Not Goodbye (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 January 2017

“Aku pamit yah Der… Kamu istirahat, jangan lupa makan!”
“Makasih Ais!”

Subuh-subuh sekali ada yang mengetuk pintu kamar Dera, saat melihat jam ternyata masih pukul 04.00.
“Siapa?!” Dera membetulkan posisi jam di meja.
“Dera ini aku Irgi!” suara nya sangat pelan.
“Ngapain lagi!” ucapnya dari balik pintu.
“Aku mau ngomong sesuatu, penting! Please buka pintunya!”

Dera tidak lagi menjawab, dia diam menyenderkan badan di pintu sembari mengingat semua kenangannya bersama Irgi.
Irgi yang dikiranya sudah pergi ternyata masih tetap di depan kamar Dera, terus berharap Dera membuka pintu.

“Aku nggak peduli kakak kamu datang dan pukul aku sampai sekarat, aku bakal tetap di sini nunggu kamu buka pintu ini!!! Aku tahu kamu juga masih mau bicara sesuatu kan? Ini kesempatan kita bicara 4 mata Dera… Please buka pintu!”

Setelah berfikir beberapa lama Dera akhirnya membuka pintu kamar, Irgi kemudian masuk dan kembali menutup pintu takutnya ada Rafa.

“Kamu mau bicara apa? Buruan!” Dera membelakangi Irgi.
Irgi meraih kedua tangan Dera dan menatap mata itu samgat dalam.
“Aku sayang sama kamu!” ucap Irgi sedikit mengejutkan Dera.
Dera menggelengkan kepala tanda tidak percaya ucapan Irgi.
“Aku mungkin akan pergi dari sini, tapi hati sama fikiran aku pasti akan selalu ingat kamu. Aku sayang kamu, kamu sayang sama aku kan? Jadi kamu takut apa? Calon istri aku? Alya? Kamu harus yakin ini bukan perpisahan kita, kamu harus percaya Tuhan sudah merencanakan waktu dimana kita akan kembali bertemu…!” jelas Irgi.
“Tapi bagaimana kalau Tuhan mempertemukan kita dalam suatu hal yang tidak ingin aku alami?! Pertemuan yang menyakitkan buat aku! Apa rasa sayang itu bisa utuh Gi? Apa mata aku bisa melihat itu? Aku punya hati satu! Dan aku tidak mau membuat hati ini merasakan sakit yang sama, aku nggak mau Gi!!!! Aku terlalu sakit untuk itu, aku nggak bisa ngambil resiko itu!”
Irgi menyeka air mata Dera dan memeluknya dengan erat.

“Aku tahu… Semua hal bisa terjadi, untuk itu Tuhan menyempurnakan perasaan kita agar bisa kuat menjalani semuanya!”
“Aku sayang sama kamu Gi, dan aku sempat berfikir kamu akan menjadi tempat berlabuh hati aku yang terakhir dan akan indah, tapi sebelum semua itu aku rasain. Hati ini sudah patah lebih dulu, aku ikhlas kamu pergi.!”
“Aku pergi bukan sebagai perpisahan tapi kamu harus yakin ini akan jadi awal yang indah dan berakhir indah! Okey!” Irgi berusaha membuat kesedihan Dera sedikit berkurang.

Dera tetap menggeleng, Nama itu selalu terbayang semenjak Irgi menyebutnya pertama kali sore tadi.
Irgi menatap mata Dera, dia juga sebenarnya tidak ingin memberikan harapan lebih pada Dera, tapi setidaknya dia tidak terpuruk sebegitu jauhnya.

“Aku pamit, semoga kita bisa bertemu lagi di Jakarta!”

Saat Irgi membuka pintu, Dera menahan Irgi dan kembali menutup pintu kamarnya.
Dera menatap Irgi dan sedikit menjinjitkan kaki, sampai wajah mereka bertatap begitu dekat kedua tangannya dilingkarkan di leher Irgi, Dera memejamkan mata dan merasakan nafas Irgi begitu dekat. Kecupan pertama dari Irgi dan sebagai perpisahan, membuat keduanya ingin berlama-lama. Mereka menikmati itu yang mungkin akan menjadi kenangan indah, pelukan mereka semakin erat seakan tak ingin terlepas oleh perpisahan.

Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya Irgi harus segera keluar dari kamar Dera. Karena sudah terdengar langkah kaki dari luar, suara adzan pun mulai bergema.

Tangan Dera seakan tak ingin melepas tangan Irgi, saat Irgi ingin keluar dari kamarnya.

“Irgi… Kita pasti bisa sama-sama lagi kan? Ini bukan perpisahan, ia kan?!”

Irgi tersenyum dan kembali memeluk Dera sebelum akhirnya dia keluar lalu menuju kamarnya.

Sudah seminggu kepergian Irgi, Dera selalu meghabiskan waktu duduk diam di dalam rumah. Tak ada aktifitas yang bisa menghilangkan rasa rindu nya, pada sosok yang telah memberi warna baru di hidupnya.

“Jika semua ini butuh waktu, apakah aku bisa menanti saat indah itu?” Dera menatap layar handphonenya dan melihat foto-foto saat dia bersama Irgi.

Rafa baru saja datang dan langsung menghampiri Dera.
“Lihatin apa?!” tanya Rafa.
“Dera lagi main games ini, Ais mana?!” berusaha menutupi.
“Kakak udah antar balik. Oh ya Der… Tadi nggak sengaja Aku dengar pembicaraan Mama sama Papa, dan mereka akan kembali ke Jakarta. Kita kembali ke Jakarta, aku happy banget dengarnya!” tutur Rafa
“Serius?” raut wajah Dera kembali sumringah.
“Tapi…!”
“Tapi kenapa?!” sahut Dera.
“Ais…!”
“Iya juga sih, kalau kita pindah ke Jakarta lagi kak Rafa pasti nggak bakal ketemu Ais lagi!” Dera tersenyum meledek.
“Kamu yah! Tapi bukannya kamu nggak mau ketemu Marcel lagi?!”
Dera melamun dan berbicara dalam hati.
“Mungkin aku akan ketemu lagi dengan Marcell di Jakarta dan kemungkinan aku juga bertemu Irgi!”
“Dasar nih anak yah!” kesal dan pergi meninggalkan Dera.

Malam hari…
Papa dan Mama akhirnya menceritakan semuanya, rencana mereka untuk kembali ke Jakarta.
“Jadi kalian berkemas, besok pagi kita berangkat!” ucap Papa.
Suasana terlihat bahagia namun beda dengan Rafa.
“Ma… Pa… Tapi kak Rafa? Bukannya dia mau tunangan sama Ais? Pendekatan mereka terganggu dong!”
“Sayang… nggak apa-apa, itu kan bisa di atur Rafa bisa ke sini lagi kalau kangen sama Aisyah! Ia kan Rafa?!” ucap Mama.
“Iya Mama kamu benar, kalian bisa saling mengunjungi. Lagian sekarang ini teknologi bisa buat kamu sama Aisyah nggak merasa berjauhan kan?!” sambung Papa.
“Kalau Rafa masih bisa mengerti tapi Ais gimana? Apa dia nggak kecewa? Apalagi hubungan Rafa sama dia sudah sangat dekat, sekarang malah harus pisah!”
“Hmmmm yakin cuman Ais yang bakal rindu… Bilang ajah kalau!”
“Dera… Ialah… Makanya jangan jomblo!” jawab Rafa dengan ketus.
“Ihhh sekarang aja gitu, dulu ajah nggak mau dekat-dekat sama Ais.!” sambung Dera membela diri
“Semua butuh waktu Dera!”
“Hahahahahha” mereka semua tertawa.

Setelah perbincangan malam semakin larut, Dera masuk ke kamar. Dan melihat handphone di kasur berdering, diraih handphone sambil merebahkan badan.
Wajahnya sumringah, saat melihat layar handphone. Rupanya BBM dari Irgi,

“Voice Note?!” dengan segera di buka dan dia tambahkan volume.

Isi VN dari IRGI
“Hay Dera… Aku Alya, kamu tahu dong siapa aku. Gini aku mau berterima kasih banyak sama kamu, karena kamu sudah menyelamatkan calon suami aku. Irgi, oh ia Dera. Minggu depan acara pernikahan kami berlangsung, aku harap kamu akan datang. Dan jangan lupa ucapan terima kasih aku sama keluarga kamu juga. Ini Irgi mau ngomong!
Hay Dera… Gimana kabar kamu? Maaf kalau jawaban dari penantian kamu itu menyakitkan, tapi aku akan tetap ingat sama kamu, sama semuanya!” Bye…

Air mata berjatuhan bagai butir-butir air hujan. Dera tak bisa membendung kesedihannya, dia benar-benar sudah kehilangan Irgi untuk selamanya, kenangan mereka seakan terhapus dengan ucapan Alya.

Dera menegarkan hati untuk membalas VN dari Irgi dan Alya.
Dilihat jam dinding, pukul 00.46.
Waktu yang tidak mungkin ada Alya di samping Irgi, toh sudah jam setengah satu malam.

Isi VN Dera
Hay… Aku udah lama nunggu kabar dari kamu, malam ini terjawab sudah. Aku tidak akan bisa bersama-sama kamu, cerita perpisahan kita malam itu tidak berlanjut indah. Aku akan coba ikhlaskan semuanya, tapi aku butuh waktu untuk itu. Dan entah sampai kapan aku bisa menghilangkan semuanya dari ingatan aku, dan satu lagi Gi. Aku harap kenangan itu cukup untuk aku kenang sendiri, kamu tidak perlu mengingatnya. Semoga kau bahagia dengan Alya!”

Tak beberapa lama Irgi membalas

VN IRGI
Maafin aku… Tapi harus kamu tahu satu hal aku juga sulit melupakan semuanya, kenangan indah sama kamu. Tapi ini sudah janji aku pada keluarga Alya, aku nggak bisa kecewain mereka.
Aku sayang kamu.

DERA membalas
“Kenapa? Kenapa kamu nggak pertahanin perasaan kamu. Kamu bukan cuman menyakiti hati kamu, tapi kamu menyakiti aku dengan Alya. Kalau memang kamu harus dengan Alya, aku harap kamu tidak mengecewakannya. Aku akan tetap sayang sama kamu!”

Keesokan harinya…
Semua sudah berkemas, barang-barang juga sudah ada di dalam mobil. Mama dan Papa Rafa bingung melihat wajah kedua anak mereka murung, mereka tidak berontak hanya duduk diam di dalam mobil sambil memandangi handphone di tangan masing-masing.
“Ehhhh…ehhhh… Ehhhh ini anak-anak mama pada kenapa? Bukannya semalam setuju kita balik ke Jakarta, ini muka pada ditekuk!” umpat Mama Mereka.
“Kalau yang satu pasti takut rindu sama Ais… Tapi kalau yang satu, bukannya senang bisa ketemu Irgi di Jakarta? Atau jangan-jangan takut ketemu Marcell?!” celetuk Papa.
“Papa…!” Dera kembali manyun.
“Iya… Iya maaf… Senyum dong nak!”
“Iya kita punya surprise buat kalian!” ucap Mama.
“Surprise!” sahut Dera dan Rafa berbarengan.
“Kita singgah di rumah Ais bentar yah!” Papa menghentikan mobil di depan rumah Aisyah.

Rupanya surprise yang di maksud adalah, Aisyah akan ikut mereka ke Jakarta. Untuk bersama-sama membangun usaha cafe yang di buka untuk mereka bertiga. Acara pertunangan Rafa dan Aisyah pun akan di langsungkan di Jakarta setelah Cafe dirasa sudah stabil.
Wajah Rafa nampak sumringah, selama di perjalanan karena ada Ais di sana. Namun Dera hanya melamun, walau sesekali dia ikut menyahut percakapan lainnya. Fikiran Dera menyeruat kemana-mana, rasa gelisah di hatinya bertambah. Di Jakarta dia akan kembali bertemu lagi dengan Marcell namun bukan itu yang menjadi prioritas ke gelisahannya saat ini, apakah Dera mampu kalau di Jakarta dia benar-benar dipertemukan lagi dengan Irgi. Bukan Irgi yang care lagi seperti saat-saat itu, namun sosok pria yang akan meremukkan perasaannya karena dia harus melihatnya bahagia dengan perempuan lain, yang lebih awal kenal dengan Irgi. Apakah dia mampu? Apa dia sanggup? Itu yang di fikirkannya.

H-5 menuju hari pernikahan Irgi dan Alya. Tak ada kesibukan berarti bagi Dera selama sehari di Jakarta, hanya duduk diam di Cafe melihat orang-orang keluar masuk menikmati hari-hari bersama orang terkasih mereka.
Terlebih dia semakin iri melihat kemesraan Rafa dan Aisyah yang semakin dekat.
Sore itu Dera meminta untuk pulang lebih awal, Ais yang ingin menemani justru ditolaknya dengan alasan ingin menyendiri dulu.

“Yakin kamu nggak mau ditemani?!” ucap Ais.
“Ngga apa-apa…!!! Kamu temanin kak Rafa ajah! Ku pamit yah!!!”
Dera mengambil tas di meja kerjanya dan segera meninggalkan cafe namun saat keluar, tanpa sengaja dia menabrak perempuan yang juga ingin keluar.
“Maaf… Kamu nggak apa-apa kan?!” tanya Dera.
“Nggak apa-apa!”
Sahut perempuan itu, dan saat menatap Dera.
“Aku kayak kenal kamu deh… Ehhh maksudnya pernah lihat kamu, dimana gitu!” Dera seperti mengenali perempuan itu.
“Masa sih?!” sahut perempuan itu, yang terlihat ramah dengan Dera.
“Iya kali. nggak usah di bahas lagi… kalau gitu maaf yah!”
“Iya nggak apa-apa! Kamu mau kemana?!”
“Cuman mau jalan…!”
“Yah udah kita barengan aja. Kayaknya kita cocok jadi teman, kita ke butik. Mau nggak?!”
Dera bingung perempuan ini baik atau bagaimana, baru kenal tapi dia terlihat ramah padanya. Karena tidak ingin berprasangka buruk, dia lalu mengiyakan toh wajah perempuan itu baik-baik aja.

Cerpen Karangan: Yani Mariyani
Facebook: Yani Mariyani

Cerpen Not Goodbye (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


With You

Oleh:
“Felly!,” panggil Billy dengan berlari ke arah Felly. “Ada apaan, Bil? Tumben banget kita nggak ngomoningin di kelas?” “Felly! Nih buku yang lo minta,” ucap Billy dengan senyuman. “Waaahhh!

I… I… Love You (Part 1)

Oleh:
HUWAAAAAAAHHHHHH…. TARAAAAAA…. TARAAAAA… TARAAAAAA…. itulah suara teriakan sorak-sorai yang selalu aku dengar di barisan tribun saat aku dan tim basketku main di sebuah pertandingan, entah itu pertandingan resmi maupun

Rosalia

Oleh:
“Siapa wanita itu?” “Kenapa?” “Dia wanita sempurna yang pernah kulihat!” “Jangan bodoh, bung!” “Mengapa?” “Sebaiknya kau jangan mengganggunya, jika kau masih menyayangi hidupmu!” “Maksudmu apa?!” “Kau pura-pura bodoh atau

Allegro

Oleh:
Bisa kuhitung dari awal pertemuan kita hingga saat ini. Kau yang tak pernah kusangka-sangka hadir begitu saja. Barangkali sejak pertama aku tidak pernah menyadari bahwa ternyata kau begitu hebat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *