Not Goodbye (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 January 2017

“Jangan-jangan dia yang jatuh di genteng tadi pagi Ma!” ucap Dera.
“Iya bisa ajah dia salah satu korban pesawat!”
“Yah udah besok kita tanya dia, biar dia istirahat dulu. Kalian juga tidur sudah malam!”
“Okey Ma!”

Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali suara ketukan pintu sudah terdengar entah tamu dari mana, Mama Rafa lalu membukakan pintu.

“Aisyah?!”
“Iya Tante… Rafa ada?!”
“Kamu masuk dulu, biar tante bangunin!”
“Makasih tante!”

Sepergi Mama ke kamar Rafa, Dera muncul dan menghampiri Aisyah.
“Ais?”
Aisyah hanya tersenyum.
“Seharusnya dari awal penampilan kamu harusnya seperti ini, maafin aku yah?!” Dera merasa bersalah sekali.
“Nggak apa-apa Dera ini juga resiko, lagian aku juga setuju. Ia kan?!”
“Coba kak Rafa nggak suka ngejudge orang desa sembarangan aku nggak bakal punya ide kayak kemarin… Tapi nggak apa-apa biar kak Rafa nggak semena-mena lagi!”
“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, biar bagaimana pun kak Rafa itu saudara kamu. Mungkin dia belum terbiasa samaa keadaan di kampung kayak gini!” tutur Aisyah.
“Iya juga sih! Aku buatin minum yah? Kamu mau apa?!”
“Nggak usah… Lagian aku ke sini cuman mau ngantar ini buat Rafa, sebagai permintaan maaf!” Aisyah mengangkat rantang yang tadinya di lantai ke atas meja.
“Mmmmm pasti enak tuh!”
“Nak Aisyah… Sepertinya Rafa masih ngantuk, kamu ke sini siangan ajah!”
“Ow… Yah sudah Ais pamit Tante, ini titip buat Rafa!”
“Iya. Maaf sayang yah!” ucap Mama kecewa dengan sikap Rafa.
“Nggak apa-apa tante. Dera aku pamit yah! Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”

“Nih orang belum bangun-bangun juga!”
Dera menarik horden di kamar itu, membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke kamar.

Dera kemudian mendekat, menatap pria itu lebih dekat.
Kemudian dia pergi meninggalkan kamar karena dia tidak melihat tanda-tanda kalau pria itu akan siuman.
Namun saat keluar dari kamar dia berpapasan dengan Rafa.

“Habis ngapain?!” tanya Rafa.
“Bukain gorden, siapa tahu kena silau dia bisa bangun” sahut Dera.
“Oww…!”
“Kak… Tadi Aisyah datang dia bawain makanan, rantangnya di taruh Mama di dapur!”
“Kenapa nanya aku?!”
“Kan makanannya buat kak Rafa!!!”
“Udah kalian makan aja, kalau nggak mau di buang sekalian nggak apa-apa!” Rafa lalu memutar badan yang tadinya mau ke dapur malah berbalik keluar.
“Kok gitu sih?!”

Hari demi hari…
Setelah lebih dari satu minggu akhirnya ujung dari penantian keluarga Dera terjawab sudah.
Pemuda yang hampir mereka titipkan di rumah sakit akhirnya tersadar dari tidurnya yang lumayan panjang, Dera yang saat itu menemaninya kaget dan bingung sendiri. Bagaimana tidak semua keluarganya sedang berada di luar rumah, dia juga mencoba menghubungi namun tak ada yang menjawab.

“Aduh udah sadar lagi? Ngapain yah?!” Dera sangat bingung.

Pemuda itu hanya menatapnya, hal itu membuat Dera semakin kikuk tak tahu harus berkata apa.

Selang di badan dan banyak peralatan lain masih menempel, Dera lalu teringat sosok Dokter. Tak mengambil waktu lama Dera pun menghubunginya, setelah itu dia mencoba berinteraksi dengan pemuda di hadapannya itu.

“Kamu baik-baik ajah kan?! nggak ada yang sakit?” tanya Dera.
Dia tidak menjawab justru hanya memperhatikan bibir Dera, dan kemudian mengangguk.
“Tunggu sebentar yah! Dokter lagi menuju ke sini?!”
Dia tersenyum dan mengangguk kecil.

Beberapa saat kemudian 15menit…
“Gimana dok?!”
“Semua baik-baik saja, dia akan benar-benar pulih dalam beberapa waktu ke depan. Dia juga butuh udarah segar, nanti saya kirim kursi roda untuk membantu dia keluar rumah!”
“Iya makasih dok!”
“Sama-sama Dera!”

Setelah membuka semua alat-alat medis, Pak Dokter dan beberapa anggotanya membawa alat itu pergi dari sana.

“Kamu mau makan apa? Kamu pasti laparkan? Atau mau minum sesuatu?!” tanya Dera.
“Nggak perlu… Oh iya terima kasih karena kamu mau rawat aku!” sahut Pemuda itu.
“Iya sama-sama… Kamu tunggu sebentar, aku mau buatin kamu bubur dulu. Kalau kursi rodanya sudah datang, aku ajak kamu keliling Desa ini!” tutur Dera.
Pemuda itu tersenyum.

“Kita keluar sekarang yah? Mumpung Mama sama Papa belum datang, kak Rafa juga kayaknya lagi pergi sama Ais!”
“Makasih yah buat semuanya! Oh iya nama aku Irgi !!!”
“Irgi? Kalau aku Dera. Kita jalan sekarang aja mumpung sudah nggak terlalu terik!”
Dera dan Irgi lalu pergi berkeliling tak jauh dari Villa mereka. Hanya di sekitar kebun teh, toh pak Dokter juga menganjurkan agar Irgi bisa menghirup udarah segar.

“Aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?!” tanya Dera sembari terus mendorong kursi roda Irgi.
“Aku nggak ingat semuanya, yang aku ingat pas pesawat terbakar. Semua orang panik aku juga panik, aku melihat ke jendela pesawat itu sudah semakin mendekat ke bumi. Setelah itu aku lari cari jalan keluar dan loncat kebawa!”
“Oh!” singkat Dera namun fikirannya melalang jauh.

(Apa Perempuan yang aku lihat waktu itu ada hubungannya dengan Irgi?! Berarti dia sudah punya pacar, atau jangan-jangan dia tunangan apa mungkin istri Irgi!?) begitu fikirnya.

“Dera? Kamu nggak apa-apa? Kalau capek dorong aku, kita istirahat dulu di sini!” ucap Irgi.
“Iya kita istirahat bentar. Capek!”
“Aku berat yah?!”
“Lumayan lah!”

Mereka tertawa, tiba-tiba ada seseorang menghampiri mereka.
“Dera? Kamu ngapain di sini?!!” tanya Rafa.
“Kak Rafa… Aku temanin Irgi jalan!”
“Irgi? Jadi nama kamu Irgi! Tapi kenapa kamu ajak dia keluar rumah?!”
“Yang nyaranin buat jalan-jalan keluar rumah itu Dokter, bukan kemauan aku sendiri!”
“Oh kirain kamu mau nyari kesempatan lagi. Cowok tampannya lumayan kayak dia kan lumayan buat kamu!”
“Ihhh kak Rafa… Balik sana, omongannya malu-maluin ajah!”
“Sukses Dera!” ledek Rafa.
“Ahhh kak Rafa!”
Irgi tertawa dan kemudian menatap Dera yang tersenyum malu-malu.

“Pipi kamu kok merah?!” tanya Irgi.
“Masa sih? nggak ahhh!”
“Oh iya Dera… Aku mau berterima kasih kamu sudah jagain aku selama nggak sadar!”
“Nggak apa-apa lagi, santai ajah!”
“Oh iya Dera, kamu pasti betah tinggal di sini. Adem banyak pohon, kebun teh!”
“Sebenarnya aku bukan orang sini. Karena kak Rafa yang suka hambur-hamburin uang Papa mutusin buat menetap di sini sementara, kita tinggal di Jakarta!”
“Oh yah?!” sama aku juga orang Jakarta!”

Perbincangan mereka cukup lama dan semakin intens. Mereka memutuskan kembali ke rumah setelah matahari mulai tenggelam.

Berhari-hari Dera menemani Irgi untuk bisa kembali pulih, dan sampai akhirnya Irgi tidak memakai kursi roda.
Dan benar saja, selama dekat beberapa hari Dera mulai merasa nyaman dengan Irgi. Cara bicara dan sifat Irgi yang begitu care padanya membuatnya tidak lagi ragu untuk menyimpan perasaan yamg lebih pada Irgi, sampai suatu hari rasa itu seperti terbang jauh dan jatuh saat Irgi menjelaskan hal tentang hidupnya.

“Aku boleh ngomong sesuatu ngga?!”
“Mau ngomong apa?!”
“Aku mau jujur kalau aku sudah ingat tentang keluarga aku!” ucap Irgi.
“Semuanya?!” Dera nampak sedih mendengar itu.
“Iya… Dan besok aku mau pulang ke Jakarta!”
“Pulang ke Jakarta.?!” ucap Dera pendek.
“Iya. Nanti kalau kamu juga sudah balik ke Jakarta aku kenalin kamu sama Mama Papa aku, juga sama Alya!”
“Alya? Adik kamu?” tanya Dera.
“Bukan, dia calon istri aku. Aku mmau kasih kejutan, dia pasti senang aku sudah kembali. Ini semua berkat kamu sama keluarga kamu!”

Dera pergi menjauh daari Irgi, dadanya begitu sesak mendengar tadi. Apa dia harus kehilangan sebelum merasakan indah bersama pria yang dia sayang.
Irgi lalu mengejar Dera, dan berdiri di hadapan Dera berniat menghalangi jalan.

“Kamu kenapa?!” tanya Irgi yang mengangkat dagu Dera yang sedikit menunduk karena menutupi kesedihannya.
“Nggak apa-apa. Kita balik sekarang yah!” Dera menyekah air matanya..
“Aku nyakitin kamu?!” kkhawatir Irgi.
“Nggak… Ayo!”
“Tunggu… Apa jangan-jangan yang selama ini Rafa omongin itu benar? Kamu sayang sama aku!” tebak Irgi, sembari terus menahan langkah Dera.
“Udah aku nggak mau bahas itu. Aku mau pulang!”
“Dera lihat mata aku… Bilang sama aku perasaan kamu yang sebenarnya!” Irgi meyakinkan Dera dengan tatapan mata.
“Untuk apa Gi? Untuk apa, aku bilang semuanya? Pernyataan kamu tadi sudah cukup buat aku intropeksi diri, kamu sudah punya calon istri, kamu bakalan nikah kan sama dia? Aku nggak mau hancurin semuanya.!” jelas Irgi.
“Dera… Tunggu…!” Irgi menahan tangan Dera.
“Apalagi!!! Jangan buat perasaan aku makin dalam sama kamu, kalau ujung-ujungnya aku kecewa!”
“Kamu berhak sayang sama aku, aku nggak permasalahin itu. Dan kamu tahu masih banyak hubungan lain yang bisa aku sama kamu jalanin, ini bukan perpisahan Dera!!”
“Bukan perpisahan? Aku cinta sama kamu, yang sudah jelas ingin menikah dengan sama perempuan lain yang kamu kenal jauh sebelum kenal sama aku. Dan ingat! Aku rela kehilangan kamu, aku rela sakit hati ngejalin ini. Dibanding aku harus berjalan hanya menjadi teman, sahabat yang menyimpan rasa melihat kamu dengan istri kamu. Jadi kamu mau lihat aku menderita setiap hari?!”
“Dera…!”
“Udah!”

Dera datang-datang langsung masuk ke rumah tak mempedulikan Mama, Papa Aisyah dan Rafa yang sedang duduk menikmati teh hangat di teras rumah.

“Dera… Kamu kenapa sayang?!” tanya Mama namun Dera berlalu begitu saja.

Tak lama Dera masuk rumah Irgi datang dengan raut wajah yang cemas.
“Lo habis darimana?!” cegat Rafa.
“Aku mau bicara sebentar sama Dera.. Raf!” sahutnya.
Tanpa fikir panjang Rafa menarik kera baju Irgi yang lebih tinggi darinya.
“Lo nyakitin adek gue, sama saja lo ngecewain kita semua. Lo nggak ada terima kasihnya udah kita rawat, dan setelah lo sehat lo bikin adek gue nangis. Gitu balasan lo!” Rafa ingin melayamgkan pukulan ke wajah Irgi namun ditahan sama Papanya.
“Rafa… Rafa stop… Biar Irgi jelasin dulu kamu nggak boleh gitu!” Papa berusaha menenangkan anaknya.
“Jelasin apalagi Pa. Papa lihat Dera masuk tanpa nyapa kita sedikit pun, Rafa juga lihat kalau dia nangis. Kalau bukan anak belagu ini Dera nggak mungkin nangis!” tutur Rafa.
“Aku bisa jelasin semuanya!”
“Lo balik sana ke keluarga lo!” Rafa sangat marah.
“Rafa udah!” tahan Mama.
“Biar Ais yang bicara sama Dera!” Aisyah kemudian masuk menyusul Dera.
“Sini Lo!” Rafa menarik Irgi keluar dari halaman rumah.
“Rafa… Masuk!” betak Mama.
“Mama sama Papa… Aku mau lindungin Ade aku dari cowok-cowok kayak dia!”
“Aku bisa jelasin… Aku ada nggak maksud buat bikin Dera menangis!”
“Ayo kita masuk jelasin semuanya baik-baik!” Papa mengajak mereka masuk ke rumah.

Mereka berkumpul di ruang tamu, Dera pun ikut dipanggil tapi menolak untuk bertemu lagi dengan Irgi.

“Om Tante… Kayaknya Dera nggak mau ketemu sama Irgi, Ais sudah bujuk tapi tetap nggak mau!” ucap Aisyah.
“Kamu temanin dia, bicara sama dia siapa tahu dia mau cerita sama kamu!” jelas Rafa.
“Iya Raf”

Aisyah kembali ke kamar Dera sementara Irgi dan yang lain duduk di ruang tamu.

“Jadi begini Om… Tante… Rafa!”
“Nggak usah basa-basi… Ngomong ajah kalau lo emang bikin adek gue nangis. Seandainya gue tahu dari lo koma gue nggak bakal nyuruh Dera rawat Lo kayak rawat suaminya! Lo harus ngerti itu! Harusnya lo mati ajah!”
“Rafa… Biar Irgi jelasin semuanya, diam!”

Rafa sangat greget melihat Irgi.

“Rafa memang benar Om Tante, Irgi sudah bikin Dera nangis. Tapi Irgi benar-benar nggak tahu kalau Dera sayang sama aku!”
“Bego emang lo!” timpal Rafa.
“Dera sayang sama kamu!?” Mama Dera kaget.
“Terus?!” tambah Papa Dera.
“Irgi cuman mau jelasin semuanya sama Dera, kalau aku sudah bisa ingat semuanya. Keluarga aku… Dan Calon istri aku!” ucapnya sedikit mengecilkan suara pada kata Calon Istri.
“Ohhhh… Cukup, sebelum matahari tenggelam kamu pulang!”
“Tapi aku mau jelasin semuanya sama Dera!”
“Nggak ada! Lo balik sekarang!”
Tanpa fikir panjang Rafa kembali menyuruh Irgi cepat-cepat pergi.
“Apa nggak sebaiknya kamu pulang besok pagi?!” ucap Mama.
“Iya Nak Irgi, sebaiknya kamu menginap untuk malam ini!”
“Asal lo sudah harus pergi sebelum gue bangun. Karena gue nggak mau lihat orang kayak lo di rumah ini!”

Cerpen Karangan: Yani Mariyani
Facebook: Yani Mariyani

Cerpen Not Goodbye (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Akhir Usiaku

Oleh:
Tepat pada tanggal 28 Oktober 2010 para siswa dan siswi SMK BINA KARYA diadakan pengambilan rapot tengah semesternya. Anggota osis pun telah dipersiapkan pambina untuk membantu melancarkan jalannya pengambilan

Lembayung Pagi

Oleh:
“Felly! Tunggu!,” seru Bram yang masih mengejar Felly di tengah kobaran hati Felly. Felly terus berjalan meninggalkan Bram. Namun, langkah kakinya tehenti saat ia melihat hal yang selalu ia

Hal Terindah Yang Ku Miliki

Oleh:
Ayu begitulah orang memanggilku. Namaku Ayu Sulastri aku masih berumur 13 tahun bertepatan dengan aku kelas VIII SMP. Aku bersekolah di SMPN 1 sukanagara pertama aku masuk sekolah ini

Cinta Indah Yang Kau Berikan

Oleh:
Adit, itu namaku, aku aku dikenal sebagai anak yang pendiam di kelas tapi kata teman teman ku aku mempunyai wajah yang cukup ganteng, tapi sampai saat ini aku ngak

I Love You My Angel

Oleh:
Pagi hari. Hari ini Puspa, sedang berada di Perpustakaan yang tak jauh dari rumahnya. Dia datang sejak jam 7 pagi. kini dia tengah asyik membaca salah satu buku cerpen

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *