Never Leave

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 September 2018

25 Oktober 2017
Angin berhembus melalui jendela kamarku pagi ini bersama sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden, membawa aroma sejuk khas pagi hari. Aku masih sibuk dengan pakaian sekolahku, memastikan semuanya benar-benar lengkap. Setelah itu aku berjalan keluar menuju rak sepatu yang berada di pojok kanan pintu rumah.

“Ma.. Aku pergi…!” teriakku di ambang pintu.
“Ehh.. tunggu..!” jawab mama menghentikan langkahku.
“Apa lagi ma..?” tanyaku malas.
“Ambil ini” jawab mama sambil menyondorkan sebuah kotak makanan.
“Jangan lupa di makan..!” mama memperingati.
“Iya” jawabku singkat. Tapi mama malah menatapku dengan senyuman.

Aku berhenti di halte sambil menunggu bus. Baru saja aku ingin memasang earphone tiba-tiba, sebuah tangan menarik lenganku dan membuatku terkejut. Aku berbalik ke arah tangan yang menggenggam erat tanganku. Dan sebuah senyuman manis menyabutku, tepatnya wajah tampan dan senyuman yang manis.
Jantungku yang tadinya berdetak normal tiba-tiba saja bergejolak. Mata kami bertemu, saling menatap, membuat beberapa detik kemudian hanya kebisuan yang ada.

“Ayo! kamu mau ke sekolah kan?” ucapnya saat sebuah bis berhenti, sambil melempar senyuman manisnya dia menarikku masuk ke dalam bus.
Aku tersenyum menatap dia yang kini duduk di sampingku. Dika, dia Dika orang yang selalu kerindukan setiap saat. Dika berbalik memandangku dan membalas senyuman yang kulontarkan padanya.
“Aku mencintaimu” terlontar di bibirku, dan Dika kembali tersenyum menatapku.
“Aku tahu. Dan aku juga mencintaimu” jawabnya.

Aku berjalan menyusuri koridor menuju taman, sambil membawa kotak makanan pemberian mama.
“Kamu sudah di sini?” tanyaku kepada Dika.
“Iya, aku tidak mau kamu menunggu” jawabnya, dan benar dia tidak pernah membuatku menunggu.
Aku tersenyum mendengarnya, dan seperti biasa dia selalu membalas senyumanku. Dengan senyumannya yang selalu membuat jantungkku bergejolak setiap kali melihatnya.
Inilah alasan yang membuatku selalu bahagia, Dia. Dia yang selalu menemaniku dan tidak pernah pergi dariku. Dia yang selalu menemaniku, menghabiskan waktu bersamaku.

6 Maret 2021
Entah sudah hampir 30 menit aku duduk di sini, perasaan cemas mulai menghampiriku. Ini pertama kalinya Dika membiarkanku menunggu, setelah hampir 7 tahun kami bersama-sama. Aku mengambil ponsel di dalam tas mencoba menghubungi Dika, tapi jawabannya nihil. Dika tidak menjawab teleponku, ini juga pertama kalinya Dika mengabaikanku.
Aku bangkit dari bangku taman tempatku duduk dari tadi. Tiba-tiba, semua lampu padam. Dan aku hampir saja berteriak saat aku melihat sebuah bayangan mendekatiku dan berlutut di hadapanku.

“Anggita feranita. Will you marry me?” ucapnya. Aku mengenalnya, aku mengenali suara itu. Itu, Dika.
Lampu tiba-tiba menyala di ikuti dengan kembang api yang kini menampakkan keindahannya di langit malam.
Kini aku melihatnya, dan benar saja dia Dika kini tersenyum di depanku.
“Bagaimana..?” tanyanya, ternyata dari tadi dia menunggu jawabanku.
“yes, I will” jawabku dengan penuh kebahagiaan.

Ternyata ini yang dia lakukan, saat pertama kali membuatku menunggu. Aku tersenyum tak tergambarkan lagi, aku benar-benar bahagia saat ini sambil berkata “Terima kasih untukmu yang tak pernah pergi”

END

Cerpen Karangan: Alda Febriana Oscar
Blog / Facebook: Alda Febriana Oscar

Cerpen Never Leave merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Memang Gila

Oleh:
“Dasar cewek murahan, pokoknya sekarang kita putus” itu isi sms singkatku sesaat setelah aku melihat Devani mantan pacarku pacaran sama om-om di taman. Aku sengaja memutuskannya lewat sms karena

Cinta Takkan Kembali

Oleh:
“Hai”, Aku tersenyum. Sebelunya kita sepakat bertemu, di tempat pertama kali kita bertemu. 10 Tahun sudah kita terpisah, tempat ini pun sudah banyak sekali berubah. Dahulu tempat ini adalah

Siti Oh Siti

Oleh:
Setelah mengantarkan majikannya, Bu Puspita, ke sebuah pusat perbelajaan besar di Jakarta, Eko kembali ke rumah seperti biasa. Tetapi, sesampainya Eko di rumah, rumah itu kosong. Sepertinya Mbok Jum,

LOVE

Oleh:
“Wuiiih siapa itu, Ay?” “Siapa? siapa?” Gaby dan Aurel mendorongku, Shalin memepetku. “Aduuh, Edric sama siapa itu?” “Shal, jangan jadi kompor, ya..” kata Gaby. “Udahlah biarin.” Kataku kembali membaca

Maafkan Aku, Ibuku

Oleh:
Kini Rika tinggal di sebuah gubuk kecil yang sederhana bersama dengan Bibi Mirtha. Kedua orangtuanya menitipkannya pada si Ibu. Namun, meskipun begitu, Rika tak merasa marah pada siapapun. Ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *