpesona melihat wajah perempuan di depanku, senyum manisnya seketika merusak wallpaper Yoona yang kupasang di hatiku.
“ehm.. in.. itu.. oh ya, nama saya Anton Hadislani” aku terbata menjawabnya
Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku, semoga saja tanganku tak kelihatan gemetaran menyentuh kulit halusnya. Benar, ketika aku bersalaman dengannya rasanya seperti berada di antara jejeran AC yang menyala menyejukkan. Merinding aku dibuatnya
Ia berdiri untuk meninggalkan mejaku,
“oh iya! Panggilakan Ratih ya Rin” ucapku tersenyum ia hanya menganggukkan kepala dan senyumnya masih melekat di bibir manisnya
“ada apaan mas” ucap Ratih sesampainya di mejaku
“tiket, nanti saya belikan. Tapi ada syaratnya” ucapku tersenyum tanpa memandang wajah Ratih, pandanganku kali ini menerawang kaca pemisah antara ruanganku dan meja tiket.
“beneran mas? Apaan? Waahh…”
“Karin di ajak ya!!”
“HA? Karin?”
aku tersenyum kepada Ratih,
“iya Karin” aku meyakinkan
“hari ini sudah dua kali aku dibuat syok dengar ucapanmu? Karin? Mas naksir Karin?” ucapnya tidak percaya
“emang kenapa?”
“lalu bagaimana dengan Yoona SNSD? Masak Karin mas? Mas nggak lihat apa? Minimal orang Indonesia yang mirip Yoona itu orangnya harus putih mas!! Karin kan item?”
“iya!! Emang kenapa kalau item? Kalau nggak mau tiketnya nggak jadi?!!” ancamku
“ya!! Ya!! Karin saya ajak nanti” keluhnya, ia berjalan meninggalkan mejaku, tetapi belum ada lima langkah ia kembali lagi.
“mas, beneran Karin” ucapnya tidak percaya
“IYA!! KARIN, MY BLACK SKIN YOONA!” jawabku teriak dan perempuan berkulit hitam melongo di depan pintu mendengar suaraku.

Cerpen Karangan: Bigza Aziza
Blog: Cerpenmu Standupku
Facebook: Bigza Lakon Ndonyo

Cerpen My Black Skin Yoona merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Yang Mengalah (Part 1)

Oleh:
“Pagi nisa cantik” sapa temanku shabrina, “Oh hai shab, kau mengagetkanku saja” balasku, “Lagian pagi-pagi udah bengong, mikirin apa sih cantik?” tanya shabrina heran, “Ehm jadi gini loh, hmmm

Kartini Selanjutnya

Oleh:
Aku tahu, jika sikapku ini akan mendapatkan pertentangan yang sengit, ketidaksetujuan yang lebih mendominasi. Tapi aku akan tetap melakukannya, meski seluruh dunia menentangku aku hanya perlu sebuah keyakinan besar

First Love (Memori)

Oleh:
Kusandarkan lenganku pada kusen jendela. Mataku terus menatap hening pada kanvas hitam di hadapanku. Satu pendar cahaya bintang menyeretku kembali pada masa lalu, yang tak pernah aku lupakan. Masa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “My Black Skin Yoona”

  1. Bejo Hariyanto says:

    wah kamu SONe?, sama dong kayak aku, kamu suka YoonA?, juga sama dong kayak aku, hehehe

    Salam kenal ya… ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *