My Stepbrother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 November 2016

Senyuman terus terpancar di wajah seorang wanita dengan balutan gaun berwarna pastel yang berdiri dengan anggun bersama pria pujaannya, wanita yang masih terlihat cantik di usia yang tak muda lagi. Ibu, saat ini ia telah resmi menjadi Istri Om Han, Kini wajahnya kembali berseri setelah kepergian Ayahku untuk selamanya. Dan air mata kebahagiaan menetes dari pelupuk mataku.

Dekorasi yang mewah dengan tema garden bak negeri dongeng kian menghiasi gedung pernikahan Ibu dan Om Han. Tentu saja mewah, ayah baru ku itu seorang pengusaha sukses yang mungkin kekayaanya tak habis 12 turunan.
“Ibu, aku ngantuk… pestanya kapan berakhir?” bisikku sambil terus bersalaman dengan para tamu yang berjejer panjang.
“Sabar Yuna, sebentar lagi ya” ia menoleh sebentar kemudian terus tersenyum.

Ini bahkan sudah jam 12 malam, terhitung sudah 7 jam pesta digelar, dan tamu masih saja berdatangan.
Aku yang berasal dari keluarga biasa saja merasa bahwa ini adalah mimpi, karena aku sering berimajinasi kelak aku akan sukses dan menjadi orang kaya. And then? This is real.
Selain ngantuk aku risi berdiri di samping laki laki dingin itu, ia yang sudah membuat hatiku rapuh berkeping keping karena sikapnya itu.

Tahun ajaran pertama di SMA Bakti tak berjalan mulus bagiku, sia sia saja aku berjuang mati matian bila akhirnya aku harus mengalami kenyataan pahit yang berawal dari menyukai seorang pria bernama Arfan Handrayanto.
“Kak Arfan…” seluruh siswa di kelasku berteriak histeris saat latihan Pramuka ia itu mengajar di kelas kami.
“Dia tampan sekali” ucapku lirih sembari mengulum senyum, entah kenapa aku begitu memuja wajah tampan dan manis itu. Love At first sight.
“Tapi bagaimana jika semuanya tak bisa menutupi rahasiaku” Bodohnya aku yang dengan sengaja curhat pada teman sekelasku bahwa aku suka sama kak Arfan, OMG what Im going to do now.
“Kak… yang namanya Arfan mana si?” Teriak seorang cowok yang jadi biang kerok kelas kami tercinta.
“Itu kak Arfan” Tunjuk salah satu dari 2 temannya Arfan pada sosok yang kini berdiri sambil menopangkan tubuhnya pada dinding.
“Oh.. kak… Yuna bilang dia suka sama Arfan” Teriak cowok tengil itu, dan aku benar benar mati.
“Iya kak… tuh Yuna malu malu… cie Yuna… cieee” semua teman sekelas kini memojokanku. Kelas mendadak jadi riuh
“Tuh Fan, tembak aja” Bisik teman di sebelahnya
“Diam, aku sama sekali tak tertarik”

Aku benar benar malu, pasti wajahku seperti kepiting rebus, apalagi ia sempat melirikku dengan tatapan tajam karena semua orang memandang ke arahku dan sialnya aku duduk tepat di hadapannya.
Sejak kejadian itu ia tak pernah senyum ataupun menyapaku, bahkan selalu menghindar.
Aku berusaha untuk mendekatinya dengan tujuan meminta maaf atas kejadian waktu itu dan mengirim pesan di facebook
‘Halo kak, aku fansmu’
Dan hasilnya nihil, sama sekali tak dibalas, padahal aku yakin ia sudah membacanya. Ia benar benar membenciku sepertinya.
Persetan dengannya aku tak mau menyukainya lagiii…
Mulut dan hati terkadang tak sama.

Tahun Kedua di SMA dimulai… dan ini awal yang baik karena aku yang biasanya cukup sering berpapasan dengan pria itu akan jarang bertemu, aku sakit hati, dan sulit untuk move on…
Tahun lalu aku menyapanya berkali-kali saat ia lewat dan sepertinya aku tak telihat olehnya. Dan aku tak mau lagi, sorry.

“Apa? Ibu akan menikah?”
“Ia Yuna sayang, kamu butuh sosok ayah, dia pria yang dewasa, mapan, dan berpendidikan, 5 tahun lebih tua dari ibu, bukan brondong” Ibu nyengir.
“Ibu.. ini mendadak sekal, dan nanti calon ibu akan datang? Ibu bahkan tak pernah cerita”

Kami semua kini tengah duduk di ruang tamu yang sempit ini, ya karena rumahku kecil.
“Putrimu cantik.. Namamu ss–” Belum sempat Pria paruh paya itu bertanya padaku, dengan tak sopan laki laki yang entah datang dari mana duduk di samping Om itu, sepertinya itu anaknya. Batinku.
“Ibu… Batalkan saja rencana pernikahannya” Aku sangat terkejut dan berlari menuju kamar saat pria itu menunjukan wajahnya di balik tudung jaket yang ia pakai, dia Arfan… Aku tak percaya, ini pasti mimpi.

Ibu terus membujuk ke luar aku yang terus mengurung di kamar sejak kemarin, memaksa agar ibu mau menuruti keinginanku, dengan ini mungkin ibu akan luluh. Aku bahkan belum makan sejak kemarin siang.
Ibu terus mengetuk pintu kamar yang sengaja kukunci
“Yuna.. jangan bertindak bodoh”
“I dont care!! Pokoknya Ibu gak boleh nikah sama Om itu!!”
“Sejak kapan Yuna jadi seperti ini, ibu tak pernah mengajarkan melawan orangtua, ini demi kebahagiaan Yuna”
“Ibu… Kau tak mengerti”
“Ibu mengerti, Yuna tidak mau ada yang menggantikan posisi Ayah”
“Bukaaaan itu!!” Aku berteriak sekencang mungkin, masa bodo tetangga dengar atau tidak, aku di posisi sulit sekarang. Aku benci jika harus bertemu dengan Arfan tengil itu yang membuat hatiku hancur.

Ibu telah menceritakan bahwa Om Han cinta pertamanya, namun hubungannya dulu tak direstui oleh pihak Om Han, dengan alasan Ibuku hanya anak seorang penjahit kampung.
Dan ahirnya ibu bertemu ayah seorang pedagang keliliing yang hatinya sangat lembut, meskipun hidup sederhana kami bahagia.
Ibu sangat mencintai Ayah begitupun sebaliknya, kenangan dimasa lalu telah dibuang jauh jauh.
Ayah meninggal akibat struk yang dideritanya.

Tak dipungkiri aku setuju dengan pernikahan ini, bagaimanapun juga ini demi kebahagiaan Ibu. Ibu terus menangis dan murung sejak kepergian Ayah. Dia bekerja keras demi menghidupi kami, pekerjaannya yang seorang penjahit memudahkannya untuk mendapat puing puing rupiah

Setelah pesta selesai pukul 1 dini hari, kami diantar ke rumah Om Han, maksudku Ayah tentunya, dengan 2 Mobil Sport super mewah. Ibu dan Om Han di barisan depan, sementara kami para anak mengikutinya.

“Waaah… Bagus sekali, ini pertama kalinya” mataku terus memandang interior mobil yang sedang kutumpangi dengan decak kagum.
“Biasa aja kali, itu mulut mangap terus” Ucap kakak tiriku yang sangat baik, friendly dan sangat tampan berbeda dengan adiknya yang ketus super cuek hanya padaku saja.
“Sakit tau kak Adri…” Kuelus kepalaku sembari memonyongkan bibir.
“Biarin yey… Eh, yang duduk di depan diem terus si, ngomong dong dek Arfan!!!”
“Dia mah emang songong kak, gak usah dipeduliin”

Aku dan kak Adri mudah sekali akrab, karena sifat kami yang suka bercanda mungkin, bahkan kami baru bertemu hari ini, karena sebelumnya ia sibuk mengatur perusahaan di luar kota. Katanya.

“Ini istana…” Aku berkeliling mengintari seluruh ruangan sejak tadi, hingga sekarang aku berhenti mematung memandangi keseluruhan rumah ini dari atas tangga dengan seksama, karena semalam aku mengantuk bahkan sampai tertidur di mobil.

“De, bisa tolong minggir, orang ganteng mau lewat”
“Ganggu aja deh kak, ini kan luas banget ruangannya.. tuuh tuuh liat”
“Sensi banget si adek baru kakak ini” Dia menjitak keningku dan melepaskan tali rambutku, dan rambut sebahuku kini bebas berkibar.
“Kakak… awas ya… aku kejar”

Sesi kejar kejaran selesai, aku kehabisan nafas dan memilih tiduran di lantai dapur dengan nafas terengah engah, ini akibat jarang olahraga, sementara Kakak ku itu duduk di kursi dengan wajah sumringah, biasa ngegym sih.

Pria tinggi itu tiba tiba menendang kakiku dengan sengaja, membiri isyarat agar aku tak menghalangi jalannya untuk mengambil minuman di dalam kulkas. Ciih dasar muka batu.
“Loh Arfan sama Yuna diem dieman terus sih” Ucap ayah di sela sela sarapannya.
Sementara aku diam sembari mengolesi roti dengan selai, aku bisa tebak aku akan kelaparan nanti jika hanya sarapan dengan roti.
“Iya nih, Yuna biasanya kan berisik” Ibu menimpali ucapan Ayah
“Bodo.. Kak Adri, jalan jalan yu, hari minggu ini…” Dengan manja aku mengguncang tubuhnya yang sedang asik mengunyah roti, dan tatapan tajam tersirat di mata Arfan, malas menyebutnya Kakak.
“Ka Arfannya diajak Yuna, jangan didiemin terus” kini Ibu memanasiku, dia tau masalah waktu kelas satu itu, karena ia membaca diaryku tanpa sengaja, keterlaluan.
“Mal–” mulutku terhenti saat pria itu tiba tiba menimpali
“Aku ikut kok Mah, sepertinya hari ini aku free” senyuman bak malaikat ke luar dari sarangnya.
Tuh kan, sama orang lain sikapnya ramah, ketika sama aku selalu buang muka, dingin, dan menganggap aku invisible.

Di taman yang kami kelilingi, Aku benar benar seperti seseorang yang sedang pacaran, namun bodyguard mengikuti, bagaimana tidak tanganku terus digandeng oleh kak Adri dengan erat sedangkan si tengil itu mengekor di belakang.
Adegan suap menyuap es krim pun jadi andalan kami, Adri dan aku tentunya, Arfan bodo amat.
“Kak, gak malu diliat orang, jalan sama badut” Ucap si tengil singkat dan berhasil membuat aku tersedak kebab yang sedang kumakan.
“Kalo ngomong dijaga dong, jangan asal jeplak, ini hati udah hancur berkali kali” sial aku keceplosan.
Hahaahaha suara tawa pecah di antara kami, dan ini momen seorang Arfan tertawa lepas di depanku, ah aku jadi… tidak dia itu kakak tiriku, oh Tuhan… aku belum bisa move on.

Sudah sebulan ini Ayah dan Ibu Honey moon, rencananya mereka akan keliling dunia selama 3 bulan. Aku khawatir aku akan punya adik, aku tidak mau nanti perhatian jadi berkurang padaku.
Meskipun memiliki banyak materi, namun kami diajarkan untuk hemat dan Ayah tak memberikan fasilitas terlalu mewah pada kami.
Kak Adri sibuk dengan kantornya, ya di usia yang 25 tahun ia sudah dianggap dewasa untuk memimpin perusahaan ayah.
Aku dan Arfan jadi lebih sering berdua di rumah dan itu sangat menyebalkan.

“Tunggu …” Aku berlari menenteng tas sekolah yang sangat berat karena jadwal padat hari sabtu ini. Sementara orang yang kusaut terus berjalan.
“Dasar Siput”
Aku mendelik disela kesibukanku memasang sepatu memelototi pria yang kini duduk di motor gede berwarna merah maroon dan mahal tentunya. Kemarin badut, sekarang siput, tak ada julukan lebih elit lagi apa.
Saat aku hendak naik, tiba tiba ia melajukan motornya dan otomatis aku terjatuh. Aku mengumpat macam macam, terdengar suara tawanya di jarak 10 meter.
“Cepet lari… kita bisa telat siput”
“Aku semangat ingin berlari dan menoyor kepalanya dengan sekuat tenaga agar ia geger otak”

“Gara gara siput, gue dihukum” Bisa bicara juga dia, setelah sekian lama
“Hallah… Cuma disuruh hormat pada bendera pusaka merah putih, sudah biasa” itu biasa karena dulu aku sering sekali dihukum, karena jarak dari rumah cukup jauh dan angkot ngetem mulu.
“Gak mau lagi gue nunggu siput yang jadi penghuni kamar mandi”
Dia tidak tau ya, betapa sakit perutnya aku saat semalam ia memberikanku rendang yang awalnya biasa saja ternyata sangat pedas.

“Kok muter ya itu bendera, tadi aku gak sempat makan, takut telat” aku terus terusan bicara bahwa ada yang aneh di kepalaku.
“I dont care”
“Dasar kakak tiri yang gak tau perhatian sama adek tirinya, kakak durhaka”
“Emang”
Seketika semuanya gelap.

Aku mengerejapkan mata berkali kali, setelah sadar ini di rumah aku bertanya pada salah satu asisten rumah tangga yang kini duduk menjagaku
“Bi, aku pingsan?”
“Iya, tadi mas Arfan yang bawa Yuna ke sini sekaligus suruh bibi jagain Yuna jangan sampai kabur karena Yuna sedang sakit”
Memang sedari tadi badanku terasa panas dan kepalaku pening, namun aku memaksakan diri. Namun bukan itu masalahnya, Arfan tiba tiba perhatian,
“Yuna, asal Yuna tahu ya.. Sejak dulu Mas Arfan itu baik ke semua orang, ia tak segan membantu orang lain jika ia bisa.”
Ga salah ya, dia cuek sekali padaku.
“Namun ia sedikit membenci wanita dan pernah bilang tak akan menikah, tapi itu dulu saat ia beumur 10 tahun”. Syukurlah, ia normal.

Kini aku tahu, dia trauma akan sosok Bundanya. Bibi yang sedari dulu bekerja disini menceritakan bahwa Ibu Arfan dulu sangat pemarah dan tak sadar sering menyiksa kedua anaknya karena sedikit memiliki ganguan jiwa, namun Ayahnya sama sekali tidak tahu, karena sibuk sepanjang hari.
Dan akhirnya semua terkuak ketika Mas Arfan yang baru berusia 7 tahun blak blakan menceritakan soal ini, meski diancam oleh ibunya jika berusaha melapor mereka akan dibunuh. Kemudian Ibunya bunuh diri karena merasa ia sudah menyiksa kedua anaknya setelah Pak Han membentak dan berbicara mengenai masalah itu.

Aku memandangi foto lama mendiang Bundanya Arfan yang terletak di laci ruang keluarga, Cantik. Namun siapa sangka dibalik kecantikannya itu ia menderita.
“Hoy…” Tepukan di pundakku hampir membuatku jantungan, Kak Adri sengaja melakukan itu.

Menanyai ini itu tentang aku yang bisa sakit seperti sekarang, aku pun harus menjelaskannya pada Kak Adri. Hanya dibalas anggukan olehnya. Sekarang ia memasang wajah memelas.

“Yuna… Aku menyukaimu” Bisik kak Adri yang kini duduk menempel di sebelahku. Sontak aku menjauh.
“Kakak bicara apa sih, dont kidding!”
“Tatap mataku aku tak bercanda”

Aku berlari menuju kamarku yang berada di lantai dua, apa ini.. kak Arfan benar benar serius, Ia menyukaiku sejak saat itu, aku merenungkan ceritanya tadi.
6 bulan lalu di taman itu, aku dengan sengaja mengiris lenganku karena frustasi akan bayangan Bunda yang menghiasi kepalaku. Namun seorang pelajar SMA yang melihatku segera berlari dan mengobati luka di tanganku
“Lukanya akan membekas, jangan lukai dirimu sendiri.. berhubung aku anak PMR aku seedikit tahu cara mengobati, awas saja jika om, pak eh kakak bertindak bodoh lagi”
Sejak kejadian itu, aku tak bisa melupakanmu aku berubah menjadi manusia normal karenamu, hingga ahirnya aku tau kau anak dari calon istri Ayah, aku tak bisa menolak pernikahan ini, dengan begitu aku akan dekat denganmu.

Aku ingat saat itu, pria dengan masker dan tudung jaket yang menutupi kepalaanya, ternyata itu Kak Adri. Kenyataan apa lagi ini.
Sejak kejadian kemari kami bertiga mogok bicara, tak ada yang memulai pembicaraan. Aku bahkan takut bila bertemu kak Adri.
“Yuna, masih ingat yang kemarin?” Bisik kak Adri yang membuat aku berdiri di sela kesibukanku mengunyah snack sambil menonton tv padahal pikiranku entah kemana.
“E…mmm…” aku benar benar gugup.
“Sudahlah jangan diingat, itu hanya masa lalu saja. Sekarang Kakak menganggapmu adik paling cantik dan imut. Kemarin itu hanya iseng” setidaknya aku sudah jujur padanya, meski rasa itu tak benar benar hilang. Batin Adri.
Gelak tawa terdengar di antara kami, aku bahkan guling guling di lantai mengetahui itu hanya candaan, dan bodohnya aku percaya.
“Kak Adri tau gak, aku pernah suka sama Arfan, tapi dia acuh padaku” Aku keceplosan lagi, segera kutup mulutku.
“Benar itu” Ucap Arfan yang entah sejak kapan duduk di samping kak Adri
“Aku sama sekali tak tertarik padamu yuna, tapi sepertinya aku perlu membalas pesanmu itu”
Wajahku merah sekarang, di depan kak Adri ia membeberkan aib yang tak mau ku ungkit lagi, karena menurutku aku terlalu bodoh, mengejar laki laki, fyuh.

Dan pada akhirnya kami tertawa bersama mengetahui cerita masa lalu masing masing, Aku yang cintanya ditolak mentah mentah sementara yang menyukaiku juga kutolak mentah mentah.

Namun takdir yang menjadikan kami kini berada dalam ikatan keluarga, kami tak akan memikirkan tentang cinta masa lalu kami, ada yang lebih penting yaitu ‘Menjadi keluarga yang harmonis, dan tak ada pertengkaran’ meskipun itu tak mungkin

Cinta kami kini berganti menjadi cinta antara saudara, bukan antara pria dan wanita, aku lega sekarang. Cinta selalu ada whenever wherever.

“Are You really my stepbrother?”
“Yes, we Are” jawab mereka yang kini sibuk bermain game, sementara aku sibuk menulis cerpenku yang belum terselesaikan.

END

Pengarasan, 30 Juli 2016

Cerpen Karangan: Yulisa Putri Utami
Facebook: Yulisa Putri Utami
Nama ku yulisa putri utami
Aku suka menulis, tapi tulisanku masih dibawah rata rata, maka dari itu aku terus menulis litle by litle.
Aku berasal dari pengarasan, bantarkawung, brebes.
This is for my best friend hersi, yang sudah menunggu ini. Happy reading!!

Cerpen My Stepbrother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Empat Belas Hari

Oleh:
“Rin, kenalkan kakak sepupuku!” seru Mita mengenalkan cowok yang muncul tiba-tiba, saat kami sedang belajar bersama. “Rina,” ucapku menyodorkan tangan. “Sandy,” sahutnya menjabat tanganku. “Ohh… jadi ini yang namanya

Tangisan Hati (Part 2)

Oleh:
Treettt… suara handphone bergetar. Itu pertanda ada sebuah pesan singkat yang masuk, dan ketika dia lihat ternyata benar. “Hanna lagi di mana?” “Di rumah Kak, ada apa?” Hanna balas

Puncak ILY

Oleh:
“Selamat pagi semua” sapa dosen killer yang bernama Pak Letto. “Pagi juga pak” jawab seluruh mahasiswa. “Baik saya aka memulai pembelajaran ini, tetapi sebelumnya saya kana memperkenalkan teman baru

Hanum Bidadari Kecil

Oleh:
Seperti biasa setiap malamnya Hanum gadis manis kelas 3 SD dari pasangan Herman dan Sarah ini hanya asyik dengan buku gambarnya, malamnya hanya dilalui dengan asisten rumah tangganya yaitu

Lembaran Baruku Telah Terbuka

Oleh:
“yuhuuu betapa cantiknya diriku ini. siapa tu yang girlsband terkenal di Korea tu. emmm… si Yoona tu lewat ha..hay. uuu seksian aku lagi ah, dancenya aja jagoan aku” dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *