No Distance Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Cahaya matahari menembus ruang mimpiku dan akhirnya memaksaku untuk membuka mata, bersamaan pula baru ku sadari aku sudah berada di tempat yang berbeda. “Hooaam.. morning my town, my lovely country.” Tepat sekali, aku sudah kembali dari kehidupan lamaku di Paris, sudah sejak lama aku merindukan saat-saat indah tinggal di negeri sendiri dan di sinilah aku sekarang. Tak berselang lama dering telpon semakin memaksaku membuka mata, dan ternyata itu dari Kanza, my Everything.

Tiba-tiba aku teringat awal kisahku dengannya dan juga betapa peliknya perjalananku bersama Kanza saat kita harus berpisah ruang dan waktu. Saat itu kami masih sama-sama duduk di bangku SMA dan di kelas yang sama, aku dan seluruh manusia di SMA itu tahu siapa Kanza, seorang einstein yang super jutek, tapi entah mengapa di akhir masa sekolahku, aku justru mulai menambatkan hati kepadanya.

“Kanza, aku butuh bantuan kamu nih buat tugas remidial matematika besok.”
“Apa yang bisa aku kerjakan?” Tetap dengan segala kejutekannya.
“Kalau nanti sore kamu ke rumahku mau? Please.”
“Sore nggak bisa, jam 7.”
“Iya, nggak apa-apa, jam 7 ya.”
“Hm.”

Pikiranku saat itu hanya tertuju pada satu hal, yaitu menyelesaikan tugas remidial matematikaku dengan baik supaya aku dapat nilai 8 dan berkesempatan daftar kuliah di Paris, hanya itu. Tetapi kedatangan Kanza malam itu ke rumahku, merubah segalanya dengan penampilannya yang terlihat 360 derajat berbeda dari yang biasa ku lihat di sekolah, harus ku akui saat itu dia begitu menarik.

“Kenapa lo, jadi nggak bikin tugasnya? kalau nggak, gue pulang.”
“Eeh.. Iya jadi lah, ayo masuk deh, dasar jutek.”
“Udah minta tolong, ngatain lagi, masih untung gue mau kalau nggak lo makan tuh nilai 7.”
“Iya deh sorry.”

Selama hampir 2 jam dia membantuku menyelesaikan tugasku, dan mengajariku tentang berbagai teknik dalam matematika yang sebenarnya aku nggak begitu suka, sepulang Kanza dari rumahku aku bergegas menuju tempat tidur dengan perasaan lega bahwa besok aku sudah bisa memenuhi janjiku untuk mengumpulkan tugas remidial. Thanks God, thanks Kanza. Keesokan harinya, entah angin dari mana yang datang hingga secara mengejutkan Kanza memintaku untuk duduk di sampingnya dan mendengarkan pidato bahasa inggris yang akan ia tampilkan di depan kelas.

“Makasih ya.”
“Eh, iya sama-sama.”

Dan hari itu menjadi hari pertama dalam sejarah hidupku melihat Kanza senyum, selain karena menang Olimpiade. Sejak saat itu Kanza beda, dia nggak lagi jadi ‘Jutek mania’ dia mulai ngobrol sama orang-orang yang selama ini dia anggap nggak ada, termasuk aku kali ya. Dia juga mulai punya ekspresi wajah, dan itu membuatnya semakin menarik di mataku.

“Kenapa kamu bisa berubah kayak gini? Dan kenapa baru sekarang?”
“Yaaa, orang bisa berubah kapan aja tanpa perlu alokasi waktu saat ada yang berubah dalam struktur dirinya.”
“Maksudnya apa?”
“Ya, mungkin simplenya orang bisa berubah saat ia … Jatuh Cinta.”
“Huk, huk..What? jadi kamu berubah cuma karena rasa ternorak sedunia itu, oh no man.”
“Loh kenapa, lo nggak percaya sama cinta? Dan cinta bukan rasa paling norak, cinta itu rasa yang abstrak dan memiliki estetika tinggi.”
“Abstrak? Absurb iya, huh What ever.”

Dan entah mengapa ada rasa yang aneh saat dia bicara soal cinta di depanku, aku tertarik padanya karena ku pikir dia adalah orang yang sama sepertiku yang menganggap bodoh tentang cinta, tetapi kenyataannya adalah dia bisa berubah sedemikian rupa cuma gara-gara cinta. Konyol. Berhari-hari aku nggak ngobrol sama Kanza karena kesibukan yang semakin padat sampai suatu hari aku dan Kanza harus kerja kelompok di rumah dia.

“Fa, mau minum apa lo?”
“Terserah aja deh.”
“Loh, kok cuma Ifa yang ditawarin, kita juga haus tahu Za..” Gerutu teman, temanku.
“Iya-iya kalian mau minum apa?”
“Yang dingin deh pokoknya.”
Dan hari itu benar-benar melelahkan hingga tanpa sadar aku tertidur di sofa rumah Kanza hingga sore hari.
“Za, wah parah..Kok nggak dibangunin sih aku?”
“Ya abis lo kelihatan cape banget sih.”
“Hmm.. ya udah, aku pulang deh.”
“Hei, ayo gue anter, entar kesorean nyampe rumah.”

Di dalam mobil Kanza kami terus membahas tentang perguruan tinggi yang akan kami pilih setelah lulus, dari situ dia tahu kenapa aku terlihat begitu lelah, tak lain karena aku harus bekerja ekstra keras untuk bisa kuliah di Paris. “Oke deh, biar lo nggak kelewat cape kayak gini gimana kalau mulai besok kita kerja bareng buat kejar setoran menuju perguruan tinggi masing-masing. Gimana?”
“Oke, boleh.. Makasih ya.”

Mulai saat itu aku banyak menghabiskan waktu sama Kanza, entah datang ke sekolah pagi-pagi buta atau pulang sekolah larut malam atau bahkan weekend bareng demi tugas-tugas kami. Tak dapat dipungkiri bahwa di sela-sela kesibukan kami selalu ada canda tawa atau bahkan air mata yang mengiringi dan seolah mengerti, orangtuaku selalu mendukung dan mengingatkanku tentang tugas yang harus ku selesaikan bersama Kanza.

“Fa, kimianya udah? Kan besok dikumpulinnya.”
“Oh iya Ma, baru ingeet.. Ya udah telepon Kanza dulu.”
Dan papa, orang tersibuk nomor 1 pun nggak kalah perhatian sama tugas-tugasku, sering kali papa pulang dari kantor membawakanku buku-buku penunjang dan mengantarku ke rumah Kanza.

“Nanti ke rumah Kanza jadi?”
“Nggak Pa, nanti Kanza yang datang ke sini.”
“Oh ya udah, semangat ya sayang.”
“Iya Pa, makasih.”

Dan saat-saat seperti ku rasakan setiap hari selama hampir satu semester di kelas XII, begitu pun Kanza, jadi bisa dibilang bahwa selama itu yang ada di pikiranku cuma 2 yaitu tugasku dan tugas Kanza. Masuk semester kedua aku mulai ngerasa ada yang nggak beres sama diriku, atau mungkin bisa dibilang ada struktur yang berubah dalam diriku. Ada rasa dimana aku merasa kehilangan Kanza saat aku harus nggak masuk sekolah untuk daftar kuliah, sosialisasi atau alasan-alasan lain yang memaksaku untuk meninggalkan pelajaran di sekolah, tetapi ada juga rasa lega saat Kanza ingatkan aku tentang tugas atau catatanku yang terlewat dan akhirnya pada suatu hari aku disuruh presentasi biologi dengan sebuah karya ilmiah yang judulnya aneh menurutku ‘Pengaruh jatuh cinta terhadap sistem metabolisme manusia’. Dan itu memaksaku untuk menghapus kekakuanku terhadap apa yang ku sebut rasa ternorak, dan memaksaku untuk memahaminya begitu dalam.

“Masih nggak percaya kalau cinta itu nggak norak dan bisa merubah segalanya?” Ucap Kanza sembari menepuk pundakku.
“Apaan sih, ngeledek ya?”
“Bukanya ngeledek, gue tuh pengen lo sadar dan tahu bahwa cinta itu luar biasa indah, dan yang terpenting bahwa cinta itu nyata.”

Lalu Kanza mulai melangkahkan kakinya dari halte untuk pulang, tapi belum sampai 5 langkah ia pergi, hujan deras tiba-tiba turun tanpa terduga dan membuatnya kembali ke halte berdua bersamaku. “Hampir aja kehujanan.” Ucapnya Aku yang sibuk menghangatkan badan yang mulai menggigil, tidak begitu menghiraukan ucapannya.
“Lo kenapa? Kedinginan ya?” Hanya dengan anggukanku ia rela melepaskan jaketnya untukku.
“Masih dingin?” Ia terlihat begitu panik. Dan lagi-lagi hanya karena anggukanku ia terlihat begitu kebingungan, dan akhirnya dengan canggung ia memelukku.

“Ma..Masih dingin?” Dan kali ini aku melepaskan senyuman yang membuat mimik mukanya berubah dari kepanikan menjadi wajah yang meneduhkan, tapi anehnya bukannya melepaskan pelukannya, ia justru memelukku lebih erat dan bertanya.
“Masih nggak percaya soal cinta? Ya kayak gini cinta, yang membuat kita bingung dengan apa yang kita rasakan sendiri.”
“Ma..Maksud kamu apa?”
“Ya, aku cinta.. Aku sayang kamu Fa.”

Dan kali ini aku baru percaya bahwa cinta memang bisa merubah sistem dalam tubuh, bukan hanya sistem metabolisme seperti presentasiku, tetapi juga seluruh jaringan yang ada. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku aku nggak demam kena hujan, dan untuk pertama kalinya juga aku merasa begitu sempurna.
“Would you be mine?” Ucapnya menenangkan.
“I’m sorry i can’t .. I can’t pass my life without you.”

Hujan hari itu, bersama dengan redanya pula menjadi saksi bahwa Kanza ‘Mr. Jutek’ bisa berubah jadi ‘Mr. Romantis’ di sampingku, dan aku begitu beruntung bisa bersamanya. Ku pikir semua akan selalu baik-baik saja, tanpa kendala dan terasa begitu menyenangkan, tetapi apa daya semua bai-baik saja tidak lebih dari 4 bulan, tepatnya hingga kami berdua lulus dengan nilai tertinggi dan diterima di perguruan tinggi impian masing-masing.

“Happy graduation Fa.” Teriaknya menghampiriku.
“Happy enjoy your Melbourn Za.”
“Yes, and happy enjoy your Paris honey.”
“Berarti kita bakal jauh banget ya.”
“Katamu jauh di mata dekat dalam doa, iya kan? lagian nggak ada yang perlu dikhawatirkan Fa, I’ll be the last for you, and same to you.”
“My heart belong to you, baik-baik ya sayang di Melbourn.”
“Kamu juga baik-baik ya di Iffel.”

Tibalah waktuku meninggalkan rumah, mama, papa, dan Kanza yang sudah dua hari lebih dahulu tiba di Melbourn dan memulai hidup baruku di Iffel city.
“Hai Kanza, bagaimana hidup barumu?”
“So awesome, kamu di sana?”
“Same as.” Hanya media komunikasi yang menjadi penghubung di antara kami, namun seiring berjalannya waktu dan semakin padatnya kegiatan kita masing-masing membuat kita seolah tak lagi bersama seperti dahulu, sesekali saling sapa namun kemudian bertengkar karena kesalahpahaman kecil, kemudian saling sapa kembali lalu hilang, dan begitu seterusnya.

“Ifa, kangen lo banget..”
“Sama. Eh, udah dulu ya, aku harus kuliah sekarang.”
“Bukannya kuliah lo besok ya? Atau jangan-jangan lagi jalan sama cowok?”
“Kok jadi posesive gitu sih, hari ini aku emang ada kuliah.”
“Ya udah selamat kuliah.”
Dua minggu kemudian.
“Kanza, wechat-an yuk.”
“Sorry, lagi sibuk.”
“Sibuk apa? cari pacar baru? Susah banget dihubunginya.”
“Terserah.”

Perlahan aku mulai mempertanyakan apa yang sedang terjadi di antara kita, jarak dan waktu membuat kita begitu jauh dan sering kali kehilangan kontrol satu sama lain, saling cemburu tanpa alasan, nggak ada yang mau disalahkan dan sebagainya. Aku mulai lelah dengan semuanya, hingga akhirnya..

“Za, kamu ke mana aja sih? Susah banget dihubunginya? Sesibuk itukah?”
“Loh, bukanya kamu yang nggak pernah ada waktu dan jadwal kuliah yang nggak menentu, ditambah jadwal-jadwal yang lain.”
“Maksud kamu apa? Kamu nggak percaya sama aku?”
“Gimana mau dipercaya, kamu nggak pernah kasih kabar apa pun dan tiba-tiba hilang.”
“Loh, kamu nggak nyadar kalau selama ini kamu yang selalu menghindar. Gila ya, salah mulu deh.”
“Mau kamu apa sih, aku cape bertengkar terus sama kamu. Cape.”
“Aku juga.”
“Ya udah mending kita pisah aja.”
“Oh gitu, udah dapat yang baru aku diputusin. Makasih deh.”

Tuut.. tuut.. tuut.. Akhir sambungan telepon yang juga mengakhiri hubungan kami, aku kecewa dan begitu terpuruk tapi aku sadar bahwa memang udah nggak ada yang bisa dipertahankan lagi, semua udah beda. Hari-hariku sekarang tinggal bersama segudang tugas demi meraih cita-cita. Bangun tidur, kuliah, tugas, dan tidur lagi selama kurang lebih satu tahun, dan ku rasakan kesendirianku semakin menyiksa saat aku dihadapkan dengan pergaulan teman-temanku yang begitu rusak.

“Ifa, would you not join us in party.”
“No, thanks.”
“Hey, you will be happy there with awesome ‘sevice’, lets go.”
“I say no thanks!!”

Aku menangis dalam kesendirianku, dan entah mengapa selalu di saat yang sama aku masih mengkhawatirkan Kanza, akankah ia menjadi seperti teman-teman-ku, karena sejujurnya Kanza masih tetap menghuni relung hatiku, aku masih menyayanginya seperti dahulu saat ia menyadarkanku betapa indahnya cinta. Kring.. Kring. Suara panggilan wechat menghentikan tangisku, dan tanpa ku duga panggilan itu berasal dari Melbourn, yang tak lain adalah Kanza.

“Apa kabar Fa?”
“Baik, kamu baik di sana.”
“Iya, aku baik.. Kok kamu kayak habis nangis? Kenapa?”
“Nggak apa-apa kok, gimana kuliahmu?”
“Ya, lancar-lancar aja sih, tapi aku kehilangan kamu.”
“Ah, apaan sih, bukanya enak ya sendirian? nggak ada yang marah-marahin.”
“I just want you’ll be fine there, aku takut kamu kepengaruh sama kerasnya western life.”
“Oh, terima kasih ya.. dan aku pun berharap yang sama tentang dirimu.”
“Oh iya?”
“Ya, begitulah.”

Tahun ketigaku di Paris begitu melelahkan dan membosankan, tetapi aku merasa sedikit terhibur dengan Kanza yang sering kali menenangkanku dalam kekacauan pikiranku, karena aku memang begitu mencintainya.
“Fa, aku pengen kita bisa sama-sama lagi, aku sayang banget sama kamu.”
“Nggak Za, aku takut kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.”
“Nggak Fa, Never. Kita bikin peraturan bahwa apa pun yang terjadi kita nggak boleh pisah lagi, would you?”
“Aku nggak yakin sih Za, tapi nggak akan pernah ada yang tahu sebelum mencoba.”
“So, you will?”
“Yes, sure.”

Aku senang bisa bersama Kanza kembali meski tetap dengan jarak dan waktunya, tapi aku mulai yakin dan percaya akan kekuatan komitmen kami, dan optimisme tinggi kembali terbangun, aku mulai memiliki harapan besar akan perjalanan kita. “Do your best my princess.” Ia menyemangatiku saat aku hendak mengajukan desertasi pertamaku.
Dan, aku berhasil menyelesaikannya dengan baik dengan bantuan dan doa dari Kanza, i fell love him much more. Semua berjalan baik-baik saja hingga janji yang ku buat dengan Kanza menyiksa kami sendiri, pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan semakin memperkeruh hubungan kami, namun kami tak pernah berpisah karena itu merupakan komitmen awal kami dahulu.

“Ya udah, lo urus aja urusan lo sendiri dan semuanya selesai.”
“Selesai kayak apa yang kamu maksud? kamu yang bikin komitmen bahwa kita nggak boleh pisah kan?”
“Dengan mengurus urusan masing-masing tanpa harus berpisah, kan nggak ada masalah.”
“Gitu? Lalu di mana cinta yang katamu memiliki estetika tinggi lah, abstrak lah, bla..bla..bla.. itu?”
“Terus lo mau apa kalau emang kita udah nggak bisa pacaran lagi.”

Kalimat terakhirnya begitu menghujam dan menusukku, aku seolah menyesal tak terkira ketika tahu bahwa ia tak ingin bersamaku lagi, aku hancur dan begitu terluka seolah tak pernah ingin kembali menjalani apa pun dengannya, tapi janji yang kami buat telah membunuhku, dalam sebuah komitmen dusta. Tahun keempat yang merupakan tahun terakhirku di Paris, ku habiskan dengan begitu puasnya, seolah ingin melepas rasa sakit yang ku rasa, aku keliling kota Paris dan menjelajahi setiap sudutnya, tanpa pernah berpikir tentang Kanza dan segala tentangnya, meski hingga saat ini kami masih dalam sebuah komitmen fatamorgana. Dua bulan jelang wisudaku, aku mulai melupakan rasa sakitku dan begitu menikmati apa yang ada di sekitarku, namun aku dikejutkan dengan kabar dari orangtuaku mengenai Kanza yang sudah lebih dahulu kembali ke Jakarta.

“Fa, kamu langsung pulang ya selepas wisuda dan maaf Mama sama Papa nggak bisa datang.”
“Loh, kenapa Pa? Ifa lulus cumlaude loh.”
“Iya sayang, Papa tahu dan Papa bangga sama kamu tapi ada hal yang jauh lebih penting?”
“Apa sih Pa? Kerjaan?”
“Bukan, tapi Papa sama Mama di sini untuk nyiapain pernikahanmu dan Kanza?”
“Ha? Kanza? Cowok tengil itu mau nikahin aku dan Papa main iya iya aja? Papa jahat.”
“Apa lo bilang? Tengil? Buktinya gue lebih duluan lulus dari lo, dan mana ada cowok tengil berani ngelamar cewek cantik kayak kamu?” Celetuk Kanza melalui ponsel papaku.
“Kamu apaan sih, nggak usah permainin orangtuaku deh, nggak usah ngaco bukannya kamu yang udah nggak mau kita bareng-bareng lagi.”

“Pertama, gue udah nggak mau jadi pacar lo makanya gue pulang dan ngelamar lo, kedua lo cuman bakal keliling kota saat udah stres berat dan gue nggak mau hari-hari lo di kota impian lo itu cuma berkawan tugas dan cumlaude, paham?”
“Dasar, jahat banget sih.. Kamu nggak ngerti sih gimana rasanya…”
“Husst.. Stop, soal itu udah tahu kok, emang dipikir gampang pisah sama kamu lama-lama.” Ujarnya memotong kalimatku. “Hih, nyebelin jahat..”
“Udah nggak usah cerewet, selamat wisuda ya, enjoy your cumlauded dan cepet pulang sayang. Love you.”

Aku mungkin jadi orang pertama yang lulus cumlaude tanpa ditemani orang-orang terdekat, tetapi mungkin aku juga menjadi orang yang kehilangan pacarnya dengan perasaan begitu bahagia. Thanks Allah, thanks all, thanks Kanza. Dan hari ini adalah hari pertamaku bertemu Kanza, pacar.. eeh bukan ya, calon Imamku.

“Kamu di mana?”
“Maaf, baru bangun, mandi bentar ya.”
“Dasar males. Cepetan, kita punya banyak agenda hari ini.”
“Siap komandan.”
Dan akhirnya, semua berteriak.

“HAPPY WEDDING KANZA AND IFA”

Cerpen Karangan: Fatimatuz Zahra
Facebook: goresanzahra99.blogspot.com

Cerpen No Distance Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putri Malam

Oleh:
Bintang. Benda bercahaya yang muncul tiap malam. Jumlahnya banyak. Sangat banyak, juga banyak penyuka. Termasuk aku dan Tira, sahabatku. Entah, sejak kepergian seseorang yang aku sayangi, aku menyukai bintang.

I Miss You Boy

Oleh:
Rintik hujan malam ini mengingatkanku pada sebuah kenangan tentang seseorang yang pernah mewarnai kehidupanku. Dia adalah sosok lelaki dengan penuh kehangatan kedua setelah ayahku. namun sayangnya aku bodoh, telah

Mungkinkah Dia?

Oleh:
Namaku Weinsly lengkapnya Weinsly Widyagirta Sabrina. Aku biasa dipanggil Winny karena nama panggilanku yang terlalu rumit jadinya aku dipanggil Winy. Aku saat ini sekolah di sebuah Sekolah Menengah Atas

Bukti Cintaku Yang Tulus

Oleh:
Malam itu seperti biasa aku bermain dengan BB bold ku sambil tidur-tiduran di atas kasur kecilku yang selalu memberi kenyamanan disaat aku kelelahan, sembari menunggu pacar ku pulang kerja

You Are My First Potion

Oleh:
“Panggil General Manager dari departement pernikahan!,” ucap Arka kepada skretarisnya Rio. “Baik, Pak!,” kata Rio dengan meninggalkan ruangan kerja Arka. Kemudian, laki-laki itu duduk di kursi putarnya. Mengarakan kursinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *