Negara Api Masih Menyerang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 26 June 2021

Apakah kamu masih ingat ketika janji itu terucap di lorong sekolah meskipun mereka menyebutnya cinta monyet. Tapi banyak cinta monyet yang berakhir kepada pernikahan yang langgeng hingga detik ini. Apakah aku salah jika aku menginginkan peristiwa itu terjadi walaupun entah apa kenyataan pada akhirnya. Orang bilang jodoh pasti akan bertemu walaupun sejauh bumi berputar. Aku memilih percaya itu. Aku berharap, aku akan berjodoh dengan dia walaupun aku tidak tahu di manakah dia saat ini? Apa yang sedang dia lakukan? Bahkan, harapanku semoga dia belum ada yang punya. Setidaknya aku masih mempunyai kesempatan untuk bisa memilikinya dengan label halal. Semoga.

Udara dingin pagi ini berhasil membuatku malas untuk beranjak dari kasur. Tapi teh hangat buatan Bunda sudah menyambutku di meja makan, dengan potongan kue coklat buatan Bunda juga. Bunda memang tidak diragukan soal masak memasak. Kalau ikutan kompetisi memasak aku yakin bunda akan jadi pemenang. Tapi Bunda selalu saja menolak dan malu-malu ketika aku menggodanya. Bunda bilang aku terlalu berlebihan memuji masakannya yang katanya rasanya biasa-biasa saja. Tapi aku jujur, bagiku masakan Bunda memang masakan terenak di seluruh dunia, beneran, deh.

Meskipun hawa pagi ini dingin karena hujan semalam, tidak serta merta membuatku malas mandi. Tapi kenapa dia malah meninggalkanku pergi padahal aku rajin mandi? Oh, bukan, bukan itu alasannya. Ok. Menit berikutnya aku sudah tampan dengan penampilan rapi. Bukan, bukan untuk bertemu pujaan hati, tapi pagi ini aku ada janji dengan si pecicilan, siapa lagi kalau bukan Reno. Sahabat karib sejak duduk di SMA.

Berjalan turun meniti tangga satu persatu hingga berakhir pada ujungnya, kalau naik tangga titik akhir berarti itu awalnya. Kamarku ada di lantai dua.
Satu persatu tangan halus nan lembut dari dua pahlawanku aku cium. Bunda dan Ayah. Berpamitan berangkat menemui Reno. Begitupun adik perempuanku yang sedang asyik nonton televisi mencium tanganku dengan usil. Iya, dia adalah teman berantemku di rumah. Kita tidak pernah akur.

“Aku berangkat, Bunda. Assalaamu’alaikum,” pamitku sembari berlalu mengendarai motor.
“Hati-hati, Nak. Wa’alaikumsalam,” balas Bunda.

Motorku melaju dengan cepat. Aku mengejar waktu. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah kafe. Aku tidak ingin telat. Tapi tadi pagi tiba-tiba Reno mengabarkan bahwa dia akan telat datang karena ada urusan mendadak. Sekali pecicilan tetap pecicilan. Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa memanfaatkan keterlambatan Reno dengan melihat kembali tugas yang akan dikumpulkan besok. Mudah-mudahan sempurna, tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih.

Jam menunjukkan pukul 09.00. Aku duduk di meja paling pojok. Memanfaatkan sebuah colokan listrik jaga-jaga kalau baterai laptopku habis aku tidak kewalahan mencari colokan dan harus ganti meja. Sebuah posisi yang paling strategis menurutku, dari arah sini aku bisa lebih mudah melihat kedatangan Reno dan lebih enak saja dari pada harus di tengah ruangan.

Kubuka pelan-pelan laptop kesayanganku yang dibelikan Ayah untukku tepat sesaat setelah dinyatakan bahwa aku berhasil mendapatkan beasiswa masuk ke universitas favoritku. Sampai sekarang masih awet dan terawat. Karena dengan cara itulah aku menghargai pemberian orang, apalagi ini adalah pemberian Ayah.

Belum sepenuhnya aku membuka laptop, sudut mataku terusik oleh sesuatu yang ada di sebelah kanan, tentunya dari arah toilet menuju pintu keluar. Demi mengobati rasa penasaranku, aku memutuskan untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri. Gerakanku membuka laptop terhenti. Aku amati dengan teliti. Seorang perempuan berhijab, postur tubuhnya tinggi, memakai cadar, memakai sepatu putih bermerek adidas.
“Sepatu adidas? warna putih? kayak kenal?” tanyaku keheranan dan masih mencari jawaban.

Kututup laptop. Aku menjadi tidak fokus setelah melihat perempuan tadi. Pikiranku memutar ulang peristiwa masa SMA ketika aku masih bersama Dinda. Sepatu itu mengingatkanku terhadap sepatu Dinda yang selalu ia pakai di hari Jumat. Aku tak tahu alasannya kenapa Dinda selalu memakai sepatu putihnya di setiap hari Jumat. Lalu, beberapa menit kemudian aku tersadar dari lamunanku. “Apa jangan-jangan… itu… Dinda? beneran Dinda?” aku bertanya lagi kepada diriku sendiri. Mencari jawaban yang tak kunjung datang. Aku ragu. Tapi sepatu itu benar-benar membuatku ingat terhadap Dinda jaman SMA. Dan hari ini tepat hari Jumat. “Itu beneran Dinda”, ucapku sambil menutup laptop dan membiarkan barang-barangku tergeletak berantakan, sigap berlari menyusul perempuan tadi.

Aku mencari perempuan itu di area parkir. Aku berjalan, berlari menyusuri setiap sudut area parkir. Tapi tidak tampak batang hidungnya. Sekali lagi aku mencari ulang siapa tahu dia masih ada di sekitar sini. Aku yakin perempuan itu Dinda. Perempuan yang pernah menjadi cinta monyetku, kata orang-orang. Perempuan yang pernah mengisi hatiku waktu SMA. Sampai sekarang aku masih menyimpan Dinda di hati. Meskipun waktu terus bergulir, aku tetap merindukan Dinda hingga saat ini.

Aku terduduk lemas di kursi kecil di sekitar tempat parkir. Sambil menunduk aku memejamkan mata. Aku sedikit lelah mencari keberadaan Dinda. Apa dia sudah pergi? Apa yang tadi bukan Dinda? Apa itu hanya halusinasiku karena terlalu merindukan Dinda sampai aku berkhayal sejauh ini? Aku mencoba menenangkan pikiranku. Mencoba menerima bahwa ini hanya angan semata.

Sampai aku kaget setengah mati ketika ada orang yang memegang pundakku.
“Dinda?” ucapku sambil melihat ke arah orang itu.
Detik kemudian aku cemberut karena ternyata itu adalah Reno yang baru datang.
“Dinda lagi… Dinda lagi…,” teriak Reno mengarah ke telingaku. “Move on, Riz. Move on…,” pinta Reno kesal. Reno, orang yang hampir bosan mendengarku yang selalu ingat akan Dinda. Bukan, bukan karena cemburu. Reno menyayangkan jika aku terlalu fokus terhadap Dinda, fokus belajarku bisa terganggu. Reno memang sahabatku yang paling peduli.

“Gue kira Dinda. Tadi Gue liat Dinda, Ren, di kafe ini. Makanya Gue cari sampai parkiran. Yang datang malah lu,” ucapku antusias berujung lemas.
“Dengar ya, Riz. Elu itu kebanyakan mikirin Dinda jadinya halusinasi. Padahal Dinda kan enggak ada di sini.”
“Tapi tadi perempuan itu pakai sepatu adidas warna putih. Dan sepatu itu yang selalu dipakai Dinda setiap hari Jumat, Ren. Dan ini tepat hari Jumat. Ada hubungannya kan. Coba dong lu percaya sama Gue,” ucap Rizky meminta Reno untuk percaya.

“Sekarang Gue tanya sama lu. Memangnya cuma Dinda doang yang punya sepatu itu? memangnya mentang-mentang ini hari Jumat, terus ada perempuan yang pakai sepatu adidas warna putih, dan lu langsung menyimpulkan bahwa itu adalah Dinda?” tanya Reno sambil menatapku meminta jawaban.
“Tapi…,” kata-kataku terhenti.
“Udah, Riz. Sekarang lu lupain Dinda. Jangan halu lagi. Lebih baik kita ke dalem aja. Itu barang-barang lu berantakan, nanti ada yang ngambil bisa gawat,” ucap Reno memutuskan ucapanku sambil menarik tanganku untuk masuk ke dalam.

Kami beranjak meninggalkan parkiran. Reno termasuk orang yang memberikan dukungan untukku agar bisa melupakan Dinda. Tapi hatiku menolak. Aku masih setia menunggu Dinda sampai saat ini. Meskipun sudah beberapa tahun, perpisahan ini tidak berakhir dengan pertemuan kembali. Tapi bolehkan aku masih berharap bahwa pertemuan akan kembali terjadi. Aku masih berharap.

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Blog / Facebook: ipeeh.h (instagram)
Saya mulai suka menulis sejak duduk di bangku SMP dan keterusan sampai sekarang. Selain menulis, hobi yang lain adalah mendengarkan musik, nonton bola dan ngemil juga. Mudah-mudahan para pembaca menyukai karya saya. Saran dan komentar dari teman-teman saya tunggu yaa..
Terimakasih banyak.
Salam literasi

Cerpen Negara Api Masih Menyerang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Nara (Part 1)

Oleh:
“Mamahh… Aku jatuh cinta deh kayaknya hehee,” Ungkapan dua bulan lalu itu masih terbayang jelas di mataku, senyum merekah tergambar jelas di bibir anakku, binar matanya ikut membuktikan kebenaran

Sisi Kelam

Oleh:
Sambil merapikan rambutnya, memandangi wajahnya di cermin, Nana termenung juga berpikir, umurnya sudah tidak lagi muda. Orangtua dan keluarga seringkali memintanya membawa pasangan ke Kampung. Nana juga tahu, ia

Last Love

Oleh:
Entah apa yang dirasa saat aku pertama kali mengenalnya, seseorang yang menyebalkan, keterlaluan dan selalu bertingkah berlebihan. Sosok itu semakin sering aku temui karena dia satu jurusan denganku saat

Cinta Tulus

Oleh:
“Heii Citra! Aku di sini!” Panggil seseorang sambil mengayunkan sebelah tangannya. Seseorang yang bernama ‘Citra’ itu pun menoleh ke arah sumber suara dan sedikit menyipitkan matanya untuk melihat lebih

Gerimis Awal Desember

Oleh:
Awal Desember. Langit mengganti lazuardinya jadi putih kelabu, menyembunyikan matahari yang sedang malas. Membuatnya jadi muram. Udara terasa lebih dingin. Bumi yang ini jadi basah. Sementara di belahan bumi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *