Naksir Senior

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 9 August 2013

Tidak tahu kenapa hatiku selalu merasa berbeda saat melihatnya. Sudah sebulan aku masuk di kampus baru ini tapi belum pernah aku melihat wajah sumringah nan teduh seperti itu. Baru seminggu belakangan ini aku melihatnya di kampus ini. Rambutnya hitam, kulitnya putih, wajahnya imut dan bertubuh mungil. Pagi ini dewi keberuntungan mengijinkan aku berpapasan dengannya, padahal aku baru saja tiba di kampus. Walaupun dia tidak mengenalku tetapi aku senang bisa melihatnya. Dan aroma parfumnya serasa selalu melekat di hidungku saat ia melintas di dekatku. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat karena memasuki sebuah ruangan di sudut kampus.
“Ehmm, liat apa sih? Serius amat”, seru lilis teman satu kelasku yang membuatku tersadar dari lamunanku. “Ahh.. kau lis, ngagetin ajah. yuk masuk kelas dah hampir masuk kayaknya”, ujarku kemudian sambil menuju ruangan kelas.

Esok paginya aku bergegas berangkat ke kampus berharap bertemu dengan bidadari itu. Biasanya dia datang cepat. Seharian aku berada di kampus ini namun aku tidak melihatnya. Hmm.. mungkin hari ini dia lagi tidak ada jam kuliah hiburku dalam hati. Dua hari kemudian aku baru melihatnya kembali. Dia berbincang-bincang dengan salah seorang temannya sambil menuruni tangga menuju lantai bawah. Kebetulan aku mau naik tangga menuju ruangan kelas. Ingin sekali aku menyapanya. Namun saat dekat persis di depannya aku tidak berani menatapnya sedikit pun. Aku berjalan melewati mereka dengan perasaan deg-degan. Hingga kepalaku hampir menabrak tembok saking groginya. Aduh malunya. Mereka pun senyam-senyum melihat kekonyolanku.
Begitulah seterusnya selalu ada perasaan aneh yang kurasakan setiap kali melihatnya apalagi dekat dengannya.

Suatu ketika ada sebuah acara yang diselenggarakan di sebuah Hall terkenal di kota Medan oleh kampus kami. Dia duduk persis belakangku selama acara berlangsung. Perasaan senang sekaligus tak nyaman menghinggapiku saat itu. Ingin sekali aku mencuri kesempatan untuk menyapanya namun itu tidak memungkinkan. Jadi kuurungkan saja niatku hingga acara selesai. Semua mahasiswa/i yang mencapai ribuan dan seluruh pihak manajemen, dosen dan seluruh staff-staff disana pun bubar. Sambil menuju pintu keluar aku mengikutinya di tengah kerumunan orang dari belakang. Tadinya dia bersama dengan teman-temannya tapi sepertinya dia kehilangan jejak teman-temannya. Ini sebuah kesempatan dan segera aku menghampirinya yang sedang berada di tengah antrian pintu keluar.

“kak..”, sahutku sambil tersenyum saat dia melihat ke arahku. Dia sedikit tersenyum kemudian. “kak, boleh kenalan?”, sahutku tiba-tiba dan terlontar begitu saja. Wajahku pun memerah.
“kamu kan…”, sahutnya seolah mengingat sesuatu. Kita berada dalam satu lokasi kampus yang sama kak, sahutku mantap.
“oh ya saya ingat.. aku pernah melihatmu. Namaku kim, dan namamu siapa?”, sahutnya kemudian. Namaku Emerald kak sahutku sambil mengulurkan tangan. Sebuah percakapan singkat pun terjadi. Namun sialnya aku malah kehilangan jejaknya saat tiba-tiba kerumunan orang-orang itu menyeruak ke luar gedung. Semua Almamater mahasiswa/inya sama berwarna ungu. Aku kewalahan untuk menemukannya.

Pertemuan kami tidak berakhir sampai disana. Masih ada acara kerohanian yang mempertemukan kami seminggu kemudian. Kali ini aku melihatnya datang seraya menaiki tangga menuju lantai tiga. Dia sedang melangkah sendirian. Dia melihatku lalu tersenyum dengan manisnya. Tentu saja segera kubalas dengan senyum semangat. “kamu kemana semalam, kenapa tiba-tiba menghilang?”, sahutnya. Hmmm… aku baru saja bergumam tiba-tiba seorang temannya memanggilnya menyusul dari belakang. Langkah kami pun terrhenti dan mereka kemudian berbincang-bincang sesaat. Lalu aku pun memilih untuk bergerak duluan. Selalu saja ada penghalang, gerutuku dalam hati.

Selesai acara itu aku dan dion temanku berjalan dari lokasi kampus menuju halte bis di seberang jalan. Sambil menunggu angkot tak berapa lama kemudian kim datang. “kakak mau nunggu angkot disini juga?”, sahutku. “hmm… ya”.

“Emangnya kakak nge-kost dimana?”
“Di jalan bhayangkara. kamu tau kan..”, ujarnya sembari memperhatikan angkot yang lewat. “Aduh.. belum tahu saya kak daerah sana. maklum saya baru beberapa bulan di Medan ini”, ujarku.

Ternyata dia satu arah denganku dan kami bisa menaiki angkot yang sama. Selama di dalam angkot aku gak berani banyak ngomong dengannya. Ia nampak serius orangnya tapi mengagumkan. Di dalam angkot pun dia bisa baca buku. Sesekali aku meliriknya. Tak heran rasa kagumku pun makin bertambah melihatnya.
Lagi-lagi aku tak bisa berlama-lama berada di dekatnya. Aku harus segera turun dari angkot ini karena simpang ke kosanku sudah sampai. Meski belum rela berpisah lagi dengannya kaki ini harus tetap melangkah.

Malamnya aku tak habis pikir tentangnya. Bayangannya tak bisa hilang dari ingatanku. Joe teman satu kos sekaligus teman satu kamarku heran melihatku senyam-senyum sendiri. Tak ingin disangka aku mulai sinting akhirnya kuceritakan saja tentang kim, gadis pujaanku itu. hehehe.

Seperti sebelum-sebelumnya dewi fortuna selalu memberikanku kesempatan untuk bertemu dengannya. Seperti siang ini sehabis mata kuliah hari ini usai. Hmm.. tapi dia sedang terlihat serius baca akses informasi di mading. Pelan-pelan aku mendekatinya. “siang kakak.. serius banget bacanya”, sahutku memulai percakapan. “Hmm..”, balasnya dengan sedikit senyum sekilas lalu kembali masih memperhatikan mading. Dingin banget reaksinya sahutku dalam hati. Tapi aku belum mau menyerah. Aku harus dapatkan nomer hapenya, gimana pun caranya.

Setelah menggunakan berbagai cara akhirnya dapat juga nomernya. Tapi aku habis dulu di ledekin sama teman-temanku yang kebetulan masih pada disana. Ikut-ikutan sok baca informasi di mading.

Setelah itu beberapa kali aku mengirimkan pesan melalui sms padanya. Beberapa kali sih dibalas. Setiap kali aku tanya dia sedang apa? Pasti jawabannya sedang baca buku, kadang novel, sedang ngerjain tugaslah dan bayak lagi. Dan kayaknya selalu sibuk. Susah banget buat ngedapatin informasi tentangnya. Tapi itu yang makin buatku penasaran.

Tapi selebihnya ia terlihat lebih ramah terhadapku di kampus. Entah itu menurutku saja. Paling tidak ia sudah mulai senyum agak melebar saat aku menyapanya. Kemudian aku berencana menyelidikinya. Kumulai dari mencari tahu apa saja hal-hal yang dia sukai dan tidak disukainya. Hobinya, makanan dan minuman favoritnya, siapa saja teman-teman dekatnya, hingga parfum kesukaannya. Aku tiba-tiba terbayang saat wangi parfumnya seolah bertebaran dimana pun dia berada. Aku sampai-sampai hafal aroma parfumnya. Ini benar-benar aneh. Belum pernah ada orang yang bisa membuatku segila ini. Mungkinkah aku sedang naksir dia?

Yah itu juga menurut joe teman satu kamarku. Aku sedang jatuh cinta pada seorang gadis mungil yang bernama kim.
“yang benar bang? Masa aku naksir dia”, ujarku memastikan.
“hmm, menurutku begitu”, sahut joe kemudian.

Dia lalu menyarankan aku untuk segera mengambil tindakan sebelum terlambat.
Bulan depan bakalan ada acara Natal yang diselenggarakan oleh kampus kami mengingat ini sudah berada di bulan November. Akhirnya sebuah ide brilliant pun muncul.
Pada saat acara natal tiba. Aku menunggu darimana sosok bidadari pujaanku itu akan muncul. Tak lama kemudian dia pun muncul. Malam ini dia cantik sekali mengalahkan para bidadari-bidadari yang ada malam ini.
Biasanya setelah berada di penghujung acara akan ada momen pertukaran kado natal. Tentu saja aku sudah persiapkan kado specialku. Akan kuberikan pada kim.

Setelah tiba di penghujung acara, tibalah saat yang kutunggu-tunggu sekaligus mendebarkan ini. Kulihat dia masih duduk di kursinya sementara teman di sampingnya sedang sibuk berbincang-bincang dengan seseorang yang baru menghampirinya.
Aku berniat segera menghampirinya.

“Ehmm… kak boleh minta foto?”. Segera kukeluarkan ponsel dari saku celanaku.
Baru mulai satu foto beberapa orang temannya datang menghampiri.
“kim.. foto bareng-bareng dong!”, ujar salah seorang dari mereka. Sadar aku bukan
siapa-siapa di antara mereka segera aku undur diri. Sedikit kecewa.
Niatku untuk memberinya kado spesial kuurungkan. Terlebih lagi setelah menyaksikan dia berfoto mesra dengan salah seorang cowok yang datang menyusul kemudian.
Mungkin dia pacarnya. Ganteng, tinggi, keren, putih. Akh.. bodoh sekali aku tidak memikirkan ini sebelumnya. Mana mungkin seorang cewek sepertinya belum ada pemiliknya.

Setelah itu aku tidak berani lagi menghubunginya melalui sms. Bahkan untuk sekedar menyapanya atau bertatapan dengannya di kampus pun aku tidak berani. Begitu mengetahui dia sedang berada di sekitarku aku segera menghindar bagai orang kesetanan. Padahal menurutku dia seorang bidadari bukan setan. Aku berusaha untuk melupakannya.

Beberapa waktu kemudian aku tau bahwa ternyata cowok yang hari itu foto dengannya bukanlah pacarnya. Mereka hanya sekedar teman biasa. Aku menyesal terburu-buru mengambil kesimpulan yang belum pasti. Aku tiba-tiba teringat dengan kado yang hari itu ingin kuberikan padanya. Sebuah parfum favoritnya. Berarti aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya.

Setelah beberapa hari mempersiapkan mental untuk menghadapi apapun resikonya. Akhirnya aku pun mengungkapkan perasaanku padanya di suatu sore melalui telepon. Namun dia menolakku untuk alasan yang tidak kumengerti. Dia hanya bilang padaku sebaiknya aku harus pikirkan kembali niatku baik-baik. Kali ini aku baru tau bahwa ada bidadari yang tega menghancurkan perasaanku.

Beberapa bulan kemudian aku dan para mahasiswa/i lainnya yang mencapai ratusan jumlahnya memasuki sebuah ruang auditorium. Kami peserta yang diundang merupakan perwakilan dari setiap kelas dari setiap jurusan untuk menghadiri rapat. Para panitia pun sudah bersiap di atas panggung. Mereka menyampaikan sosialisasi sebuah acara yang akan dilaksanakan selama beberapa bulan kedepan.

Astaga. Tiba-tiba mataku terbelalak melihat kim ada di antara mereka. Dia bukan hanya sekedar panitia semata. Baru saja salah satu pembicaranya memperkenalkan bahwa kim adalah ketua panitia acara tersebut.
Bukan hanya itu, aku baru tau kalau dia ternyata kakak kelasku yang sebentar lagi bakal diwisuda. Selama ini aku kemana saja.

Dion teman satu kelasku tertawa sepuasnya melihat wajahku yang masam setelah mengetahui yang sebenarnya. Bahkan joe pun tertawa geli melihatku. Lucunya lagi ternyata joe mengenal kim. Mereka bahkan satu angkatan. Tapi selama ini dia kan tidak tau siapa orang yang aku maksud. Bidadari yang kutaksir selama ini adalah kakak seniorku.

Cerpen Karangan: Dewi Samosir
Facebook: Dewi Xam

Nama lengkap : Dewi sartika samosir
Alamat : Jln.Bhayangkara No.400 gg.puskesmas Medan
Profeesi : Mahasiswi di salah satu PTS Medan
No.Hp : 0821-6615-8330

Cerpen Naksir Senior merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kabar Yang Ku Nanti

Oleh:
Sejak kemarin diriku selalu menanti kabar darinya, namun ia tak kunjung memberiku kabar. Sungguh gelisah rasanya, bingung harus bagaimana. Diriku mengkhawatirkannya di sana tapi diriku juga malas kalau harus

Pangeran Masa Laluku

Oleh:
Namanya SANISA seorang gadis berusia tujuh belas tahunan yang mempunyai paras nan cantik dan rambut yang terurai sebahu… “Prangg” minuman itu tumpah tempat di kertas putih tempat dimana namanya

Gadis Pemandang Langit (Part 1)

Oleh:
Dia gadis yang menawan, kebiasaannya adalah memandangi langit, siang atau malam di taman kota. Namanya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, ia akan memandangi langit dengan banyak ekspresi, seperti nangis,

Sesakit Inikah Mencintaimu

Oleh:
Waktu itu saat ahmad dan suci masih bersekolah smp dan selalu menghabiskan waktu bersama-sama, ahmad berjanji akan selalu mencintai dan menunggunya sampai kapanpun, sampai suatu ketika saat suci harus

Cinta di Surga

Oleh:
Aku tidak tahu Aku berada di mana kulihat semua tempat ini tampak putih dan dari kejauhan kulihat ada seorang wanita cantik menghampiriku. “Putra” sapa wanita itu “Kamu siapa?” jawabku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Naksir Senior”

  1. Satria says:

    Bagus cerpennya. Tapi masa cowo namanya Emerald?? Seenggaknya Emir atau Enggar lebih bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *