Nastar I Love You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 15 December 2018

Kenny memandangi toples di meja. Semuanya ludes dimakan Maminya. Ternyata Mami Kenny baru saja menikmati Nastar.

“Itu Mami beli di mana?” tanya Kenny penasaran.
“Oh langganan Mami namanya Syifa Cake.”

Kenny memang nggak hafal nama toko kue. Karena Kenny sering nongkrong di kafe bersama teman-temannya.

“Eh kuenya kan mau habis, beliin Mami ya?”
“What, bellin Mami?” ujar Kenny.
“Iya, alamatnya nanti minta sama supir.” Kenny kebingungan.
Kenny mengangguk terpaksa menuruti permintaan Maminya.

Keesokan harinya…
Hari minggu Kenny sudah pergi ke toko langganan Maminya. Otaknya menerka-nerka sesuatu. Kenapa Maminya doyan banget Nastar itu?

Setibanya di toko kue itu Kenny segera turun.
“Parkirnya jangan jauh-jauh!”
“Siip den!”

Kenny masuk ke dalam toko. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada macam-macam rak kue. Tidak ada Nastar, di mana kue tersebut. Salah seorang penjaga datang. Cewek berambut pendek dengan kacamatanya tersenyum.

“Mbak pegawainya ya, Nastarnya mana?”
“Oh udah habis diborong Mas.”
“Masa nggak ada sisa sih Mbak.” Kenny tetap ngeyel.
“Gimana Mas pesan aja, nanti kuenya bisa diantar ke rumah.”
“Oke deh!” Kenny memberikan nomornya. Lalu pergi.
“Trus soal pegawai, saya itu bukan pegawainya Mas, tapi anak pemilik toko kue ini kebetulan Mama saya lagi di Bandung.” ujar cewek itu.
Kenny mengagah.
Apalagi tampang cewek ini culun abis. Kacamata dengan rambut pendek berponi. Pake celemek pula lagi aneh.

Kenny pulang ke rumahnya. Nyokapnya sudah ngomel-ngomel nggak jelas. Kenny sampai dimarahi habis-habissan.
“Kenny lho kok bisa kehabisan?”
“Iya Mi, tapi tenang aja Kenny udah ambil nomor hpnya kok biar bisa pesen.”
“Oke.” Maminya pergi ke atas untuk tidur. Kenny tidak habis pikir. Nastar telah membuat Maminya jatuh hati. Hingga menimbulkan kegilaan di rumahnya.

Pagi-pagi Kenny sudah ke kampus. Ponselnya berdering. Nama ceweknya tertera di sana.
Kenny buru-buru mengangkatnya
“Kemarin kamu kok susah dihubungin, ke mana aja?” suara bawel Devi terdengar.
Belum sempat Kenny mengucapkan sapaan ‘Halo’ ataupun ‘Hai’ Kenny kesal setengah mati.
“Jadi gini kemarin aku tuh beliin Mami Nastar soalnya dia ngamuk terus.”
“Trus dapet??”
“Iya nggak sih sayang, soalnya Nastarnya habis udah diborong.”

Kenny menyetir sendiri. Mobilnya merem mendadak menabrak seorang pengendara motor bebek. Kenny pun membuka kacanya. “Sayang kenapa?” tanya Devi.
“Nanti kutelepon lagi, aku nabrak orang nih.”
Devi mematikan ponselnya.

“Nggak papa Mbak,”
“Nggak papa gimana Mas?” ucap cewek itu berdiri.
“Astaga elo?”
“Eh elo?” muka cewek itu berantakan.
Kacamatanya jatuh.
Dipungutnya kacamatanya.

“Sorry soal kemarin lu juga sih tampangnya kayak Mbak-Mbak pegawai.”
“Ehm maaf.”
“Soal Nastar kita masih ada perjanjian,”
“Kebetulan nyokap masih dibandung, sementara resep Nastarnya di nyokap saya sih biasa bikin lidah-kucing, kue kacang, sama Kastengel, Putri salju yang lain aja deh.”
“Kenapa, kan banyak di google resepnya.” ucap Kenny.
keningnya berkerut. Samar-samar Kenny merasa perlu mencari tahu yang sebenarnya.

“Jadi dulu sih sempet bikin Nastar tau-tau ya adonannya cepet rapuh, trus gosong,”
“What anak penjual kue gagal bikin Nastar.”
Kenny menahan tawanya.
Kesal diejek. Cewek itu mengambil motornya. Kemudian pergi. Kenny nggak peduli. Lagipula toko kue di jakarta masih banyak. Kenny bisa mensearch digoogle maps.
“Dasar rese lu!”

Beberapa minggu kemudian…
Lebaran tinggal menghitung hari. Kue favorit Mami Kenny belum juga ditemukan. Sudah sepuluh gerai didatangi Kenny. Tidak ada satupun yang cocok dengan selera Maminya.
“Mami nggak suka, Nastarnya gak enak!”

Kenny pusing. Hubungannya bersama Devi jadi terbengkalai cuma karna masalah Nastar. Akhirnya Kenny menyerah. Ia kembali menyambangi Syifa cake. Dilihatnya sosok anak pemilik itu.

Cewek itu melotot melebar.
“Eh… elo lagi, mau beli Nastar eh lebaran tinggal tiga minggu lagi ya hi.. hi…” cewek berponi itu nyegir.
“Kok lo tau sih lo mata-mata ya?”
“Idiih gila aja, saya juga gak kenal siapa situ.”
“Kenalin gue Kenny Austin, lo siapa?”
“Sa… saya… Nadira.” Kenny menjabat tangannya.
“Nastarnya masih ada?”
“Sisa satu sih mau,” seorang Ibu-Ibu hamil datang. Kelihatannya tuh Ibu pengen mesen Nastar.

Nadira lalu mendekati Ibu itu.
“Ini sisa satu ya Mbak, padahal saya ngidam berat sama Nastar.”
“Tapi Bu, maaf Mami saya juga ngidem kue yang sama gimana ya?”
“Aduh dek emang Maminya juga hamil apa?” tanya sang Ibu memengangi perutnya.
“Nggak sih.”
“Kudu di cancel atuh, saya udah lama mau makan ini tapi kata anak saya yang laris dan enak cuma di sini atuh, kumaha?”
“Ya udah buat Ibu aja.” Nadira segera membungkusnya.
Kenny jengkel. Bisa-bisa kenal omel lagi. Nasip-nasip.

Di kampus Kenny duduk ditaman. Devi menghampirinya mukanya jutek. “Kamu batalin janji lagi ya udah kita putus aja kayaknya kita udah nggak sejalan lagi deh.”
“Maksud kamu apa sayang?”

Tak lama muncullah. Sosok pria jangkung, tinggi. Devi lalu memperkenalkannya. Wajahnya putih mirip artis-korea.
“Kenalin ini Gery, dia pacar baru aku.”
Kenny diam. Kemarahan memuncak diwajahnya. Gurat-gurat amarah bercampur.
Kenny memutuskan pergi. Tanpa berbicara apapun. “Dasar cewek nggak setia, harusnya lo tuh dengerin gue dulu, otak gue udah mumet gara-gara tuh kue Nastar.”
Kenny mengomel-ngomel.

Ponselnya berdering.
Cewek di toko kue itu menelponnya.
“Ya halo ada apa?” Kenny kelihatan kusut.
“Lu kenapa habis putus cinta.”
“Kok lo banyak tau sih, mata-matain gue lagi.”
“Idiiih amit-amit deh, kan situ bukan teman saya, jadi nggak ada stalker-stalker segala ngerti.” ucap Nadira kesal.
“I’m Sorry!”
“Kalau mau Nastar ke sini aja Nyokap saya lagi buat tuh buruan, sebelum kebahabisan, buat lo semuanya spesial.”

Kenny berlari ketoko Syifa Cake. Ternyata memang benar. Kuenya baru saja dipanggang. Kenny extra cepat ke toko kue langanan Maminya sebelum diolemi lagi oleh sang Mami.

“Hm… baunya harum bener boleh gue coba nggak?”
“Nggak bisa ini bulan puasa, nanti aja pas buka.”
“Oh iya.”

Sang pemilik hanya bisa tertawa. Beberapa jam akhirnya kue telah matang. Tinggal menunggu dingin baru di toples. Selesai ditoples kue pun disusun rapi. Kenny mengambil kue miliknya misinya selesai. Kuenya pun di bawah pulang. Tapi sebelum itu Kenny pamit dulu sama pemiliknya.

“Hati-hati nak,”
“Iya Bu pasti!” Kenny kemudian menyalahkan mobilnya.

Setibanya di rumah Kenny menemukan Maminya dimeja. Mukanya riang gembira mendapatkan Nastar kesukaannya. Dimakannya dimeja. Dipeluknya Kenny dengan erat. “Cocok ini buat Papi kamu, pas dia mudik ke sini.”
“Iya Mi.” Kenny mengangguk.

Setelah hari itu Kenny jadi nggak bisa tidur. Entah kenapa Kenny terus memikirkan anak penjual kue itu. Akhirnya Kenny putuskan kesana kembali. Setibanya disana Kenny melihat Nadira sedang menutup tokonya.

“Kenapa ditutup?”
“Saya mau mudik, ke Bandung.”
“Oh…” Kenny kaget. Hatinya seperti dicabik-cabik.
“Lu kenapa?”
“Ntar sampe di sana telepon gue awas lu.” ancam Kenny.

Nadira merasa aneh mendengarnya. Di bandung Nadira baru saja sampai. Nadira duduk dikursi kayu milik Tantenya. Ponselnya masih di tangan. Sepupunya sibuk menyapu lantai.

Tiba-tiba sepupunya menoleh ke arahnya. Setelah sapunya disimpan. “Teteh kenapa atuh?”
“Nggak Teteh cuma… cuma…”
“Cuma apa teh?”
“Nggak ada apa-apa.” ponselnya seketika berdering. Kenny menelponnya.

Nadira mengangkatnya. Sepupunya agak kepo. Sepupunya duduk di sebelahnya sambil menguping. Nadira risih. Nadira putuskan menjauh dari sepupunya. Berdiri di dekat tembok luar.

“Eh elu dah tidur?”
“Belom lagi di luar teras.”
“Kenapa lu nggak telepon gue, gengsi ya?”
“Idiiih gak lah yau, saya cuma… cuma lupa.” Nadira berusaha menahan kegugupannya.
“Oh gitu ya!”
“Lu lebaran di mana?”
“Di jakarta bokap gue baru dateng dari luar negeri biasa tugas negara.”
“Trus Nastarnya?”
“Wah dia doyan banget ampe toplesnya ludes diganyang bokap.” ujar Kenny bersemangat.
“Udah malem nanti telepon lagi.” klik telpon berakhir.

Hari raya idul fitri telah tiba semua umat-muslim merayakan. Pagi-pagi Kenny berangkat ke masjid terdekat tuk sholat idul fitri. Hatinya resah. Diliriknya ponselnya.

Di tempat lain. Nadira bersuka cita bersama keluarganya di bandung. Hatinya diliputi resah. Entah mengapa? nama Kenny terlintas di benaknya.

“Kenapa bengong aja?”
“Siapa yang ngelamun ngaco lu Des?”
“Desi teh tau kalo diotak, Teteh itu ada nama siapa… siapa cowok yang nelepon waktu itu.” bisik Desi sok tahu.
Muka Nadira memerah. Sholat ied terus berjalan. Waktu demi waktu berputar. Nggak terasa sholat ied berakhir jua. Ceramah panjang udah didengar habis oleh anggota keluarga Nadira maupun Kenny.

Ponselnya berbunyi. Ada sms…
“Aduh gimana ngomongnya nih, kayaknya gue udah kepincut ama anak penjual Nastarnya deh, Nastar I Love You berjalan. Waktu demi waktu berputar. Nggak terasa sholat ied berakhir jua. Ceramah panjang udah didengar habis oleh anggota keluarga Nadira maupun Kenny.

Ponselnya berbunyi. Ada sms…
“Aduh gimana ngomongnya nih, kayaknya gue udah kepincut ama anak penjual Nastarnya deh, Nastar I Love You.”
“Masa?” balas Nadira tersenyum.
“Iya suer… gak bo-ong gue, ini tuh dari hati paling dalam yang pernah gue ucappin sama cewek.”
“Iya saya tau, tapi ngomongnya gue mulu sih…”
“Trus apa dong, aku, kamu atau situ, atau saya.”
Nadira tertawa. Ucapan Kenny membuatnya tak bisa berkutik. Nadira membalasnya. “Hm… trus jadi lo mau gitu gue jadi pacar lo nggaklah yau.”
“Itu ngomongnya gue, gue, juga.” Nadira salah-tingkah dihadapan Kenny.
“Ya udah gue mau deh, tapi ijin dulu sama Nyokap gue.”
“Siiip!” Kenny tersenyum riang gembira. Sambil menyetir mobilnya. Maminya sudah curiga ini pasti ada hubungannya sama anak penjual kue yang diceritakannya Kenny tempo hari lalu.

Selesai

Cerpen Karangan: A. Hardiyanti Kahar (Titin)
Nama: A.Hardiyanti-Kahar
Umur: 20 Tahun
TTL: 27 April 04 1995
Agama: Islam
Hobby: Menulis cerita, ngerapp, nyanyi, nonton drakor, desain baju
Twitter: @arzkyrmdhnk
Idola penulis: Erisca Febriani, Tisa-Ts, Winna Efendy, Ilana-Tan, Charon, Lexie-Xu, Yerica-Eryana.

Cerpen Nastar I Love You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dihantui Oleh Sahabatku

Oleh:
Aku membuka BBM (Blackberry Messenger) dan langsung membuka kontak Sally, teman perempuanku yang kusukai diam-diam. Aku ingin menyatakan cintaku kepadanya dan aku meminta dia menjadi pacarku. Soalnya, sudah lama

Pacar Online

Oleh:
Bintang dan rembulan yang mau menemaniku saat ini, mungkin hanya akulah orang yang sampai saat ini lebih suka menyendiri dibanding ikut bergaul bersama teman teman yang belum aku kenali.

Ceritamu Juga Ceritaku

Oleh:
Kepulan asap yang ke luar dari mulutku yang diakibatkan dari hisapan rok*k yang ada di genggamanku saat ini. Laptop yang menyala karena aku mainkan mousenya entah apa yang ingin

Love You Kevin

Oleh:
Gelap dan sunyi.. hanya itu yang terasa di sudut ruangan. Terdengar detakan jam dinding dan isakan tangis seorang gadis. Ya dia ‘NARNIA EXCONICA’. Seorang gadis yang menangis karena cinta.

My Last Star

Oleh:
“ahh… capek” kuhempaskan tubuhku di atas kasur kesayanganku. Hari ini Sungguh hari yang sangat melelahkan buatku, bukan hanya secara fisik. Tapi juga secara emosionlku benar-benar terkuras di pesta tadi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *