MyCerpen 7: Alien Banci Tulen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 May 2015

“Serius kau tidak akan ikut Jang?”
“Tidak Ji. Aku sudah harus pulang!”
“Wah! Padahal ini terakhir lo!”
“Tenang aja. Masih ada Reunian kan?”
“Ya udah. Hati-hati aja Jang!”
Aku pun pergi meninggalkan pesta kelulusan itu. Pergi disaat pesta besarnya baru akan dimulai. Aku pergi karena ada urusan yang lebih penting bagiku. Daripada hanya sekedar mencoret-coret seragam SMA. Lebih baik pergi untuk menemui seseorang yang tengah menungguku.

Lorong dijembatan itu. Kembali diriku memasuki gang gang khas yang sudah lama tidak kulewati. Kembali lagi setelah begitu lama tidak menemuinya. Kembali lagi setelah begitu lama tidak menemuinya. Seseorang yang telah memutuskan ikatan denganku tempo lalu. Dia yang secara jujur berkata rindu ketemu. Aku yang dengan munafik merasa kangen melihat senyumnya.

Sore itu. Matahari yang tidak lama lagi akan tenggelam. Dia sedang duduk menghadap siluet kuning kemerahan.
Aku menghampirinya…
“Udah lama nunggu Dev?” tanyaku.
“Enggak kok! Baru dua jam yang lalu, hehe” jawabnya.
“Yeah… Ya udah lamalah. Maaf ya,” kataku gak enak.
“Mmm, gak papa kok,” balasnya tersenyum. “Lah! Kok gak dicoret-coret seragamnya?”
“Siapa bilang? Ini udah kok pake spidol,” Sergahku.
“Spidol apaan? Orang masih putih bersih gitu,” Balasnya gak mau kalah.
“Spidol transparan,” jawabku cepat.
“Hahaha… Kamu ini ada-ada aja.”

Tawanya itu. Tawa yang sama, saat dulu dia masih bersamaku. Sebelum dia mengatakan kata putus dengan alasan tidak jelas. Dan dengan tidak jelas juga dia memberi lagi, harapan yang hampir pupus itu. Mungkin malam ini, akan ada ucapan jujur, untuk kembali dari mulutnya. Atau mulutku jika mampu.

“Malam ini, nonton yuk!” ajaknya.
“Nonton apaan?” tanyaku.
“Nonton film lah,” jawabnya.
“Iya maksudnya, film apa?” tanyaku lagi.
“Kayak alien gitu sih,” jawabnya.
“ALIEN?” kataku kaget.
“Iya alien… Malam ini tayang lho di bioskop. Nonton Yuk!.”
“Ya udah…”

Jujur sebenarnya aku takut nonton film ini. Bagiku cerita Alien lebih menyeramkan, daripada hantu. Apalagi hantu indonesia. Tapi tepat jam 8 malam. Aku sudah duduk bersamanya, dan film sudah siap diputar.

Waduh!!!. Aku begitu cemas saat menit pertama. Bahkan di beberapa adegan puncak, aku malah menutup mata, karena gak kuat. Beneran gak kuat, walaupun tangannya erat menyentuh tanganku. Dan akhirnya film usai…

Aku keluar dengan wajah pucat seperti mayat.

“Kenapa?” tanya Devi.
“Enggak! Cuman AC di dalam terlalu dingin,” jawabku ngeles.
“Ha ha ha, bilang aja ketakutan,” katanya usil.
“Enak aja!” balasku cemberut.
“Ha ha ha” lagi-lagi tawa lucu itu terdengar.

Aku dan dia segera keluar dari gedung bioskop itu. Dan masih belum ada kata itu dari mulutnya. Terpikir. Apa harus aku yang mulai bicara ya?

“Mmm Dev?” sapaku tiba-tiba.
“kenapa?” tanya dia.
“Apa kita bisa balikan lagi?” dengan ragu, kulemparkan pertanyaan itu.

Itu hanya dia balas dengan senyuman. Sementara mulutnya masih membeku.

“Gimana Dev?” desakku.
“Mmm,” dia bergumam. “Liat itu deh!”
Tangannya menunjuk ke langit barat. Sekejap pandanganku mengikuti. Dan begitu terpesona melihat rangkaian bintang malam itu. Membuatku tak sadar, kalau bibirnya seketika menempel di pipi kiriku.
“Cuppp…” hangat dan baru kurasakan lagi.
“Broom, broom…” suara knalpot motornya ayahnya terdengar.
Dia langsung pamit tanpa berkata lagi. Dan aku masih berdiri disana. Dalam bingung, “apa artinya ya?”

Sekilas kutatap kembali langit. Kubelai pipi kiri dengan tanganku. Masih terasa bekas bibirnya. Dan aku masih tidak tau pasti apa jawabannya?

Tapi… Tiba-tiba penampakan bintang jatuh, memecahkan lamunanku. Reflek tanganku mengambil kamera.
Dan, “jepret!” “Huft… Berhasil,” jeritku puas.

Aku pulang sendiri. Berjalan dengan kaki. Setidaknya sampai di halte bus. Sebuah mesjid terlihat jelas. Membuatku sadar, “aku belum shalat Isya kan!”

Aku masuk ke dalam. Dan tak ada satu pun orang disana. Tidak perlu heran, “sekarang kan udah jam 10 malam!”

4 rakaat itu selesai. Suasana hening semakin terasa disini. Tapi tiba-tiba suara pesawat terbang nembuyarkan, dan mengagetkanku. Begitu nyaring. Terlalu nyaring pikirku. Terperanjat aku langsung lari keluar. Tapi cahaya terang menyilaukan mataku. Dan berpendar. Kulihat sosok perempuan berkulit putih, berparas manis, berdiri disana. Dia tersenyum ke arahku.

Tombol power komputer kunyalakan. Terdengar bip sekali, dan suara bising fan yang khas, terus menerus sampai 30 detik. Proses booting. Dan jendela komputer di monitorku terbuka. Kedua tanganku bekerja sama mengambil memory card dari kamera. Lalu kuselipkan ke dalam soket input di bagian CPU. Seketika data gambar bermunculan di layar.

Pointer itu hanya kofokuskan ke gambar yang kuambil tadi. Gambar bintang jatuh yang terasa aneh dilihat. Kubuka dan kuperbesar 1000 % dari aslinya. Spontan gambar itu terlihat jelas di monitor. Dan hanya sekejap jantungku terhentak, terkejut.

“Apa-apaan ini?”

Ufo? Sebuah pesawat yang dipercaya, dikendarai mahluk asing.

Alien tepatnya!

“ALIEN?”

Kuambil modem GSM. Saat terkoneksi, langsung kucari gambar yang serupa. Ternyata begitu banyak penampakan UPO di belahan dunia. Akupun berencana mengupload gambar ini. Dan kuberi tag, “Tolong jelaskan! Apa benar ini piring siomainya Alien?”

“Klik, klik dan klik,” dan Shutdown.

Kurebahkan tubuh di kasurku. Dengan pandangan lurus ke langit-langit. Menerawang jauh dalam pikiranku, mencari penjelasan masuk akal tentang ini. Dan mengingat lagi kalau tadi aku sempat ketakutan. Ketika perempuan tidak jelas tersenyum padaku. Dan berkata, “I Love You.”

Untung tadi aku langsung lari, sebelum dia jadi kuntilanak atau sejenisnya. iiihhh

Namun pada akhirnya aku pun tertidur. Sampai lupa, kalau malam ini sudah kujadawalkan menelponnya. Mendengar suaramu, “Devi.”

Toilet umum. Ritual buang air kecil sebelum berangkat apel ke rumahnya. Kamar kecil ini ada dua ruangan. Satu untuk laki-laki, yang sedang kudiami. Dan bersebelahan dengan ruangan untuk perempuan.

Dan… Aku kaget setengah mati, ketika seorang perempuan memanjat dari sebelah, ke ruanganku. Lebih gilanya, ritualku belum selesai sempurna. Tapi dia hanya menanggapi kejadian itu dengan santai. “Maaf! Kamar sebelah terkunci. Jadi aku terpaksa kesini,” setelah itu dia pergi keluar.

Aku tidak sempat melihat wajahnya, karena malu. Namun kupercepat ritual ini, menutup sletting, dan langsung mengejarnya keluar.

“Hei… Tunggu apa tadi kau melihatnya?” tanyaku.
“Kalau lihat emangnya kenapa?” tanya dia balik.
“Gila bener nih cewek!” batinku berbunyi.
Sebentar… “Bukannya itu cewek yang kemarin malam?”

Sekarang. Dia bukan mahluk halus berarti. Namun, kenapa kemarin dia berkata intim, tapi sekarang kok cuek ya? Apa jangan-jangan, dia buronan rumah sakit jiwa? Tapi aku sudah terlanjur penasaran. Dan diam-diam mengikutinya. Dia terus berjalan. Dan mungkin tidak sadar dengan langkahku di belakang.

Posisiku ada sekitar 50 meter darinya. Dimana saat itu, dia mempercepat langkahnya. Aku terkejut, jejaknya sekejap menghilang di antara semak belukar. “Kemana dia? Cepat sekali!”

“Sepertinya lewat sini. Apa aku harus lanjut?” pikirku.

Tunggu… Tapi kan aku harus apel ke rumah devi sekarang. Mana bisa aku telat?

Sedikitpun! Apalagi tema apelnya kan untuk balikan.

Namun… Telat sedikit gak papa lah. Lantas aku masuk kerimbunan rumput itu. Betapa rimbun dan tinggi. Melebihi tinggi badanku. Tanpa berpikir apapun. Tanpa peduli, beberapa rumput yang tajam, tengah melukai kulitku. Hingga aku berhasil keluar. Cahaya yang sama begitu silau, begitu terang, dan lama-lama berpendar. Tapi kini menjadi gelap. Sangat gelap…

Mataku terbuka. Dan keluar dari mimpi yang aneh. Masuk ke pandangan yang mustahil untuk dijelaskan. Sekarang aku berada di sebuah ruang dalam pesawat, pikirku. Ruang berteknologi tinggi. Hampir saja membuatku kagum. Kalau tangan dan kakiku tidak terikat tali baja. Dan di depanku sudah berdiri 5 sosok perempuan. Salah satunya yang tadi kuikuti.

“Akhirnya kau sadar juga, bukan?” salah satu dari mereka mulai berkicau.
“Ugh!” lirihku, mencoba memberontak. Melepaskan ikatan yang mustahil untuk terlepas.
“Kau tidak salah target kan?” tanya dia pada perempuan tadi.
“Tentu saja tidak! Dia pasti kenal pada perempuan manis di sebelahnya. Bukan begitu?”
“Devi!” Aku terkejut Devi juga ikut tertangkap. Berarti malam ini apel benar-benar dibatalkan. Sial!!!
“Apa yang kalian inginkan? Dan jangan ganggu dia. Sedikitpun.” gertakku, sambil sesaat menatap devi di sebelahku.

Dia masih belum sadar.

“Tenang saja. Bukan perempuan ini yang kami inginkan. Tapi, perempuanmu yang lain.” jawabnya.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.
“Kau pasti mengenalnya kan. Lucy?”
“Lucy?” aku berusaha mencari nama itu di memoriku.
“Iya. Perempuan cantik penghisap darah!” tegasnya.
“Hah?” sudah pasti si vampire itu.
“Bukankah kau pernah mampir ke rumahnya?”
“Mungkin? Seingatku keluarganya pernah berkesempatan memakan dulu,” ketusku.
“Ha ha ha,” mereka tertawa garing.
“Tunggu! Apa urusan kalian dengan dia?” tanyaku.
“Kau tidak perlu tahu,” gertaknya, memegang kerah bajuku. “Katakan saja dimana keberadaannya?”
“Masih di rumahnya lah!” jawabku singkat.
“Kau jangan main-main! Rumah itu telah hancur dan tak ada jejak mereka. Sekarang gini, kau cepat katakan keberadaan mereka. Atau… Kubunuh kau dan perempuan di sebelahmu!” ancamnya.
“Sekarang gini. Kau bunuh saja aku. Tapi biarkan dia hidup. Karena aku benar-benar tidak tau!” balasku keras.
“Baik… Aku bunuh dia sekarang kalau gitu!” menodongkan senjata ke arah devi.
“Sebentar…” kataku rileks. “Apa yang kau cari itu, yang sedang mengangkat batu besar di luar?”
“APA?”
“BOOM!!!”, “Brakkk,” pesawat ini bergetar kuat. Dan secara tidak sengaja melepaskan ikatanku. Sementara itu, mereka langsung pergi mengatasi serangan keluar. Tanpa mengawasiku.
“Dev! Deviii…!” teriakku, berusaha menyadarkannya.Tapi dia masih terlelap. Dan ikatannya juga belum terlepas.

Aku berusaha mencari cara. Kulihat di depan ada super komputer. Kupikir inilah kontrol sistemnya.
“Tunggu! Apa ini?” Aku bingung dengan tampilan dekstopnya.
Begitu rumit.”Tapi… Mirip linux mungkin.” pikirku.
Jendela komputer terbuka. Dan aku berusaha mencari sistem untuk melepaskan Devi. Sementara di luar begitu gaduh. Mungkin telah terjadi perang.
“Alien versus Vampire,” pikirku, gila.

Hantaman terjadi lagi. Ruangan inu semakin rusak parah. Aku tergigih mencari Devi. Beberapa komponen pesawat bahkan menindihku. Aku benar-benar kesakitan, dan dan hampir pingsan. Dalam setengah sadar. Seorang perempuan telah meraih dan menggendongku keluar. Tubuhnya lebih kecil dariku, tenaganya 100 kali lebih kuat.
“Lucy?” lirihku.
“Bagaimana dengannya lus?”
“Devi ya? Dia sudah selamat ko jang. Tenang aja.” jawabnya.
Dan mataku kembali tertutup. Kembali terbuka ketika kusadar, aku sudah tidak berada di pesawat Alien lagi. Tapi, sekarang berada di kamarnya. Kulihat dua perempuan di samping kanan dan kiriku.

“Dev, kamu tidak apa-apa?” tanyaku, dalam keadaan lemas.
“Pikirin aja sendiri. Aku tidak apa-apa kok.” jawabnya tersenyum, dan sedikit membelai rambutku.
“Sebenarnya apa yang terjadi sih Lus?” Sekarang kutanyakan kegilaan ini padanya.
“Maksudmu apa ajang? Soal Alien dan Pesawat itu.”
“Emang apa lagi?” balasku serius.
“Mmm,” dia bergumam, matanya sedikit melirik ke arah Devi. “Aku jelasin nanti!”

“Kami sudah bermusuhan selama 100 tahun lebih,” begitu ungkapnya.
Lusy mulai bercerita. “Maksudmu dengan Alien Cewek idiot itu?” sanggahku.
“Cewek?” dia bingung. “Tak ada satu pun dari mereka yang perempuan. Semuanya pria.”
“Apa?” aku terkejut. “Jadi Aliennya banci semua!”
“Ha ha ha,” tawanya terlepas. “Ya bisa dibilang begitu.”

Aku tersenyum mendengarnya. Ini terlalu tidak masuk akal untuk dicerna pikiranku. Obrolan kami hening selama beberapa detik. Sampai aku sadar akan satu hal.

“Tunggu! Tadi kamu bilang sudah 100 tahun lebih?” tanyaku penasaran.
Dia sedikit bingung dengan pertanyaanku. “Iya, emangnya kenapa?”
“Mmm… Berarti usiamu?” pikiranku menerawang.
“16 lebih,” jawabnya.
“Serius?” Aku kaget, seharusnya di balik wajah mudanya, dia sudah sangat tua. “Lebih berapa?”
Dia tersenyum saat mengatakan. “213 tahun.”
“Hmm… Sudah kuduga,” aku menyeringai, meniru gayanya.
“Haha… Enggak lah! Itu usia orangtuaku. Umurku sekarang seharusnya 18. Tapi wajah dan fisikku, sampai 100 atau 1000 tahun pun masih tetap akan terlihat 16.” koreksinya.
“Huft… kau ini lus…” keluhku, mendengar jawaban plin plannya.
“Kenapa?” dia mendelik. “Berminat jadi Vampire?”
“Males!” jawabku cemberut. “Mending jadi Alien.”
“Ha ha ha…” Saat itu. Tiba-tiba pesawat dengan suara bising, membuyarkan obrolan kami.
“Itu sepertinya mereka,” wajahnya mendongak ke langit. Dan kuikuti.
“Alien itu?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Kapan mereka kembali?” tanyaku lagi.
“Sekitar satu abad dari sekarang.” jawabnya.
“Baguslah. Saat itu tiba, berarti aku sudah mati. Dan tak perlu repot-repot bertemu mereka lagi.”
“Ha ha ha ha ha…” sekarang dia tertawa dengan puas.
Disaat obrolan asik itu. Tiba-tiba Devi muncul di balik pintu. Dia sedikit senyum skeptis.
“Hmm,” gumamnya.
Dan Lusy sekejap beranjak. “Oh iya aku kan lagi masak mie instan!”
Alasan bodoh. Vampire gak masak plus makan mie instan.

Devi datang mendekat. Dan duduk di sebelahku. Tepat seperti posisi duduk lusy tadi.
“Ahh…” lirihnya.
“Apa itu?” tanyaku heran.
“Kamu suka padanya?” tanya dia, mata kanannya mendelik, persi seperti lusy.
“Maksudmu Lucy.” aku tersenyum. “Memangnya kenapa?”
Dia cemberut. “Iih… jawab dulu! Jangan-jangan sebelumnya, kamu sempat suka sama Zombie juga ya.”
Humor yang absurd. Tapi aku suka, tersenyum, dan berkata. “Aku hanya menyukai seseorang. Dan menunggu dia berkata…”
“Kita balikan lagi yuk!” Dia memotong pembicaraanku. Dan itu kalimat yang sangat kuharapkan. Itu membuatku diam sesaat.
“Gimana?” dia masih menunggu jawabanku.
“Boleh.” jawabku singkat.
Seketika mataku bertatapan dengannya.
“Degg!”

Malam itu. Cahaya bulan menyoroti kami berdua. Tercetak jelas bayangan di dinding rumah keluarga penghisap darah. Dua manusia, turunan Adam dan Hawa. Dimana bibirnya menyatu dalam kehangatan. Dan tali yang sempat putus itu, terikat kembali. Terikat sangat kuat. Lebih kuat dari sebelumnya.

Layar monitor komputer menyorot mataku. Tak sempat menyangka, kalau penampakan UFO yang ku upload 48 jam lalu, banyak yang mengomentari.
“Dimana lo ngambil fotonya breww? gilaaa!” itu salah satunya.
Dan langsung kubalas.
“Di langit.”

THE END

Cerpen Karangan: Ajang Rahmat
Blog: http://Ajang.me

Cerpen Karangan: Ajang Rahmat
Facebook: http://facebook.com/ajangrahmat
Blog: www.boytrik.com
Web: www.ajang.me
Twitter: @ajangrahmat
Motto Hidup: Sukses adalah spirit saya untuk tidak gagal, dan gagal spirit saya untuk bisa sukses

Cerpen MyCerpen 7: Alien Banci Tulen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menikam Hati (Part 2)

Oleh:
Obat Hati Memasuki SMA. Aku memang berencana memasuki SMAI AL Maarif. Alhamdulillah aku lulus dari SMP. SMAI memang kecil. Tapi entah kenapa tempat inilah yang kupilih tulus dari lubuk

Schizophrenia

Oleh:
Dunia dan aku adalah dua kenyataan yang tak pernah saling memahami. Meskipun beribu kali aku bertanya kepada diriku sendiri, aku tak pernah bisa menjawab mengapa aku harus hidup di

Aku, Kamu & Dia

Oleh:
Menyukai yang sama, apa itu berarti salah ? Aku tak mengerti, kenapa kejadian seperti ini terulang lagi. Di saat aku menemukan sahabat-sahabat yang baru, kenapa ini harus terjadi lagi.

Varamedic

Oleh:
Pagi dirumah sakit varamedic. Rumah sakit swasta yang terletak di pusat kota. Linkungannya yang bersih dengan tata bangunan yang rapi. Apalagi lihat perawat wanita dengan senyum manisnya, aduhai tergoda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “MyCerpen 7: Alien Banci Tulen”

  1. nisha says:

    keren,aku selalu suka karya ajang rahmat..

  2. Andhini Sekar Putri says:

    Devi itu beneran pacarnya kak Ajang Rahmat? Ehhh tapi cerpennya bagus

  3. Ajang Rahmat says:

    Pernah deket doank, hehe tapi Aaaminn :D… yoi, makasih…

  4. Yayang Siti Fatimah says:

    kereeen!!:)) ditunggu cerpen slnjutnya kak :))

  5. Oitho camho says:

    Ceritanya unik…ada kelanjuatannya gak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *