My Love Sunshine

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 January 2016

Di bawah terik sinar matahari yang sangat menyengatkan siang itu, terlihat seorang laki-laki sedang berdiri dekat tiang bendera sembari memberikan hormat kepada sang bendera merah putih, yang membuatnya cukup bercucuran keringat. “Kamu sudah sering saya hukum tapi nggak ada kapok-kapoknya, sudah dandanan kamu seperti preman saja. Seragam compang-camping, celana robek-robek, pakai anting lagi, nilai kamu juga di bawah rata-rata. Saya heran sama kamu bukannya saat di sekolah kamu dulu baik-baik saja tapi di sini kamu berandalan sekali.” cecar Pak Anwar selaku guru BP, sementara dia hanya membuang muka dan seolah-olah apa yang diucapkan Pak Anwar hanya sebuah angin lewat belaka.

Datanglah seorang siswi yang sebelumnya telah dipanggil oleh Pak Anwar. “Permisi Pak.”
“Iya. Calista ini dia Reno anak nakal itu, dan Reno dia ini Calista seorang siswi teladan, cerdas dan juga berprestasi di sekolah, dia yang akan mengajarkan kamu pelajaran yang kamu tidak mengerti sekaligus dia juga yang akan membuat kamu berubah dalam penampilan maupun perilaku kamu, saya harap kamu bisa belajar banyak dari Calista, karena usia kalian sama, kamu pasti bisa berkomunikasi dengan baik.” Sementara mereka hanya saling pandang tak suka satu sama lain. Bel pulang pun berbunyi, semua guru-guru dan para murid ke luar kelas masing-masing.

“Calista, kamu serius terima tawaran dari Pak Anwar?” tanya temannya Sita.
“Iya, aku berharap aku bisa membuat dia berubah.” Tiba-tiba tangan Calista ditarik oleh seseorang dan saat melihat orang itu, ternyata Reno, Calista berusaha melepaskan genggaman tangan Reno yang kuat. “Lepaskan!” Reno pun membawa Calista ke kelas yang sudah sepi, ia pun segera melepaskan genggamannya.

“Awww…”
“Dengar ya, lo nggak usah sok sok-an ngajarin gue segala, gue nggak suka sama lo, ngerti lo.”
“Aku nggak maksud sok sok-an, ini permintaan Mama kamu sama Pak Anwar.”
“Terserah.” Reno beranjak pergi meninggalkan Calista namun, Calista menghentikan langkah kakinya dengan ucapan yang menusuk hati Reno.
“Karena perceraian kedua orangtua kamu, yang disebabkan oleh Papa kamu yang berselingkuh di belakang Mama kamu. Membuat kamu seperti ini iya kan?”

Reno yang mendengar hal itu kesal ditambah wajahnya yang berapi-api, menghampiri Calista, sementara Calista merasa bersalah atas ucapannya itu dan ia juga merasa takut kalau Reno memukulnya, ia pun memejamkan matanya namun, Reno lebih memilih memukul meja yang ada di belakang Calista dan membuat mereka saling dekat satu sama lain, Calista pun merasa terkejut dan segera membuka matanya dan yang ia lihat adalah kedua bola mata Reno yang memandang tajam. Tak berselang lama Reno pun pergi meninggalkan Calista yang mematung.

Setelah selesai makan dan berganti pakaian, Calista pergi ke rumah Reno dengan perasaan bersalahnya namun, Reno tidak ada dan yang ia temui hanya Tante Mira -mama Reno- mereka pun berbincang sambil menunggu Reno pulang, tak berselang lama Reno pun pulang, saat ia melihat Calista sedang duduk di ruang tamu ia segera pergi ke luar meninggalkan mereka, Calista pun mengejar Reno.

“Reno…” sambil menarik tangan Reno namun segera ditepis olehnya.
“Lo, datang ke sini mau ngapain? lo mau ketawain gue hah?”
“Aku nggak ada niatan sedikit pun untuk ngetawain kamu, aku datang ke sini untuk minta maaf sama kamu soal tadi di sekolah…”
“Lo, pinter banget ngelesnya.”
“Aku nggak ngeles.” Reno pun beranjak pergi namun, kata-kata Calista menghentikan langkah kakinya.
“Kamu egois, kamu lebih mementingkan perasaan kamu dibandingkan perasaan Mama kamu.” mendengar hal itu membuatnya merasa bimbang, ia pun menengok ke arah Calista dengan penuh tanda tanya. Mereka pun berada di taman bermain dan segera duduk di bangku yang kosong.

“Dulu, tempat ini adalah tempat kesukaan gue sewaktu kecil. Gue, Mama dan orang yang gue sebut sebagai Papa sering ke sini. Waktu gue duduk di kelas X SMA, kedua orangtua gue bercerai, gue nggak tanya kenapa alasan mereka bercerai, gue takut membuat mereka tambah sedih dan gue pikir mereka berpisah karena tidak ada kecocokan tapi itu salah, gue dengar pembicaraan orang yang gue sebut Papa di telepon dengan seseorang yang ia panggil ‘sayang’ di situlah gue tahu yang sebenarnya…”

“Aku tahu perasaan kamu seperti apa saat itu, tapi aku harap kamu bisa berubah seperti dulu, Mama kamu sangat sedih melihat kamu seperti ini, mungkin perasaan kamu hancur tapi lihat Mama kamu begitu tegar dan kuat, seharusnya kamu bisa seperti Mama kamu.”
“Lo, gampang ngomong kayak gitu, tapi gue…”
“Kamu bisa, aku yakin dan sebagai permintaan maaf aku, aku ingin memberikan satu permintaan buat kamu, gimana?”
“Lo, nggak takut gue minta macem-macem?”
“Nggak, aku yakin permintaan kamu nggak aneh-aneh karena kamu orang baik.”

Mendengar hal itu, Reno merasa senang berada di dekat Calista. “Oke, tapi gue juga mau minta maaf sama lo, soal gue yang marah-marah sama lo dan gue juga akan memberikan satu permintaan buat lo, gimana?”
“Kamu ikut-ikutan aku aja deh…” Calista tertawa kecil mendengar ucapan Reno.
“Tapi kita impas kan?” Mereka pun saling setuju satu sama lain. Dan tanpa mereka ketahui bahwa permintaan yang saling mereka tawarkan akan merubah hidup mereka.

Hari-hari pun silih berganti, Reno semakin menuruti ucapan Calista dengan merubah penampilannya, ia juga semakin rajin belajar dengan Calista, nilai-nilainya pun meningkat pesat karena memang pada dasarnya Reno anak yang cerdas maka itu ia mudah menerima pelajaran yang Calista berikan kepadanya. Bukan hanya itu saja ia juga banyak diidolakan para murid perempuan di sekolahnya karena perubahannya yang berbeda 180 derajat dan ketampanannya yang terpancarkan, ia pun disebut sebagai cowok terfenomenal sementara Calista yang berhasil membuat Reno berubah membuatnya dijuluki sebagai penakluk anak nakal. Namun, di balik perubahannya itu, seseorang yang dulunya ia panggil papa dan sekarang sangat ia benci kini datang kembali ke kehidupannya terutama mamanya.

Bel pulang pun berbunyi, Reno menghampiri Calista ke kelasnya. “Reno, kamu ke sini? ada apa?”
“Lo, ikut gue sekarang.” pinta Reno sambil menarik tangan Calista. Reno pun membawa Calista ke rumahnya mereka pun berbincang bersama Tante Mira, namun di tengah-tengah obrolan mereka, terdengar suara bel berbunyi, saat Tante Mira membuka pintu yang dilihatnya adalah mantan suaminya yaitu Papa Reno, ia sangat terkejut ketika melihatnya. “Mas?”
“Mira, aku datang ke sini ingin meminta maaf sama kamu…”
“Baru sekarang kamu mau meminta maaf sama aku, sudah setahun yang lalu, Mas..”

Mendengar ucapan mamanya Reno tahu siapa yang datang itu, ia pun segera keluar menemui seseorang yang telah membuat hidup mamanya dan dirinya menderita, Calista pun mengikutinya di belakang. “Reno, maafkan Papa nak, Papa menyesal, ternyata Papa salah telah meninggalkan kalian dan lebih memilih orang lain yang sebenarnya hanya ingin memeras harta Papa… Mira, aku minta maaf.”

“Anda menyesal? baru sekarang anda meminta maaf, setelah apa yang anda lakukan kepada Mama saya? hidup kami sekarang baik-baik saja jadi tolong anda pergi sekarang dari rumah ini dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami atau menginjakkan kaki anda ke rumah ini lagi, anda paham.” tegas Reno, segera ia menutup pintu.
“Apa tadi itu Papa kamu?” tanya Calista penasaran, namun Reno tidak menjawab dan lebih memilih masuk ke kamarnya. “Reno!” panggil Calista.
“Sudah, biarkan saja.” pinta Tante Mira, yang juga sama-sama merasa sedih dan terkejut dengan kedatangan papanya Reno. Calista berusaha menenangkan Tante Mira.

Keesokkan harinya di sekolah, Calista menunggu Reno di depan gerbang sekolah, namun sudah bel masuk berbunyi dia juga belum muncul-muncul, Calista merasa panik dan takut kalau-kalau Reno melakukan hal yang bodoh, ia pun memilih membolos sekolah dan mencari Reno ke tempat bermain anak-anak. “Reno di mana kamu?” Ketika Calista melihat ke arah papan seluncuran, terlihat Reno yang sedang berdiri di sana, ia pun menghampirinya.

“Reno, apa yang kamu lakukan di sini? aku menunggumu dari tadi di depan gerbang sekolah, sekarang aku harus membolos karena kamu.”
“gue nggak nyuruh lo ke sini kan?”
“Tapi aku hawatir sama kamu…”
“gue nggak butuh kekhawatiran dari lo.”
“Oke, terserah kamu, tapi aku mohon kamu jangan menyiksa diri kamu seperti ini lagi, mengerti?”
Reno tidak menjawab, Calista berpikir dia akan pura-pura pergi, tapi Reno menarik tangannya berusaha menghentikan langkah kakinya, “tetaplah di sini, aku mohon!” pinta Reno yang segera membuat Calista meneteskan air mata.

“Lo, nangis?
“Nggak, aku cuma kelilipan aja kok…”
“Jangan bohong sama gue.”
“Aku nggak bohong.” Reno pun melepas genggaman tangannya.
“Lo, sedih lihat gue seperti ini?”
“Nggak kok, siapa juga yang sedih, ge-er banget sih jadi orang.”
“Sss…” Calista pun teringat akan satu permintaan yang ia dan Reno sama-sama berikan, ia pun berpikir untuk meminta permintaan itu kepada Reno.

“Mmm… aku boleh meminta satu permintaan yang pernah kamu tawarkan untuk aku, masih ingat kan?”
“Iya, aku ingat. Memangnya kenapa? lo, jangan aneh-aneh deh kalau mau minta.”
“Nggak kok, tapi kamu harus janji bahwa kamu akan mengabulkan permintaan aku ini.”
“Mmm… aku janji. Apa?”
“Aku minta, kamu maafin Papa kamu dan kamu harus buang jauh-jauh perasaan benci kamu sama Papa kamu, janji.”
Mendengar permintaanya membuat Reno terkejut tak percaya dengan apa yang diajukan oleh Calista.

“Apa? kamu nggak salah dengan apa yang kamu minta.”
“Sama sekali nggak, aku tahu, kamu berat banget buat maafin Papa kamu tapi Papa kamu meminta maaf secara tulus dan aku rasa dia memang sangat menyesal telah memilih meninggalkan kamu sama Mama kamu, mungkin hukuman yang ia dapat itu membuatnya tersadarkan bahwa apa yang telah ia lakukan itu salah.”
“Aku nggak bisa.”
“Kamu sudah janji sama aku, janji itu harus ditepati, mengerti.”
Reno memandang heran ke arah Calista, ia pun bertanya-tanya kepada dirinya sendiri apa yang harus ia lakukakn.

Mereka berada di rumah mama Reno, dan terlihat di ruang tamu mamanya sedang gelisah memikirkan kembali kedatangan papanya Reno. “Ma, Reno berpikir sepertinya kita memang harus memaafkan Papa, orang yang selama ini telah menyakiti Mama dan meninggalkan kita demi kekasihnya itu. Memang Papa bersalah tapi dia sudah menyesali perbuatannya itu.”
“Mama juga berpikiran seperti itu, tapi Mama kira kamu tidak akan setuju tapi justru kamu yang meminta Mama untuk memaafkan Papa kamu, Mama bangga sama kamu Reno.”
“Ini semua karena Calista Ma…” Tante Mira pun tersenyum kepada Calista dan mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dilakukannya.

Keesokkan harinya, Tante Mira menghubungi papa Reno, namun ia takut kalau nomor mantan suaminya itu sudah tidak aktif lagi tapi ternyata saat dihubungi nomornya masih aktif, ia pun meminta mantan suaminya itu datang ke rumahnya nanti malam. Sementara Reno dan Calista yang mendengarkan sedikit lega. Malam pun tiba, Reno, Calista dan mamanya sedang menunggu papa Reno di ruang tamu, tak berselang lama terdengar suara bell berbunyi, dan ketika dilihat ternyata papa Reno.

“Mas, kamu sudah datang?”
“Iya.” Tante mira pun mempersilahkan mantan suaminya itu masuk, mereka pun sedikit canggung saat berbicara namun, Calista mencoba membuyarkan kecanggungan itu dengan mengajak berbicara terlebih dahulu. “Om, kenalin namaku Calista, aku temannya Reno, aku di sini diminta oleh Reno untuk menemaninya…”
“Kamu bukannya pacar Reno?”
“Om, bisa saja, nggak kok. Kita cuman teman… iya kan Reno?” tanyanya pada Reno tapi Reno tidak menjawab, dia hanya melengkingkan pundaknya lalu tersenyum.
“Om tahu, pasti ada sesuatu di antara kalian berdua…” Calista pun mengomel pada Reno kalau semua itu tidak benar, tapi akhirnya membuat papa dan mamanya Reno saling tertawa satu sama lain.

Calista pun pulang diantar oleh Reno, di depan rumah Calista Reno meminta satu permintaan yang Calista berikan padanya. “Kamu meminta satu permintaan sama aku? kayaknya aku nggak pernah kasih permintaan buat kamu…”
“Jangan pura-pura nggak tahu deh…”
“Iya deh… kamu mau minta apa?”
“gue mau lo jadi pacar gue?” Mendengar pertanyaan itu membuat Calista terkejut, sejenak ia mematung mendengar permintaan Reno.
“Calista…”
“Ah, iya…”

“Lo kenapa? lo nggak suka sama gue?”
“Nggak, aku hanya heran sama kamu, soalnya sejak kapan coba kamu suka sama aku. Bukannya kamu itu awalnya benci banget sama aku tapi sekarang tiba-tiba kamu meminta permintaan yang sangat mengejutkan buat aku…”
“Sejak lo datang dalam kehidupan gue dan merubah hidup gue seperti sekarang ini.”
“Kamu…” Calista pun terpaku dengan semua kata-kata yang diucapkan Reno.

“Calista!” panggil Reno yang membuatnya terkejut. “Iya…”
“gue cuman minta lo jawab iya atau nggak.” desak Reno, Calista masih bingung apa yang harus ia jawab tapi perasaannya tidak bisa dibohongi, ia pun tersenyum dan hanya mengangguk mengiyakan. Mulai malam itu juga mereka resmi berpacaran, Reno sangat bahagia bisa bertemu dengan seseorang seperti Calista yang merubah kehidupannya 180 derajat dan membuat dia berbaikan dengan papa yang sangat ia benci.

Cerpen Karangan: Ritna Dewi
Facebook: Dewi Nha

Cerpen My Love Sunshine merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Dia, Dan Dirinya (Part 1)

Oleh:
Rintik hujan di luar sana memberikan nuansa yang khas di malam hari. Sunyi. Membaca, itu salah satu hobi Adhis untuk mengusir rasa kesepian yang tengah menghinggapi dirinya. Seperti saat

Cinta Masa SMA

Oleh:
Saat itu Indah melangkahkan kaki ke sekolah baruku. Ya Sekolah Menengah Atas. Sebut saja SMA SWASTA BINTANG. Disana Ia mengenal banyak orang hebat yang tentunya akan menjadi sainganku kelak.

Because Allah or Desire

Oleh:
“Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya itu sebelum mengenalmu. Aku sudah lama mengenalmu dan mengapa di ujung hatiku sudah hampir bisa melupakanmu kau datang lagi memberi sejuta kenangan bagiku.

Surga Kecil Yang Hampir Terlupakan

Oleh:
Adi Bima Saputra adalah nama yang diberikan oleh almarhum ayahnya, harapannya agar kelak ia menjadi seorang laki-laki yang kuat dan tangguh untuk menghadapi kehidupannya, seperti tokoh pewayangan hindu kuno

Cinta dalam Secangkir Moka

Oleh:
Deras hujan membuatku mual tuk menatap jendela kayu tua,tugas kantor yang membuatku pening menumpuk seperti pohon cemara yang teruntai menjadi suatu keindahan langka.tak selang beberapa lama langit berhenti menangis,ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *