My Love Story (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 March 2019

Kulangkahkan kaki ini, menuju ruang yang berada di paling selatan gedung sekolahku bagian barat. Kelas baru, dengan ukuran sekitar 5×5 meter. Cukuplah untuk menampung sekitar 32 murid. Welcome to 9A terpampang jelas ketika aku masuk di kelas ini. Miris, karena kelas ini bukanlah kelas yang aku inginkan.

Tepat di sebelah timur kelas ini, Ruang Kepala Sekolah berada. Hanya berjarak beberapa meter karena di antara kelasku dengan ruang kepsek terdapat lapangan upacara yang bisa menampung kuota 700 kurang. Setidaknya aku bisa menerima ini. Untunglah aku sekelas dengan teman dekatku kelas 8. Wulan namanya, orangnya putih dan pintar. Ia selalu berada di atasku dalam pelajaran. Iri pastilah. Tapi, aku tetap bersahabat dengannya. Karena kalah dalam prestasi itu adalah hal yang biasa. Aku belum tahu siapa teman temanku di kelas ini. Karena hanya sebagian murid yang langsung duduk di sini. Ya, hari ini hanyalah pembagian kelas.

Bosan ternyata jika ngobrol dengan Wulan. Karena biasanya kami berempat (Aku, Wulan, Lia, Atik). Dan sekarang hanya aku dan wulanlah yang satu kelas.

Bel masuk berbunyi, para siswa siswi segera berhamburan menuju kelasnya masing masing. Satu persatu teman temanku masuk, ada yang tinggi, pendek, kurus, gendut, cantik, tampan semuanya komplit di sini. Hingga aku terkejut dengan datangnya sosok laki laki tinggi besar masuk ke kelas ini. ‘Huh cowok itu lagi’ batinku dalam hati.

“Kesh lihat tuh meja bagian timur paling belakang” ucap Wulan kepadaku, ia memang tahu seperti apa hubunganku dengan cowok tadi. Musuh Bebuyutan. Entahlah awalnya bagaimana kami bisa bermusuhan. Tapi satu yang pasti, kelas ini sepertinya akan hancur dengan kedatangan dia. Aku mendengus kesal dan menoleh ke tempat duduknya. Wow dia menatapku dan juga senyum itu. Senyum yang selalu kuingat hingga saat ini. Bukanlah senyum yang dapat memikat hatiku ini. Melainkan sebuah sinyal peperangan untukku.
Kuakui dia memang tampan, tapi aku enggan menyebutnya tampan karena sifat yang menyebalkannya itu.

Akhirnya waktu ini berakhir juga. “Lan duluan ya” tanpa balasan darinya aku segera pergi keluar kelas. Bruk!! “Aww” rintihku. Sial, dia menjegalku di depan kelas. Wulan yang melihatku segera menghampiri dan membantuku. “Lo gak papa kan Kesh?” tanya Wulan. Aku hanya menggeleng dan berjalan ke arahnya. Kulihat dia bersandar di kusen pintu kelas ini dengan telapak tangannya yang ia masukkan ke kantong celananya sambil menyeringai kecil. “Lo punya kaki digunain yang bener dong jangan bisanya buat njegal orang aja. Lo tuh harusnya bersyukur kaki lo sehat. Di luar sana banyak orang yang pengin punya kaki yang sehat kaya lo. Biar apa?? Biar mereka bisa jalan kaya manusia normal lainnya. Lah ini, lo sia siain kaki lo buat hal yang gak ada gunanya. Suatu saat nanti lo gak punya kaki gue sumpahin seumur hidup.” ucapku geram kepadanya. “Udah ceramahnya?” balasnya dan segera bergegas pergi sambil bersenandung. “Jeje awas ya lo. Gue sumpahin lo gak punya kaki biar tahu rasa.” teriakku keras. Tapi orang yang kusumpahi tak menggubrisnya. Geram.

Kami semua masuk ke kelas masing masing, setelah berjam jam di lapangan upacara untuk melaksanakan rutinitas kami sebagai siswa di hari senin pagi, Upacara Bendera. Setelah hampir satu bulan kami libur sekolah, hari ini hari pertama KBM dimulai, malas. Aku hampir saja lupa bagaimana caranya mrnulis. Oh tidak sepertinya itu hanya gurauanku saja. Tapi, sebelum KBM dimulai terlebih dahulu ada pembinaan wali kelas. Kuharap wali kelas yang kudapatkan nyambung dengan aku dan teman temanku ini.

Datanglah seorang guru tinggi kurus putih berkacamata dengan rambutnya yang pendek masuk ke kami. ‘Bruh’ kudengar kata itu berulang kami. Wali kelas yang kami dapatkan ternyata tidak sesuai dengan harapan kami. Bu Nadiya namanya, guru mapel PPKN yang paling killer di sekolah ini. “Selamat pagi anak anak?” sapa wali kelasku. “Selamat pagi bu” jawab kami serempak. Setelah berbasa basi, akhirnya kami akan perkenalan di depan kelas. Agus Setya Darmawan dari kelas 8B dulu yang maju perkenalan. Setelah itu barulah aku, karena nama lengkapku diawalu dengan huruf ‘B’.

“Pagi teman teman! Perkenalkan nama saya Btari Keshya Valerie kalian bisa memanggil saya dengan Keshya” ucapku memperkenalkan diri. Aku baru saja ingin kembali duduk, hingga kudengar suara itu “Kalau manggilnya Chaca boleh gak? Kan enak tuh, kayak ada manis manisnya gitu.” teriakan itu sukses membuat seisi kelas tertawa. “Maaf ya mas di sini gak jual permen chaca ya. Adanya tuh di kantin sama koperasi sekolah.” jawabku ketus dan langsung duduk di bangkuku. Jujur aku tak suka dengan panggilan itu. Hanya dia yang memanggilku seperti itu. Dan tak ku tahu darimana asalnya dia mendapatkan nama jelek kayak gitu.

“Absen 15.” ucap bu Nadiya. Oh ternyata gilirannya cowok itu. Dengan gayanya yang sok cool ia memperkenalkan diri, ingin kumuntahkan isi perutku di wajahnya karena geli dengan sifat sok coolnya itu. “Perkenalkan nama saya Jerry Yan Junior biasa dipanggil Jeje.” ucapnya dengan suara lantangnya. “Mas, ibunya waktu itu ngidam Tom and Jerry y? Kok anaknya dikasih nama Jerry? Trus apaan tuh, Junior? Badan gede tinggi kayak gitu junior, malu dong harusnya.” ucapku yang sukses membuat gelak tawa lebih parah daritadi. ‘Yes satu sama, rasain lo’ batinku dalam hati. Kulihat wajahnya yang merah padam, kupastikan ia menahan malu dan amarah yang besar. Wali kelasku hanya bisa geleng geleng dan segera menghentikan gelak tawa ini.

15 menit kemudian perkenalan konyol ini berakhir. “Perkenalan sudah selesai, saatnya pembentukan pengurus kelas.” wali kelasku mengakhirinya dan mengganti topik baru.

“Bu gak bisa gitu dong, pokoknya saya gak setuju sama keputusan ini.” aku memprotes hasil voting ini, ya aku tak menerimanya dengan lapang dada. “Keputusan ibu udah bulat gak bisa diganggu gugat.” jawab bu Nadiya keras kepala. ‘Shit’ sebel…

‘BERSAMBUNG’

Cerpen Karangan: Nisa Syahru Ramadani
Blog / Facebook: Facebook: Nisa Syahru
Penulis Amatiran

Cerpen My Love Story (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Sebelah Mata (Part 1)

Oleh:
Dedaunan kering berjatuhan tertiup semilir angin di tepi danau, orang-orang sedang asyik memancing, ditambah birunya langit yang membentang. Aryn, perempuan yang tengah duduk di bangku di bawah pohon dekat

Tak Seindah Harapan (Part 3)

Oleh:
Setelah hari itu, kupikir kami akan dekat, tapi ternyata aku salah kami tetap seperti biasanya. Hanya saling menyapa dan tersenyum kalau hanya ada kami berdua. Tapi, ada yang beda

Yes! I’m Your Home (Part 1)

Oleh:
“Sudah Ki, ikhlasin Resa biarkan dia tenang di alam sana” Aku mengelus pundak laki-laki yang jongkok di samping makam. Tangannya meremas tanah makam yang basah, matanya sembab habis menangis.

Jalanan Hitam Putih

Oleh:
Aku duduk di bawah pohon jambu ini, sambil melihat ke arah utara. Di sana, mereka sedang bermain dan berlari tak tentu arah. Ya, sekarang kami sedang jam olah raga.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *