My Destiny

Judul Cerpen My Destiny
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 8 December 2015

Pagi ini aku harus cepat-cepat pergi ke sekolah, karena ada ulangan yang dimulai lebih awal. Sesampainya di sekolah, aku segera membuka-buka buku untuk sekedar mengulangi apa yang sudah ku pelajari tadi malam. “hey.. Di.” temanku mengagetkanku.
“hey.. apaan sih kamu Vir. Bikin kaget aja.” omelku.
“eh kamu mau liburan ke mana selesai UAS ini?”
“kenapa emang?” tanyaku penasaran.
“yuk ikut aku aja, mau gak?”
“ke mana sih?” tanyaku bingung.

Teeettt.. bel berbunyi tanda sudah harus masuk. Aku mengerjakan ulangan, dan akhirnya selesai.
“eh vir.. Vira, tunggu dulu. Tadi kamu belum selesai cerita, kamu mau ngajak aku ke mana sih?”
“udah.. kamu ikut aja. Besok sabtu ya, aku jemput di rumahmu jam 10, oke Dinda cantik.. heheheh..”
“ehhh.. tunggu dulu!! Viraaa…” Belum juga aku mengiyakan ajakannya, dia sudah berlalu begitu saja. “mau ke mana sih dia, bikin penasaran ajah.. hmmm.” gerutuku sambil berjalan pulang.

Aku adalah salah satu murid SMA di Jakarta, dan aku juga sering diejek teman-temanku karena aku udah jomblo terlalu lama sejak putus dengan pacarku waktu SMP. Sebenarnya aku juga agak jengkel, tapi lama kelamaan sudah jadi bahan tertawaan juga. “cari pacar sono, biar gak sendirian mulu.. hahahahaha Dinda.. Dinda..” kata salah satu temanku yang usil.
“gak apa-apalah, aku masih kuat kok. Hahahahaha..” Tapi dalam hatiku selalu mengatakan, “awas ya kalian semua, kalau aku sampe punya pacar.. Hmmm..” “tapi slow ajalah, buat apa juga punya pacar, nanti juga bikin sakit hati lagi. Udah cape juga diphp terus..” aku mencoba menenangkan diri.

Hari sabtu, jam 10 Vira datang menjemputku dan teman-teman lain juga ikut, aku kaget melihat mereka semua, tapi seneng juga, bisa liburan bareng mereka semua.
“Ayo din.. cepetan!!” Vira memanggilku.
“iya bentar ya..” kataku menyauti Vira. Aku segera berpamitan dengan orangtuaku, dan langsung pergi dengan teman-temanku dan Vira.
“eh vir, mau ke mana sih kok anak-anak ikut semua?” tanyaku yang masih penasaran.
“ke Bali!!” jawab Vira singkat, tapi cukup mengagetkanku.
“apaaaa.. Ke Bali? Kok gak ngomong dulu sih kamu Vir, tahu gini kan aku bisa siap-siap dari kemarin..” Gerutuku pada Vira.
“udah.. gak papa. Slow aja lagi. Oke.” Vira menenangkanku.

Sekitar jam 5 wita, aku sudah sampai di Pulau Dewata tersebut. Aku dan teman-temanku menjelajahi pulau tersebut, di pantai, gunung, dan lain-lain. Dalam kebersamaan dengan teman-temanku, aku senang sekali bisa liburan bareng mereka. Di sisi lain, aku juga kespian dan membutuhkan perhatian dari orang yang aku cintai, namun orang yang aku cintai tak tahu apa perasaanku padanya yang sebenarnya. Orang yang aku cintai itu dulu adalah teman kecilku, dan sekarang sudah terpisah entah di mana sekarang dia berada. Aku memendam perasaan ini dan tak ada satu pun temanku yang tahu, termasuk Vira sahabatku.

Aku menepi di pinggir pantai sambil membaca buku. Aku terus teringat dengannya, kemudian terlintas di pikiranku untuk membuat sebuah surat. Surat yang akan kubuat dan akan ku buang ke laut itu, aku berharap akan menemukan cinta sejatiku, dan akan bisa melupakan teman kecilku dulu yang aku cintai, aku ingin melupakannya, karena sudah terlalu sakit dengan semua ini, aku benar-benar ingin melupakannya. “harus bisa din.. kamu harus bisa ngelupain dia..” kataku menguatkan hatiku sendiri. Lalu aku membuat selembar surat, dan aku memasukkan surat tersebut dalam botol. Dengan kesungguhan hati dan harapan untuk bisa melupakan dia, aku berharap yang akan menemukan surat ini, akan menjadi teman. Ya, teman hidupku. Aku melepasnya ke laut lepas dan botol tersebut terombang-ambing oleh ombak lautan. 1, 2, 3 hari di Bali, akhirnya aku dan teman-temanku kembali ke Jakarta.

Setelah hampir 2 minggu aku melepaskan surat dalam botol tersebut, aku juga sudah agak lupa dengan surat tersebut dan hampir bisa melupakan dia.
“kriiiinggg..” suara hp-ku tiba-tiba berbunyi.
“nomor siapa ya ini?” aku bingung.
“halo.. siapa ya?” sapaku mengawali pembicaraan di telepon.
“Dinda!!” suara jawaban dari telepon.
“iya, ini Dinda, ini siapa ya?” tanyaku semakin penasaran.
“ini, aku.. Dani. temanmu dulu..”
“Dani?” tak terasa air mataku jatuh begitu saja mendengar nama itu.

Spontan aku langsung menutup telepon itu. Aku mengingat-ingat lagi apa yang aku tulis dalam suratku, apa mungkin Dani yang menemukan suratku itu, aku juga menambahkan nomor teleponku di situ. Sejak hari itu, Dani menghubungiku terus, ternyata benar, Dani yang menemukan suratku, karena selama ini dia tinggal di Bali. Hatiku seakan bercampur aduk, di sisi lain aku merasa senang, dia tenyata masih mengingatku, bahkan masih mengingat tulisanku dalam surat yang aku tulis. Namun, aku ada sedikit luka yang kembali ku ingat saat dia muncul. Akhirnya dia mengajakku ketemuan, karena beberapa hari lagi dia akan ke Jakarta.

Hari itu tiba, dan aku bersiap-siap untuk bertemu dengannya di sebuah cafe. Aku sedikit gugup akan bertemu dengannya. Vira yang curiga karena aku berpenampilan yang beda dari biasanya, bertanya padaku, karena kebetulan kosan Vira dekat dengan rumahku.
“mau ke mana din, rapi banget. Gak biasanya?”
“eh.. Vira gak ke mana-mana kok. Hehehe.” jawabku sedikit gugup.
“aku pergi dulu yaaaa..” aku berlari meninggalkan dia.

Sampai di cafe aku mencari-cari di mana Dani. Aku bertanya pada resepsionis, dan menunjukkan mejanya. Dan rasa gugup itu semakin besar, dan aku memberanikan diri setelah sekian lama berpisah dengannya, dan sekarang kita bertemu lagi. “Dan.. maaf kamu Dani kan?” tanyaku pada seseorang yang duduk di meja yang dimaksud resepsionis.
“iya.. kamu siapa?” Tanya Dani.
“a..aku.. Dinda..” jawabku gugup.
“Dinda..” dengan wajah yang senang sekali, dia tiba-tiba memelukku. Aku kaget sekali, dan langsung melepaskan pelukannya.

Kita duduk, dan bicara banyak sekali, dan anehnya rasa deg-deg-anku tadi rasanya hilang entah ke mana, dan tanpa ku sangka, dia mengungkapkan perasaannya padaku. “Din.. sebenarnya dari dulu aku itu sayang sama kamu. Itu sebabnya sampai sekarang aku juga masih sendiri. Aku menunggu kapan waktu yang akan mempertemukan kita lagi. Aku sempat putus asa, dan aku berpikir tidak akan bertemu kamu. Tapi sekarang, kamu di depanku, dan ini, ini perasaan yang sesungguhnya ke kamu. Maaf karena aku tak pernah memberi kabar ke kamu, karena aku sama sekali tidak tahu tentang kamu. Tapi, hati ini masih milikmu din. Aku sayang kamu..”

Aku hanya terdiam mendengar pernyataan Dani padaku. Dan tanpa sadar juga, aku meneteskan air mata. “Dani.. sebenarnya dari dulu sampai sekarang aku juga masih sayang sama kamu..” aku menjawab Dani dengan terbata-bata. Dani tersenyum mendengar pernyataanku, dan dia mengusap air mata yang mengalir di pipiku.

“oh.. jadi kamu rapi mau ketemu dia din? hehehe.” Tanya Vira mengagetkanku dan Dani.
“Vira.. kenapa kamu di sini? Kamu kok bisa di sini sih?” tanyaku penasaran.
“iya.. aku ngikutin kamu. Hehehehe. Maaf.. hehe.” jawabnya dengan santai.
“hihihi dasar kamu ya.. eh ya kamu tahu semuanya dong dari tadi?” tanyaku.
“iya dong. Hahahha jadi dia yang bikin kamu galau terus? hahaha.” jawabnya menegejekku.
“eh, Vira.. udah dong. Malu tahu…”
“ciee.. pacar baru ciee.. Dinda gak jomblo lagi ciiee..” dia mengejekku lagi.
Akhirnya aku dan Dani jadian, dan kami dipersatukan lagi dengan hal yang tidak terduga. “thanks, God..”

Cerpen Karangan: Nisti
Facebook: Iiszt
Nama: Nurul I
Ttl: Bojonegoro, 04 November 1996
Alamat : Jl. maswiji ds.Banjarsari, Bojonegoro
E-mail : nisti220[-at-]gmail.com

Cerita My Destiny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sambut Bahagia Kita

Oleh:
Suara alunan musik jazz menemani malam bryan dalam dingin malam, bryan menarik selimut sehingga menutupi dada sampai ujung kakinya. Malam ini terasa dingin tapi pikiran bryan terasa panas, karena

Jerrot Makin Melorot (Part 1)

Oleh:
GAGAL MOVE ON Awan hitam yang mulai perlahan menutupi awan putih, aku dan Widya yang sedang duduk berdua di puncak tetapi bukan sedang romantis-romantisan melainkan mengatakan putus seperti film

Janda Perawan

Oleh:
Cerita ini berawal dari cerita kisah percintaan guru les komputerku, sebut saja dia adalah kak Padil, Kisahnya sangat unik dan menarik bagi aku bahkan kami semua yang mengikut pembelajaran

Karena Aku Jatuh Hati

Oleh:
“..Siska, bangun.” Teriak sang bunda pada putri kesayangannya yang mulai beranjak dewasa. “Haaa, Bundaa aku telat.” “Kamu sih dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun.” “Aduh, ya udah nggak usah mandi.

Sebenarnya Apa Itu Cinta?

Oleh:
Semua orang pada waktu yang tepat akan mengalaminya baik disengaja atau pun tidak. Tapi apa sebenarnya arti cinta itu? Dalam khayalan hanya tersiak satu kata yakni “Bahagia”. Namun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *