My lovely Teacher

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

“Free download game Zuma, tinggal ngetik itu aja fer,” Jelas Sam pada Ferdi. “Woi lo dengerin gue kagak sih? Kok malah ngelamun,” Ucap Sam kesal pada Ferdi.
“Iya-iya gue denger kok,” Jawab Ferdi malas.
“Kalau memang lo denger harusnya lo lakuin, bukannya ngelamun kagak jelas,” Bentak Sam.
“Iya-iya dah gue salah lo bener oke.”

Saat Ferdi sedang asyik bermain Zuma di kelas, Sam menghampirinya.
“Aduh Fer, lo benar-benar serius mau main Zuma, parah bener. Kenapa dengan otak lu, udah error ya? Zaman sekarang masih main Zuma, udah kagak level lagi tuh.” Celoteh Sam.
“Oh iya, by the way ada yang mau ketemu sama lo tuh,” Sambungnya.
“Siapa?”
“Gak tahu, tapi yang jelas dia itu adek kelas kita. Mudah-mudahan kali ini lo terima ya, hehe,” Ujar Sam sedikit menggoda.
“Owh…,” Respon Ferdi dingin.

Setelah menemui gadis tersebut Ferdi segera kembali ke kursinya dan melanjutkan kembali permainannya. Namun dia terbelalak kaget, ketika melihat layar laptopnya sudah tertera tulisan game over. Meskipun begitu Ferdi sudah bisa menduga siapa yang melakukannya. Dan kebetulan, orangnya juga langsung datang.

“Hai Fer, gimana jadinya? Udah lo tolak?” Tanya Sam seperti orang tidak bersalah.
“Seperti biasalah,” Jawabnya dingin sambil menatap Sam dengan sinis.
“Ke-kenapa dengan lu Fer? Kok lo natap gue kayak gitu.”
“Lo mau gue buat game over juga?” Ancam Ferdi.
“Gak lah mana mau gue jadi kayak game lu,” Jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
“Ah… sudahlah, lagian gue juga enggak mau kehilangan sahabat gue cuma gara-gara game.”
“Itu baru sahabat gue, meskipun lagi error kayaknya karena kebanyakan belajar,” Ledek Sam.
“Kupret lu,” Balas Ferdi.

Begitulah keseharian Ferdi, meskipun di sekolahnya dia berprestasi, tapi Ferdi merasa bosan dengan kehidupannya. Setiap hari selalu dihabiskannya dengan belajar. Karena masa depan adalah nomor satu baginya. Ferdi telah bertekad harus bisa membahagiakan orangtuanya, walaupun mereka tidak begitu peduli dengannya, karena sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Terkadang Sam mengatakan kepadanya, bahwa Ferdi membutuhkan cinta lagi untuk membuat kehidupannya menjadi berwarna seperti dulu. Namun setelah dia putus dengan cinta pertamanya, dia tidak bisa menemukan gadis yang dapat menggantikannya. Yah, mantan pertama Ferdi, Clara. Dia adalah senior yang dua tahun lebih tua dari Ferdi. Namun ketika lulus, Clara meminta putus dari Ferdi karena dipaksa oleh orangtuanya. Sejak saat itu Ferdi seperti menutup diri dari gadis lain, bahkan sudah belasan surat cinta yang ada di lemari kamarnya, tapi tidak pernah dibacanya.

Tet… tet…
Bel penanda bahwa waktu istirahat telah usai akhirnya berbunyi juga, sebagian siswa mengeluh mengenai bunyi bel ini. Karena bel ini merupakan pertanda bahwa kebebasan di sekolah ini telah berakhir. Karena waktu pembelajaran yang sangat melelahkan telah datang menjemput.

Seorang guru masuk ke kelas Ferdi. Setelah Ferdi memperhatikannya, ternyata dia adalah guru baru. Dia juga masih sangat muda dan cantik. Entah kenapa Ferdi merasa begitu tertarik dengannya.
“Baiklah semua, perkenalkan nama ibu adalah Rika Putri, kalian boleh memanggil ibu Rika. Umur ibu 22 tahun, dan ibu di sini akan mengajar sebagai guru magang pada mata pelajaran bahasa inggris,” Ucapnya memperkenalkan diri.
“Ibu tinggalnya di mana?” Tanya Sam.
“Kos Ibu di depan apotek surya itu, dekat kok dari sekolah ini. Oh iya, jika kita bertemu di luar sekolah kalian juga boleh memanggil saya kakak.”
“Nah sekarang jika semuanya sudah jelas mari kita mulai saja pelajaran hari ini.”

Ketika Ferdi akan masuk ke dalam mobil, Sam memanggilnya.
“Oi Ferdi…” Teriak Sam.
“Ada apa?” tanya Ferdi penasaran.
“Nurut lo, Ibu Rika tadi gimana orangnya?”
“Nurut gue sih dia baik dan dia mungkin adalah guru yang paling manis di sekolah kita saat ini,” Ucap Ferdi menjelaskan pendapatnya.
“Ehh tumben nih, lo kasih penilaian yang sejujur itu. Jangan-jangan lo naksir nih,” Ledeknya.
“Naksir kepala lu, gak bakalan tu,” Ucap Ferdi kesal.
“Sekarang lo mau ke mana?”
“Cuma mau ngumpul sama temen-temen gue,” Jawab Ferdi datar.
“Maksud lu sama mereka itu. Udahlah bro, udah jelas mereka itu bukan teman yang baik, lo masih mau berteman dengan mereka?” Tegas Sam.
“Gue tidak dianggap sama orangtua gue sendiri. Jadi buat apa gue di rumah, lebih baik gue bersama mereka, gue senang berkumpul dengan mereka. Jadi apa salahnya?” Ferdi sudah mulai muak dengan Sam yang sering melarangnya pergi berkumpul bersama teman-temannya. Memang mereka bukanlah anak baik-baik. Tapi karena mereka dapat menghibur Ferdi, makanya dia senang bersama mereka.
“Tapi Fer…” Belum sempat Sam menyelesaikan ucapannya, Ferdi sudah memotongnya. “Udahlah Sam, itu bukan urusan lo.” Lalu Ferdi Masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Sam yang masih terdiam melihat perilaku Ferdi.

Ketika Ferdi sedang berkumpul bersama mereka, tiba-tiba mereka mengajak Ferdi untuk pergi balapan nanti malam. Namun Ferdi menolaknya karena sedang tidak ingin melakukan hal itu saat ini. Tetapi mereka memaksanya. Ferdi yang merasa kesal dengan hal tersebut akhirnya marah, sehingga dia berkelahi dengan mereka. Ketika Ferdi sudah semakin terdesak, tiba-tiba datanglah dua orang polisi, spontan mereka semua langsung berlari dan meninggalkan Ferdi. Sebelum itu mereka juga berkata pada Ferdi bahwa dia bukan bagian dari mereka lagi. Setelah itu kedua polisi tersebut membawa Ferdi kepada seseorang yang telah memanggil mereka, yang ternyata adalah Rika. Setelah mengucapkan terima kasih kepada kedua polisi tersebut, Rika langsung mengeluarkan kotak P3K dari tasnya dan mengobati luka-luka Ferdi.

“Kok kamu bisa berkelahi dengan mereka?” Tanya Rika pada Ferdi.
“Tadi aku salah paham sama mereka Kak, dan sebenarnya mereka itu teman-temanku. Tapi sekarang sudah enggak lagi tampaknya,” Tutur Ferdi.
“Oh iya kalau kakak perhatikan, rasanya kakak pernah bertemu dengan kamu deh, tapi di mana ya?” Kata Rika sambil mengobati Ferdi.
“Iya, kita baru saja bertemu di kelas tadi Kak.”
“Hah, benarkah?” Ucap Rika terkejut.
“Iya Kak, namaku Ferdiansyah Putra, Kakak bisa panggi aku Ferdi.” Ujar Ferdi memperkenalkan dirinya.
“Jadi Ferdi, kenapa kamu berteman dengan mereka? Kamu seharusnya sudah tahu kalau mereka bukanlah teman-teman yang baik.”
“Lebih baik dari pada berada di rumah yang tidak terasa seperti di rumah lagi.”
“Maksud kamu?”
“Apa gunanya jika aku mempunyai rumah yang nyaman, tapi orangtuaku tidak mempedulikanku. Itu sama saja dengan tidak punya rumah, lebih baik tidak usah punya orang tua saja dari pada seperti itu.”

Plak…, tiba-tiba Rika menampar Ferdi.
“Bodoh, apa yang ada di pikiranmu. Janganlah kamu berpikir seperti itu. Kakak sendiri hanya berasal dari keluarga sederhana dan orangtua kakak kelihatannya juga tidak memperdulikan kakak sama sepertimu. Tapi suatu hari ketika melihat ibu bangun dari tidurnya, untuk sholat malam dan mendoakan kakak sampai berlinang air mata, kakak sadar bahwa mereka sebenarnya sayang pada kakak.” Rika yang tadinya marah, akhirnya malah menangis. Karena mengingat orangtuanya.
“Maafkan aku Kak, tapi kenapa Kakak mengatakannya kepadaku sampai segitunya?” Tanya Ferdi penasaran.
“Itu karena apa yang terjadi padamu mirip sekali dengan apa yang terjadi dengan cinta pertama kakak dulunya,” Ucap Rika malu.

Lalu Rika menceritakan semuanya pada Ferdi. Dia mengatakan bahwa cinta pertamanya juga mengalami nasib yang sama dengan Ferdi. Meskipun sekarang mereka sudah tidak berpacaran lagi.
Saat itu Rika juga sudah mengubah pandangan Ferdi mengenai kehidupannya ini. Berkat dia jugalah, akhirnya beberapa hari setelah itu Ferdi berhasil mengungkapkan apa yang dirasakannya ketika di rumah selama ini kepada orangtuanya.

“Hai Kak,” Sapa Ferdi pada Rika.
“Hai Fer, sudah kamu bilang pada orangtuamu?”
“Udah Kak, trims ya. Aku bersyukur bisa bertemu dengan kakak.”
“Gak perlu sampai segitunya juga kali,” Ucap Rika sambil tersipu malu.
“Oh iya, kok Kakak belum pulang?” Tanya Ferdi.
“Gak tahu nih, dari tadi kakak nunggu teman yang mau jemput kakak, tapi belum datang-datang juga,” Jelas Rika.
“Kalau gitu bareng aku aja Kak,” Ajak Ferdi.
“Hmm…, gimana ya?”
“Ayolah Kak, aku juga mau ngajak Kakak makan di cafe nanti.”
“Hmm…, baiklah nanti kakak kabari saja teman kakak kalau kakak tidak jadi pulang bersamanya.”

Mereka lalu pergi ke sebuah cafe, di sana kemudian mereka membicarakan banyak hal. Bahkan Ferdi juga memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta bantuan Rika membuat tugas Bahasa Inggrisnya. Setelah dua jam di sana, Ferdi lalu mengantarkan Rika pulang ke kosnya.

Sejak saat itu juga Ferdi menjadi semakin dekat dengan Rika, bagi Ferdi, dengan adanya Rika, dia akhirnya dapat melupakan Clara. Dia akhirnya dapat kembali merasakan yang namanya jatuh cinta lagi. Bahkan tidak sedikit temannya yang curiga mengenai kedekatan Ferdi dengan gurunya tersebut.

Suatu hari Ferdi mengatakan kepada Sam mengenai perasaannya tersebut.
“Sam, kayaknya gue udah jatuh cinta sama Ibu Rika deh,” Ucapnya sedikit malu.
“Apa…, kagak salah denger gue nih, atau otak lo udah bergeser ya Fer?” Ucap Sam terkejut.
“Gue serius Sam, terus harus gimana sekarang? Gue ragu ngungkapinnya.”
“Nurut lo perasaan Ibu Rika pada lo gimana?” Sam bertanya balik pada Ferdi.
“Kalau gue berdua aja sih sama dia, kami terkadang jadi salah tingkah dan terkadang dia malu-malu sendiri,” Jelas Ferdi pada Sam.
“Haha…, lampu hijau buat lo tuh. Selain itu, sebaiknya lo cepet ngungkapinnya,” Seru Sam.
“Kenapa harus cepet-cepet emangnya?” Tanya Ferdi Penasaran.
“Gue denger seminggu lagi masa magangnya ibu Rika di sekolah kita bakalan berakhir,” Ujar Sam.
“Tapi gimana caranya?”
“Tenang aja Fer, gue bakal bantu lo. Soalnya, gue ngerti betapa berharganya dia buat lo.”
Kemudian mereka segera menyusun rencana untuk membantu Ferdi mengungkapkan perasaannya.

Keesokan harinya Ferdi meminta Rika untuk menunggunya di cafe yang sama yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Sebelumnya, cafe itu sudah di sewa oleh Ferdi agar dia dapat mengungkapkan perasaannya pada Rika di sana. Ketika Ferdi sudah berada di cafe itu bersama Rika, dia menjadi gugup sehingga kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya.
“Kamu mau bilang apa Ferdi, selain itu kakak juga penasaran, buat apa kamu membawa kakak ke sini lagi?” Tanya Rika penasaran.
“Sebenarnya begini Kak, aduh aku bingung mau bilang apa.” Untuk pertama kalinya Ferdi menjadi gugup ketika berbicara dengan Rika. Ternyata mengungkapkan cinta kepada orang yang lebih tua itu lebih sulit dari dugaannya.
“Kalau begitu biar kakak saja yang berbicara lebih dulu. Kakak sebenarnya juga ada sesuatu yang mau kakak bilang sama kamu.”
“Baiklah kak,” Jawab Ferdi.

Tiba-tiba wajah Rika memerah. “Sebenarnya kakak suka sama kamu Ferdi. Kakak jatuh cinta padamu. Tapi sebelum ini kakak ragu mengatakannya, kakak takut kamu menolaknya karena masalah perbedaan usia kita yang begitu jauh. Selain itu, kakak juga adalah gurumu, makanya kakak takut kamu akan menolaknya dengan alasan tersebut. Tapi kakak tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Kakak telah memutuskan apapun jawabanmu, kakak siap menerimanya.” Setelah mengatakan semua itu, Rika langsung memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merah di pipinya.
Sedangkan Ferdi sendiri, terkejut karena tidak menyangka kalau Rika juga menyukainya.
“Sebenarnya, aku juga mencintai Kakak. Awalnya aku juga ragu mengenai ini karena Kakak adalah guruku sendiri. Tapi aku sadar, bahwa cinta itu tidak pernah memandang usia,” Ungkap Ferdi pada ibu Rika.
“Syukurlah, ternyata perasaan kakak tidak bertepuk sebelah tangan.”
“Tetapi akhirnya, malah kakak yang mengungkapkan perasaannya lebih dahulu dariku.”
“Hahaha…, biarlah tidak apa-apa.” Rika lalu memeluk Ferdi. Ferdi membalas pelukan Rika dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan Rika.
“Terima kasih sudah menjadi bintang di dalam hidupku Kak,” Ujar Ferdi setelah dia melepaskan pelukannya.
“Iya sayang. Oh iya, Apakah kamu memang suka sama gadis yang lebih tua darimu Ferdi?” Tanya Rika sedikit malu-malu.
“Kayaknya memang begitu kak, lagian cinta pertamaku juga lebih tua dua tahun dariku.” Jawab Ferdi tenang.
“Hahaha…, Jika seandainya Kakak tidak mengajar di sini lagi ketika lulus kuliah nanti, apakah kamu akan tetap setia pada kakak?”
“Tentu saja, karena aku sangat mencintai kakak. Aku akan setia menunggu Kakak sampai kita bisa bertemu kembali. Tidak akan ada gadis lain yang kucintai saat ini selain Kakak,” Ujar Ferdi lembut pada Rika.

Beberapa hari setelah itu, waktu magang Rika di sekolah Ferdi berakhir. Dia pun akhirnya kembali ke kota asalnya. Ferdi menjadi sangat sedih akan hal tersebut, namun dia percaya bahwa mereka pasti akan bertemu kembali. Dia percaya akan kekuatan cinta mereka berdua.

Enam bulan kemudian, sekolah Ferdi kedatangan seorang guru baru. Dan guru tersebut langsung ditempatkan untuk menjadi wali kelas di kelas baru Ferdi, kelas XII IPA 1. Namun, Ferdi terkejut ketika melihat guru tersebut masuk ke kelasnya, guru baru tersebut ternyata adalah Rika. Saat itu, Ferdi merasa sangat bahagia. Ketika Rika menyadari keberadaan Ferdi, dia langsung melemparkan senyuman termanisnya pada Ferdi.

Begitulah cinta, tidak pernah memandang usia. Cinta hanya memandang ketulusan dan kesetiaan.

Cerpen Karangan: Fauzi Prima
Facebook: bekadeh

Cerpen My lovely Teacher merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Petak Umpet

Oleh:
Hai bintang, gimana kabar lo? sorry yah malam ini, gue lagi-lagi nggak bisa nunjukkin siapa pacar gue. Seperti malam-malam sebelumnya, gue cuma doyan ngasih janji. Nama gue Riski, cowok

Sahabat Atau Lebih

Oleh:
“Kamu mau nggak jadi pacarku?” kata-kata itu masih terdengar jelas di telingaku dan terus berputar-putar di kepalaku dan seakan akan mengganggu sistem kerja otakku, atau mungkin aku yang bersikap

Oh God! (Part 1)

Oleh:
“Sial! Gue telat!” Omel Chera. Pagi itu Chera telat bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 6.15 WIB, berarti kelas Chera udah masuk. Biasanya Chera bisa masuk diam diam. Tapi tidak

Saat Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Mulai dari pukul 19.00 sampai 23.00 aku melepas rindu bersamanya. Aku tau dia bukan kekasihku. Aku sadar dia adalah milik sahabatku. Aku tak berarti apa-apa di matanya. Aku bukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *