My Destiny

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 February 2016

Alona membuka matanya perlahan. Kedua matanya bengkak dan merah. Kemudian dia menutup keduanya menggunakan jari tangannya. Malas membayangkan hari ini setelah mimpi buruk semalam. Pertengkaran dengan mamanya. Ah, bukan mimpi buruk. Ini benar-benar kenyataan, kenyataan yang akan jadi mimpi buruk untuknya. Alarm dari handphone-nya berdering, membuatnya semakin malas dan muak. Yah… mau tidak mau dia tetap harus bangun.

“Kalau kamu nggak mau nurut sama Mama, mendingan kamu ke Jogja aja. Ikut Papamu. Sekolah di sana.” Kata-kata sambutan mamanya saat sarapan membuat perutnya kenyang seketika. Bahkan dia baru saja duduk dan sama sekali belum menyentuh makanan di depannya. Sudah dua tahun ini dia ikut mama ke Jakarta setelah mama dan papanya bercerai. Papa tetap tinggal di Jogja, di rumah lama mereka. “Mama cuma pengen yang terbaik buat kamu. Apa pun keputusan Mama itu udah pasti baik buat kamu nantinya.”

Alona hanya diam dan kemudian berpura-pura membenahi tali sepatunya. Dia malas melihat muka mamanya yang sedang begitu. Tegas, tanpa ekspresi. Baginya itu mengerikan. “Nanti malam kamu ikut Mama dinner sama keluarganya Tante Safira buat bicarain masalah pertunangan kalian. Mama nggak mau denger alasan apa pun.” Alona hanya diam, menutup kedua matanya yang masih bengkak serta menaruh kepalanya di atas meja makan. Mamanya mengelus lembut rambut Alona sesaat sebelum dia meninggalkan putri kesayangannya itu ke kantor.

“Gila kan! Bahkan gue nggak tahu namanya siapa, orangnya kayak gimana dan nyokap gue seenaknya aja langsung nyuruh gue tunangan sama dia.” Alona menangis tersedu-sedu di pelukan sahabatnya Vera saat istirahat jam pertama. “Gue harus gimana Ve. Bahkan gue belum pernah pacaran, gak dibolehin pacaran, deket sama cowok aja gak pernah. Sekali disuruh pacaran, gue langsung ditunangin sama orang yang bahkan gue gak tahu namanya!” Alona meronta meluapkan isi hatinya sambil terus mengacak-acak rambut panjangnya.

“Na, udah dong. Jangan gitu. Tenangin diri lo dulu. Jangan mikir negatifnya doang. Pikir positifnya juga. Nyokap lo gitu juga pasti ada alesannya, yaitu cuma karena sayang sama lo. Pengen yang terbaik buat lo.” Vera mencoba menenangkan Alona dan menghapus air matanya serta terus mengelus rambut sahabat yang sudah dua tahun ini selalu bersama dengannya. “Udah, sekarang cuci muka. Kita ke kelas. Muka lo udah jelek banget tuh.” Ve mencoba mencairkan suasana. Tampaknya berhasil dengan terlihatnya lesung pipit pada senyum Alona. “Makasih, Ve.”

Alona bersembunyi di dalam selimut di kamarnya sejak pulang sekolah tadi sore. Dia bahkan belum mandi. Dia hanya menyembunyikan segembol cemilan yang dibelinya saat pulang sekolah plus beberapa buah apel yang diambilnya dari kulkas tadi. Sebagai persediaan makanan saat ia akan berpura-pura sakit di depan mamanya. “Emangnya gue Siti Nurbaya apa. Main dijodoh-jodohin aja.” Gerutunya saat dia sedang menyembunyikan cemilan-cemilannya di bawah kolong tempat tidur. “Tapi ngomong-ngomong, kenapa jam segini Mama belum pulang ya? Katanya mau dinner. Ah! Emang gue pikirin, yang penting gue nggak mau dinner.”

“Tiiiin… Tiiiin..” Alona kaget saat mendengar bunyi klakson mobil mamanya. Dia segera kembali membenamkan tubuhnya ke dalam selimut. Beberapa kali dia latihan bersin agar terlihat lebih meyakinkan bahwa dia sedang tidak enak badan. Beberapa menit kemudian dia mendengar suara tap… tap… tap dari high heels mamanya. Lalu, actiooon!! Haitsi! Haitsi! (bersin)

“Kamu kenapa sayang?” Alona hanya diam dan memasang muka sok melasnya. Sepertinya mamanya sudah paham betul akal bulus Alona. Tetapi dia tetap merasa iba melihat putri kesayangannya seperti itu. Mama mengelus kepala Alona. “Besok kamu pulang ke Jogja, pindah sekolah di sana. Mama udah bicarain sama Papamu.” Alona tersentak dan langsung terbangun melupakan akting sakitnya. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Pikirannya berkecamuk.
“Ah, yes! Nggak jadi dijodohin. Bisa ketemu Papa. Ah, tapi gue di sana nggak ada temen. Apa jadinya gue kalau harus pisah sama Vera. Tapi nggak apa-apa deh. Entar di sana gimana ya… Blaa blaa blaa…”

Semua pikiran berkecamuk Alona terjawab saat sudah hampir seminggu dia bersekolah di sekolah barunya. It’s not bad. Alona mencoba mengintip dari belakang tirai UKS tempat tidurnya. Dia nampaknya menikmati sekali pemandangan di depannya. Sosok yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya yang sedang sibuk mempersiapkan alat p3k. “Gantengnyaaaa…” Alona menggereget dalam hati. Pikirannya melayang, membayangkan saat-saat pertama dia bertemu dengan guru olahraga favoritnya itu. Guru terkece sepanjang masa. Masih muda, hanya selisih sekitar 4 tahun dengan Alona. Tinggi, putih, dengan gaya rambut simple tapi rapi yang membuatnya semakin berkharisma. Ah, dia tidak putih. Kulitnya bersih, sawo matang seperti kulit-kulit khas orang Jogja lainnya.

Dia kelihatan tambah kece ketika mengenakan celana training warna biru dan baju berkerah warna putih saat mengajar olahraga. Sepatu putihnya tetap bersih meski dia lari-lari seharian di lapangan rumput sebelah gedung sekolah. Tidak lupa dia memakai kalung peluit berwarna hitam kinclong. Aah… gadis mana pun pasti akan terpesona saat melihatnya. Alona semakin terbuai dalam lamunannya (bahasa jawa melamun -ndomblon- melamun sambil melongo dengan posisi mulut terbuka). Dia membayangkan kejadian dua hari yang lalu saat untuk pertama kalinya dia bertemu dengan makhluk Tuhan paling ganteng itu, Pak Miqdad. Anak-anak akrab memanggilnya Pak Ida.

Saat itu adalah hari kelima Ona bersekolah di sekolah barunya. (Ona: panggilan akrab yang menurutnya jelek, dia dipanggil begitu oleh teman-temannya di sini). Pagi itu Ona malas bangun dan akhirnya telat 10 menit saat tiba di sekolah. Seperti biasanya, anak-anak yang telat pasti mendapat hukuman. Padahal, Ona masih harus mempersiapkan ppt untuk presentasi pada jam pertama yang belum selesai dibuatnya semalam. “Ohh…bad day i ever have!” Alona berteriak di dalam hati. Ona mendapat hukuman keliling seluruh kelas dan mencatat nama siswa-siswa yang hari itu absen -tidak berangkat sekolah- lengkap dengan keterangan alasannya. Ona sangat terburu-buru, lari dari kelas ke kelas sampai akhirnya…

Praak… Gubrak!! Dia terpeleset, jatuh tengkurap dengan posisi yang sangat konyol. Hidungnya mencium ujung sepatu orang yang sedang berdiri di depannya. Sangat memalukan. (dia butuh waktu berhari-hari untuk melupakan kejadian itu dan menangis tiap malam saat kembali teringat). Dia hampir berteriak marah-marah sampai akhirnya dia ternganga setelah melihat sosok di depannya. Dia tidak sanggup berkata-kata dan hanya ndomblong masih dengan posisi konyolnya. Hanya saja, bedanya sekarang kepalanya mendongak ke atas. Dia mau berbicara tapi tergagap-gagap. Bahkan otaknya juga tidak tahu dia mau bicara apa.

“Ng…ngg… Aa.. Aanu..” Pak Miqdad hanya memandangnya tanpa ekspresi lalu melangkah di samping tubuh Alona yang masih tengkurap. Dan.. “Woiii!!” Alona berteriak dan dengan spontan meraih serta menarik baju batik Pak Miqdad sampai robek di bagian belakang. Ohh…. Pak Ida melambai-lambaikan tangan di depan muka Ona yang masih ndomblong sedari tadi. Bahkan dia tidak sadar kalau sebelumnya dia sedang mengintip Pak Ida. Sampai akhirnya…

“Ona!” Alona tersentak dan hampir terjelungkup dari tempat tidurnya. Tapi terselamatkan dengan memeluk pinggang Pak Ida yang sedang berdiri di depannya.
“Aaaaah… wangiiii…” Nampaknya Alona belum sepenuhnya sadar dari lamunannya. Bahkan dia tidak sadar, dengkulnya yang lecet gara-gara jatuh waktu olahraga tadi tertindih olehnya sendiri. Dia masih bertindak bodoh sampai Pak Ida menyadarkannya dengan menepuk jidat Ona menggunakan pulpen yang ia ambil dari saku bajunya.

“Mm..mmaaf Pak,” Alona berbicara tergagap-gagap karena malu dan grogi. Diteruskan dengan menangis menyadari darah semakin banyak ke luar dari dengkul kirinya.
“Kenapa dari awal ketemu, kamu bikin saya sial sih.” Pak Ida berbicara dengan ketus sambil memasang perban di dengkul Alona. Alona meringis menahan sakit sambil menutup mata menggunakan satu tangannya. Sesekali mencuri pandang ke arah Pak Ida. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “Kalau kamu tidak lanjut ikut penilaian lompat jauh, berarti kamu tidak dapat nilai.” Pak Ida berkata sambil membereskan p3k dan meninggalkan Ona.

Alona hanya bersungut-sungut memanyun-manyunkan bibirnya. Sesekali dia tersipu-sipu sendiri saat teringat memeluk Pak Ida. Aaahh… Ona tertawa sendiri seperti orang gila. Dan kemudian kembali merintih kesakitan karena dengkulnya yang lecet. Ona merebahkan badannya sampai tidak sadar bahwa dia tertidur hingga jam pulang sekolah. Dia masih memakai seragam olahraga. Dia bersusah payah untuk berdiri tapi kakinya masih sakit. Selama 30 menitan dia merintih kesakitan. Sekolah mulai sepi dan Ona masih di dalam UKS.

“Gimana nih. HP di kelas lagi. Masak gue harus teriak-teriak minta tolong.”
Ona celingak-celinguk kebingungan dan hampir menangis.
“Tolooong… Toloong.. Pak guru… Bu guruuu!”
Hupp!! dari samping ada yang tiba-tiba membungkam mulutnya.
Ona celingak-celinguk kebingungan dan hampir menangis.
“Tolooong… Toloong.. Pak guru… Bu guruuu!”
Hupp!! dari samping ada yang tiba-tiba membungkam mulutnya.
“Kamu selain bawa sial, berisik juga ya. Ganggu orang tidur aja!” Pak Ida berbicara dengan nada gemas saking jengkelnya dengan Ona.

“B..bapak sejak k…kapan di..di situ?” Ona memberanikan diri bertanya dengan takut-takut, karena merasa tidak enak. “Kamu jatuh saat jam pelajaran saya, jadi saya harus tanggungjawab jagain kamu.” Pak Ida menjawab sambil bangun dan membereskan tempat tidur UKS.
“Maaf Pak, saya teriak-teriak. Habis saya mau bangun nggak bisa. Mau telepon Papa hp-nya di kelas.” Ona sudah mulai berani bicara tanpa takut-takut lagi, sambil mencuri-curi pandang ke arah guru favoritnya itu.

Duhh.. kalau emang dasarnya ganteng walaupun bangun tidur tetep kelihatan ganteng yah. Batinnya. Tanpa berkata-kata dan tanpa ekspresi tiba-tiba Pak Ida melemparkan tas kepada Ona (itu memang tasnya) lalu berjalan menuju pintu ke luar UKS. Baru beberapa langkah Pak Ida berjalan, tiba-tiba Ona berteriak. “Aaaaa… hp-ku matii Paaak.” Ona pura-pura menangis sambil terus mengawasi gerak-gerik Pak Ida. Pak Ida menghentikan langkahnya sesaat dan tiba-tiba berjalan balik dengan cepat menuju Ona. Bagaikan srigala yang siap memangsa kancil di depannya. Ona kaget dan ketakutan melihat ekspresi Pak Ida seperti itu. “Naik!” Pak Ida berkata sambil sedikit membentak. Dia sudah ada di depan Ona dan memposisikan diri siap menggendong Ona.

Sekolah sudah sepi. Seakan-akan tinggal mereka berdua. Hanya terdengar langkah berat Pak Ida yang sedang menggendong murid perempuannya itu. Sayup-sayup terdengar juga tawa anak-anak yang masih berada di kantin belakang sekolah. Pak Ida hanya diam dan terus berjalan. Sementara Ona benar-benar menikmati (bau badan Pak Ida) yang menurutnya.. “Hmm.. wangi bangeet!” Karena suasana begitu sunyi saat memasuki lorong-lorong sekolah yang lumayan panjang, Ona sampai tertidur. Pak Ida hanya geleng-geleng kepala sambil terus berjalan menuju rumah Ona yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Pak Ida sampai heran, kenapa anak ini bisa telat.

Sejak terjadinya tragedi itu sekarang Alona menjadi semakin ngefans dan sok akrab dengan Pak Miqdad. Banyak hal berubah dalam hidupnya. Alona yang tadinya selalu telat saat berangkat sekolah, sekarang tidak. Bahkan sejak pukul 05:30 pagi dia sudah mengendap-endap bersembunyi di balik pintu gerbangnya. Ngapain? Nungguin Pak Miqdad yang ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah Alona. Papa Alona sampai kadang tertawa melihat tingkah putri semata wayangnya itu. Tapi papanya kelihatan bahagia sekali melihat perubahan positif dalam diri Alona.
Pak Miqdad memang selalu berjalan kaki saat berangkat ke sekolah. Hampir setiap pagi Alona menunggu agar bisa berjalan sama-sama dengan Pak Miqdad.

Terus? Reaksi Pak Miqdad? Pak Miqdad sih cuek-cuek saja orangnya. Hanya terkadang dia juga suka diam-diam tersenyum saat melihat tingkah konyol Alona. “Bapaaak…kita jalan sama-sama yuk!” Alona berbicara setengah berteriak sambil berlari menuju Pak Miqdad yang sedang berjalan di depan rumahnya. Awalnya Pak Miqdad merasa aneh dan selalu kaget menghadapi tingkah Alona yang seperti itu. Tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa.

Dia tetap berjalan biasa dan Alona akan mengikutinya di belakang. Ya.. setengah berlari juga karena langkah kaki Pak Miqdad lumayan cepat. Terkadang sampai Alona ngos-ngosan. Bukan hanya itu. Kini Alona juga ikut-ikutan rajin ke perpustakaan mengikuti Pak Miqdad. Saat tidak ada jadwal mengajar, Pak Miqdad hanya duduk di perpustakaan membaca buku. Alona sampai hafal dengan jadwal mengajar Pak Miqdad. Begitu… setiap hari. “Kamu nggak ke kelas? Kan udah jam masuk kelas?” Pak Miqdad bertanya saat suatu hari mereka sedang makan siang di kantin. Alona yang berada di dekatnya tidak mendengar karena sibuk memakan ice cream cokelatnya.

Tanpa dia sadari, ternyata Pak Miqdad memperhatikannya. Pak Miqdad mendekatkan wajahnya ke muka konyol Alona. Alona semakin kelihatan konyol saat kaget menatap wajah Pak Miqdad yang semakin dekat dengan wajahnya. Tik, tok, tik, tok… Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun ke luar dari mulut keduanya. Hanya saling bertatapan. Pak Miqdad dengan tatapan tajamnya dan Alona dengan tatapan bingung dan konyolnya. “Kamu kayak anak kecil ya kalau makan ice cream,” Pak Miqdad berkata sambil membersihkan sisa-sisa ice cream yang belepotan di sekitar bibir Alona dengan tangannya. Lalu pergi begitu saja meninggalkannya. Meninggalkan Alona yang entah, pikirannya sudah melayang sampai ke mana.

“Alona nggak mau Ma! Pa, tolongin Alona. Alona nggak mau dijodohin. Alona udah punya pilihan sendiri! Kenapa Mama sama Papa nggak pernah mau ngerti sih!” Alona berteriak tidak karuan sambil terus menangis sepanjang perjalanan. Ternyata orangtuanya tetap bersikeras menjodohkan Alona dengan lelaki pilihan mereka. Mereka bahkan tidak menghiraukan anaknya yang menangis dan berteriak-teriak di belakang.

Hari ini adalah hari pertunangan Alona. Tepat 2 minggu setelah pengumuman kelulusan. Keinginannya untuk menyatakan cinta kepada Pak Miqdad musnah sudah. Kini dia hanya bisa menangis, meronta-ronta mencoba mengurungkan niat orangtuanya untuk menjodohkannya. Alona bahkan tidak tahu, siapa nama orang yang akan bertunangan dengannya. “Alona sayang… udah siap belum?” dengan lembut mamanya mengetuk kamar Alona dan memanggilnya.

Alona melihat mukanya di kaca dengan tatapan mata kosong. Meski terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna putih dan riasan di wajahnya, tidak bisa menutupi kesedihan Alona. Di hari yang seharusnya akan jadi hari terindah dalam hidupnya (hari pertunangan), tapi malah menjadi mimpi buruk. Dia terus memikirkan Pak Miqdad. Seharusnya hari ini dia akan menemuinya dan menyatakan cintanya. Tapi.. Ah! Dengan hati-hati mamanya menuntun Alona menuruni tangga-tangga. Semua tamu undangan sudah menunggu di bawah. Alona tertunduk. Tidak berani melihat wajah pasangannya yang berdiri di bawah sejak tadi. Sekilas dia hanya melihat orang itu mengenakan jas hitam.

Seluruh tamu menatapnya kagum. Alona sangat cantik. Mamanya menuntun menuju pasangannya, menuju orang yang akan bertunangan dengannya. Akan tetapi Alona tetap menunduk, bahkan dia menutup matanya. Hingga akhirnya, dia merasakan tepukan lembut di jidatnya. Tepukan lembut dengan menggunakan pulpen. Orang berjas hitam di depannya berbisik di telinga Alona. “Jangan lupa, ganti baju batikku yang udah kamu bikin robek ya?”

Cerpen Karangan: Isna Kuntara
Facebook: Izna22[-at-]rocketmail.com

Cerpen My Destiny merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


PSPH (Part 1)

Oleh:
Verin tertawa mendengarku, meskipun mulutnya masih setengah penuh potongan sosis goreng, “Seriusan lu Riz? Beneran nih?” Aku tersenyum lalu membalasnya, “Ya, masa gue bercanda, hahaha, beneran, gue sama si

I’ll Be Waiting For You, My Sun

Oleh:
Drtt.. drrrt.. suara handphone berdering membangunkanku, sebuah pesan baru saja masuk “Selamat pagi, maaf ya aku belum bisa menemuimu karena aku harus mengikuti kegiatan di kampusku” Juandra. Ohiya, Juandra

Cinta SMA

Oleh:
Dari SD, aku selalu menyimpan perasaan ini. Dan kini, seseorang telah mengambilnya. Yaitu sahabatku sendiri. Oh ya, namaku Nafia. Aku duduk di kelas 3 SMA. Aku salah satu anggota

Cowok Cupu Cintaku

Oleh:
“Drrt… Drrt… Drrt.” Hpku bergetar dan ternyata 1 pesan diterima. “Aduh siapa sih pagi-pagi udah sms? Gak ada kerjaan lain apa?” omelku sambil buka hp. “Oh si Ryan. Pantesan.

Bukan Gue Tapi Loe

Oleh:
Loe pernah dengar yang Namanya Jagoan Sekolah ngak, Nah Di SMA Mulia mereka juga punya jagoan nih namanya Peter seorang cowok yang jagonya berantem, Hobinya kalau ngak Tawuran ya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *