Mysterious Boy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 April 2019

Suara bising kendaraan memekik gendang telingaku. Banyak kendaraan yang melintas di depanku. ‘Pagi yang sibuk’, kalimat yang mendeskripsikan betapa sibuknya orang-orang pada pagi ini, dengan terburu-buru untuk berangkat ke tempat yang menjadi naungan hidupnya.

Ada yang pergi ke tempat mencari nafkah, maupun ke tempat menimba ilmu. Begitulah rutinitas produktif setiap pagi di kota ini, mungkin di kota lain pun begini. Ya, tak bisa dipungkiri.

Sekitar sepuluh menit yang lalu, aku berdiri terpaku di sisi jalan. Menunggu angkutan datang, yang sudah lumayan lama kutunggu, di pagi Senin ini memang sulit untuk mendapatkannya jika sudah menunjukan waktu yang cukup Siang untuk anak sekolah. Angkutan yang datang sudah banyak yang mengisi. Jadi, harus menunggu yang lain lagi, yang mudah-mudahan tidak terlalu penuh agar aku bisa menempatinya walau hanya diberi sedikit ruang untuk duduk, lagipula badanku pun kecil, jadi ya tidak masalah. Yang penting aku mendapatkan angkutan untuk mengantarku ke sekolah.

Akhirnya, angkutan yang kutunggu pun datang, aku langsung menaikinya. Sembari mengucap dalam hati ‘Semoga tidak terlambat untuk mengikuti upacara. Semoga masih banyak siswa yang datang pada jam ini. Semoga gerbang belum ditutup. Semoga tidak dihukum.’

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Waktu yang selalu ditunggu-tunggu oleh semua siswa di sekolah. Mengakhiri pelajaran-pelajaran yang lumayan menguras otak, dengan keadaan wajah suntuk karena mengantuk.

Jam pulang sekolah biasanya siswa-siswa langsung kembali ke rumah. Tapi, tidak denganku dan dengan anak-anak kelasku, yang biasanya masih betah di sekolah, berkumpul-kumpul untuk saling berbagi cerita, maupun untuk memanfaatkan fasilitas sekolah; memakai wifi untuk browsing, maupun main game.

Semua yang masih tersisa di kelas, berkumpul di depan kelas untuk merasakan semilir angin sore, karena di kelas tidak ada fasilitas pendingin ruangan maupun kipas angin. Kami berkumpul dengan wejangan candaan juga makanan yang tadi dibeli di depan sekolah, meskipun harus melewati bapak Satpam yang selalu rewel ketika melihat siswa yang jajan di seberang sekolah pada pulang sekolah. Tapi kita selalu menghiraukan.

Sekarang sudah pukul lima tiga puluh sore, batas kami berkumpul di sekolah. Ya, kadang-kadang bisa lebih jika masih ada sesuatu yang belum terselesaikan. Semuanya sudah bersiap untuk pulang dan langsung bergegas jalan menuju ke gerbang sekolah, bersama-sama.

Ini yang selalu kami terapkan, solidaritas dan kekeluargaan. Semuanya harus dikerjakan dan diselesaikan secara bersama-sama, karena kita semua adalah keluarga.

Aku beruntung, bisa mendapatkan kelas dengan predikat ‘Kekeluargaan yang erat’. Predikat yang selalu turun-menurun, dari kaka kelas sampai adik kelas, begitupun seterusnya.
Ya, jurusan MULTIMEDIA. Jurusan yang selalu kompak dalam hal apapun.

Besok paginya.
Ya, seperti biasa rutinitasku pada pagi hari. Menunggu angkutan. Syukurnya, kali ini tidak terlalu kesiangan, jadi santai saja.

Tapi, ada yang berbeda. Biasanya aku menunggu angkutan sendirian, tapi kali ini ada seorang pemuda yang memakai seragam putih abu-abu juga yang berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya, ia juga sedang menungu angkutan. Sepertinya juga, rumahnya dekat-dekat dengan rumahku, tapi aku tidak pernah melihatnya. Aku pun jarang keluar rumah, jadi aku tidak pernah melihatnya. Atau dia pun jarang keluar rumah?

Ah sudahlah. Tidak penting.

Angkutan yang ditunggu pun datang. Aku dan dia sama-sama memberhentikannya, dia duluan yang memasuki angkutan itu, lalu disusul dengan aku. Kami duduk saling berhadapan.
Aku perhatikan lagi, tidak lamat. Iya, aku tidak pernah melihatnya selama aku tinggal di sini. Kataku dalam hati. Lalu aku langsung melengoskan wajah ketika ia menatapku.

Sepanjang perjalanan aku hanya menatap keluar jendela.

Sebentar lagi, sampai di sekolahku. Tapi si ‘Dia’ memberhentikan angkutan ini, dan langsung keluar.
‘Oh, sekolah disini.’

Sudah 3 hari berturut-turut aku dan dia menaiki angkutan bersama.
Dia terlihat seperti orang yang cuek, jutek, penampilannya sedikit ‘bad boy’. Tapi kuakui, dia memang cukup tampan.

Rupanya, dia pun memlilih jurusan yang sama denganku di sekolahnya.
Selama ini, kami tidak pernah bertegur, melemparkan senyuman tipis pun tidak.
Aku enggan, mungkin diapun begitu.

Aku sempat bercerita tentangnya pada teman baikku. Untuk mencurahkan sedikit perasaan penasaranku padanya.
Ya, aku penasaran dengannya.
Si ‘Mysterious Boy’.
Dia orang yang paling misterius yang pernah aku temui.

Hari ini adalah hari minggu. Aku berencana untuk jogging bersama teman-teman sekelasku. Aku janjian di suatu tempat dengan 2 orang temanku. Aku menungu sedari pukul enam lewat. Mereka lumayan lama, sekitar sepuluh menit baru datang. Lalu kami berjalan menuju tempat Car Free Day.

Banyak sekumpulan para remaja, maupun yang sudah tua, juga anak-anak kecil. Ada yang benar-benar olahraga, ada yang hanya duduk manis sambil bersenda gurau dengan sekumpulannya, sembari menikmati jajanan yang ada di tempat ini.

Biasanya, ada tempat untuk senam pagi, ada dua. Yang satu di depan balaikota, biasanya yang kebanyakan mengikutinya bapak-bapak dan ibu-ibu, karena senam yang sangat ringan tidak terlalu menguras tenaga, ya paling tidak mengeluarkan banyak keringat dan bergerak pun sudah sangat cukup bagi mereka.

Lalu, ada yang satunya, biasanya anak-anak remaja yang mengikutinya. Yaitu, senam Zumba. Senam yang lumayan menguras tenaga dengan gerakan-gerakan yang cepat dan nonstop.
Pemanasannya juga sudah lumayan.

Setelah senam selesai, aku dan teman-temanku, menyusuri tempat CFD untuk membeli minuman dan makanan yang ringan untuk mengisi perut yang kosong semenjak pagi tadi.
Sembari memakan bubur ayam, aku termenung, mengingat kembali suatu kejadian yang membuatku menjadi sedikit senang. Aku pun terheran-heran, kok bisa. Kenapa. Benakku bertanya-tanya.
Aku flashback..

Lalu kami berjalan menuju tempat Car Free Day.
Banyak sekumpulan para remaja, maupun yang sudah tua, juga anak-anak kecil. Ada yang benar-benar olahraga, ada yang hanya duduk manis sambil bersenda gurau dengan sekumpulannya, sembari menikmati jajanan yang ada di tempat ini.

Aku terfokus pada jalanan, tapi ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk melengos dari jalanan yang sedari tadi membuatku betah untuk menatapnya.

Dia.
Kok?

Sesuatu yang membuatku melengos dari pandanganku yang tadinya hanya fokus menatap jalan membuatku menoleh ke arah kanan.

Dia.

Tadi berhenti sejenak di sebelahku, dia menoleh ke arahku, menatapku sebentar. Dari arah yang berbeda, namun di tempat yang sama.

Aku yang merasa langsung menoleh padanya. Dan kulihat wajahnya. Oh, ternyata dia.
Lalu tak lama, dia melanjutkan perjalananya.
Tapi tunggu, setelah itu, aku langsung memegang erat lengan sahabatku, sambil menahan teriak.

Kok?

Aku seperti orang yang senang bertemu dengan seseorang yang sudah lama tak jumpa. Hei, siapa dia? Kenal pun tidak. Mengapa aku sesenang ini?
Dengan tingkahku yang begitu, sahabatku pun bertanya. “Hei, kenapa?”
Lalu aku menjawab dengan gugup, “Itu, tadi dia.”
Temanku, menolehkan wajah ke belakang untuk melihat siapa orang yang aku maksud.
“Mana, yang mana? Tidak ada.”
Ah rupanya dia sudah melanjutkan lari paginya, jadi tidak terlihat. Lagi pula, temanku tidak tahu bagaimana bentuk wajahnya itu. Yang lumayan… tampan.
Hehehe.

Padahal sudah cukup lama aku jarang bertemunya lagi. Memikirkannya pun tidak. Karena, kalau satu angkutan dengannya hanya waktu-waktu menunjukan hampir siang di pagi hari baru kita bertemu. Rupanya, dia selalu berangkat siang kalau ke sekolah.

Tapi kenapa, sejak tadi aku bertemu dengannya, aku sepertinya senang sekali? Dan tidak bisa melupakan kejadian itu?

Apa aku… menyukainya?

Ah tidak! Aku langsung menggelengkan kepalaku cepat.

Waktu sudah hampir siang.
Aku dan teman-teman langsung bersiap-siap untuk pulang ke rumah kami masing-masing, dengan arah yang berbeda-beda.

Sesampainya di rumah, aku langsung membuka sepatu dan jilbabku, setelah mengikuti senam yang cukup melelahkan membuat tubuhku meminta untuk beistirahat sejenak di atas kasur yang lumayan empuk dan dingin.

Aku masih terbayang-bayang oleh wajahnya.

Akupun teringat dengan tragedi hilangnya gelangku yang kuduga hilang di dalam angkutan, pada waktu kami menaiki angkutan bersama, aku duduk membelakanginya. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku rokku yang di dalamnya terdapat gelang. Mungkin aku tidak menyadarinya kalau sewaktu aku mengeluarkan ponsel, gelangkupun turut serta tetapi terjatuh. Seharusnya jika iya terjatuh, pasti ia melihatnya. Mengapa ia tidak bilang padaku? Huh.

Sudah 2 hari semenjak kejadian itu, aku masih terpikirkan dirinya.
Sungguh, aku sangat penasaran dengannya.

Siapa sih dia?
Namanya siapa?
Dan apapun itu.

Malam ini, aku sedang bersantai menatap layar ponselku dan menggerakkan jemariku di atasnya.
Dan aku pun berniat menanyakannya pada Mamahku, siapa tau, dia tau.
Tapi, aku sedikit gugup dan takut. Tapi, aku bertekad untuk memberanikan diri.

“Mah, tetangga di sini ada yang anaknya seumuran denganku kah? Laki-laki?”
Ya, karena di sini kebanyakan anak kecil, ada yang seumuranku pun, tapi dia perempuan, lelaki pun ada tapi aku tau dia. Yang aku tidak tau ya hanya dia itu.
Lalu Mamahku menjawab. “Iya, namanya Almos. Ganteng ya? Tapi kurus.”
“Apa? Almos? Kok namanya aneh sih? Waktu itu sempat seangkot denganya.”
“Iya. Dia kelas 11.”
“11? Kirain sepantaran.”
“Iya, adik kelas kamu.” Setelah itu Mamahku, langsung pergi

Ya, aku sudah mendapatkan 2 jawaban. Namanya, dan kelasnya.
Lalu aku berusaha mencari akun social mendianya, siapa tau ada.
Tapi, sudah kucari di semua social media, tidak ada yang tertera dirimya.
Huh, sepertinya dia anak yang anti sosmed.

Ah, rasa penasaran ini belum sepenuhnya terobati.
Aku harap lain waktu kita dapat bertemu kembali dan mudah-mudahan bisa saling berkenalan.

Hehehe, aku rasa, aku tertarik padanya.

Mysterious Boy, I will wait for our meeting.
Mysterious Boy, you’re the most mysterious person I’ve ever met.

Cerpen Karangan: Aldera Rahsyawaesa Handaru
Blog: alderahsyawaesa.blogspot.co.id

Cerpen Mysterious Boy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bertemu Kembali

Oleh:
Kita tidak tahu kapan bakal senang dan kapan bakal sedih, ketika salah satunya tiba-tiba datang, anggap saja kejutan dari Tuhan. Ku berlari menuju jendela dan ku melihat sesosok yang

Shonichi (Hari Pertama)

Oleh:
Tanggal 10-10-10 tepat aku pertama bersekolah, sekolah yang aku impikan disaat aku smp, sekarang aku di sma terkenal di daerahku. Hati ini senang sekali, itu semua berkat doa orangtua

Alasan Untuk Bahagia

Oleh:
Jadi, dia kerja di sini? Tanya seorang laki-laki dalam hatinya sambil memegang kertas kecil bertuliskan alamat sebuah bangunan yang ada di depannya sekarang. Ia tersenyum, lalu melihat kertasnya lagi.

Awal Yang Perih

Oleh:
Hai kenalin namaku Sasa, hari ini aku merasa senang karena aku pertama kali masuk sekolah, dengan ditemani kicauan burung dan pancaran sinar mentari semakin lengkap rasa senang ku untuk

Her Name is Naomi

Oleh:
Game, tidak ada yang menyenangkan selain bermain game. Apapun bakal gue lakuin buat memicu semangat gue dalam bermain game. Karena gue seorang gamers sejati. Kini gue duduk di antara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *