Need More Chance

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 6 May 2013

Kubenahi letak kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahku. Banyaknya orang yang menegur, seperti sebuah dengungan yang sama sekali tak ingin kutanggapi. Retina mataku hanya terfokus pada satu titik. Di mana ada sosok yang begitu rapuh. Sungguh aku tak sanggup melihatnya. Beberapa orang yang kutugaskan mengawasinya, masih setia berdiri di belakangnya. Syukurlah, setidaknya jika terjadi sesuatu yang buruk, mereka bisa menolong sosok rapuh itu.
“Tuan muda, keluarga Park ingin menemui anda” lapor salah seorang asistenku.

Aku menghela nafas untuk menstabilkan emosi yang berkecamuk. Bagaimanapun keluarga Park salah satu relasi terdekat keluarga kami. Sedikit mengesampingkan emosiku, aku menemui mereka. Tuan Park yang menyadari kedatanganku segera membungkuk hormat.
“Kami turut berduka cita Tuan Muda Choi” ujar nya.
“Khamsahamnida tuan” jawabku sekenannya. Emosiku kembali terguncang. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa. Namun bila berhadapan dengan beliau, semuanya sia-sia. Tuan Park memelukku dan lenyaplah semua ketegaranku.
“Kau harus tegar tuan muda, setidaknya untuk adikmu.” Usapan pelan di punggungku. Air mata yang sejak tadi ku tahan perlahan mulai berontak. Melewati kaca mata hitam yang sejak tadi kugunakan. Untungnya kami sedang berada di privat paviliun yang cukup memberi waktu pribadi. Ku seka jejak air mata tadi. Aku harus kuat. Setidaknya untuk sosok tadi. Satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini.
“Kurasa aku harus kembali. Terima kasih tuan Park. Aku akan sangat membutuhkan bantuanmu nanti.”
“Aku akan berusaha semampuku doryeonim” jawabnya.

Setelah berpamitan aku kembali ke tempat tadi. Sosok itu masih belum beranjak dari tempatnya. Aku berinisiatif untuk mendekatinya, akan tetapi ia lebih dulu berbalik dan berlari kearahku. Kurasakan beberapa pelayat menatapnya dengan pandangan heran, namun sama sekali tak dipedulikannya. Hingga ia berdiri di hadapanku. Kami berdua berpandangan. Dari balik kaca mataku aku bisa melihat matanya yang tidak menggunakan kaca mata seperti ku sedikit merah dan masih ada air mata.

GREP

Ia memeluk pinggangku. Menyandarkan kepalanya di dadaku karena tingginya yang tak sebanding. Ada rasa hangat yang menembus kemeja putih yang kukenakan. Segera kedekap tubuhnya. Ia juga terluka dengan semua ini. Beban ini terlalu berat untuknya.

“Apa mereka membenciku? Aku janji tidak akan bermain game hingga lupa waktu. Tapi Mommy dan Daddy jangan pergi” celotehnya sambil terisak. Aku tak bisa ikut lemah di depannya. Ku lepas pelukannya kemudian melepas kaca mata yang sejak tadi menutupi pandangan perih kehilangan di mataku.
“Dengar Kyu, mereka tidak marah. Mereka sayang padamu, untuk itu mereka pergi. Agar bisa berada di sini” aku mengarahkan tangaku ke arah hatinya
“Dihatimu Kyu”

Ia semakin terisak dan memelukku kembali. Tangisnya semakin hebat dan histeris. Beberapa asistenku membantukku menenangkannya. Tapi tiba-tiba tubuhnya terperosot jatuh. Sepertinya ia kelelahan menangis sejak tadi malam dan sama sekali tak tidur. Aku menyuruh agar ia di bawa pulang. Sedangkan aku masih harus di sini hingga proses pemakaman usai.

Langit sudah nampak hitam kelam saat upacara pemakaman orang tua ku selesai. Aku segera memasuki mobil untuk menuju ke rumah kami di kawasan Chumdangdong. Butuh waktu sekitar 1,5 jam dari area pemakaman untuk sampai. Kusandarkan punggungku di jok penumpang. Fisik dan batin ku lelah. Tanggung jawabku akan bertambah setelah ini. Kualihkan pandanganku melihat kilauan lampu di sekitar kawasan rumah kami.

Mobil yang membawaku memasuki sebuah gerbang kokoh. Tidak banyak bangunan di sekitar sini. Karena memang kami tidak berada di pusat kota. Hanya sebuah daerah kecil yang cukup memberi ketenangan bagiku dan Kyuhyun. Sementara orang tua kami, dulunya menetap di Seoul. Itu semua semata-mata agar mereka lebih mudah menghandle pekerjaan yang kadang tidak bisa diprediksi.

Seorang staff dirumahku mendekat dan membukakan pintu untukku.
“Selamat datang tuan muda” aku hanya mengangguk. Dan melangkah masuk ke dalam.

Beberapa bodyguard yang menjaga rumah ini membungkuk saat aku melewati mereka hingga pintu masuk utama. Suasana berbeda sedikit mengusikku, suasana sepi seperti ini pasti akan lebih sering menyelimuti rumah besar ini. Kutanggalkan jas hitam yang melekat di tubuhku. Aku melemparnya ke sofa yang ada di ruang tengah. Lengan kemeja yang menutupi hingga pergelangan tangan, ku lipat sebatas siku. Serta melonggarkan dasi hitam yang cukup menambah sesak pernafasanku.
“Apa Kyuhyun terbangun?” tanyaku saat seorang pelayan turun dari lantai atas yang berjalan sedikit tergesa.
“Nde, Tuan Kyuhyun terbangun dan histeris tuan” jawabnya.

Aku segera bangkit dan melangkah cepat menuju kamar adikku. Terdengar teriakan dan pecahan benda yang terjatuh saat aku semakin dekat dengan kamarnya. Ku buka pintu kayu mahoni dan melihat betapa kacaunya kamar Kyuhyun. Semua pelayan tak ada yang berani melawannya.

“Kyu” panggilku. Ia berhenti melempar semua barangnya. Aku mendekati dan berusaha memeluknya.
“Pergi hyung! Kau jahat! Kenapa kau biarkan mereka mengkremasi Mommy dan Daddy? Kau tidak tau mereka sekarang pergi hyung, mereka pergi!” teriak Kyuhyun. Ia menjatuhkan semua barang di meja belajarnya. Suara gaduh semakin mendominasi.

“Mereka pindah ke hatimu Kyu, mereka ingin lebih menjagamu. Ku mohon jangan seperti ini.” Aku masih berusaha meraihnya. Kyuhyun belum bisa menerima kenyataan ini. Dan aku sadar akan hal itu.
“Kau bohong Hyung, mereka hanya pergi ke Jepang! Mereka kembali!” jeritnya. Ia mengambil sebuah bingkai foto dan siap melemparnya kesembarang arah. Seorang pelayan sadar menjadi sasaran bingkai itu, aku segera menariknya. Sayangnya bingkai itu mengenai pelipis kananku

“Argh” ringisku. Semua yang ada di kamar Kyuhyun terdiam. Nyeri tak tertahankan menyerang kepalaku. Kyuhyun jatuh terduduk sambil melipat lututnya. Aku mendekatinya dengan merangkak. Kepalaku terasa sangat sakit. hingga tak mampu untuk berdiri.

“Siwon Hyung” lirihnya. Ia kemudian memelukku. Aku lega karena akhirnya ia bisa sedikit tenang.
“Mianhae, jeongmal mianhae!” sesalnya sambil menarik lebih kuat tubuhku. Aku merasa pandanganku kabur. Tanpa sadar aku semakin bersandar pada tubuh Kyuhyun. Sayup-sayup ku dengar teriakan panik dari Kyuhyun dan semuanya gelap.

Kunaikkan selimut yang menutupi tubuh Siwon Hyung. Setitik air mata berhasil lolos dari mataku. Bahkan belum sehari kepergian orang tua kami, aku sudah menyakiti Siwon Hyung. Setelah pingsan karena terkena leparanku, Siwon Hyung belum sadar. Ternyata benda yang kulempar tadi cukup melukai pelipisnya. Untunglah dokter sudah menanganinya. Dan tinggal menunggu ia sadar.

Aku dan Siwon Hyung adalah kakak-beradik. Putra kandung dari pemilik salah satu maskapai penerbangan di Seoul menjadikan kondisi ekonomi keluarga kami masuk golongan chaebol Korea Selatan. Di tambah Siwon Hyung yang berhasil menamatkan studi cumlaude di Singapore Management University di usia 20 tahun. Membuat orang tua sekaligus aku merasa bahagia.

Akan tetapi semua itu lenyap saat berita kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuaku. Private Plane mereka di temukan jatuh di sekitar jurang kawasan Haneda, Jepang. Ironisnya, mereka celaka saat akan mendarat. Sulit bagiku untuk menerima semua kenyataan ini. Sama sekali tak terbayangkan aku akan menjadi yatim piatu bahkan sebelum menikah.

“Eungghh…” lenguhan lirih itu mengalihkan perhatianku dari jendela balkon kamar Siwon Hyung. Sepertinya ia sudah siuman. Aku berjalan mendekat ke ranjang tempat ia terbaring.

“Siwon Hyung” panggilku. Matanya sedikit terbuka. Menyesuaikan dengan cahaya lampu yang cukup menyilaukan. Meskipun belum sepenuhnya sadar, ia bisa menatapku dan tersenyum sangat tipis.
“Kyunie” bisiknya. Aku mencondongkan tubuh agar bisa lebih mendengar suaranya.
“Jeongmal mianhaeyo Hyung,” ujarku. Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

Aku membujuknya untuk mau melakukan CT-Scan pada kepalanya. Namun sudah di tolak dengan keras. Padahal ini untuk kebaikan Siwon Hyung sendiri. Tapi aku juga tidak bisa apa-apa. Meski aku keras kepala, siwon hyung jauh lebih keras kepala belum lagi ketegasannya. Haahh!

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing. Tidurlah Kyu, kau lelah” katanya. Aku menggeleng. Memang bisa aku tidur setelah melukai kakakku sendiri?
“Nanti saja, Hyung tidurlah. Kau masih lemah, dan lagi aku merasa bersalah membuatmu seperti ini. Kau…”
“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri” ancam Siwon Hyung. Aku mendengus sebal. Ia beranjak dari posisi berbaring, kubantu meletakkan bantal untuknya bersandar.
“Mulai saat ini, aku tidak akan membiarkanmu sedih. Mommy dan Daddy mungkin akan menghantuiku jika membiarkanmu menangis.” Katanya sambil mengelus lembut rambutku.
“Tentu saja. Aku tau Mommy dan Daddy pasti senang berada di hatiku”

Ia tersenyum mendengar jawabanku. Cukup lama kami bercengkrama, hingga akhirnya Siwon Hyung tertidur. Dengan hati-hati aku membenahi posisi tidur duduknya agar senyaman mungkin.

“Aku akan menjadi bebanmu Hyung. Saat ini, hanya kaulah yang kupunya. Saranghae” kataku sambil mencium pipinya masih dalam keadaan terlelap.

Kami akan merindukan sosok Mommy dan Daddy. Tapi aku tak bisa seterusnya seperti ini. Siwon Hyung pasti akan khawatir, Mom, Dad, kami merindukan kalian.

Sudah 3 hari sejak kepergian orang tua kami, dan sejak malam dimana aku melukai Siwon Hyung, aku berjanji akan lebih bisa mengontrol emosiku. Pagi ini, seperti biasa aku akan bangun jika Siwon Hyung membangunkanku. Saat aku masih bergelung dengan selimut dan menggunakan piama, Siwon Hyung sudah rapi dengan setelan baju kantor yang begitu menawan. Siwon Hyung mengajukan cuti kuliah untukku selama sebulan! Tapi bukan berarti aku bebas, semua tugas kampus dan semester harus ku kerjakan di rumah. Dan ketika aku kebosanan di rumah, Siwon Hyung justru harus bolak-balik Cumdangdong-Seoul untuk mengambil alih posisi utama di perusahaan daddy.

CKLEK

Hah itu pasti Siwon Hyung. Aku segera memejamkan mata dan berusaha kembali tidur.
“Hey, mau tidur sampai jam berapa, hm? Kau ada bimbingan Kyu” seketika aku bangun dan menyibak selimutku.
“Omo! Aku lupa Hyung” dengan tergesa-gesa aku melesat ke kamar mandi. Namun Siwon Hyung menahanku.
“Ada apa?” tanyaku malas.
“Nanti malam aku harus ke Busan. Mungkin akan pulang malam. Gwenchana?” tanyanya. Bolehkah aku menyuruhnya tidak pergi? Dan menemani sehari saja aku di rumah?
“Kyu” panggilnya saat aku tak kunjung memberi jawaban
“Eum, hyung, bisakah kau berada di rumah sehari saja?” takut-takut aku bertanya. Bisa kulihat raut wajahnya berubah sendu. Apa aku salah bicara?
“Aku kesepian hyung. Mungkin dulu, Mommy akan menemaniku saat kau dan Daddy bekerja. Tapi sekarang? sekalipun ada puluhan maid dan staff pengajarku, aku tetap merasa sepi Hyung.” Suaraku semakin serak seiring tangis yang siap turun. Menerima kenyataan yang paling memilukan sungguh sakit!
“Saat aku ingin bercengkrama denganmu, kau terlihat begitu lelah hyung. Aku sama sekali tak tega mengganggumu. Bahkan kau sering tertidur di ruang kerja” aku terus berbicara semua yang selama ini aku rasakan. Siwon Hyung sama sekali tak berniat untuk memotongnya. Ia diam sambil menatapku dengan pandangan yang… menyesal?

GREP

Siwon Hyung memelukku. Ini semakin membuatku ingin menangis. Hanya kau yang kumiliki hyung. Aku sangat mencintaimu, menyayangimu sekaligus menghormatimu. Aku meluapkan tangis yang sejak tadi ku tahan. Tak peduli akan terlambat mengikuti bimbingan. Tak peduli mungkin kemeja mahal Siwon Hyung akan basah. Aku ingin Siwon Hyung tau, aku merindukannya!

“Maaf” kata pertama Siwon Hyung setelah kami berdua tenang.
“Aku tidak peka Kyu, aku bukan hyung yang baik. Apa perlu aku menemanimu setiap hari?” dengan cepat aku menggeleng.
“Cukup di akhir pekan dan jangan pulang malam. I’m sorry too” kataku. Ia tersenyum dan merapikan kemejanya.
“Baiklah, akhir pekan nanti kita berlibur bersama” katanya. Aku tersenyum gembira. Setidaknya Siwon Hyung juga perlu istirahat. Sejak kematian Mom dan Dad, ia memfokuskan dirinya untuk bekerja. Kalau tidak, menghiburku dan melakukan hal lainnya. Ia sama sekali tidak terlihat sedih. Namun aku tau, perasaan juga hancur menerima kenyataan ini. Akan tetapi sebisa mungkin ia menutupinya dengan senyum atau tawa yang sama sekali tidak bermakna!

Maka dari itu, hari minggu nanti giliran aku yang menghiburnya. Tunggu saja Hyung.

Aku memandang malas tumpukan audit keuangan perusahaan yang diserahkan sekretarisku 1 jam yang lalu. Kejadian tadi pagi terus mengganggu pikiranku. Ternyata selama ini kyuhyun tersiksa dengan sikap workaholic ku. Jujur saja, semua ini adalah pengalihan agar ia tak melihat ku kacau di rumah. Cukup aku saja yang mengekspresikan kesedihan ini.

Akan tetapi, protesnya tadi pagi malah membuatku merasa sangat bersalah. Saudara macam apa aku ini, tega membentuk sebuah dinding yang menutup semua perasaanku. Hari ini aku sama sekali tidak melakukan apapun. Bahkan survei lapangan ke Busan kupercayakan pada tuan Park yang menjadi asisten pribadiku. Kyuhyun memintaku untuk pulang cepat hari ini, segera kuraih jas yang tergantung di samping meja kerjaku.

Aku melihat tuan Park turun dari mobil kantor yang membawanya ke Busan.
“Anda sudah mau pulang Sajangnim?” tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Kyuhyun menyuruhku pulang lebih awal. Sepertinya ada yang ingin ia sampaikan” kataku
“Salam untuk Kyuhyun Doryeonim” dan aku mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah tiba untuk mengantarku pulang.

Saat perjalanan pulang, aku berhenti di sebuah toko game. Membeli beberapa CD game terbaru untuk menebus kesalahanku yang membuat Kyuhyun menangis. Sopir pribadi membukakan pintu dan mengambil jas yang kuserahkan. Aarhh aku bisa merasa sedikit sejuk jika begini. Pegawai toko menyambut kedatanganku karena memang sudah sering datang kemari. Setelah membayar aku segera pulang ke rumah.

“Aku pulang!” ucapku saat memasuki ruang utama. Kyuhyun menghampiriku, ia terlihat membawa sebuah map.
“Hyung!” ucapnya girang seraya memelukku erat.
“Hey, kau sepertinya bahagia sekali?” tanyaku heran melihat tingkahnya.

Bukannya menjawab, Kyuhyun malah menyerahkan map yang dibawanya tadi. Aku mengerenyit bingung. ada apa ini?
“Bacalah Hyung” titahnya. Aku segera membuka map tersebut dan mulai membaca isinya.

Sebuah surat yang menerangkan beasiswa dari perusahaan sekelas Google di Singpore yang menawarkan Kyuhyun untuk melanjutkan studinya di negeri singa tersebut. Perasaanku bingung, apa Kyuhyun menerima beasiswa ini?
“Hyung, jebal, izinkan aku menerima ini. Perusahaan tekhnologi sekelas google, ingin aku bergabung dengan mereka. Boleh ya?” kyuhyun memohon dengan sungguh-sungguh. Aku tidak bisa menjawab.

Bukannya aku tidak mau Kyuhyun maju, hanya saja, aku tidak rela melepasnya ke Singapore sendirian. Kecuali
“Baiklah, Hyung izinkan. Tapi kau tidak akan pergi sendiri Kyu. Aku akan ikut bersamamu. Setidaknya ada yang mengawasimu”
“Tapi Hyung, bagaimana dengan perusahaan di sini?” cemasnya. Aku menggeleng santai
“Akan ada yang menghadlenya. Intinya kau dan aku akan menetap sementara di Singapore untuk studimu” tegasku. Ia mengerucutkan bibirnya lucu.
“Arra, kau dan aku. KITA” ujarnya penuh penekanan. Aku sedikit terkekeh dan berjalan menuju kamar setelah berhasil mengacak rambut ikalnya.

“SIWON HYUUUNGG!” teriakan protesnya menggema karena rambutnya berantakan.

Aku meng-turn off Sony PSP C20 setelah menyelesaikan semua level di salah satu gamenya. Ku lihat Siwon Hyung sibuk dengan Apple iPhone 5 yang sejak tadi tidak berhenti berdering. Aku menarik koper dan meraih tas kecil yang berisi semua CD Game ku. Siwon Hyung termasuk tipe fashionista. Ia tak segan-segan membeli sebuah produk jika sesuai dengan seleranya. Menurutku itu hal yang sepadan dengan kerja kerasnya. Jadi dari dulu aku tak masalah dengan hal itu, toh aku tidak se-fashionista Siwon Hyung.

“Sudah siap?” suara Siwon Hyung membuyarkanku. Aku menganggu dan menuju ke mobil yang mengantar kami ke Incheon Airport. Sebenarnya Siwon Hyung menginginkan agar berangkat menggunakan private plane saja. Tapi aku menolaknya, untuk apa mempunyai maskapai penerbangan terkenal jika pemiliknya jarang mencobanya. Maka dari itu, aku meminta Siwon Hyung agar pergi dengan pesawat milik maskapai kami. Dan ia setuju.

“Kau terlihat sibuk sekali Hyung” tegurku saat melihatnya menandatangani sebuah dokumen setelah menutup sambungan telfonnya.
“Kita akan berangkat hari ini. Aku tak bisa menghadiri pengangkatan CEO baru jadi semua dokumen ini harus selesai sekarang”
“CEO baru?” kagetku. Siwon Hyung hanya mengangguk dan masih serius berkutat dengan dokumen.
“Kenapa ada CEO baru Hyung?” tanyaku lagi. Bukankah Siwon Hyung sudah sah memimpin perusahaan itu?
“Hyung” panggilku lagi. Tapi ia masih tetap mengacuhkanku.

SRET

“Ya! Kyunie, kembalikan pulpen Hyung” protesnya saat aku berhasil merebut benda yang cukup penting dalam hidupnya itu. Pulpen. Aku mengarahkan pulpen itu keluar jendela Lamborgini Gallardo ini. Tatapan Siwon Hyung semakin panik. Maklum saja, puplen yang saat ini ada di tanganku sedikit berbobot. Dengan goresan ‘Montblac Meisterstuck’ yang harganya setara dengan 1 PSP console ku.

“Dengar dan jawab pertanyaanku kalau mau pulpen ini kembali” ancamku. Memang hanya Hyung yang bisa mengancamku? Kekek~
“Oke, kembalikan pulpenku dan aku akan mendengarkanmu” ujarnya memohon. Aku segera mengembalikannya. Siwon Hyung merapikan dokumen tadi dan menghadap ke arahku. Siap untuk mencurahkan semua perhatiannya.

“Jadi?” tanyanya.
“Kenapa harus ada CEO baru Hyung?” ulangku
“Karena Hyung berhenti. Jadi harus ada yang menggantikannya bukan?” jawabnya tenang.
“MWO? Berhenti? Kau menyerahkan perusahaan kita hyung?” teriakku tak percaya.
“Haish bocah ini” siwon hyung bergumam kesal. Kemudian menarik nafas untuk mulai menjelaskan
“Tidak adil bukan aku meninggalkan perusahaan dan menyerahkannya tapi orang tersebut hanya menjadi CEO karena aku pergi. Maka dari itu lebih baik aku menyerahkannya secara permanen”
“Tapi daddy…”
“Seluruh aset dan saham masih atas nama keluarga Choi. Jadi kau tidak perlu khawatir Kyu” potongnya seolah bisa membaca apa yang akan kuucapkan.

Aku terpana dengan tindakan Hyungku. Dia melakukan ini demi menemaniku belajar di Singapore. Strategi mengatur struktur kepemimpinan perusahaanpun perlu diancungi jempol. Ia begitu memikirkan perasaan karyawannya dan semua orang yang ada di sekelilingnya. Tapi kenapa ia harus mengorbankan perasaanya sendiri?

“Itu berarti sekarang hyung seorang pengangguran?” tanyaku. Dan di balas anggukan
“Tidak mungkin!” kataku sakratik. Siwon hyung langsung memandangku tak mengerti.
“Begini, kau itu pintar hyung. Kurasa di Singapore banyak perusahaan multinasional yang dengan senang hati menerima kemampuanmu. Dan lagi…” hati-hati aku melanjutkan
“Kau itu tidak bisa diam. Berkutat dengan dokumen adalah hobimu. Tidak mungkin kau menganggur Hyung” aku mengutarakan penilaianku. Siwon Hyung tersenyum kemudian berkata
“Kau memang dongsaeng yang paling mengerti ku Kyu”

Aku lega mendengarnya. Siwon Hyung menganggapku! Tidak hanya siwon hyung yang memperhatikan tentang diriku. Akan tetapi, sebagai saudara sudah wajar bila aku mengerti dirinya.

Tak pernah aku menyangka ternyata Siwon Hyung penyuka interior kerajaan. Ia sengaja mendesain sebuah penthouse mewah yang berada di sekitar kawasan Orchard City dengan nuansa ‘bangunan tua yang modern’. Bahkan setelah sebulan menetap di sini, aku masih sering tersesat. Bayangkan saja, luas bangunan ini mencapai 2000 m2. Kalau mau, aku bisa membuka penginapan di sini, ada 24 kamar tidur dan 11 kamar mandi dengan lantai marmer. Semua ini semakin sempurna dengan barang-barang kelas satu yang memenuhi sudut penthouse kami.

Di antara semua itu, yang menjadi tempat paling favorit kami adalah taman di lantai 2. Setengah dari wilayah lantai dua, di desain menjadi taman hijau oleh siwon hyung. Ada kaca yang membatasi taman tersebut dengan ruangan atas.

Terdapat replika bunga tulip putih dan bunga lily menghiasi taman ini. Dan tempat duduk santai yang sering kami gunakan saat akhir pekan. Dari atas sini aku bisa melihat Siwon Hyung sedang bermain golf di lapangan belakang rumah ini. Karena sekarang hari Minggu aku bisa sedikit santai dari semua beban kuliah ku. Begitu juga dengan Siwon Hyung. Saat ini ia bekerja di perusahaan investasi pemerintah Singapura, Temasek Holding. Dan yah, karena kejeniusannya ia bisa menduduki posisi penting di sana. Sekali lagi ia mampu membuatku kagum. Namun kali ini aku merasa kecewa sekaligus.

Sebut saja aku egois. Ada alasan mengapa aku demikian. Di awal bekerja, Siwon Hyung memang masih perhatian padaku. Sayangnya, lama-kelamaan perhatiannya mulai berkurang padaku. Kami hanya berbicara bersama saat sarapan dan akhir pekan seperti ini. Itu juga kalau Siwon Hyung di rumah. Tanpa sadar, kesibukan kuliahku dan pekerjaan Siwon Hyung membuat kami jarang bercengkrama. Aku benci kenyataan ini! Karena hal ini membuatku terus ingat dengan Mommy dan Daddy.

Hembusan angin membawaku ke dalam khayalan. Hingga sebuah suara mengintrupsinya “Ada yang kau pikirkan?”
“Oh Hyung, kau membuatku terkejut” jujurku. Ia hanya tersenyum.
“Kau melamun Kyunie, ada yang kau pikirkan?” ulangnya
Kebimbangan menyergapku. Apa aku harus mengatakannya? Bagaimana jika nanti Siwon Hyung tidak bisa? Bisakah aku menyembunyikan kekecawaan ku?
“Choi Kyuhyun?” tegurnya saat aku kembali melamun.
“Eum, Hyung, itu..” bilang tidak ya, huuh! Ku lihat Siwon Hyung masih sabar menunggu lanjutanku
“Minggu depan, ada pertunjukkan amal fakultasku. Bisakah hyung datang menyaksikkannya?”
Nampak Siwon Hyung berfikir sebelum menjawab.
“Baiklah, akan kuusahakan” aku tersenyum mendengar jawabannya. Setidaknya ada peluang Siwon Hyung akan datang.

Aku berlari secepat yang aku bisa menuju tempat pertunjukkan amal fakultas ku. Sialnya aku lupa jika acaranya maju 1 jam. Dan beginilah, semuanya kacau. Sambil fokus pada permainan keyboardku, retina mataku menyusuri seluruh ruangan asdfg untuk menemukan sosok Siwon Hyung. Perasaan kecewa seketika menjalari hatiku. Ternyata Siwon Hyung tidak datang! Meski begitu permainanku tidak bisa di hentikan. Aku menyelesaikan acara ini bersama teman-teman fakultasku yang lain dengan perasaan sangat kecewa.

Saat keluar area gedung tempat acara ku berlangsung, aku melihat Siwon Hyung. Ia sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita. Jadi ini alasannya ia tidak menontonku? Merasa di perhatikan ia pun berbalik. Namun aku segera masuk ke mobil Aston C3 dan segera meninggalkan tempat ini.

Aku membencimu hyung, sangat!

Ku raih kunci mobil yang tergeletak di meja kerja kantorku. Setelah menyelesaikan semua pekerjaanku, bahkan rela melewatkan makan siangku, aku bergegas menuju tempat acara pertunjukkan amal Kyuhyun. Aku sadar selama ini sudah membuatnya kesepian. Sayangnya aku belum menemukan solusi untuk menyelesaikan kesibukkan ku ini.

Aneh sekali, saat aku tiba semua tampak bubar. Apa acaranya sudah selesai? Aku melirik jam tangan Giorgio Armani yang diberikan Kyuhyun sebagai hadiah tahun lalu. Belum terlambat seperti yang dikatakan Kyuhyun. Kuputuskan untuk keluar dan bertanya.

“Oppa!” suara wanita menghentikkan langkahku. Akupun berbalik untuk mengetahui pemilik suara itu
“Tiffany?” tanyaku memastikan
“Nde, ini aku” katanya ramah. Ia adalah Tiffany Hwang, putri Tuan Hwang, atasan tempatku bekerja.
“Kau menonton pertunjukkan amal ini?” tanyaku. Dan ia mengangguk
“Tapi oppa, acaranya sudah selesai”
“What? H-how can?” kagetku. Pasalnya aku datang tepat di jam yang disebutkan Kyuhyun.
“Sudah dari sejam yang lalu oppa” jelasnya. Aku hanya mengangguk. Ternyata Kyuhyun lupa menyampaikan acaranya maju satu jam. Kuputuskan untuk menunggu Kyuhyun dan pulang bersama.

Ketika sedang asik berbincang, aku menoleh ke samping. Ternyata Kyuhyun berdiri dengan tatapan datar. Apa dia marah? Jujur aku sungguh tidak tau perubahan waktu acara ini. Tanpa berniat menyapa, Kyuhyun langsung masuk ke mobil dan memacunya pergi. Aku segera berpamitan pada Tiffany dan menyusul Kyuhyun pulang.

“Kyunie, Kyuhyun”
Aku meneriakkan namanya begitu masuk ke dalam rumah. Sama sekali tak terdengar jawaban. Akupun mencari ke kamarnya. Terlihat ia sedang duduk menghadap balkon sambil bermandikan cahaya matahari yang mulai tenggelam.

“Kyu” panggilku. Masih tak ada respon.
“Mianhae, Kyu, aku tidak…”
“Gwenchana” potongnya cepat. Ia kemudian berbalik dan menghadap kearah ku.
“Siapa yang tidak tau eksekutif super sibuk sepertimu Tuan Choi!” katanya dingin. Oh tidak, dongsaenku marah,
“Jangan begitu Kyu, aku bisa menjelaskannya”
“Bagian mana Hyung? Saat kau bermesraan dengan yeoja di depan gedung pertunjukkanku?” sinisnya
“Dia Tiffany, putri tuan Hwang kami hanya bertegur sapa” belaku.
“Cukup, pergi Hyung. Aku mau sendiri” ucapnya datar. Aku menghela nafas lelah. Jika sudah seperti ini, percuma sekeras apapun aku berusaha menjelaskan segala kesalah-pahaman ini.

Kesalah-pahaman itu rupanya membuat sedikit keretakan antara aku dan Kyuhyun. Setiap hari, tak ada obrolan. Sekalipun duduk dalam satu meja makan tak ada satupun dari kami yang memulai perbincangan. Seminggu lagi ia akan berulang tahun. Sepertinya memberinya sedikit kejutan bukanlah ide yang buruk.

“Aku berangkat” singkat Kyuhyun setelah menghabiskan sepotong sandwich tuna. Ia mengambil ransel yang tersampirkan di pinggil kursi. Kemudian pergi tanpa melihatku.
“Kita berangkat bersama!” ujarku setelah meminum moccachino ku.

Tak ada jawaban. Aku menghela nafas berat. rasa bersalah lebih mendominasi dari pada kekesalan karena di acuhkan. Kondisi seperti ini, memang apa yang bisa kulakukan? Meski aku benci penolakan, tapi itu tidak akan mudah jika berhadapan dengan dongsaengku. Dengan lesu, ku raih jas dan kunci mobil untuk segera berangkat ke kantor. Sama sekali tak ingin terjebak dalam kemacetan klise saat pergi kerja.

“Apa neraca dagang lebih kau cintai?”
“Tiffany?” kagetku saat melihatnya sudah ada di depan pintu ruanganku.
“Apa aku mengganggu mu?”
“Tidak, ada apa Tiff?” bukannya menjawab, Tiffany justru menundukkan kepalanya. Kedua jari telunjuknya bertaut. Jelas menunjukkan kalau ia sedang gugup
“Err, Siwon Oppa..”

Aku masih menunggu Tiffany melanjutkan. Ia semakin terlihat gugup. Aku sedikit menahan tawa tak ingin menghilangkan konsentrasinya
“Nona hwang, aku rasa di sini masih ada kursi kosong. Jadi lebih baik kau duduk dan aku ingin mendengar ucapanmu berikutnya” kata Siwon sedikit tersenyum.
“Huffthh, oke, benar Kyuhyun minggu depan ulang tahun?” aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi yang kududuki. Sambil mengetukkan jari di atas meja, kurasa aku cukup bisa menebak maksud tiffany datang kemari.

“Nde benar, Waeyo?” aku masih ingin memancing gadis ini
“Itu, maksudku, eum aaa”
“Bicara yang jelas Tiff” tegasku. Sungguh menyenangkan melihat raut gugup gadis ini.
Ku lihat ia menarik nafas panjang sebelum menjawab.

“Aku ingin tau apa saja kesukaannya”
Aku menautkan alisku, ternyata benar Tiffany tertarik pada Kyunie “Memangnya kenapa Nona Hwang?” godaku. Ia menggebungkan pipinya kesal. Sungguh manis.
“Aku hanya ingin tau Oppa, cepatlah katakan” ia masih berkelit rupanya.
“Apa kau menyukai Kyuhyun tiff?” spontan ia menoleh dan nampak terkejut.
“Ti-Tidak! Aku hanya ingin memberinya hadiah spesial.”
“Memberinya hadiah spesial?” ulanku. Ia memukul pelan kepalanya. Sadar jika sudah keceplosan.
“Arra aku mengerti, bagaimana kalau kita cari berdua? Kemudian memberinya sedikit surprise?” tawarku.

Tiffany langsung mengangguk setuju. Ia kemudian pamit karena masih harus bertemu dosen pembimbingnya. Kuharap kau bisa menyayangi Kyuhyun dengan tulus tiff. Karena kau adalah figure gadis yang cocok untuk Kyuhyun di masa depan. Yang menemani Kyuhyun. Batinku.

Aku sedikit kewalahan mengatur pekerjaan yang menumpuk di awal bulan. Karena harus mengambil cuti sehari agar bisa mempersiapkan surprise untuk dongsaeng tersayangku. Namun semua seperti terbayarkan saat aku dan Tiffany berhasil menemukan hadiah serta mempersiapkan surprise untuk Kyuhyun. Belum sempat aku keluar pelataran gedung, tuan Chen memanggilku dari belakang. Oh sepertinya ini bukanlah pertanda baik.
“Kau sudah mau pulang?” tanyanya sedikit ragu. Aku mengangguk.
“Bisa bantu aku sebentar? Ada kejanggalan dalam revisi laporan persediaan stok untuk bulan November tahun lalu.”
“Tidak bisakah kita mengeceknya besok tuan? Aku harus segera pulang” ini pertama kalinya aku menolak kepada atasan selama bekerja di sini. Tapi biarlah, semua demi Kyuhyun.
“Maafkan aku Siwon, tapi nominal dari selisih laporan ini cukup untuk membuat sepertiga aset berpindah tangan”
Kuhela nafas panjang sebelum merespon permintaan ini. Mungkin aku bisa sedikit membantu. Semoga aku bisa berpacu pada waktu. Kembali melangkahkan kakiku ke lantai 5. Di mana tempat para divisi bertugas. Sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Tiffany untuk menyiapkan semuanya lebih dulu. Untuk antisipasi apabila aku terlambat.

Sedikit berharap keberuntungan masih dipihakku. Setelah memarkir kendaraan, aku segera masuk ke rumah. Suasana ruang tengah dan depan sangat sepi. Tentu saja, karena Tiffany menolak saat aku menyuruhnya pergi sendiri. Dan sekarang, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ini berarti masih tersisa satu jam untuk merayakan ulang tahun Kyuhyun. Suara gaduh mulai terdengar di lantai dua ruma ini. Berspekulasi bahwa Kyuhyun pasti ada di sana. Memang benar dugaanku. Tapi hal berikutnya yang kulihat sungguh membuatku berteriak.
“Kyuhyun!!”
Aku melihat bagaimana Kyuhyun berusaha meloncat dari sisi balkon dan di tahan beberapa orang yang bekerja di rumah kami. Segera kuhampiri sosoknya dan berusaha menariknya ke dalam. Tak ingin sejengkalpun membahayakan nyawa dongsaengku. Sebenarnya apa sih yang ia pikirkan?
“Biarkan aku pergi Hyung! Aku ingin bersama Daddy dan Mommy.” Kyuhyun terus meronta. Kami berdua bisa saja jatuh dari teras atas Penthouse mewah ini.
“Dengarkan Hyung. Kau tidak boleh pergi! Tidak Kyu!” kataku sambil tetap menariknya menjauh dari pagar pembatas.
“Untuk apa? Kau sudah tidak sayang padaku Hyung. Ulang tahunku saja kau lupa!” ia masih terus histeris. Beberapa bodyguard mendekat ke arah kami dan menarik Kyuhyun. Aku tak bisa melihatnya seperti ini. Terakhir, saat orang tua kami meninggal Kyuhyun sehisteris ini.

Ia berhasil lepas dari tahanan bodyguard tadi. Kyuhyun mendekat ke arah pagar dan siap meloncat. Aku berhasil menangkapnya dan menariknya kembali. Namun keseimbanganku tak terkendali. Belum lagi Kyuhyun yang terus mendesak, sampai semua itu terjadi. Aku merasa angin kencang disekitarku dan teriakan Kyuhyun. Kemudian aku merasa punggung dan kepalaku membentur sesuatu yang tumpul. Aku terjatuh dari lantai 2 rumah kami.

Kyuhyun menghampiriku dan meraih tubuhku. Aku bisa melihat Kyuhyun serta kedua orang tuaku. antara sadar dan tidak sadar. Kurasakan tangan kyuhyun meraih tanganku dan menggenggamnya. Sebelum semuanya buram, aku sadar, aku memang tidak pantas menjadi saudaramu Kyunie

Parkway Navena Hospital saat ini tidak hanya ramai karena pasien ataupun tim medis. Namun banyak media pers yang ingin tau bagaimana kronologi jatuhnya Siwon Hyung. Aku tidak tau bagaimana mereka bisa mengetahui ini. Tapi yang pasti, media tidak bisa merangsek masuk karena tingkat keamanan premium rumah sakit ini. Fokusku bukan pada incaran media. Akan tetapi, pada sosok di dalam sana. Yang tengah berjuang untuk memilih hak dasarnya sebagai manusia. Tetap hidup atau meninggal.

Kusandarkan punggungku pada dinginnya dinding ruang emergency rumah sakit ini, memejamkan rapat-rapat mata yang sedari tadi merekam semuanya. Semua kejadian yang paling kubenci. Bagaimana Siwon Hyung kembali celaka karena aku. Dongsaeng tak berguna yang hanya menjadi beban untuknya. Seiring memori itu, perlahan tubuhku merosot hingga pada posisi duduk. Melipat kedua lutut dan menenggelamkan wajahku diantaranya. Secara naluri, setitik air mata, meluncur lagi. Setelah sebelumnya tertahan karena kepanikan yang mendera.

“Kyu” sebuah suara mengejutkanku. Ditemani sebuah tepukan ringan pada bahu kananku.
Pelan aku mengangkat kepalaku untuk mengetahui sosoknya “Tiffany?”
“Nde, untung kau ingat.” Ia menatapku lega
Dengan segera aku mengalihkan pandangan darinya. Pasti ia sangat membenciku. Karena akulah penyebab Siwon Hyung terluka.
“Siwon Hyung..” aku menahan semua emosi. Takkan kumaafkan diriku sendiri apabila terjadi sesuatu yang buruk padanya. Gerakan tak terduga dari Tiffany membuatku tercengang.

Ia mendekatkan tubuhnya hingga bisa memelukku. Membawa ragaku ke dalam rengkuhan hangatnya. Posisi seperti ini membuat ku semakin ingin menangis. Perasaan bersalah kian bertambah, bukan hanya pada Siwon Hyung, tapi Tiffany, yang notabenenya adalah wanita yang sedang dekat dengan Hyung-ku
“Uljima, lebih baik kita berdoa Kyu”
“Mianhae, jeongmal mianhae” serakku menahan tangis. Tiffany melepas pelukannya untuk meminta penjelasan
“Kenapa minta maaf Kyu?”
“Karena aku, Siwon Hyung terluka. Maaf membuat orang yang kau cintai celaka. Wajar bila kau membenciku Tiff” nampak ekspresi terkejut diwajahnya.
“Apa maksudmu kyu?” tanyanya
“Bukankahkau dan Hyungku pacaran?”
Sejenak ia terpaku. Detik berikutnya ia tersenyum. Manis, sangat manis dengan lingkar mata yang ikut tersenyum.
“Aniyo, kami tidak pacaran” sontak aku langsung menatap matanya. Benarkah?
“Kami dekat karena aku mengagumi sosok Siwon sebagai kakak. Selain itu, agar aku bisa lebih dekat denganmu”
“Mwo? Aku?” seketika aku merasa bingung dengan ucapan Tiffany.
Wajah Tiffany berubah menjadi merah padam “Saranghae” lirihnya.

Pita suaraku tak bisa memproduksi sepatah katapun. Aku terlalu terkejut dengan pengakuan tiffany. Menoleh pelan ke arah gadis yang sedang menunduk dalam itu. Giliran aku yang meraih tubuhnya. Mungkin jika tidak dalam kondisi seperti ini akan mudah bagiku untuk membalas pengakuan cintanya. Karena sesungguhnya aku juga mencintai Tiffany. Tanganku bergerak mengangkat kepalanya agar menatapku.

“Berikan aku waktu tiff, semua ini terlalu tiba-tiba” aku mulai bicara.
“Oh tentu saja Kyu, jangan jadikan ini beban fikiranmu. Aku akan menunggu” jawabnya.

Aku tersenyum. Seorang sudah menunjukkan cintanya untukku. Tinggal bagaimana menjaga agar selamanya cinta itu tetap untukku. Kedua matanya menatapku. Tanpa sadar, aku terhipnotis dengan irish kecoklatan yang menampilkan gradasi kebiruan. Sungguh sempurna kau Tiffany Hwang!

Bukan dentingan jam yang memenuhi keheningan diruangan Siwon Hyung. Detak kardiograf-lah yang menguasai suasana. Sudah hampir seminggu Siwon Hyung koma. Malam petaka itu adalah terakhir kalinya aku melihat Hyungku bergerak. Karena sampai saat ini ia dalam kondisi koma. Selama itu pula air mataku terasa tak terkontrol. Penyesalan atas semua sikapku selama ini. Kasar, tidak sabaran dan masih banyak lagi. Aku tak kuat menanggungnya sendiri Tuhan. Cinta tulus dari Tiffany yang membuatku tetap kuat untuk melewati semua ini. Ia selalu bisa memberikanku semangat saat rapuh.

“Kami tidak bisa berbuat banyak. Benturan yang dialaminya sangat melukai organ vital dan tulang belakangnya. Hanya keajaiban yang bisa menolongnya”

Kata-kata dokter terus terngiang dalam akal fikiranku.

Kudekati single bed tempat Siwon Hyung terbaring. Aku tak pernah bisa menerima vonis dokter yang mengatakan ia kritis dan dalam masa koma. Karena setiap melihat wajah terpejam Siwon Hyung, aku merasa ia tengah tidur dengan nyenyak. Untuk menutupi jam tidurnya saat bekerja seperti robot. Sama sekali tak terlihat kesakitan. Selang kecil pemasok oksigen melingkar di sekitar hidung hingga wajahnya. Kuraih tangan Siwon Hyung yang selama ini mengusap manja rambutku. Yang selalu membawa tubuh histerisku dalam dekapan hangatnya. Kini tangan itu terasa dingin. Kelopak mataku terasa semakin panas.

“Hyung” panggilku. Percuma karena pada akhirnya ia tak meresponnya.

Pelan-pelan kugerakkan tanganku untuk mengelus rambut hitam kelamnya. Rambut yang selalu rapi dan kebanggan Siwon Hyung. Kali ini sedikit kaku karena tak terawat oleh pemiliknya. Aku menarik kedua tanganku. Menautkan hingga menyatu. Kugunakan untuk menahan isakan yang siap pecah. Sungguh aku tak pernah berfikir semua ini akan terjadi.

“Wake up hyung, please…” kataku parau. Aku sudah tidak peduli dengan penilaian orang yang mengataiku cengeng.

CKLEK

Secepat mungkin aku menghapus air mata yang membasahi kedua pipiku. Kutolehkan kepalaku dan mendapati Tiffany berdiri. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungilnya. Langkahnya semakin mendekat, aku mengikutinya. Membuat raga kami berdua bersatu dalam sebuah pelukan. Aku semakin mengeratkan kedua tanganku di pinggangnya. Merebahkan kepalaku di pundak kiri Tiffany. Membasahai blazer kerjanya dengan air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir.

“Berjuanglah Kyu, jangan menangis.” serentetan kata-kata bijak meluncur dari mulut Tiffany. Gerakan halus dari tangannya ikut menenangkanku.
“Aku takut Siwon Hyung meninggalaknku sendiri” jari lentiknya menuntutku untuk berhenti bicara

Ya aku memang takut jika semua itu terjadi. Hanya Siwon Hyung yang keluarga yang kumiliki saat ini. Akan kulakukan apapun itu agar bisa tetap bersamanya. Jika bisa, aku ingin sekali menukar saat aku berlaku pada Siwon Hyung dengan kesembuhan untuknya. Bolehkah tuhan? Izinkan aku merasakan keajaibanmu kali ini. Aku mohon. Aku dan Tiffany masih dalam posisi berpelukan.

Setelah merasa lebih nyaman aku melonggarkan pelukannya. Beralih menatap sosok Hyung-ku yang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Setitik air mata bisa ku lihat menetes dari mata terpejamnya. Aku tau ia bisa merasakan suasana sulit ini, aku tau hyung, kumohon kembalilah.

Hari-hariku berjalan seperti biasa. Beberapa petinggi Korea sudah datang ke Singapore untuk menjenguk Hyung-ku. Sekali lagi, banyak orang yang menyegani Siwon Hyung. Sekalipun pemula dalam dunia bisnis, ia bisa membuat pebisnis senior nyaman bekerja dengannya. Langit tampak mendung, segera kuberlari menuju mobil Aston Martin One-77 ke rumah sakit tempat Siwon Hyung di rawat. Pasti ia kesepian sudah kutinggal seharian menyelesaikan skripsi semester terakhirku.

Aku membuka salah satu pintu kamar Park Navena Hospital. Suasananya begitu tenang dan hening. Sayangnya keheningan ini begitu menyayat hatiku seakan menyumpahi kesendirianku. Kudekati sosoknya yang terbaring lemah. Kondisi Siwon Hyung sudah mulai membaik. Benar-benar sebuah keajaiban. Sekalipun dokter belum bisa memprediksi kapan ia akan sadar. Walau begitu, Tuhan sudah memberiku kesempatan. Dan kali ini aku tidak akan menyia-nyiakannya.

Merasa gerah setelah seharian di kampus, aku memutuskan untuk mandi. Segarnya air membuat sedikit kepenatanku hilang. Yakiin sudah rapi, aku pun keluar dari kamar mandi. Jantuku terasa berhenti berdetak untuk persekian detik. Paru-paruku juga tidak bisa memasok oksigen untukku. Saat melihat pandangan di depanku. Kepalanya sedikit miring ke arah kiri di mana terdapat jendela besar yang menjadi akses masuknya sinar matahari. Aku menjatuhkan handuk serta pakaian kotorku dan langsung menghampirinya yang masih dalam posisi terbaring.

“Siwon Hyung! Kau sadar!” pekik ku bahagia. Air mata kembali mengalir. Namun sekarang berbeda. Bukan air mata sedih tapi bahagia. Aku benar-benar mendapat kesempatan kedua! Terima kasih tuhan

***

Hembusan angis sore bergerak bebas menerpa wajahku. Gradasi warna bias dari matahari tenggelam nampak sangat cantik untuk di lihat. Tanpa sadar sebuah garis lengkung terukir diwajahku. Sungguh pemandangan yang indah

“Hyung!” suara itu membuatku menoleh. Dapat ku lihat dongsaengku sedikit berlari menghampiriku.
“Ada apa Kyunie?” tanyaku. Bukannya menjawab ia malah menunduk untuk menyamakan tingginya denganku.
“Kau pucat Hyung, ayo ku antar ke kamar.” Aku menggeleng. Bohong aku baik-baik saja, sejujurnya aku masih merasa sakit. akan tetapi rasa bosan mengalahkan segalanya. Aku menggeleng menolak saran Kyuhyun.
“Hyung, kita baru tiba di Korea, kau pasti lelah dan”
“Kyu, please” aku memotong ucapannya. Ia menghela nafas dan melepas jaketnya.
“Pakailah hyung, udara musim gugur cukup rendah”

Aku tersenyum dengan perhatian Kyuhyun. Sekalipun aku dan dia berubah 180 derajat. Seharusnya aku yang melindungi, menjaga serta merawat layaknya seorang kakak. Tapi kenyataannya lihatlah, justru dia yang bersusah payah merawatku setahun belakangan. Sejak kejadian malam petaka itu, hidupku sudah berubah. Bisa kembali tersadar dan lepas dari vonis kematian merupakan keajaiban yang tak terbayangkan siapapun. Akan tetapi fisikku tak lagi seperti dulu. Semuanya harus kuterima saat dokter menyatakan aku mengalami peregangan syaraf motorik dalam bergerak. Dan itu berarti kemampuan berjalanku terganggu.

Namun aku tetap bersyukur. Setidaknya ada kebahagiaan yang bisa ku lihat langsung setelah kejadian buruk itu. Tiffany dan Kyuhyun. Mereka akhirnya menikah. Aku tidak keberatan didahului oleh dongsaengku. Yang terpenting, melihat wajah Kyuhyun yang berseri saat bertatapan dengan Tiffany, sudah cukup untukku.

Setidaknya, tuhan masih memberiku kesempatan untuk menebus waktu berharga dengan Kyuhyun. Hingga suatu saat nanti, aku tak bisa lagi menarik nafas untuk melanjutkan kehidupan.

FIN

Cerpen Karangan: Vietha Choi
Blog: viethachoi.wordpress.com

Cerpen Need More Chance merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengorbanan Hati (Part 1)

Oleh:
“Dara, di depan ada tamu.” Ibu menghampiriku. “Siapa Bu?” Tanganku masih sibuk merapikan perabotan yang telah aku cuci. “Namanya Sarah. Sepertinya dia belum pernah kamu kenalkan ke Ibu.” “Sarah

My Doctor is My Love

Oleh:
Namaku Belva Erly Christyna, aku memang gadis tunarungu, tapi kebahagiaan yang ku dapat begitu indah dan bertambah indah setelah aku bertemu dengannya, Deva Jonathan, seseorang yang membuatku dapat mendengar

Tak Harus

Oleh:
Ratusan buku tertata dengan rapi, begitupun dengan meja kursi yang sengaja dibuat untuk singgahan para pembaca. Terukir beberapa tulisan di dinding dinding yang membangun jiwa. Gadis itu masih terfokus

Flower Boy Next Door

Oleh:
“kring…. kring..” suara berisik jam beker monokurubo membangunkan tata diri mimpi indahnya “hah” suara tata kaget dan segera mematikan jam beker berisiknya. ‘whoam….” tata segera turun dari ranjang dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *