Nada Nada Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 January 2016

Terlahir sebagai orang tak berbakat seni itu menyebalkan. Seperti aku ini, tidak ada profesionalisme sama sekali dalam bidang nyanyi-menyanyi, tari-menari, apalagi ngegambar-menggambar. Tapi mau nggak mau aku harus hidup dengan seni, setidaknya seni musik, karena pelajaran ini menjadi pelajaran wajib di sekolahku. Kalau sampai nilaiku pada pelajaran ini dapat merah, tetep aja aku gak naik kelas.

Itu artinya nilai pelajaran Fisika, Kimia, dan Biologiku yang selalu dapat sembilan akan sia-sia. Pelajaran seni musik di kelasku sebenarnya tidak terlalu membosankan, karena Pak Tarno sebagai gurunya selalu membawa gitar dan mengajak kami semua bernyanyi. Namun sayangnya, aku tetap tidak tertarik dan lebih memilih duduk di bangku pojokan kemudian tidur dengan diiringi nyanyian teman-temanku yang sangat menyakitkan telinga.

“Hhehh, itu yang tidur di bangku pojokan bangun!” bentakan Pak Tarno yang cukup keras membuatku gelagapan.
“Ii..ya Pak, Siapp!!” jawabku dengan mata yang masih merah.
“Sini kamu!” Pak Tarno kelihatannya kesal dengan tingkahku. Aku berjalan dengan langkah gontai ke depan kelas sambil berpikir hukuman apa yang akan diberikan Pak Tarno padaku.
“Nggak usah takut, Bapak nggak akan ngehukum kamu kok,” guru setengah baya itu malah tersenyum, bukannya marah. Aku hanya mengangguk curiga, karena sepengetahuanku Pak Tarno itu guru paling killer seantero sekolah.

“Kamu ngantuk kan?” Pak Tarno sepertinya bisa membaca keadaanku yang cukup menyedihkan ini.
“Iyaa, Pak. Ngantuk banget,” jawabku jujur, berharap dengan begitu Pak Tarno akan menyuruhku pulang untuk beristirahat di rumah. “Biar kamu nggak ngantuk, coba kamu sekarang njoged atau nyanyi,” ujar pak Tarno tanpa dosa. Asem, kutu kupret, suster ngesot. Pak Tarno licik banget, ternyata ini yang namanya “bukan hukuman” versi beliau. Akhirnya aku memilih untuk bernyanyi saja, soalnya kalau berjoged nanti pantatku yang seksi ini akan mengumbar dosa.

“Cek..cek, ehemm,” aku mulai cek sound, temen-temenku pada tepuk tangan gak karuan.
“Baru cek sound aja udah pada tersepona, apalagi kalau nyanyi beneran,” pikirku keGeeran.
“…Indoneesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala selalu di puja-puja bangsa..” aku mulai menyanyikan lagu sakral Indonesia Pusaka yang nadanya cukup sulit.

“Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda…” aku masih menghayati lagu itu, meskipun teman-temanku menutup telinganya rapat-rapat. Aku terus berusaha menyelesaikan lagu itu. Akan tetapi semakin lama nyanyianku semakin aneh dan gak jelas. Seharusnya nadanya turun, tapi aku naik. Semakin aku berusaha untuk turun, malah nadanya seperti orang keselek. Alhasil aku ngos-ngosan kehabisan napas. Karena Pak Tarno melihatku yang sangat kepayahan, akhirnya beliau memberhentikanku secara paksa.

“Sudah… sudah,” Pak Tarno menyetop nyanyianku.
“Bwahahahaha,” Teman-temanku ketawa guling-guling setelah membuka telinganya sambil menunjuk-nunjuk aku.
Aku hanya tersenyum kecut. Sekarang tidak hanya diriku yang menyadari kalau aku memang tidak berbakat menyanyi, tapi teman-teman sekelasku juga mengetahuinya. Semenjak kejadian itu aku tidak mau menyanyi lagi, karena setiap aku menyanyi teman-temanku banyak yang memuji, lebih tepatnya mengejek, “Suaramu merdu banget, kamu bakat jadi tukang gorengan, hahaha,” ledek mereka ramai-ramai.

Pagi ini sekolah bahkan kelasku sangat sepi saat aku mulai memasuki wilayah itu. Bukan karena hari ini libur, tetapi karena aku memang sengaja berangkat pagi supaya bisa mengerjakan PeEr dengan damai. Sesampainya di kelas aku segera menekuni PR-ku dengan khidmat. Tanpa sadar mulutku bersenandung mengalunkan lagu-lagu slow rock barat kesukaanku. Aku menyanyi dengan sangat nyaman, seolah jiwaku ikut hanyut bersama lagu-lagu itu.

“Suaramu merdu banget,” sapa seorang lelaki yang membuatku berhenti menyanyi. “Iya, merdu dan bakat jadi penjual gorengan, gitu kan maksudmu?” aku menoleh ke sumber suara.
“Bukan, suaramu memang merdu. Saya juga suka dengan logatmu bahasa Inggris, cukup luwes dan fasih,” laki-laki itu kemudian berjalan ke arahku. Ya..Tuhan, baru kali ini ada cowok yang memuji nyanyianku dengan tulus. Jantungku jadi berdebar gak karuan.

“Kenalkan, namaku Rey. Namamu siapa?” laki-laki itu mengulurkan tangannya.
“Tanpa kamu kenalin, aku udah tahu siapa kamu. Kamu kan vokalis band sekolah ini yang cukup ngetop. Ya, meskipun aku gak sekelas sama kamu, tapi aku cukup mengetahui kepopuleranmu,” pikiranku berisik banget diajak kenalan sama cowok ganteng. “Hey, nama kamu siapa? Kok ngelamun?” laki-laki itu hanya memandangku yang bengong kayak orang bego. “ah..Eh, namaku Renata,” jawabku terbata-bata sambil membalas uluran tangannya.

“Emhh, jadi kamu suka menyanyi Ren?” Kali ini Rey menduduki meja di depanku, dekaatt sekali pandangannya.
“Ya suka sih, hanya..” jawabku kemudian, namun terdiam setelah itu, mencoba berpikir keras.
“Hanya apa Ren? kamu tidak bisa menyanyi? Why? Suaramu cukup bagus,” Rey menatapku hangat seolah mengerti apa yang sedang ku pikirkan. “Aku trauma menyanyi, orang-orang mengejekku saat aku menyanyi. Suaraku kayak kaleng rombeng katanya. Bahkan orangtuaku sendiri selalu sebal jika aku menyanyi. Menurut mereka aku gak bisa bedain nada, karena semua nada yang aku nyanyikan baik do, re, mi, fa, sol dan yang lain itu sama saja, kayak gitu lah pokoknya. Intinya aku itu buta nada,” aku memaparkan semua pada Rey.

“Oh, jadi begitu. Menurutku sih, kamu punya modal suara yang bagus. Hanya saja berhubung kamu gak pernah nyanyi, beberapa nyanyian mungkin terdengar sumbang. Dan itulah yang didengar orang-orang sehingga mereka langsung menjudge kamu gak bisa nyanyi, padahal kalau mereka mau mendengarkanmu dengan nyanyian yang barusan kamu nyanyikan, mereka pasti menyadari kalau kamu sebenarnya berbakat,” Rey berpanjang lebar. “Terima kasih ya Rey, bahkan orang-orang terdekatku pun tidak pernah menyemangatiku seperti ini. Apa pun itu, mereka selalu bilang kalau aku ini gak punya bakat dan gak bisa ngapa-ngapain sehingga aku selalu minder,” balasku sedih.

“Okey, it’s just that i can do for friend. So we are friend now, right?” Rey memancingku tertawa saat ia melambaikan kelingkingnya. “Of course,” aku benar-benar tertawa kecil sambil menautkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya yang menyatakan sebuah janji.
“Begitu lebih baik, kamu terlihat sangat manis dengan tawamu,” goda Rey yang membuatku tersipu.
“Baru beberapa menit yang lalu kita berkenalan, aku seperti sudah sangat akrab denganmu. Thanks ya,” aku melepaskan ikatan jari kelingkingku, tapi Rey menolaknya yang membuatku meronta. “Rey… lepaskan!”

Rey melepaskan ikatannya ketika teman-temanku mulai berdatangan. Bahkan tanpa pamit ia langsung ngeloyor pergi. Aku merasa tenang sesaat setelah Rey mendatangiku. Dan aku tidak minder lagi meskipun suaraku kurasa masih sumbang. Sehingga pelajaran pagi itu dapat ku lalui dengan baik karena pikiranku menjadi lebih fokus. Saat istirahat tiba aku memilih untuk duduk termenung di kelas. Aku malas ke luar kelas karena tak membawa uang saku. Lagian kalau aku ke luar, pasti teman-teman cowok yang ada di luar bakalan rame-rame meledekku. Akhirnya aku memutuskan tidur di kelas seperti biasa.

“Hai Renata,” suara seseorang yang cukup ku kenal mengagetkanku. “Oh.. kamu Rey,” aku bangun dengan senang melihat Rey yang datang sambil membawa gitar. “Lihat, apa yang ku bawa? kalau kau bisa bermain gitar, kualitas menyanyimu pasti akan semakin bagus,” ucap Rey sambil menunjukkan gitarnya.
“Aku dulu pernah belajar main gitar sih, tapi senarnya putus semua, gara-gara aku menggenjreng pake uang logam dengan kasar,” ujarku sambil memetik gitar Rey sembarangan.
“Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Sekarang, sini biar ku ajari gitar,” sahut Rey sambil tertawa renyah. Cowok tampan itu menyerahkan gitarnya padaku, dan aku mulai memainkan kunci-kunci dasar.

“Modal kuncimu sudah banyak ternyata, tanganmu juga luwes. Sekarang langsung masuk lagu saja. Emhh.. lagunya Ungu yang Demi Waktu saja, paling mudah,” Rey tersenyum senang. Aku mulai memetik gitar dengan kunci-kunci yang disarankan Rey. Cowok itu menyanyi dengan cukup syahdu. Aku menyadari kalau suara Rey memang top untuk menyanyi, pantas saja dia jadi vokalis band sekolah ini. Penuh semangat, aku juga ikut menyanyi dengan sepenuh jiwaku, sehingga nada yang ku hasilkan cukup pas dan nyaman. Kami menjadi pasangan duet yang serasi.

“Plok… plok.. plok,” terdengar suara tepuk tangan yang riuh sekali dari luar kelas. Kami tidak mengetahui kalau banyak anak-anak yang menonton kami. Aku jadi malu sekali, Rey malah tersenyum menyapa anak-anak yang berkerubut di luar kelas. Beberapa cewek menyalami Rey histeris, kayak baru ketemu aja sama aktor idolanya. Sedangkan aku hanya melongo, tidak ada satu pun yang menyalamiku, apalagi minta tanda tangan.

“Rey mana? mana Rey?” tiba-tiba ada cewek cantik yang menyeruak di antara kerubutan itu sembari berteriak lantang. “Kamu Ra, kamu nyariin aku?” Rey menyahut teriakan cewek yang ternyata namanya Rara.
“Ya jelas, kamu ini gimana to? aku ini pacar kamu. Aku dari tadi nyariin kamu, tak kira kamu nyungsep di kali, eh.. ternyata kamu malah nyangkut di sini sama cewek kaleng rombeng ini,” Rara muntab sambil sesekali melirikku dengan tatapan jijik.

“Habis, kamu dandannya lama banget. Aku ini cowok, sepet ngelihat bedak, gincu, dan barang tektek bengekmu itu,” balas Rey tak kalah muntab. Ujung-ujungnya aku pusing memperhatikan pertarungan sengit mereka. Hatiku juga panas terbakar cemburu. Aku salah menerjemahkan perhatian Rey padaku yang hanya sekejap saja, aku juga salah karena tidak mengetahui kalau ia sudah punya pacar. Ini semua salahku yang terlalu cepat jatuh cinta. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan sesak ini.

“Ren, tunggu!!” teriakan Rey cukup lantang meskipun aku sudah berlari menjauh. “Nggak usah dikejar,” sergah Rara pada Rey yang juga masih cukup ku dengar.

Aku terhenti di taman belakang sekolah yang cukup sepi. Aku terduduk dan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, kemudian menangis sejadi-jadinya. Mulutku bersenandung kecil mengalunkan nada-nada sumbang, bukan karena suaraku tak merdu lagi, tapi karena jiwaku yang sedang sumbang menghadapi kepahitan cinta.

Sepulang sekolah aku masih murung, mengunci diri di kamar. Kenyataan ini memang lebih menyakitkan daripada sekadar diejek cewek kaleng rombeng, sehingga membuatku cukup patah hati. Aku kemudian menyalakan radio untuk mendukung suasana galauku, ku alunkan lagu-lagu cengeng. Hingga aku merasa aneh dengan suaraku, kenapa aku menjadi sangat mudah menyesuaikan nada. Aku merenung sejenak, kemudian jingkrak-jingkrak, “yeye, aku bisa nyanyi,” akhirnya aku merasa sangat berterima kasih dengan rasa galauku yang membuatku jadi bisa menyanyi.

Keesokan paginya aku berangkat seperti biasa sambil tersenyum ceria. Namun ketika berpapasan dengan Rey, tiba-tiba saja senyumku luntur. Aku hanya menatapnya sekilas, bahkan ketika ia menyapa aku hanya terdiam. Bukan karena aku sok jual mahal, justru aku merasa yang pantas mendapat sapaan itu adalah Rara, bukan aku. Kali ini Rey tidak mengejarku, ia membiarkanku lewat begitu saja.

Sesampainya di kelas aku terduduk lesu. Mulutku tak bisa ditahan untuk menyanyi lagi. Aku tak peduli seberapa banyak temanku yang pusing mendengar suara jelekku. Aku juga tak peduli mereka akan meledekku ramai-ramai. Hanya saja, waitt… kali ini teman-teman kelasku cukup aneh, mereka seakan memahamiku dan menyimak lagu-lagu patah hati yang ke luar dari bibirku. Mereka tidak lagi meledekku, bahkan mereka memujiku ketika aku selesai menyanyi.

“Ternyata suaramu merdu sekali, kita salah sangka selama ini,” ujar Dion sang ketua kelas yang dulunya paling getol mengejekku. Beberapa anak juga memujiku hal yang sama.
“Iyalah, nyanyianmu memang bagus, seperti yang ku katakan sebelumnya. Benar kan, mereka baru menyadari kalau kamu sebenarnya berbakat,” suara Rey menyeruak di antara kehebohan teman-teman kelasku. Aku terkejut.

“Oh ya, aku ke sini ingin memberikan ini padamu. Kamu harus nonton ya?” lanjut Rey sambil memberikan tiket konser. Aku hanya mengangguk dan ia buru-buru pergi sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih. Aku memperhatikan kertas tiket itu, tertulis di sana Panggung Kreativitas Seni SMA seprovinsi dan nama band-nya Rey terpampang juga.

Sore itu aku menimang-nimang tiket konser yang diberikan Rey, aku mondar-mandir persis orang linglung. “Datang nggak ya? kalau datang paling aku cuma sakit hati, kalau gak datang entar nyesel. Ahh datang aja lah,” aku memutuskan untuk datang. Setelah siap-siap aku segera meluncur ke tempat temenku yang juga mau nonton. Aku memilih tempat di paling belakang, karena aku tak ingin Rey melihatku datang ke konser ini. Tepat sekali ketika kami datang, ternyata Rey dan kawannya langsung tampil. Aku sungguh terkesima dengan penampilan Rey yang cukup keren. Untuk sekian lama aku memandangnya tanpa berkedip sampai ia juga memandangku dari kejauhan sehingga membuatku jadi salah tingkah.

“Lagu ini saya persembahkan untuk seorang cewek yang berinisial R, yang telah mengobrak-abrik ruang hati saya,” ucap Rey mengawali penampilannya. Aku menjadi GeEr, “cewek berinisial R, mungkinkah itu aku? namaku kan Renata. Ahh.. Tapi kan Rara pacarnya juga berinisial R,” aku sadar diri kemudian.
“Untuk seseorang yang berdiri di belakang sana, I Love You,” teriak Rey lantang sambil mengedipkan mata ke arahku dari atas panggung. Aku menjadi GeEr, celingukan ke sana ke mari menerka-nerka siapakah yang dikedipi oleh Rey di belakang sini. Di tempatku berdiri gak ada Rara perasaan, tapi kenapa dia mengedipkan mata ke arah sini,” batinku berkecamuk.

“Heh, Rey ngedipin mata ke kamu tuh,” temanku, Dewi, kali ini yang menggodaku. Aku hanya tersenyum malu di tengah hiruk pikuk orang-orang yang menyanyi lagunya Hoobastank “Reason is You” dengan dipandu oleh Rey. Sangat lirih aku menyanyikan lagu itu, terus menyanyi dengan segenap perasaan sampai aku memejamkan mata. Ketika aku membuka mata, aku masih tak mengerti saat Rey turun dari panggung, ia berjalan sambil terus menyanyi dengan tenang, seolah panggung ini miliknya. Ia berjalan terus, tak berhenti. Sampai tepat di depanku baru ia berhenti dan berbisik di telingaku. “Menyanyilah, sekarang giliranmu, tunjukkan bakatmu,”

“Aku nggak bisa,” ujarku menolak. Tapi Rey terlanjur menarikku ke depan panggung. “Menyanyilah dengan hati,” itulah kata-kata terakhirnya sebelum ia menyerahkan mikrofon padaku. Aku menatapnya, mencari ketenangan di kedua bola matanya. Lelaki jangkung itu hanya mengangguk. Dan aku menuruti perkataannya, menyanyi dengan hati. Aku dan jiwaku menyatu dengan lagu itu, sampai aku tak menyadari bahwa aku berada di panggung yang ditonton ratusan orang. Yang aku tahu hanyalah menyanyi dan menyanyi. Aku merasa bisa menyesuaikan nada dengan sangat mudah.

“Kamu menyanyi dengan sangat cantik,” puji Rey sesaat setelah kami selesai manggung.
“Iya, aku menyesal dulu sering memperolokmu,” Dion menyahut sambil tergopoh-gopoh membawa bunga. “Sekarang aku malah jatuh cinta sama kamu,” lanjutnya.
“Eitss, kamu jangan kurang ajar. Renata hanya boleh jadi milikku,” ucap Rey merebut bunga dari tangan Dion.
“Ehemm.. Renata, aku sebenarnya jatuh cinta sama kamu. Entah, bahkan mungkin sebelum aku mengenalmu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Rey menyerahkan bunga padaku.

“Bagaimana dengan Rara?” jawabku ragu menerima bunga darinya. “Oh, dia, sudahlah, kami sudah putus. Sebenarnya aku tidak pernah cocok dengannya, tapi dia selalu memaksaku sehingga kemarin-kemarin aku hanya menjalani hubungan tanpa cinta,” jawabnya. Aku mengangguk dan tersipu padanya. Bibirku gatal untuk menyanyikan nada-nada cinta, bukan lagi nada-nada sumbang. Rey terkekeh melihat tingkahku yang seperti anak kecil. Kemudian kami benar-benar bernyanyi bersama.

Cerpen Karangan: Nidaul Khasanah
Facebook: Nidaul Khasanah
Seorang gadis yang terjebak dalam dunia kata dan cinta.

Cerpen Nada Nada Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kecanduan Gadget

Oleh:
“Doni!!! Kenapa nilai ulanganmu merah semua?” Teriak wanita paruh baya yang tiada lain adalah ibunya. “Itu sudah biasa Bu,” timpalnya dengan tenang sambil terus memainkan gadget favoritnya. Ibunya hanya

Ketiduran Karena Cinta

Oleh:
Aku hanya seorang siswa sekolah menengah atas. Teman-temanku memanggilku dengan sebutan Zee si anak bertopi. Karena aku sangat senang memakai topi. Ada salah satu temanku yang sangat dekat denganku.

Dari Senyum Itu

Oleh:
Pertemuanku pertama kali dengan seorang peri, begitu aku menyebutnya hingga detik ini, adalah ketika hari pertama perkenalan masuk SMA atau biasa disebut MOS. Ketika para siswa baru merasakan berbagai

Ternyata Dia…

Oleh:
Mia, ya dia adalah siswa yang duduk di SMK jurusan Adm. Perkantoran. Dia dikenal culun oleh teman-temannya dan kurang pergaulan, tak banyak temannya yang tahu tentang kehidupan dan kepribadiannya,

Trouble

Oleh:
“hi” sapa teman gua. Oh iya perkenalkan nama gua mutiara gua sekolah di salah satu sma favorit di bandung. gua keturunan orang california soalnya seluruh keluarga gua disana cuma

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Nada Nada Cinta”

  1. hamidha says:

    Kapan y aku kaya’ gitu????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *