My Soulmate

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 1 May 2013

Hari itu hujan rintik-rintik, aku senang berjalan kaki di saat hujan. Aku ingin minum cappuccino di cafe yang sering ku singgahi. Sampai di depan cafe aku tercengang melihat laki-laki yang ada di depanku. Waktu serasa berhenti saat itu. Aku terpesona melihatnya, ia seperti sedang menikmati hujan yang turun saat itu. Karena menyadari bahwa aku memperhatikannya, akhirnya ia tersenyum padaku. Dari situlah awalnya cerita cintaku di mulai, bersama dia yang membuat waktuku terasa berhenti.

Aku seorang siswi kelas dua SMA, aku tidak terlalu pintar dalam bidang akademis. Tapi tak tau bagaimana caranya aku bisa mewakili Indonesia dalam olimpiade Kimia seAsia yang akan di adakan di Hongkong lima bulan lagi. Walaupun waktunya masih lama, aku sudah mulai di paksa belajar yang rutin. Sungguh bukan tipeku yang rajin belajar begini. Apalagi kalau di pikir-pikir ini sangat menyita waktuku untuk bersama dengan orang kucintai.

Hari minggu ini aku janjian dengan Raka untuk jalan-jalan di Mall. Dia menjemputku pada pukul 9 pagi dengan menggunakan mobil toyota yaris hitamnya. Seharian aku jalan-jalan dengannya akhirnya kami memutuskan untuk singgah di Hokben untuk makan. “Kamu jadikan ke Hongkong?”. Aku yang sedang lahap makan di kagetkannya dengan pertanyaan seperti mengusir. “ya jadi dong ka! Emangnnya kenapa nanya-nanya? Biar bisa cari cewe lain ya?”. “ya gak lah, sembarangan aja kalo ngomong. Ingat ya setiap perkataan adalah doa!”. “ya jangan sampai dong! Awas nanti kalo kamu macam-macam, bakal aku cubitin sampe bego”. “emang berapa lama?”. “tuh kan udah nanya berapa lama! Mau ngatur strategi ya? Jahat nih”. “duh kamu tuh childish banget ya kalo udah yang kaya gini-gini”. “aku bercanda tau, aku di sana kurang lebih seminggu lah”. Dia hanya angguk-angguk kepala. Pukul 3 sore aku sudah sampai di rumah. Maklum aku harus belajar.

Ternyata lima bulan sejak saat itu tidak selama yang kukira. Tinggal seminggu lagi aku akan berangkat ke Hongkong. Raka sedang pulang ke rumahnya di Bandung, sebenarnya aku tak mengizinkannya pergi tapi dia memaksa. Aku juga berpikir kalau dia ada di sini, dia pasti akan sangat menggangguku.

Besok aku berangkat ke Hongkong, malam ini aku duduk di teras rumah sambil meminum secangkir coffee late yang ku racik sendiri. Banyak sekali bintang malam ini, aku rindu pada Raka. Ku ambil handphoneku dari saku, sebenarnya aku ingin meneleponnya. Saat aku membuka password handphoneku, satu pesan sudah nangkring di sana. Ternyata dari Stupid boy “Syngg.. bsok jdi k hongkongny kan? Baik2 ya disna, jgan cngeng! Klo udh nympe calling. Mnggu dpan ku blik d jkarta. Miss you :*”. Ya tersenyum melihat smiling yang di taruh di akhir kalimat smsnya, so sweet. “iya.. iya.. bwel bnget sih kmu, nglhin mamaku tau! Hehehehe :p kynya klo dah d hongkong gak bsa calling2, soalny hpnya kan bkal d than dlu pas olmpiade, tkut ganggu ktany.. sorry ya?, tpi sbsa mngkin aku ushain. miss u too :*”.

Wah… persaingan sangat ketat, aku takut akan mengecewakan. Dari lima puluh peserta aku bisa masuk dua puluh besar. Ibu mira yang mendampingiku selama di Hongkong, ia terus menyemangatiku. Aku sampai di sepuluh besar, aku sampai kaget. Emangnya beneran ya yang kujawab di atas kertas putih penuh rumus tadi? Hehehehe

Sudah hari kelima, hari ini adalah pengumuman yang bisa masuk lima besar. Aku sangat deg-degan. Mudah-mudahan aku bisa. Aku mulai berdoa dalam hati. Di sini juga aku mendapatkan banyak kawan dari Asia. Kita tidak memilih hotel masing-masing, karena semua peserta di kumpulkan satu tempat. Aku punya teman sekamar bernama Natasha dari Jepang dan liang zee dari china. Untungnya salah satu pelajaran yang aku kuasai adalah bahasa inggris, jadi tak terlalu susah berkomunikasi.

Aku masuk lima besar, aku masih bengong dengan hasil keputusan. Ternyata aku tidak terlalu bodoh juga. Natasha juga masuk lima besar, hanya kami berdua yang perempuan. Hari ini aku di izinkan memegang handphoneku. Aku menelepon mama dan papa di jakarta, mereka sangat senang mendengar kabar yang kuberitakan. Kemudian aku menelepon Raka, nomornya tak aktif. Padahal ini adalah kesempatanku. Kemudian aku menelepon Erika, dia adalah adik Raka yang pernah berkenalan denganku sewaktu dia datang di jakarta. Dari Erika aku mengetahui sebuah kebenaran. “Rik, rakanya ada ga?” Dia menjawab dengan nada yang sedikit takut-takut, “eh.. itu.. anu.. ta.. tata jangan bilang-bilang ka raka ya! Gini…..” Aku sakit hati mendengar semua yang di ceritakan Erika. Besok aku akan berlomba lagi untuk memperebutkan posisi dua besar. Kalau sedang sakit hati begini, aku paling sering mencari kesibukan. Aku mencari buku kimiaku, aku terus membaca buku sambil menangis. Natasha menegurku, tapi aku tetap tak peduli. Mudah-mudahan yang ku baca ini bisa lancar masuk ke otakku.

Malam ini aku tak bisa tidur, karena terus memikirkan Raka yang ternyata menduakan cintaku. Ternyata dia telah di jodohkan dengan anak teman mamanya. Dia menerima wanita itu, apakah dia sama sekali tak peduli dengan keadaanku? Yang paling menyakitkan adalah dia telah berhubungan dengan wanita itu sekitar setahun ini. Jadi selama ini aku di tipu. Aku dan dia telah berpacaran selama satu setengah tahun. Erika bilang dia memang mencintaiku, tapi dia juga tak bisa menolak yang satu ini.

Aku tak mau lagi mengingat-ngingat yang namanya Raka. Aku berlomba dengan semangatnya dan aku mendapatkan posisi dua besar itu. Aku melanjutkan perlombaan ini dengan semangat. Tapi sayangnya aku hanya mendapat medali perak yaitu runner up. Semua bangga padaku, karena baru kali ini Indonesia memenangkan medali perak di ajang olimpiade kimia. Aku tetap tak terlalu semangat menanggapi prestasiku.

Aku kembali di Jakarta, membawa semua kejenuhanku. Global International School menyambutku dengan penuh suka cita, aku menghargai itu. Walaupun pacarku telah menduakanku. Hari ini aku akan bertemu dengannya di food court dekat sekolah, katanya hari ini dia tak ada kuliah. Aku menatap matanya, mencari satu celah di sana. Dia begitu tampan, setiap jalan dengannya tak ada orang yang akan mengira kalau dia adalah anak kuliahan. Wajahnya seperti seumuran denganku padahal dia empat tahun lebih tua dariku.

“Aku tak tau akan memulainya dari mana”. Dia menatapku, aku semakin ragu bisa melepaskannya. Aku sangat mencintainya, aku selalu mencoba mengimbanginya. Dia terus diam tanpa ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. “aku sudah mendengar semuanya, kamu akan menikah dengan pilihan orang tuamu kan?”. “aku belum memutuskan akan menikah dengannya atau tidak. Kami hanya dipertemukan, tapi keputusannya tetap di berikan pada kami”. “aku akan pindah ke Aussi, mungkin aku tak bisa menunggumu”. “kapan? kenapa kau tak pernah menceritakannya padaku?”. “aku pergi minggu depan, kamu baik-baik di sini ya. Jangan selingkuhin pacar kamu lagi, sakit tau!”. Aku beranjak dari tempat dudukku dan dia berkata “jika kita adalah soulmate, kita pasti akan bertemu suatu saat nanti. Tunggu aku”. Aku meneteskan air mata, aku tak sanggup merelakan dia akan menjadi milik orang lain.

Tujuh tahun kemudian, aku pulang ke Indonesia. Tapi aku tak pergi ke Jakarta, aku langsung ke Bali untuk liburan. Aku tak pernah lagi berhubungan serius dengan laki-laki manapun. Aku malas untuk sakit hati lagi. Dan di Bali ini aku ingin merefreshing otakku yang mulai kabur. Bali itu indah ya, aku ingin sekali segera mendapatkan jodoh dan menikah di sini. Wuahh so sweet.

Tuk… sebuah botol mineral mendarat di kepalaku. Siapa yang iseng melemparnya ke arahku? Kulihat samar-samar seorang berlari ke arahku memeluk seorang gadis kecil. Semakin mendekat aku seperti mengenalnya, yaps dia raka. “gak apa-apa mba?”. Aku tak menjawab dan segera pergi. “dulu dia menyuruhku menunggunya, kenapa dia udah nikah? Udah punya anak lagi! Sial.. aku tertipu untuk yang kedua kalinya!” omelku sementara berjalan menuju hotel.

Di hotel aku bertemu Erika, dia memberiku undangan. Undangan itu adalah undangan pameran gadget terbaru dari New york. Aku malas pergi, aku kan masih punya gadget terbaru. Aku masuk kamar dan bertemu mama di kamar “papanya mana sih ma?”. “lagi meeting buat acara besok”. “oh..”. “kamu jadi ikut mama sama papa ke acara itu kan? Kamu kan udah janji, papa mau ngenalin rekan papa yang punya cabang terbesar di bali. Sapa tau aja kamu cocok sama temen papa!”. “aduh mama.. ikut acaranya sih mau, tapi kenapa harus di kenalin sama temen papa sih? Kan udah pada tua, masa tega sih nyerahin anaknya sama om-om!”. “tanya sama papa deh besok, mandi gih.. kamu tuh udah gede gak pernah berubah, maunya panas-panasan mulu”. “iya iya.. bawel banget sih kayak nene-nene!”. “maunya sih udah jadi nenek-nenek beneran, tapi anaknya gak laku-laku gini kok!”. “mama berisik!”.

Aku pergi ke acara yang di adain perusahaan papa, ya dari pada nongkrong sendirian di Hotel. Temen–temen bonyok keren-keren banget. Aku masih bingung ini acara apa, sampai aku melihat tulisan besar di depan. Ternyata undangan yang di kasih erika kemarin undangan acara ini, ya apees. Papa memanggilku, perasaanku tak enak, jangan-jangan mau di kenalin sama om-om bandel. Iuuuhhh… “Ta.. ini temen yang papa ceritain kemarin!”. Aku tak mau melihat wajahnya, aku takut shock melihatnya. Dia mengulurkan tangannya “Raka…” ngek… raka? mantan aku yang udah nikah maksudnya? Apa-apaan nih? Emang aku pengen di jadiin selingkuhan? Gak bakal!. “kok diem ta, udah kenal ya? Kalau udah kenal papa tinggal ya!”. Ya ampun papa menjerumuskan banget sih, ini kan anak satu-satunya mereka. Karena raka kaya, jadi dia bisa beli aku gitu! “ngapai disini?” tanyaku padanya agak sinis. “aku kan investor di sini”. “ohhh”. “ternyata kamu anaknya pak Rama ya? Kita emang jodoh ya”. “alaaah basi tau, anak kamu mana?” aku menengok kanan-kiri mencari sesuatu. “anak aku? Aku belum punya anak!”. “bukannya yang kamu gendong di pantai kemarin anak kamu?”. “kamu cewek yang kena botol mineral kemarin ya? Hahahaha trus karena ngeliat aku meluk anak erika, dan kamu salah paham trus ngabur deh!”. Anak erika? Ups.. salah sambung! “enggak kok, aku gak ngabur, aku cuman pusing aja trus balik deh sama mama”. Dia mengacak-acak rambutku “kamu gak berubah ya, kalau ngambek pasti langsung pulang ke mamanya”. “ihh rese.. trus istri kamu mana? Kok gak dikenalin?”. “tenang aja, aku belum nikah kok! Bukannya aku nyuruh kamu nunggu? Jangan-jangan kamu udah nikah duluan ya?”. “Ngek.. kamu nunggu?”. “iya.. aku kan udah nyuruh kamu nunggu, berarti suatu saat kan aku bakal balik buat kamu!”. Aku mencubit perutnya, dan dia mengaduh kesakitan. “aku emang lagi nunggu kok!”. “so?”. “I willl always be with you”. Dia memelukku, tak peduli seberapa banyak yang melihat ke arah kami termasuk mama dan papa.

“Vino.. jangan jauh-jauh mainnya ya nak”. “iya ma”. Aku menikah dengan raka setahun yang lalu. Aku sedang hamil, vino adalah anak yang kami adopsi. Karena aku ingin punya anak cepat-cepat. “Pa.. calon istri kamu yang di jodohin dulu gimana ceritanya sih? Aku penasaran!”. “waktu pacaran denganku, dia sudah hamil dengan laki-laki lain. Dia ingin menjebakku. Untungnya aku bisa membuktikan kalau itu bukan darah dagingku. Jadi keluargaku tak ada yang menerima dan membatalkan perjodohan. Sejak itu aku tinggal di bali dan bertemu denganmu lagi disini”. Aku mengangguk-ngangguk mengerti. Ternyata sepatu yang sebelah kiri harus selalu dengan pasangannya yaitu sepatu sebelah kanan. Dia memang terlahir untukku. Buktinya aku sengaja langsung ke bali saat kembali dari Aussi hanya karena malas bertemu dengannya di jakarta, ternyata dia sudah lama menetap di Bali. Cinta yang menuntunku kembali pada belahan jiwaku.

Selesai

Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa
Facebook: Sherly Yulvickhe Sompa

Cerpen My Soulmate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tak Terbaca

Oleh:
Tiga tahun sudah Putri meninggalkan desanya. Dan setelah kepulangannya kembali ke lombok putri melihat sambutan hangat para sahabat berbalut kerinduan mereka masing-masing dan sekarang sudah setahun putri menetap di

Nyesek Bikin Nyusruk

Oleh:
2 bulan jomblo itu rasanya parah-parah ya, kalau malem gak ada yang ngucapin “selamat malam sayang, mimpi indah ya, i love you..” terus kalau pagi juga gak ada yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *