Nilai Keberuntungan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

“Astaga!” Mata luke sampai hampir ke luar saat ia melihat nilai yang tertera di sana.
“Apa kau tak mengerti? Nilaimu C!” Luke melotot pada gadis itu, yang tengah asik dengan es krimnya.
“Kenapa sih? Aku memang tak berbakat,” ia menjawab tanpa menyesal.
“Berhentilah pergi ke club! Kita sebentar lagi lulus!” Luke meninggikan suaranya.
“Kau kenapa sih? Aku tak secerdas kau!” Ia balik membentak dan segera meninggalkan tempat itu. Raut mukanya buram.
Luke meremas kertas itu sampai tak berbentuk lagi. Ia kesal pada Jade yang tak pernah mendengarkannya. Ia khawatir pada temannya itu. Tapi, selalu berakhir begini.
“Sepertinya ia marah,” gumam luke menatap lekat telepon genggamnya.
“Luke.. Jade mencarimu!” Seru ibunya yang seketika membubarkam lamunan Luke. Ia berlari meloncati kursi yang ia duduki. Dan memasang muka buram saat ia membukakan pintu.

“Luke…” Jade tampak menangis. Semua adegan ngambek Luke pun tak jadi ia mainkan.
“Kau kenapa?” Luke tampak cemas seraya meletakkan kedua tangannya pada pundak Jade. Ia melongokkan kepalanya ke sekitar rumah. Memastikan tak seorang pun di sana.
“Aku…” Jade mencoba membuka mulutnya. Hal itu percuma, Luke sama sekali tak mengerti.
“Ayo.” Luke mengiringi Jade menuju ke taman rumahnya.
“Coba jelaskan..” Luke berusaha tenang. Akan tetapi, hatinya terus berdegup. Apa ini? Pertanyaan itulah yang memenuhi kepalanya sekarang.
“Orangtuaku dipanggil pihak sekolah. Kalau nilaiku tak membaik.. aku akan dipindahkan.” Kini Luke mulai mengerti duduk permasalahannya. Ia tersenyum lega, ternyata tak ada yang menyakiti Jade.

“Betul apa yang aku katakan Jade! Kau seharusnya mendengarkanku! Mulai sekarang tak ada pesta, tak ada club malam!” Seru Luke. Jade terdiam dan mengangguk pelan.
“Kau harus membantuku.. walaupun kau menyebalkan! Aku tak mau berpisah darimu,” Jade menggenggam erat kedua tangan Luke. “Iya, besok datanglah on time pukul 7 malam di tempat latihanku.” Ucap Luke.
“Baiklah, boleh aku minum?” Jade tersenyum lebar dan segera meneguk orange juice di hadapannya.
“Ayo, aku antar pulang.” Gumam Luke sembari menatap Jade lekat.
“Sekian lama kami bersahabat tapi ia tak pernah berubah. Ia selalu membuatku cemas saat ia berlari menangis di hadapanku. Walaupun kami sering bertengkar, rasanya ini tetap lucu.” Lirih Luke dalam hati saat ia melirik sebentar Jade yang tengah berjalan di sampingnya.

“Kau telat 5 menit!” Luke langsung menghadang Jade di depan pintu tempat ia latihan.
“Hei.. Aku sudah berusaha tepat waktu,” Jade menyatukan kedua telapak tangannya. Memohon Luke untuk mengizinkannya masuk. “Hem, Luke.” Jade menoleh mendengar suara laki-laki dari belakangnya.
“Oh, Calum,” Luke langsung mengangkat sapu yang ia letakkan melintang di pintu. Jade berlari masuk saat Luke lengah. Calum tertawa melihat pemandangan ini.
“Kau payah Luke,” Jade menjulurkan lidahnya.
“Kau memang curang!” Luke mengejar Jade dengan sapu di tangannya. Mereka berhenti setelah berputar ruangan itu sebanyak 3 kali.
“Oke.. Ayo belajar!” Luke mengeluarkan buku-buku tebal dari tasnya. Sementara itu, Jade hanya mengeluarkan pena dan satu buku tulis.

“Mana bukumu?” Luke mengangkat alis kirinya.
“Kau tak menyuruhku,” Jade membela diri.
“Kau seharusnya tahu sendiri, hal ini seperti mengenakan gaun saat pesta,” terang Luke sambil melotot. Calum tertawa, sementara Jade memutar bola matanya.
“Wah.. Akhirnya selesai, ” teriak Jade yang tengah merentangkan kedua tangannya ke udara.
“Bagaimana perasaanmu? ” tanya Calum yang duduk di sofa itu pula.
“Aku merasa pintar,” ungkap Jade. Calum tertawa.

“Hei.. Aku pikir anak band seperti kalian itu, tak terlalu mementingkan nilai. Maksudku, yah mungkin hanya Luke yang seperti itu.”
“Tidak sama sekali. Aku, Mike, dan Luke selalu belajar bersama.”
“Wah benarkah? Apakah kau pergi ke pesta?” Tanya Jade dengan penuh antusias.
“Tidak. Jika ada waktu luang, kami bermain musik. Dan kau, kenapa tiba-tiba tertarik untuk belajar bersama kami?” Tanya Calum balik.
“Aku mendapat nilai C. Orangtuaku akan memindahkanku jika aku tak membaik.”
“Aku datang…..” Luke tersenyum lebar dan dengan sigap, makanan dan minum yang ia bawa kini telah tersaji di meja.
“Kalin bercerita apa?” Luke segera duduk di sofa yang sama dengan Jade. Ia duduk di antara Calum dan Jade.
“Aku tak menyangka saja kalau Calum ini, anak band yang luar biasa,” puji Jade. Calum tersenyum mendengarnya.
“Aku juga!” Seru luke dan segera ia pukul kepala Jade dengan stik drum milik temannya, Ashton.

Semenjak hari itu, Jade selalu menghabiskan waktu bersama mereka. Saat pembagian nilai, Jade mendapat nilai B+. Luke tersenyum bangga padanya. Sementara orangtua Jade tak punya alasan lagi untuk memindahkannya. Calum pernah berjanji pada Jade. Ia bilang, jika Jade mendapat B atau A, ia akan mengajak Jade berkencan. Ia menepati janjinya, dan menjemput Jade tepat di depan rumahnya.

“Hai, Tuan Putri?” Sapa Calum pada jade yang tersipu.
“Huh,” Jade segera menggandeng tangan Calum. Mereka berdua tampak tegang. Calum mencoba santai, walaupun ini pertama kalinya ia berkencan. Ia berusaha menutupi kenyataan itu. Ia bahkan menonton turitorial berkencan di Youtube! “Jade, aku menyukaimu sejak awal kita bertemu di tempat latihan bandku. Anggap saja ini gila.. Mungkin kau pikir ini hadiah dariku, tapi aku tahu kau akan berhasil. Oleh karena itu, aku merencanakan ini.” Calum begitu fasih mengucapkan tiap bait kalimatnya. Ia benar-benar menyita waktu semalaman untuk dialog itu. Jade tersenyum mendengarnya. Dan tetap terdiam.

“Maukah kau menjadi kekasihku?” Calum menyodorkan cincin yang begitu indah di hadapan Jade. Jade tersenyum dan mengangguk pelan. Calum langsung menyematkan cincin yang bertuliskan nama jade itu padanya. Musik romantis kini diputar. “Luke pun pasti menyetujui ini,” pikir keduanya. Dan mereka benar. Lukelah yang pertama kali bahagia saat mengetahui berita ini. Kini gadis kecilnya telah memiliki penjaga yang baru, penjaga sesungguhnya. Dan sahabatnya kini tak perlu lagi pergi makan siang dan hang out sendirian.

Cerpen Karangan: Putri Rahma Arizki
Facebook: Putri Rahma Arizki

Cerpen Nilai Keberuntungan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Itu…

Oleh:
Manusia, apa kau ingat siapa dirimu? Apa kau ingat tugas yang diberikan padamu di dunia ini? Apa kau ingat apa tujuan hidupmu? Manusia, kau nodai dunia dengan minimnya akhlakmu

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Oleh:
Aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku pun memiliki teman dekat yang kemana-mana selalu berempat, mereka bernama Citra, Indah, dan Rara. Walaupun kami berempat tapi kami itu lebih

Nada Nada Cinta

Oleh:
Adnan dan Bayu yang memiliki kayakinan besar terhadam impiannya, untuk menjadi musisi besar sangatlah kuat. Mereka mencoba memperomosikan demo lagu mereka ke berbagai lebel rekaman, tapi tidak ada satu

Kau Yang Pertama

Oleh:
“Itu dia!”, ucapku bersemangat. Aku memandanginya sebentar lalu kemudian memanggilnya. “Donnie!” Ia menoleh lalu tersenyum sambil berlari ke arahku. “Hari ini pun dia sangat tampan.” Ucapku sambil tersenyum. Dia

Love At First Sight

Oleh:
Pernah jatuh cinta pada pandangan pertama? Jika pernah biarkan aku menyelesaikan cerita yang tidak berujung pada kalian Jatuh cinta memang menyenangkan? Dan setiap hari hampir satu juta manusia mengalami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *